Babat Negeri Leluhur

Babat Negeri Leluhur
Pengacau


__ADS_3

Si lelaki berbaju hitam terpana mendengar ucapan biksu bermata sipit itu.


"Jadi kalian ingin menantang pendekar yang belum kalian ketahui?", tanya si lelaki berbaju hitam itu dengan penuh keheranan.


"Amithaba..


Kami hanya mendengar nama Watugunung dari seorang Resi di Gunung Pamrihan. Katanya dia adalah pendekar hebat di Tanah Jawa", jawab Biksu Hong Ki sambil membungkuk.


Hemmmm


"Kalau begitu aku akan memberi kalian satu petunjuk, Biksu Asing.


Datanglah ke Istana Katang-katang di kota Kadiri. Pasti disana kalian akan menemukan orang yang kalian cari", ucap si lelaki berbaju hitam itu segera.


"Sancai sancai..


Terima kasih atas petunjuk mu saudara ku. Kami mohon diri", ujar Biksu Hong Ki sambil menghormat khas negeri asalnya. Tiga biksu dari negeri seberang itu kemudian berjalan kearah dermaga penyeberangan sambil menuntun kuda kuda mereka.


Si lelaki berbaju hitam itu hanya tersenyum tipis melihat kepergian mereka.


'Kalian akan berhadapan dengan gunung yang tinggi saat berhadapan dengan Watugunung', batin si lelaki berbaju hitam itu yang kemudian berlalu menuju ke arah lain.


"Biksu,


Apakah anda mau menyeberang? Biayanya 1 kepeng perak untuk setiap orang", tanya seorang lelaki bertubuh gemuk pada Biksu Hong Ki.


"Benar kami mau menyeberang.


Hong Jian,


Berikan biaya menyeberang kepada tuan ini", ujar Biksu Hong Ki segera.


Biksu Hong Jian segera memberikan 3 kepeng perak kepada si pemilik kapal penyeberangan dan mereka segera naik ke kapal.


Riak keruh sungai Brantas yang berwarna kecoklatan menjadi pertanda musim hujan di daerah Lawor dan lereng gunung Arjuna sudah mulai. Kapal penyeberangan terus bergerak menuju ke seberang dengan bantuan satang bambu dari keenam awaknya.


Saat sudah sampai di dermaga penyeberangan, tiga biksu itu segera bergegas menuju ke tengah kota Daha yang terlihat ramai dengan para pedagang dan orang yang berlalu lalang.


Panji Watugunung dan ketiga istrinya sedang berkemas untuk kembali ke Istana Katang-katang. Di bantu Tantri dan 2 dayang istana, mereka mempersiapkan diri dengan cepat.


"Sudah Dinda Galuh?", tanya Panji Watugunung segera.


"Sudah Kangmas,


Tinggal menunggu kusir menyiapkan kereta kudanya", ujar Ayu Galuh sambil tersenyum simpul.


Seorang lelaki paruh baya berbadan kurus dengan kumis yang sebagian telah memutih yang merupakan kusir kereta kuda untuk para permaisuri Yuwaraja Panjalu, dengan langkah kaki cepat menghadap pada Panji Watugunung.


"Semuanya sudah siap Gusti Pangeran.


Kita bisa berangkat sekarang", ujar sang kusir sambil menghormat pada Panji Watugunung.


Pagi itu, iring iringan rombongan Panji Watugunung mulai bergerak meninggalkan Keputran Daha. Ayu Galuh, Dewi Naganingrum dan Tantri serta Pangeran Mapanji Jayawarsa naik kereta kuda. Di depan ada 2 prajurit berkuda yang menjadi cucuk langkah. Di belakangnya Panji Watugunung dan Warigalit serta Dewi Srimpi yang tidak tahan naik kereta.


Disusul kereta kuda kemudian 10 orang prajurit berkuda yang menjadi pengawal perjalanan mereka.


Saat iring iringan itu melewati jalan raya di tengah kota Daha, semua orang menepi dan berjongkok menyembah.


Tiga biksu yang kebetulan berpapasan dengan iring-iringan itu turut menepi. Sebagai Agamawan, mereka tidak di haruskan menyembah tapi cukup menundukkan kepalanya saja.


"Amithaba,


Saudaraku siapa mereka ini?", tanya Biksu Hong Jian pada seorang lelaki tua berkumis tebal yang berdiri setelah rombongan Panji Watugunung lewat.


"Dia adalah Gusti Pangeran Jayengrana, Yuwaraja Panjalu. Dia adalah putra mahkota dari kerajaan ini", jawab lelaki tua berkumis tebal itu sambil mengelus kumisnya.


Biksu Hong Jian masih sempat melihat wajah Panji Watugunung yang tengah memakai pakaian kebesaran nya, terus menatap kepergian iring iringan itu sampai jauh.


Rombongan Panji Watugunung terus bergerak menuju ke Kota Kadiri melintasi jalan raya yang menghubungkan antara dua kota itu.


Menjelang sore, mereka telah sampai di kota Kadiri. Kota itu terlihat semakin ramai dari hari ke hari. Banyak pendatang baru dari luar wilayah Kadiri yang menetap di situ. Mereka rata-rata orang yang ingin mengadu nasib disana. Banyak juga para pandai besi, juru ukir, pematung dan juru bangunan yang menetap di Kadiri selain para pedagang dan perantau.


Semuanya merasa tenteram tinggal di wilayah kota Kayuwarajan Panjalu.


Keempat istri Panji Watugunung menyambut kedatangan suami mereka.


"Selamat datang kembali Kangmas Panji Watugunung", ujar Dewi Anggarawati sambil tersenyum simpul.


"Terima kasih atas sambutan mu Dinda Anggarawati", sahut Panji Watugunung yang segera memeluk tubuh Permaisuri pertama nya itu.


Selanjutnya berurutan, mulai Ratna Pitaloka sang selir pertama, Sekar Mayang selir kedua dan terakhir Rara Sunti si Cempluk sang selir bungsu nya. Perlakuan adil Panji Watugunung membuat mereka tersenyum bahagia.


"Maaf Kangmas,


Ada tamu yang sudah menunggu Kangmas di istana pribadi Kangmas", ujar Dewi Anggarawati segera.


"Siapa Dinda Anggarawati?", tanya Panji Watugunung penasaran.


"Kangmas temui saja mereka. Pasti Kangmas akan gembira", jawab Dewi Anggarawati sambil tersenyum tipis.


Panji Watugunung segera bergegas meninggalkan Puri pribadi Dewi Anggarawati dan menuju istana pribadi nya yang ada di belakang balai Paseban Agung Kayuwarajan. Sementara itu Warigalit dan semua prajurit pengawal sudah kembali ke tempat mereka masing-masing.


Di dalam istana pribadi nya, sudah menunggu Panji Gunungsari ayahnya dan Adipati Seloageng, Tejo Sumirat juga Warok Surogati, Adipati Wengker yang merupakan paman Cempluk Rara Sunti. Patih Saketi yang menemani mereka, langsung berjongkok dan menyembah saat melihat Panji Watugunung memasuki serambi istana pribadi nya.

__ADS_1


"Sembah bakti hamba pada Gusti Pangeran Jayengrana", ujar Patih Saketi yang segera diikuti oleh Warok Surogati, Tejo Sumirat dan Panji Gunungsari.


Panji Watugunung buru buru menahan Panji Gunungsari dan Tejo Sumirat yang hendak berlutut kepada nya.


"Kanjeng Romo sekalian,


Aku sangat berdosa jika Kanjeng Romo sekalian bersujud kepada ku", ujar Panji Watugunung dengan senyum manisnya.


Dua orang pemimpin daerah itu langsung memeluk Sang Yuwaraja Panjalu itu dengan perasaan haru.


"Paman Saketi, Gusti Adipati Wengker mohon untuk duduk kembali", perintah Panji Watugunung yang segera disambut anggukan kepala dari Patih Saketi dan Warok Surogati, sang Adipati Wengker.


Panji Gunungsari dan Adipati Tejo Sumirat kemudian duduk di tempat mereka masing-masing.


Panji Watugunung pun segera duduk bersila di lantai serambi istana pribadi Yuwaraja.


"Maaf Romo Gunungsari dan Romo Tejo Sumirat, juga untukmu paman Surogati.


Ada perlu apa kalian datang ke Kadiri? Apa ada hal penting yang perlu kalian sampaikan kepada ku?", tanya Panji Watugunung segera.


Hahaha


"Mantu ku, sudah menjadi putra mahkota masih saja begitu rendah hati. Anggarawati benar benar beruntung mempunyai suami seperti mu", ujar Tejo Sumirat dengan gaya bicaranya yang khas.


"Kanjeng Romo Tejo Sumirat jangan memuji ku.


Aku masih tetap mantu mu yang kemarin Kanjeng Romo", Panji Watugunung tersenyum malu-malu.


"Kedatangan kami kemari, yang pertama adalah untuk menengok mu Cah Bagus.


Sudah lama kau tidak pulang ke Gelang-gelang. Ibu mu sering menanyakan keadaan mu.


Yang kedua, kami mendengar selentingan kabar bahwa ada persiapan besar-besaran di wilayah Negeri Jenggala. Itulah mengapa kami datang kemari, karena Kayuwarajan Panjalu merupakan pintu masuk ke wilayah Panjalu yang lain", ujar Panji Gunungsari dengan cepat.


"Benar ucapan Bupati Gelang-gelang, keponakan.


Kami semua merasa khawatir dengan keadaan ini. Terutama mertua mu yang meminta aku agar cepat menengok mu disini", timpal Warok Surogati, sang Adipati Wengker.


Hemmmm


"Rupanya berita ini cepat sekali menyebar melalui mulut ke mulut.


Begini Kanjeng Romo sekalian, juga Paman Surogati. Aku kemarin mendapat tugas dari Gusti Prabu Samarawijaya untuk mengumpulkan dukungan dari pemimpin daerah di Panjalu. Rencana ku baru kulakukan besok, tapi dengan kedatangan kalian tugas ku menjadi lebih mudah.


Aku meminta bantuan kepada Kanjeng Romo sekalian untuk mengumpulkan bahan makanan mentah sebagai bekal peperangan yang menurut pemikiran ku akan segera pecah.


Untuk paman Surogati, mohon bantuan seribu prajurit yang akan membantu mempertahankan wilayah Negeri Panjalu", ujar Panji Watugunung yang segera disambut anggukan kepala oleh Warok Surogati, Panji Gunungsari dan Adipati Tejo Sumirat.


Bukan hanya bahan makanan, tapi juga 1000 prajurit akan ku siapkan untuk mu", sahut Panji Gunungsari dengan tersenyum.


"Hahahaha..


Aku juga besan. Seloageng akan mengirimkan 1000 prajurit untuk membantu, juga bahan makanan mentah yang diminta", ujar Adipati Tejo Sumirat tak mau kalah. Tangan kekar nya terkepal erat seolah menyatakan bahwa dia siap membantu Panji Watugunung sepenuh hati.


"Aku tidak akan membiarkan keponakan ku berjuang sendiri menghadapi Jenggala.


Sepekan lagi, akan ku kirim 1500 prajurit dan bahan makanan mentah sebagai bekal untuk hidup selama 1 purnama, keponakan ku", timpal Warok Surogati yang berkumis tebal dan berjenggot lebat panjang itu dengan penuh semangat.


"Terima kasih atas dukungannya Kanjeng Romo sekalian, juga Paman Surogati.


Paman Saketi,


Minta kepada Tumenggung Ludaka, Jarasanda, Landung juga Marakeh untuk menghadap kepada ku besok pagi. Jangan lupa Kakang Warigalit juga kau panggil kemari", titah sang Yuwaraja Panjalu pada Patih Saketi.


"Sendiko dawuh Gusti Pangeran", jawab Patih Saketi yang segera menghormat pada Panji Watugunung.


Malam itu, suasana akrab dan hangat tercipta di antara mereka.


Pagi segera menjelang tiba. Sinar kemerahan merona di ufuk timur dengan indah. Cahaya matahari perlahan menghangatkan seisi bumi.


Kokok ayam jantan bersahutan membangunkan para penghuni Istana Katang-katang.


Setelah mengantar Bupati Gelang-gelang, Adipati Wengker dan Adipati Seloageng sampai di batas kota Kadiri, Panji Watugunung segera bergegas menuju bangsal Paseban Agung Kayuwarajan Panjalu.


Hari ini dia akan memberikan tugas kepada para bawahannya untuk mengirim pesan ke para penguasa daerah di wilayah Negeri Panjalu.


Di bangsal Paseban Agung, sudah menunggu Senopati Warigalit, Tumenggung Ludaka, Wakil pimpinan Pasukan Garuda Panjalu Senopati Muda Jarasanda, Tumenggung Landung, Demung Gumbreg, Demung Marakeh dan Patih Saketi.


"Sembah bakti hamba pada Gusti Pangeran Jayengrana", ujar semua bawahan Panji Watugunung sambil menyembah.


"Sembah bakti kalian aku terima. Duduklah dengan tertib", ujar Panji Watugunung yang sudah duduk di singgasana Yuwaraja sambil mengangkat tangan kanannya.


Para bawahan Panji Watugunung segera duduk bersila disamping kiri dan kanan Panji Watugunung sesuai dengan urutan kepangkatan mereka.


Sesuai dengan tugasnya, maka Jarasanda akan menata latihan perang Pasukan Garuda Panjalu. Ludaka mendapat tugas mengirim surat ke wilayah Kalingga, Rajapura, Bhumi Sambara dan Paguhan. Landung bertanggung jawab terhadap pesan yang dikirim ke Muria, Lasem, Anjuk Ladang dan Kurawan. Marakeh mendapatkan tugas ke Karang Anom dan Tanggulangin. Gumbreg di wajibkan menata persiapan perbekalan di wilayah Kayuwarajan Panjalu. Dia bertugas mengawasi setiap daerah yang sudah di persiapkan menjadi lumbung pangan, sekaligus menata gudang penyimpanan makanan di istana Katang-katang. Warigalit mengawasi perekrutan prajurit baru sekaligus latihan perang mereka. Ki Saketi selaku Patih menjalankan roda pemerintahan yang akan di bantu oleh Rakeh Kepung dan Mpu Gondho Lukito.


Tiga biksu dari negeri Tiongkok sudah sampai di Istana Katang-katang sesuai petunjuk dari lelaki berbaju hitam yang mereka temui tempo hari di dermaga penyeberangan.


"Amithaba..


Apakah benar ini istana Katang-katang tuan prajurit?", tanya Biksu Hong Ki sambil menghormat pada prajurit penjaga gerbang masuk istana.


"Benar kata mu Biksu, ini adalah Istana Katang-katang.

__ADS_1


Ada tujuan apa kau kemari? Tidak semua orang diijinkan masuk kemari", jawab si prajurit dengan sopan.


"Sancai sancai..


Kami kemari ingin bertemu dengan Watugunung. Kami ingin beradu ilmu beladiri dengan nya", ujar Biksu Hong Ki segera.


Mendengar jawaban itu, raut muka si prajurit penjaga gerbang yang bertubuh gempal itu segera berubah.


"Lancang sekali mulutmu Biksu Asing. Kau mencari perkara ya disini ha?", ujar si prajurit itu dengan tatapan bengis.


"Apa salahnya mengadu ilmu beladiri tuan prajurit?


Di negeri kami hal itu sudah biasa", ujar Biksu Hong Jian sambil menatap wajah prajurit itu.


"Biasa di negeri mu, tidak biasa di negeri kami. Kau sudah menghina junjungan kami", ujar si prajurit sambil menerjang maju ke arah biksu Hong Ki sambil menusukkan tombaknya.


Whuuuuttt


Biksu Hong Ki segera menghindari tusukan tombak, lalu dengan cepat menepuk bahu si prajurit.


Baakkk!!


Ougghhh!


Si prajurit penjaga gerbang langsung tersungkur. Melihat itu, tiga kawannya sesama penjaga langsung menerjang ke arah tiga biksu itu sambil mengayunkan senjata mereka masing-masing.


Sreeeetttt


Pedang salah satu prajurit penjaga terayun ke leher Biksu Hong Yi. Biksu muda itu segera melompat mundur. Si prajurit penjaga terus merangsek maju ke arah Biksu Hong Yi, namun tingkat kemampuan beladiri mereka berbeda jauh. Dalam dua gebrakan, Biksu Hong Yi berhasil menghantam dada si prajurit penjaga itu dengan keras.


Bukkkkk


Prajurit penjaga gerbang itu terhuyung-huyung ke belakang dan jatuh terduduk. Dadanya seperti mau pecah.


Sementara itu, Biksu Hong Jian juga berhasil melumpuhkan seorang prajurit penjaga yang dihadapinya.


Si prajurit penjaga gerbang itu terpental dan menabrak tembok istana Katang-katang.


Melihat kawannya berjatuhan, si prajurit penjaga yang menghadapi biksu Hong Ki tadi langsung berlari masuk ke dalam istana. Dia menuju ke arah balai paseban Katang-katang sambil berteriak pada setiap prajurit yang berpapasan dengan nya.


"Ada pengacau di pintu gerbang istana!", ujarnya sambil berlari menuju ke balai paseban.


Mendengar teriakan itu, para prajurit penjaga yang lain langsung berlari menuju ke pintu gerbang istana Katang-katang sambil mencabut senjata mereka masing-masing.


Panji Watugunung yang masih memberi pengarahan kepada para bawahannya, terkejut melihat seorang prajurit yang masuk ke balai paseban dengan mulut penuh darah.


"Mohon ampun Gusti Pangeran, ada pengacau di pintu gerbang istana.


Kami tidak sanggup menahan mereka.


Mereka menantang Gusti Pangeran", ujar si prajurit penjaga yang kemudian pingsan di balai paseban.


Warigalit yang menjabat sebagai Senopati merasa geram dengan laporan itu. Dia merasa malu pada Panji Watugunung. Setelah menyembah pada Panji Watugunung, dia segera berkata,


"Mohon ampun Dhimas Pangeran,


Saya yang akan turun tangan"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Ikuti terus kisah selanjutnya kak 😁


Yang suka silahkan tinggalkan jejak kalian dengan like 👍, vote ☝️, favorit 💙 dan komentar 🗣️ nya yah agar author terus semangat menulis 😁


Selamat membaca kak 🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2