Babat Negeri Leluhur

Babat Negeri Leluhur
Pertempuran Kali Aksa


__ADS_3

Pagi menjelang tiba di Pakuwon Bedander. Cuaca sedikit mendung. Di dalam istana Pakuwon, kesibukan luar biasa terjadi.


Semua orang bersiap untuk berperang. Dapur perbekalan sudah menyiapkan makanan sejak matahari belum muncul di ufuk timur.


Panji Watugunung sedang berdandan di bantu tiga selir dan istri kedua nya. Tampak Ayu Galuh memakaikan gelang bahu dari emas. Ratna Pitaloka mengikat baju zirah di bawah ketiak Panji Watugunung. Sekar Mayang menenteng Pedang Naga Api dan Dewi Srimpi mengikat tali alas kaki Sang Pangeran.


Setelah semua beres, dengan di apit Ayu Galuh dan ketiga selir nya Panji Watugunung melangkah keluar dari kamar peristirahatan nya.


Diluar balai peristirahatan, para perwira tinggi dan menengah sudah menunggu kedatangan sang pemimpin pasukan. Panji Watugunung melangkah menuju mereka.


Sejenak dia menatap wajah para perwira prajurit itu.


"Sebelum berangkat, mari kita berdoa kepada Sang Hyang Widhi Wasa. Semoga kita bisa memenangkan peperangan ini".


Usai berkata, Panji Watugunung menunduk sejenak di ikuti para perwira.


Usai berdoa, Panji Watugunung dengan lantang bicara.


"Hari ini adalah waktu kita membuktikan bahwa kita adalah para pelindung kedaulatan Panjalu.


Kita buktikan bahwa kita adalah kesatria yang mampu menjaga keagungan Panjalu sebagai negeri penerus kejayaan Kahuripan".


Ucapan Panji Watugunung seketika disambut sorak sorai para perwira pasukan dan para prajurit Daha.


Ayu Galuh memegang tangan kanan Watugunung. Dari mata perempuan itu, setetes air mata bening perlahan menetes.


"Berjanjilah padaku Kangmas Panji,


Kau akan memenangkan pertempuran ini", ucap Ayu Galuh dengan suara bergetar.


"Pasti Dinda Galuh,


Tunggu aku kembali", Panji Watugunung tersenyum tipis dan mengusap air mata Ayu Galuh.


Putri Samarawijaya itu kemudian tersenyum tipis saat melihat Panji Watugunung melompat ke atas kuda nya. Usai menatap Ayu Galuh sejenak, putra Bupati Gelang-gelang itu segera menepuk punggung kudanya melesat meninggalkan Pakuwon Bedander di ikuti ketiga selirnya dan seluruh prajurit Daha.


Debu debu jalanan beterbangan mengiringi langkah kaki kuda para prajurit Daha menuju medan perang.


Di tepi Kali Aksa, pasukan Daha segera menempati posisi yang sudah di tentukan begitu bende perang di tabuh.


Landung dan ke 7 pasukan pembawa bendera masing-masing pasukan berdiri di baris depan.


Senopati Narapraja dan Tumenggung Wiguna memimpin supit selatan, dengan 2000 prajuritnya.


Warigalit dan Tumenggung Ringkasamba memimpikan masing masing 1000 prajurit di posisi tengah.


Tumenggung Adiguna dan Tumenggung Koncar dari Anjuk Ladang memimpin supit utara.


Sedangkan Jarasanda, Ludaka, Arimbi dan Gumbreg bergerak cepat diam diam menuju ke tebing batu di barat Kali Aksa. Rajegwesi dengan 200 pasukan pemanah segera menuju sisi selatan di utara sungai Brantas di ikuti Tumenggung Juru dari Karang Anom.


Hanya Tumenggung Bayucandra dari Tanggulangin dan Surontanu dari Wengker yang masih diam menanti perintah.


Tutttttt


Suara terompet tanduk kerbau berbunyi nyaring. Dari arah timur Kali Aksa ribuan prajurit Jenggala muncul. Ratusan bendera berwarna merah, hitam dan kuning memenuhi seluruh padang rumput luas itu.


Senopati Socawarma yang berada di atas kuda nya menatap ke seberang kali Aksa.


Hemmmm


'Mengalahkan mereka tidak sulit', batin Senopati Socawarma sambil menatap sinis ke arah pasukan Daha.


Tenggggg...


Tenggggg!!


Suara bende di pukul dua kali dari Pasukan Jenggala tanda pemimpin pasukan ingin bicara.


Tumenggung Larantapa segera menyambar bendera putih dan menepak kuda nya. Senopati Socawarma menjajari Tumenggung Larantapa menuju ke tengah padang rumput.


Panji Watugunung dan Ki Saketi segera maju setelah Ki Saketi membawa bendera putih yang di berikan Tumenggung Bayucandra.


Di tengah padang rumput itu, empat pimpinan pasukan bertemu.


"Rupanya Daha tidak punya cukup orang berpengalaman dalam perang hingga mengutus bocah bau kencur untuk maju.


Phuihhh


Menjijikkan sekali", ejek Senopati Socawarma begitu melihat pemimpin pasukan Daha hanya seorang pemuda.


Panji Watugunung hanya tersenyum mendengar ejekan dari Senopati Socawarma.


"Tua atau muda itu tidak jadi ukuran untuk menentukan kemampuan, yang penting adalah hasil yang didapat.


Untuk apa pemimpin tua jika akhirnya hanya bisa membanggakan diri sendiri tanpa bisa melihat kemampuan anak muda?".


Ucapan Panji Watugunung sontak membuat Senopati Socawarma merah padam. Gigi nya gemerutuk menahan marah.


"Mulut mu tajam sekali anak muda.


Aku beri kesempatan sekali padamu untuk menyerah. Kalau tidak ku hancurkan pasukan kecil mu itu dengan sekali serbuan", Senopati Socawarma menggertak.


"Aku juga memberi kesempatan kepada mu Senopati tua. Kembalilah ke Kahuripan. Hidup lah dengan damai di sisa waktu mu dengan anak cucu mu. Kalau tidak jangan menyesal karena telah berani mengusik ketenangan di Panjalu", Panji Watugunung menatap tajam ke arah Senopati Socawarma.


"Keparat!


Rupanya tidak ada lagi yang perlu di bicarakan.


Bersiaplah untuk mati anak muda", Senopati Socawarma segera menggebrak kuda nya kembali ke pasukan Jenggala di ikuti oleh Tumenggung Larantapa.


Panji Watugunung dan Ki Saketi juga segera bergegas kembali ke barisan pasukan Daha.


Bunyi bende kembali terdengar nyaring.


Pasukan Jenggala segera mempersiapkan senjata masing-masing. Begitu terdengar suara terompet tanduk kerbau, dua ujung sayap kiri dan kanan pasukan Jenggala yang di pimpin Tumenggung Wangkas dan Tumenggung Gandara mulai bergerak maju.


"Seraaaaaangggggg!!!!!


Jangan biarkan mereka hidup!", teriak Tumenggung Wangkas sambil mengacungkan pedangnya.


Ribuan prajurit Jenggala berlari cepat menuju arah pasukan Daha.

__ADS_1


Di sisi barat Kali Aksa, Panji Watugunung segera memberi perintah.


"Kakang Warigalit,


Tumenggung Ringkasamba,


Sekarang saatnya!".


Warigalit segera menggebrak kuda nya diikuti 1000 prajurit Daha bergerak di sisi kanan sedang Tumenggung Ringkasamba bergerak cepat di sisi kiri. Tumenggung Kurawan itu sudah mencabut pedang nya dan menerjang kearah pasukan musuh.


Dengan isyarat tangan dari Panji Watugunung, Tumenggung Bayucandra segera menggebrak kuda nya ke arah hulu sungai dengan di temani selir tertua Panji Watugunung, Ratna Pitaloka.


Pertarungan sengit segera terjadi.


Warigalit segera memutar Tombak Angin nya yang langsung menyambar leher seorang prajurit Jenggala.


Crashhhh


Tajamnya Tombak Angin Warigalit mampu memotong leher sang prajurit yang sial itu dengan cepat. Kepalanya langsung menggelinding ke tanah.


Warigalit terus mengamuk, setiap prajurit Jenggala yang mendekati nya akan langsung tewas.


Tumenggung Ringkasamba dari Kurawan juga dengan cepat menebas dada seorang prajurit Jenggala yang menghadang nya.


Sreeetttttt


Arghhh


Sang prajurit langsung ambruk bersimbah darah. Dari atas kudanya, Tumenggung Ringkasamba terus mengayunkan pedang nya mengincar nyawa setiap prajurit.


Melihat pasukannya di bantai, Tumenggung Wangkas segera memacu kudanya menuju Tumenggung Ringkasamba di ikuti ribuan prajurit Jenggala.


Melihat itu, Tumenggung Ringkasamba segera memutar kudanya kembali ke arah pasukan Daha.


"Mundur!!!", teriak Tumenggung Ringkasamba.


Warigalit pun dengan cepat mengikuti langkah sang Tumenggung Kurawan.


Pasukan gerak cepat dari Kurawan segera mengikuti langkah sang pemimpin.


Tumenggung Wangkas yang melihat itu menjadi tambah geram.


"Bangsat!


Mereka mencoba kabur. Kejar mereka!!", Tumenggung Wangkas menggebrak kuda nya diikuti Demung Sila. Semangat prajurit Jenggala berkobar melihat pasukan Daha mundur dari medan laga. Bekel Kadru dari Tumapel dan pasukannya ikut bergerak maju mengejar pasukan Daha.


Senopati Socawarma tersenyum puas melihat pasukan Daha mundur dari medan pertempuran.


"Pasukan Daha tidak mungkin mengalahkan ku", seringai lebar menghiasi bibir Senopati Socawarma.


Warigalit dan Tumenggung Ringkasamba terus memacu kudanya melesat cepat menuju ke arah pasukan Daha.


Tak kurang 4 ribu pasukan Jenggala mengejar pasukan mereka di belakang.


Saat mereka sudah melewati jarak tembak panah, Panji menoleh ke arah prajurit peniup terompet tanduk kerbau.


Thuuuuuuttttttt!!!


Ribuan panah dari pasukan pimpinan Arimbi, Ludaka dan Jarasanda melesat cepat seperti hujan dari tebing batu.


Sring


Sringgg


Sring!!


Creppp Creeppp crepp!!


Aarrgghhh argh aughhhhh...


Hujan anak panah langsung menghajar pasukan Jenggala tanpa ampun. Jerit memilukan akibat tusukan anak panah segera memenuhi tempat itu. Ratusan prajurit Jenggala tewas seketika.


Tumenggung Wangkas melompat dari kudanya saat hujan anak panah itu datang. Dia mengibaskan tangannya saat beberapa anak panah mengincar nyawanya.


Whuttttt


Trakkk


Anak panah langsung hancur berantakan akibat benturan tenaga dalam dari Tumenggung Wangkas. Dia selamat, tapi kuda hitam kesayangannya tewas meregang nyawa.


Tumenggung Wangkas marah besar.


Dengan berlari dia terus mengejar maju.


Di sisi lain pertempuran, 200 pasukan pemanah Rajegwesi langsung mengarahkan busur panah mereka kearah perahu perahu besar yang mulai bergerak menuju ke wilayah Daha.


Sring sringggg!!


Ratusan panah berapi melesat cepat menuju perahu pasukan Jenggala.


Creppp Creeppp crepp!!


Aarrgghhh!


Ratusan prajurit Jenggala yang terdepan menjadi sasaran empuk anak panah Rajegwesi dan pasukannya. 2 perahu bahkan mulai terbakar api.


Demung Kerpa yang memimpin pasukan di perahu tak menduga serangan itu.


"Bangsat!


Kita di sergap. Pepetkan perahu di sisi selatan sungai. Cepaaatt!!!


Para nahkoda kapal itu segera memutar kemudi untuk menjauhi jarak tembak pasukan pemanah Rajegwesi yang terus menembakkan senjata mereka.


Korban tewas terus berjatuhan di pihak Jenggala.


Panji Watugunung segera memerintahkan kepada peniup terompet tanduk kerbau untuk meniup lagi, saat melihat Tumenggung Gandara berniat membantu pengejaran.


Bende kembali terdengar nyaring 3 kali.


Dua pasukan supit selatan dan utara segera bergerak mengepung Tumenggung Wangkas dan pasukannya. Begitu pasukan supit bergerak, Warigalit dan Tumenggung Ringkasamba segera menghentikan laju kuda mereka dan berbalik arah menghadang pasukan Tumenggung Wangkas dan Demung Sila.

__ADS_1


Melihat Tumenggung Wangkas di kepung dari tiga sisi berbeda, Tumenggung Gandara segera menggebrak kuda nya diikuti oleh pasukan nya yang berjumlah 2 ribu orang untuk menolong Tumenggung Wangkas.


Sementara itu, di hulu Kali Aksa, saat terdengar suara terompet tanduk kerbau berbunyi di iringi bunyi bende, Tumenggung Bayucandra dan pasukannya segera melompat turun ke arah kayu penyangga bendungan.


Ternyata karena mereka terlalu kuat menyangga bendungan itu dengan kayu gelondongan, membuat Tumenggung Bayucandra dan pasukannya kesulitan untuk membongkar nya.


Pasukan Tumenggung Bayucandra panik. Meski sudah membongkar beberapa kayu penyangga, nyatanya belum bisa menjebolnya.


Ratna Pitaloka segera melesat cepat menuju ke arah pasukan itu.


"Minggir kalian!"


Mendengar suara itu, pasukan Tanggulangin segera menyingkir.


Ratna Pitaloka segera merapalkan Ajian Tapak Dewa Api tingkat tinggi nya.


Tangan kanan perempuan cantik itu segera berubah warna menjadi merah menyala seperti api.


Dengan cepat, Ratna Pitaloka mengayunkan tangan kanan nya ke arah tengah bendungan itu segera. Sinar merah menyala langsung menghajar kayu penyangga bendungan.


Whuttttt


Blammmm!!!


Ledakan keras terdengar diikuti air bah yang tercipta akibat jebolnya bendungan itu. Air bergerak cepat menuju ke arah selatan menuju ke medan pertarungan.


Tumenggung Larantapa yang mendengar suara aneh dari hulu Kali Aksa memicingkan matanya. Saat jelas apa yang dia amati, dia terkejut bukan main. Air bah bergulung-gulung menerjang kearah mereka.


"Celaka!!


Air bah datang! Air bah datang!!!", teriak Tumenggung Larantapa pada Tumenggung Gandara.


Gandara yang masih mendengar teriakan Tumenggung Larantapa seketika menoleh ke arah hulu Kali Aksa. Dan benar saja, air bah bergulung-gulung menerjang apa saja yang dilaluinya.


Tumenggung Gandara segera menarik tali kekang kudanya dan berbalik arah kembali kearah pasukan Jenggala.


Sebagian besar pasukan pimpinan Tumenggung Gandara bisa menyelamatkan diri dari air bah, namun seperempatnya harus tewas terseret arus air.


Di sisi barat sungai, melihat air bah tiba tiba datang dan membuat Tumenggung Gandara tak bisa membantu, membuat pasukan Jenggala di bawah pimpinan Tumenggung Wangkas tak bisa berbuat apa-apa.


Melarikan diri menyebrang sungai yang sedang banjir jelas sama dengan mencari mati. Maju pun tak bisa berbuat banyak. Mereka sudah putus asa.


Tumenggung Wangkas yang sedang berhadapan dengan Warigalit tidak menyadari situasi nya. Dengan cepat dia terus mengayunkan pedang nya kearah leher Warigalit.


Tranggg..


Bunyi nyaring terdengar saat dua senjata beradu. Tangan kiri Tumenggung Wangkas yang di lambari Ajian Tapak Setan mengincar dada Warigalit.


Whuttttt


Warigalit berkelit ke kiri menghindari sinar hijau kemerahan dari tangan kiri Tumenggung Wangkas.


Blarrrrr!!


Sinar hijau kemerahan menghajar punggung seorang prajurit Daha yang naas. Prajurit itu langsung tewas dengan punggung kehitaman.


Warigalit yang berhasil menghindar, langsung menusukkan Tombak Angin nya ke arah dada Tumenggung Wangkas.


Mantan anak murid Padepokan Bukit Jerangkong itu berusaha menangkis tusukan Tombak Angin Warigalit, namun rupanya itu hanya pancingan.


Tangan kiri Warigalit yang sudah berubah warna menjadi merah menyala akibat Ajian Tapak Dewa Api langsung menghajar dada kanan Tumenggung Wangkas.


Dhuarrrr!!!


Aughhhhh..


Tumenggung Wangkas terpental jauh. Badannya melayang dan jatuh ke dalam air sungai yang sedang banjir. Dia tewas seketika.


Warigalit mendengus dingin, lalu berteriak lantang pada pasukannya.


"Habisi mereka semua,


Jangan sampai tersisa!"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Author mesti lupa waktu kalau pas chapter perang 🤭🤭🤭


Terimakasih atas dukungannya kakak reader tersayang semuanya pada cerita ini ❤️❤️❤️

__ADS_1


Lupiyu 🤭🤭🤭🤭


Selamat membaca guys 🙏👍😁😁😁


__ADS_2