
Di perbatasan Wengker dan Tanggulangin, rombongan Panji Watugunung berhenti. Sudah dua hari mereka meninggalkan Kota Wengker, semalam mereka bermalam di wilayah Pakuwon Sawo.
Di depan ada sebuah sungai yang lumayan besar. Mereka menghentikan langkah kaki kuda kuda mereka.
Seorang lelaki tua sedang asyik menebar jala ikan. Tampaknya dia pencari ikan di sungai itu. Kedatangan rombongan Panji Watugunung menghentikan kesibukannya.
"Maaf kek, aku menggangu pekerjaan mu. Kami pengelana dari jauh. Ingin menuju ke Kota Kadipaten Tanggulangin. Kakek bisa membantu kami menunjukkan arahnya?", tanya Panji Watugunung sesaat setelah turun dari kudanya.
Kakek tua itu tersenyum.
"Pengelana ya? Kota Kadipaten Tanggulangin masih jauh. Seperti nya kalian lelah. Ayo ikut aku ke tempat ku", ajak kakek tua itu ramah.
Panji Watugunung dan Warigalit segera saling berpandangan sejenak.
"Tidak usah malu-malu, kalian pasti lapar. Kebetulan aku baru menangkap ikan banyak.
Ayo ikut aku, sudah lama tidak bertemu pengelana dari jauh aku", timpal kakek tua itu.
Akhirnya mereka mengikuti langkah kakek tua yang bernama Ki Sumorejo itu menuju sebuah perkampungan kecil di sisi barat sungai itu.
Puluhan rumah beratap alang alang khas pedesaan berjajar rapi di kanan kiri jalan. Di ujung jalan perkampungan, sebuah rumah kecil berhalaman luas tampak asri. Seorang wanita tua menyambut kedatangan mereka.
"Istri ku, aku membawa teman pulang ke rumah.
Cepat masak ikan ini untuk mereka", ujar Ki Sumorejo pada istrinya, Nyi Sagopi.
Perempuan tua itu segera menerima ikan pemberian suaminya, dan bergegas masuk ke dalam rumah.
Ki Sumorejo segera mempersilakan Panji Watugunung dan rombongannya ke serambi kediaman nya.
"Terimakasih atas bantuannya Ki,
Kami tidak enak merepotkan Aki dan Nyi", ujar Panji Watugunung.
"Hehh tidak boleh seperti itu, sebagai sesama hamba Sang Hyang Widhi Wasa sudah sepantasnya kita harus saling membantu.
Hidup itu hanya sekali. Berbuat kebajikan akan menjadi bekal di nirwana nanti anak muda", jawab Ki Sumorejo bijaksana.
Warigalit dan Ratri tersenyum tipis mendengar jawaban Ki Sumorejo.
Hari semakin sore.
Nyi Sagopi datang ke serambi dengan membawa kuali berisi masakan buatan nya. Nasi putih, liwet ikan, urap sayur menjadi menu makan sore itu.
"Wah ternyata masakan Nyi Sagopi benar benar enak ya", ujar Sekar Mayang sambil menyuapkan ikan liwet ke mulutnya.
"Iya Mayang, tidak kalah dengan masakan Anggarawati", sahut Ratna Pitaloka.
"Kalian terlalu memuji. Masakan kampung hanya suami ku yang suka", Nyi Sagopi tersenyum tipis mendengar pujian dua orang selir Panji Watugunung itu.
Saat mereka sedang asyik menikmati makanan, dua orang memasuki pekarangan rumah Ki Sumorejo. Mereka berdua langsung ke serambi.
"Ki Sumorejo, sudah di tunggu Lurah e depan tempat upacara. Mari Ki", ujar seorang lelaki paruh baya.
Ki Sumorejo segera berdiri. Kakek tua segera mencuci tangan di gentong kecil di depan serambi.
"Kalian lanjutkan makannya ya Watugunung, Warigalit. Aku keluar sebentar dulu".
Ki Sumorejo segera bergegas keluar dari rumah nya dan mengikuti langkah 2 orang itu menuju ke sebuah pohon beringin besar di tengah perkampungan.
Malam itu adalah malam upacara Shraddha. Malam pemujaan terhadap dewa dan alam semesta. Di masyarakat Panjalu pada masa itu, upacara adat ini sudah begitu umum dilakukan.
Mereka berdoa kepada roh roh leluhur dan alam semesta lewat perantara pohon beringin yang mewakili kehidupan.
Asap mengepul dari setanggi dan kemenyan yang di bakar. Taburan bunga mawar, melati dan kenanga mewarnai akar pohon beringin. Sesajen lengkap dengan seekor ayam panggang dan buah buahan serta hasil bumi.
__ADS_1
Ki Sumorejo segera meniup asap kemenyan yang terus mengepul dari anglo tanah liat. Sambil terus mengucap mantra-mantra pemujaan terhadap dewa.
Malam semakin larut. Saat menjelang pagi, hujan tiba tiba mengguyur wilayah itu. Karena hanya rumah kecil, Panji Watugunung tidur bersama di dipan kayu dengan tiga selir nya. Dinginnya malam membuat mereka saling berdempetan untuk berbagi kehangatan.
Pagi menjelang. Suara riuh kokok ayam jantan bersahutan pertanda pagi telah datang.
Panji Watugunung segera membuka matanya, saat aroma wangi wedang jahe masuk ke hidung nya.
Dewi Srimpi sudah tersenyum manis saat Panji Watugunung membuka matanya. Perempuan itu tahu cara menyenangkan hati suaminya.
Setelah mendapat petunjuk arah dari Ki Sumorejo, rombongan Panji Watugunung segera melanjutkan perjalanan ke arah utara menuju kota Pakuwon Sendang, kota terdekat sebelum kota Kadipaten Tanggulangin.
Saat memasuki kawasan kota Pakuwon Sendang menjelang tengah hari, rombongan Panji Watugunung berhenti di sebuah warung makan di dekat istana Pakuwon.
Setelah menambatkan kuda, mereka masuk dan memesan makanan. Mereka memilih duduk di bangku yang kosong di sudut ruangan warung makan.
Saat asyik menikmati makanan, serombongan orang dengan pakaian prajurit memasuki warung makan. Para pembeli segera menghambur keluar dari warung makan begitu mereka masuk. Hanya Panji Watugunung dan rombongannya yang seolah tak peduli dengan kehadiran mereka.
Pemimpin prajurit itu, seorang lelaki berumur 40 tahun berbadan besar dengan kumis tebal yang bernama Bekel Gandung. Sebagai kepala prajurit Pakuwon Sendang, dia terkenal sombong dan sewenang-wenang.
Melihat rombongan Panji Watugunung yang tidak keluar dari warung makan, mata Bekel Gandung mendelik tajam.
"Tampaknya mereka bukan dari wilayah sini Ki Bekel", ujar seorang prajurit yang ada di sebelah Bekel Gandung.
"Darimana kau tau ha??", hardik Bekel Gandung.
Prajurit itu mengkerut nyalinya, takut di aniaya pimpinan.
"Kalau mereka dari Pakuwon Sendang, mereka pasti tau Ki Bekel dan segera keluar dari sini", jawab si prajurit dengan nada takut.
Hemmmmm
'Orang asing rupanya. Akan ku beri mereka pelajaran karena tidak menghormati ku'
Brakkk
Seketika hal itu membuat Panji Watugunung dan rombongannya segera menoleh ke arah sumber suara.
"Hai kalian orang asing!
Siapa kalian? Berani sekali masuk ke wilayah Sendang tanpa ijin", teriak sang Bekel.
"Maaf Kisanak. Kami hanya pengelana yang kebetulan lewat di Pakuwon ini. Kami hanya ingin makan disini. Apa itu salah?", Panji Watugunung sopan.
"Salah. Sekarang bayar pajak jalan. Cepat!", Bekel Gandung mendelik tajam kearah Panji Watugunung.
"Sejak kapan ada pajak jalan di wilayah Panjalu? Kami tidak pernah mendengarnya. Lagipula kami tidak punya uang banyak", jawab Watugunung mulai gusar.
Hahahaha
"Rupanya hanya pengelana miskin. Baiklah aku beri kemudahan. Tinggalkan wanita itu sebagai ganti pajak kalian. Maka kalian bebas pergi dari sini", Bekel Gandung menunjuk Ratna Pitaloka.
"Kalau kami menolak?", Watugunung gusar.
Tidak ada lagi kata sopan dalam ucapan nya.
"Maka kalian akan kami tangkap dengan tuduhan melawan prajurit", seringai lebar menghiasi wajah Bekel Gandung.
"Dasar Bekel sombong. Coba saja kalau kalian mampu menangkap kami", Ratna Pitaloka yang dari tadi menahan marah, akhirnya angkat bicara.
Bekel Gandung murka. Selama ini tidak ada yang berani bersuara saat dia bicara.
"Tangkap mereka semua!".
Sepuluh prajurit segera melompat maju kearah rombongan Panji Watugunung. Dewi Srimpi dan Sekar Mayang melesat menyongsong terjangan para prajurit. Sedangkan Ratna Pitaloka segera melesat cepat menuju Bekel Gandung yang masih berdiri di belakang para prajurit.
__ADS_1
Pertarungan sengit segera terjadi di warung makan.
Para pelayan dan pemilik warung segera berlari keluar dari warung makan dan menuju istana Pakuwon Sendang untuk melaporkan kejadian itu.
Sementara itu, di dalam warung makan para prajurit Pakuwon Sendang yang menghadapi Sekar Mayang dan Dewi Srimpi tak berdaya menghadapi kemampuan kanuragan mereka berdua.
Dalam beberapa jurus saja, mereka sudah babak belur di hajar Dewi Srimpi dan Sekar Mayang.
Ratna Pitaloka yang kesal karena ucapan Bekel Gandung, segera melayangkan tendangan keras ke arah dada Bekel Gandung.
Bukkkkk
Bekel Gandung meraung keras saat tendangan keras kaki kanan Ratna Pitaloka telak menghajar dada nya. Dalam 5 jurus saja, Bekel Pakuwon Sendang itu sudah menjadi bulan-bulanan Ratna Pitaloka.
Phuihhh
"Lagakmu seperti Dewa Perang saja. Ternyata hanya jago kandang", teriak Ratna Pitaloka sambil meludahi wajah Bekel Gandung yang lebam dan bengkak sana sini. Tubuh lelaki itu tersungkur di lantai warung makan. Dia sama sekali tidak menyangka, kepongahan nya berakhir mengenaskan.
Akuwu Sendang dengan langkah terburu buru masuk warung makan. Matanya melotot sesaat kemudian setelah melihat Bekel Gandung sedang tergeletak di lantai warung makan dengan luka luka. Dia tidak pernah mengira, kepala pasukan Pakuwon Sendang itu bisa dikalahkan dengan cepat.
"Hai kalian, berani sekali kalian menganiaya adik ku.
Jangan harap kalian bisa lolos dengan mudah", teriak sang Akuwu Sendang, Gandang.
"Rupanya kau pendukung kejahatan si bekel bodoh ini.
Baik, mau menangkap kami? Apa kau sudah tidak sayang dengan nyawamu?", tanya Panji Watugunung.
"Hahahaha, berani mengancam ku di wilayah Pakuwon ku. Nyali kalian sungguh hebat. Asal kalian ketahui, rumah makan ini sudah kami kepung", Akuwu Gandang tersenyum sinis.
Panji Watugunung segera merogoh kantong bajunya dan mengeluarkan lencana Chandrakapala dari emas.
Tentu saja Akuwu Sendang tau benda apa yang ada di tangan Panji Watugunung. Pemegang benda itu adalah kerabat istana Daha. Mencari masalah dengan mereka sama dengan cari mati.
Seketika kaki Akuwu Gandang lemas tak bertenaga. Segera dia bersujud kepada Panji Watugunung dan rombongannya. Semua prajurit segera mengikuti langkah sang Akuwu Sendang.
"Ampuni hamba Gusti Pangeran. Hamba begitu bodoh tidak tau berhadapan dengan siapa".
Sekar Mayang yang geram dengan ulah Akuwu Sendang dan adiknya itu segera berteriak,
"Makanya jangan sok berkuasa"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ikuti terus kisah selanjutnya guys
__ADS_1
Jangan lupa untuk dukung author terus semangat menulis dengan like vote dan komentar nya ya 👍👍👍
Selamat membaca 😁😁