Babat Negeri Leluhur

Babat Negeri Leluhur
Kelabang Koro


__ADS_3

Lelaki tua itu tersenyum penuh arti. Ada raut kegembiraan di wajah tua nya.


Lelaki tua itu adalah Mondhosio. Pendekar golongan hitam yang terkenal dengan sebutan Kelabang Koro. Ilmu silat dan kanuragan nya tinggi, dia juga ahli racun yang di takuti.


Selain suka seenaknya sendiri, dan sifatnya yang aneh. Para jagoan golongan hitam lebih suka menghindari bertarung dengan Mondhosio, karna pria tua itu tidak segan segan membantai orang.


Mondhosio memiliki sejumlah pengikut. Dia tidak suka di sebut guru, dan memilih di sebut Lurah.


Suatu hari, Mondhosio bermimpi melihat seorang pemuda tampan dengan pedang bersarung merah menghadang dan menghancurkan banjir yang mengancamnya dan seluruh pengikutnya. Ketika terbangun, Mondhosio mengatakan mimpinya kepada semua orang di perkampungan nya. Tak satupun orang bisa menerjemahkan mimpi Mondhosio, sampai seorang kakek tua mengatakan bahwa akan ada seorang lelaki muda yang akan menghadang masalah yang menimpa Panjalu.


Mondhosio sangat mempercayai ucapan kakek tua itu, dan bersumpah akan menemukan nya.


Saat muncul berita tentang Pendekar Pedang Naga Api, Mondhosio sangat tertarik karna ciri-ciri orang nya persis dengan orang yang ada di mimpi nya.


Mondhosio memiliki seorang putri cantik bernama Dewi Srimpi. Gadis itu menginjak usia 16 tahun. Kepandaian nya dalam ilmu silat juga bagus karna ilmu meringankan tubuh nya selain ilmu racun ajaran ayahnya.


Sementara Mondhosio alias Kelabang Koro bergerak menuju hutan di selatan Pakuwon Kunjang, Panji Watugunung dan ketiga gadis nya sedang asyik menikmati makanan di warung makan.


"Kakang, saat nanti kita sampai ke Gelang-gelang, kita akan ke istana Puri Agung atau hanya di perbatasan saja?", Ratna Pitaloka memandang kearah Panji Watugunung.


"Sebaiknya kita ke Istana Puri Agung lebih dulu dinda Pitaloka, baru kita tahu tugas dari ayahanda", jawab Watugunung sambil mencari cangkir minum. Dewi Anggarawati segera menuangkan air kendi ke cangkir di tangan Panji Watugunung yang segera meneguk nya.


Selesai makan dan membayar, rombongan Panji Watugunung segera keluar dari warung makan. Setelah semuanya naik ke atas kuda, mereka memacu kuda mereka menuju ke Kabupaten Gelang-gelang.


Saat mereka memasuki jalan yang ada di sebelah hutan kecil, kuda kuda mereka meringkik seperti ketakutan.


Panji Watugunung sadar ada bahaya mengancam, menepuk punggung kudanya dan berjalan pelan-pelan.


Srrreeeetttt..


Brukk!


Sebuah pohon besar tiba-tiba roboh melintang di tengah jalan. Lalu muncul puluhan orang berbaju hitam dengan ikat kepala hijau mengepung rombongan Panji Watugunung.


"Rupanya ada perampok busuk yang cari mati kakang", ujar Sekar Mayang sambil mendelik tajam kearah orang orang itu.


"Kalian hati hati, sepertinya mereka bukan perampok biasa", teriak Watugunung.


Hahahaha


Suara tawa menggelar dengan aliran tenaga dalam tingkat tinggi membuat kuping sakit.


Seorang lelaki tua berbadan besar dengan tahi lalat besar di pipi kiri melesat dari balik rimbun pepohonan.


"Akhirnya ketemu juga kau anak muda", ujar Mondhosio alias Kelabang Koro yang memperhatikan laki laki muda di depannya.


"Maaf Kisanak, kami hanya pengelana yang kebetulan lewat di tempat ini. Mohon tidak menghalangi jalan kami", Watugunung sopan berbicara meski tidak turun dari kudanya.


" Tidak peduli! Sekarang kau ikut aku ke tempat ku", ujar Kelabang Koro dengan senyum sinis nya.


"Maaf Kisanak, kami tidak bisa. Ada kepentingan pribadi yang mengharuskan kami ke Gelang-gelang secepatnya", tolak Panji Watugunung masih sopan.


"Gak urus! Pokoknya kau harus ikut aku ke tempat ku", ujar Kelabang Koro ketus.


"Kalau kami tidak mau?", Ratna Pitaloka mulai meradang.


"Akan ku paksa kalian supaya mau hahahaha", Kelabang Koro kembali tertawa terbahak-bahak.


"Bedebah! Kau cari mati rupanya kakek busuk", Sekar Mayang melompat dari kuda nya dan segera mencabut pedang nya yang jarang dia gunakan.


Sekar Mayang melesat menebas kearah dada Mondhosio. Pria tua itu hanya menghindar ke samping dengan santai. Sekar Mayang begitu melihat serangan nya tidak berhasil, berbalik badan dan mengincar pinggang Mondhosio dengan pukulan tangan kiri, Mondhosio melompat mundur dan melancarkan tendangan ke perut Sekar Mayang.


Whussss


Sekar Mayang menangkis dengan pukulan tangan kiri nya.


Bukkk..

__ADS_1


Benturan pukulan tangan dan tendangan membuat Sekar Mayang mundur 3 langkah ke belakang. Tangan kiri nya terasa kesemutan.


'Rupanya dia bukan orang sembarangan"


Sekar Mayang melesat maju sambil menusukkan pedang nya. Mondhosio bergerak cepat menyongsong dengan jari terbuka, menjepit pedang Sekar Mayang dan memutar nya sambil melancarkan tendangan ke perut gadis itu. Pedang Sekar Mayang berubah bentuk seperti di pilin.


Kreeekk!!


Sekar Mayang melompat mundur sambil memukul kaki Mondhosio dengan tangan kiri.


Deshhhhh


Benturan tenaga dalam tingkat tinggi menimbulkan suara keras. Dari benturan tadi, Sekar Mayang tau pria tua itu tenaga dalam nya setingkat lebih tinggi dari dia.


Panji Watugunung yang mengamati pertarungan, melihat ilmu meringankan tubuh kakek tua itu setingkat dengan guru nya.


Dari balik pepohonan sepasang mata seorang gadis tampak terus mengikuti jalannya pertarungan.


Sekar Mayang melihat pedang nya seperti di pilin, melempar pedangnya ke tanah. Gadis cantik itu segera melepas Selendang Es dari pinggang nya dan memutar mutar nya. Angin sedingin es mulai muncul di seputar selendang berwarna hijau kebiruan.


Whussss


Hentakan selendang memunculkan angin dingin melesat cepat menuju ke arah Kelabang Koro. Dengan gerakan sangat cepat, Kelabang Koro berguling ke tanah menghindari angin es dan melesat ke arah Sekar Mayang. Tangan Kelabang Koro menotok nadi di dada Sekar Mayang kemudian memasukkan sesuatu ke dalam mulut gadis itu.


Panji Watugunung yang kaget dengan kejadian cepat itu, melompat turun dari kudanya.


Kelabang Koro bergerak cepat ke belakang tubuh Sekar Mayang dan tangan kiri nya mencengkram leher gadis itu.


"Lepaskan dia, kalau tidak..", Panji Watugunung geram.


"Kalau tidak kau mau apa? Melangkah selangkah lagi kupastikan gadis ini menemui ajalnya", Kelabang Koro mencibir.


"Kauuu...


Apa sebenarnya mau mu kakek tua?", Panji Watugunung cemas, melihat Sekar Mayang tak berdaya di tangan Kelabang Koro.


"Kakek busuk keparat!", Ratna Pitaloka yang marah mencabut pedang nya dan melesat cepat membabat kearah leher kakek tua itu.


Sebuah bayangan berkelebat cepat dan menangkis sabetan pedang Ratna Pitaloka.


Traaangg!!


Ratna Pitaloka melompat mundur saat tau ada yang menangkis sabetan pedang nya.


Seorang gadis berbaju putih memakai cadar


hitam tampak bersiap untuk bertarung.


Keadaan semakin tidak terkendali. Panji Watugunung yang tidak ingin terjadi apa-apa dengan Sekar Mayang segera maju.


"Baiklah kakek tua. Aku turuti permintaan mu, tapi lepaskan dia dulu".


Mondhosio perlahan melepaskan cengkeramannya dan gadis berbaju putih itu ikut mundur dua langkah.


Watugunung segera bergegas menuju Sekar Mayang. Wajah Sekar Mayang pucat pasi seperti menahan sakit.


"Mayang, kau kenapa?", Panji Watugunung terkejut bukan main. Badan Sekar Mayang dingin seperti es.


"Kakek busuk itu meracuni ku", ucap Sekar Mayang dengan lemah.


Ratna Pitaloka dan Dewi Anggarawati yang ikut memburu ikut kaget mendengar ucapan Sekar Mayang.


"Anggarawati, cepat ambilkan obat segala racun nya", Panji Watugunung cemas.


Anggarawati merogoh kantong bajunya, namun sebelum sempat meminumkan obat, suara kakek tua itu menghentikan nya.


"Percuma, racun kelabang neraka ku tidak bisa di obati dengan obat lain".

__ADS_1


"Jadi kau punya penawar nya?", Panji Watugunung menoleh ke kakek tua itu.


"Ada, tapi tidak disini", Mondhosio acuh tak acuh.


"Lantas dimana setan tua?", Ratna Pitaloka gusar.


"Aku tidak bicara dengan mu", Mondhosio tersenyum sinis.


"Dasar keparat, ku habisi kau", tangan Ratna Pitaloka yang sudah siap menyerang di cekal Panji Watugunung.


"Tenang dulu dinda, yang terpenting keselamatan dinda Mayang dulu".


Ratna Pitaloka mengangguk meski hati nya geram sekali.


"Kakek tua, sekarang beritahu aku. Dimana obat penawarnya?, Kalau kau masih berbelit-belit jangan salahkan aku", Panji Watugunung segera berdiri. Dewi Anggarawati berganti peran dengan Panji Watugunung memapah Sekar Mayang yang lemas tak bertenaga.


"Sudah ku bilang kau ikut aku. Obat penawarnya ada di tempat ku", Kelabang Koro ketus.


"Aku kan sudah bilang akan ikut dengan mu, kenapa kau masih meracuni Mayang?", Panji Watugunung gusar sambil mendelik tajam kearah Mondhosio alias Kelabang Koro.


Lelaki tua itu hanya menjawab,


"Aku khawatir kau kabur"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Duh jadi deg degan..


Bagaimana nasib Sekar Mayang?


Author sedikit takut ini.


Tunggu di episode selanjutnya ya guys🙏


Author ingatin, jangan lupa untuk dukung author menulis dengan like, vote dan komentar nya.


Terimakasih yang sudah memberikan dukungannya.


Author sangat menghargai.


Happy reading my novel 😁😁😁😁

__ADS_1


__ADS_2