
Begawan Sulapaksi begitu kaget melihat tiga selir Panji Watugunung sudah di depan pintu kediaman nya saat membuka pintu.
Mulanya dia menduga Sriti Lanang alias Panduwinoto yang menggedor pintu rumahnya.
"Gusti Selir sekalian,
Ada apa ini? Kog keturunan Lokapala tidak ikut bersama kalian?", tanya Begawan Sulapaksi sambil tersenyum penuh arti.
"Apa kami tidak di suruh masuk dulu Kanjeng Begawan??", tanya Sekar Mayang segera.
"Ah iya, lupa aku..
Monggo silahkan masuk Gusti Selir sekalian", Begawan Sulapaksi tersenyum dan mempersilahkan mereka masuk.
Setelah duduk di kursi kayu serambi kediaman, Begawan Sulapaksi menatap ketiga selir Panji Watugunung itu segera.
"Ada apa ini Gusti Selir sekalian?
Apa ada yang bisa laki laki tua ini lakukan untuk panjenengan semuanya?".
"Kami mau menagih janji Begawan Sulapaksi tempo hari.
Kami mau jimat seperti punya Ayu Galuh", jawab Ratna Pitaloka sambil menatap ke wajah sepuh kakek tua itu.
Hehehehe
Begawan Sulapaksi tersenyum penuh arti.
"Kan sudah aku bilang sebelumnya Gusti Selir, jika nanti sudah waktunya, Sulapaksi akan datang ke tempat Gusti Selir sekalian".
"Maksudnya apa Begawan?
Apa tugas Denmas Panji belum selesai?", tanya Dewi Srimpi yang terlihat mengerti apa maksud ucapan Begawan Sulapaksi.
"Gusti Selir Kecil sangat pintar.
Keturunan Lokapala itu, belum menyelesaikan tugas dari Sang Hyang Tunggal. Dia masih banyak memiliki tugas untuk di selesaikan.
Apa Gusti Selir sekalian tega melihat Keturunan Lokapala itu berjuang sendiri, sedangkan kalian semua sibuk merawat bayi?", Begawan Sulapaksi tersenyum tipis.
Tiga selir Panji Watugunung itu langsung terdiam seketika.
Mereka bertiga akhirnya mengalah, demi cinta mereka kepada sang pangeran Daha.
Malam itu, pasukan Garuda Panjalu dan pasukan Daha bermalam di wanua Klakah. Kehamilan Ayu Galuh menjadi pertimbangan tersendiri bagi Panji Watugunung. Membawa wanita hamil muda dalam perjalanan jauh sangat beresiko pada kandungan nya.
Pagi menjelang tiba di Wanua Klakah.
Matahari bersinar cerah di ufuk timur. Cahaya nya hangat menyapa pucuk pucuk pohon mangga di depan rumah Panduwinoto alias Sriti Lanang. Kicau burung bersahutan pertanda pagi telah datang.
Panji Watugunung tengah duduk di serambi rumah sang lurah wanua Klakah. Rasa damai menyentuh hati nya kala melihat dua orang bocah berlarian di jalan depan rumah Panduwinoto.
'Alangkah damainya jika tidak ada perang', batin Panji Watugunung sambil tersenyum menatap dua bocah itu.
"Denmas,
Sudah sarapan??", suara merdu Dewi Srimpi membuat Panji Watugunung segera menoleh.
Panji Watugunung hanya menggeleng sambil tersenyum penuh arti pada selir termuda nya itu.
Dewi Srimpi segera bergegas kembali ke dapur kediaman Lurah Wanua Klakah, tak lama kemudian kembali dengan sepiring jagung rebus dan uwi manis. Tak lupa secangkir wedang jahe kesukaan Panji Watugunung dia hidangkan.
Selain Dewi Anggarawati, hanya Dewi Srimpi yang selalu memperhatikan makan sang putra Bupati Gelang-gelang itu. Itu kenapa Dewi Srimpi selalu menempati ruang tersendiri di hati sang pemimpin pasukan Garuda Panjalu itu.
Pagi itu, mereka berdua sarapan dengan penuh canda tawa. Saat matahari sepenggal naik, Ratna Pitaloka, Sekar Mayang dan Ayu Galuh bergabung bersama mereka.
Ki Saketi dan Senopati Narapraja hadir setelah memeriksa keadaan pasukannya masing masing. Gumbreg yang sedari pagi sudah berkacak pinggang memerintahkan kepada bawahannya untuk berbenah agar dia cepat pulang ke Sanggur, turut datang dan melaporkan kesiapan pasukan perbekalan.
Usai semua nya bersiap, Panji Watugunung segera berpamitan pada Begawan Sulapaksi dan Sepasang Sriti Perak.
"Kami mohon pamit Paman Panduwinoto, Begawan Sulapaksi.
Terimakasih atas bantuannya dan makanan yang di hidangkan pada ku juga pada pasukan Garuda Panjalu", ujar Panji Watugunung.
"Sudah kewajiban kami Gusti Pangeran Panji", ujar Sriti Lanang segera.
__ADS_1
Pagi itu Panji Watugunung dan pasukannya bergerak meninggalkan wanua Klakah menuju ke selatan. Angin semilir dari tenggara mengiringi perjalanan mereka.
Usai melewati wilayah pakuwon Watugaluh, mereka terus bergerak menuju selatan.
Ayu Galuh memeluk erat tubuh suaminya yang sedang memacu kuda. Kehamilan nya membuat perempuan itu tidak mau jauh dari sang suami.
Di kota Pakuwon Kunjang, Pasukan Daha di bawah pimpinan Senopati Narapraja dan Maitreya memisahkan diri. Mereka berbelok ke barat menuju Pakuwon Kadri sedangkan pasukan Garuda Panjalu terus bergerak menuju ke selatan.
Menjelang sore, Panji Watugunung dan pasukan Garuda Panjalu memasuki markas pasukan Garuda Panjalu di Sanggur.
Para prajurit penjaga gerbang markas langsung membuka pintu gerbang markas begitu bendera biru langit yang berhias Garuda emas melambai di tiup angin.
**
Di istana negara Kahuripan.
Di ruang pribadi raja.
Mapanji Garasakan sang Maharaja Jenggala sedang duduk di kursi nya. Wajahnya tampak suram. Di hadapannya Mapatih Dyah Bayunata, penasehat Mpu Supadriya, Mapanji Alanjung yang merupakan putra mahkota Jenggala sekaligus Mahamantri i Halu dan Adipati Tunggaraja dari Kambang Putih duduk bersila di hadapan sang raja.
Berita kekalahan Senopati Mpu Tandi yang baru di dengar oleh Mapanji Garasakan membuat nya bermuram durja.
Setelah kematian Iblis Bukit Jerangkong, di susul kematian Senopati Socawarma, Mapanji Garasakan berharap Mpu Tandi yang baru menaklukkan wilayah Lasem mampu mengalahkan pasukan Daha.
Namun ternyata Senopati Mpu Tandi yang memimpin 20000 pasukan Jenggala dikalahkan oleh Panji Watugunung. Sri Maharaja Mapanji Garasakan benar benar kecewa.
Suasana sunyi senyap di ruang pribadi raja.
Hemmmmm
Dengusan nafas panjang terdengar dari mulut sang raja.
"Paman Bayunata,
Aku benar-benar kecewa dengan hasil perang ini. Cita cita ku mempersatukan kembali Kahuripan ternyata hanya sebuah angan-angan kosong belaka. Dua senopati berpengalaman di medan tempur kalah melawan pasukan Daha yang di pimpin anak kemarin sore".
"Ampun beribu ampun Gusti Prabu,
Seperti nya kita terlalu meremehkan kekuatan Daha. Jika Gusti Prabu ingin menyatukan Jenggala dan Panjalu kembali, maka kita harus mempersiapkan diri dengan matang dan terencana.
"Benar saran Mapatih Bayunata, Gusti Prabu. Jika ingin menyatukan wilayah Kahuripan, maka sebaiknya kita lakukan dengan terencana", ujar Mpu Supadriya, sang penasehat Maharaja Mapanji Garasakan.
"Kalau pun kita menyerang Daha, kita tidak bisa melakukan nya dalam waktu dekat. Kanjeng Eyang Airlangga sedang sakit. Akan sangat mempengaruhi kesehatan beliau jika kita menyerbu Daha lagi Kanjeng Romo", Mapanji Alanjung kali ini buka suara.
Hemmmm
"Kalau aku pikir, omongan kalian ada benar nya.
Bayunata,
Pilih perwira tinggi prajurit yang memiliki ilmu kanuragan tinggi untuk menjadi senopati Jenggala yang baru. Angkat 4 sekaligus. Lalu perintahkan kepada Adipati di sepanjang perbatasan untuk membuka lumbung pangan di beberapa tempat. Juga wajib bela negara di wilayah pakuwon perbatasan. Pemuda berusia 17 tahun harus mengikuti wajib bela negara. Yang tidak bersedia ikut, hukum seberat-beratnya", titah sang Maharaja Jenggala.
"Sendiko dawuh Gusti Prabu", jawab Dyah Bayunata Sang Mapatih Jenggala sambil memberi hormat.
Malam itu para pembesar istana Kahuripan menyusun rencana besar mereka untuk menyerang kembali Dahanapura.
**
Pagi menjelang tiba di Sanggur.
Gumbreg masih terlelap tidur nya. Pria tambun itu benar benar lelah setelah semalaman bercumbu dengan Juminten.
Badannya yang gembrot hanya tertutup oleh kain jarik Juminten yang semalam dia pakai untuk selimut.
Tangan nya meraba raba dipan kayu di sebelahnya. Saat merasa yang di cari tidak ada, Gumbreg langsung membuka matanya.
'Dhek Jum kog tidak ada, kemana dia?', batin lelaki tambun itu sambil segera bangun dari tempat tidur nya.
Dengan segera dia memakai pakaian nya dan turun dari ranjang yang menjadi saksi kerinduan nya pada Juminten tadi malam.
Gumbreg celingukan mencari istri nya itu, seraya mengucek matanya.
'Di dapur tidak ada, di ruang tamu juga tidak ada. Kemana sih Dhek Jum pagi pagi begini?', gumam Gumbreg yang kebingungan.
Bekel prajurit perbekalan pasukan Garuda Panjalu itu lantas membuka pintu depan rumah nya. Mencari gayung dan mengambil air dari gentong yang tersedia di halaman rumah nya.
__ADS_1
Byurr
Segar terasa saat air gentong membasahi wajah Gumbreg.
"Eh Kakang sudah bangun, tumben pagi pagi sudah bangun, biasanya baru siang melek".
Suara Juminten membuat Gumbreg langsung menoleh. Juminten nampaknya segar dengan rambut basah. Sepertinya dia baru mandi.
"Darimana Dhek Jum? Pagi-pagi sudah ngilang saja", tanya Gumbreg menyelidik. Ada raut cemburu pada wajahnya.
"Dari belik kang, nyuci baju sekaligus mandi biar seger", jawab Juminten sambil menunjukkan baju basah dalam keranjang bambu nya.
"Ahhh aku tidak percaya, pasti kamu main gila saat aku bertugas ya", Gumbreg memicingkan matanya.
"Ya ampun, Kakang Gumbreg kok ngawur begitu ngomongnya. Aku itu cuma cinta sama Kakang. Gak ada laki laki lain, Kang", bantah si Juminten sambil meletakkan keranjang bambu nya.
"Ahh aku tidak percaya. Ayo sekarang ikut aku", Gumbreg langsung menarik tangan Juminten ke dalam kamar tidur nya.
Juminten yang masih kebingungan, hanya menuruti apa kata suami nya.
"Loh Kang, kog kesini?", tanya si Jum keheranan.
Tanpa menjawab, Gumbreg langsung meloloskan pakaian Juminten dengan terburu-buru. Rupanya tadi hanya akal bulus Gumbreg saja. Melihat si Juminten basah rambutnya, nafsu Gumbreg langsung tinggi. Ada yang berdiri tapi bukan tiang rumah.
Gumbreg langsung menerkam si Juminten dan mencumbu istri nya itu.
Juminten hanya bisa pasrah menerima perlakuan Gumbreg. Dia pun menikmatinya.
Saat mendekati puncak, tiba tiba kayu jati tebal yang menjadi penyangga ranjang patah.
Kreeekk
Bruookkkk!
"Aduhhh dengkul ku"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Hahahaha syukurin lu Mbreg 😂😂😂
Modus aja pagi-pagi 🤣🤣🤣🤣
Yang suka cerita ini, silahkan tinggalkan jejak nya ya guys 👍👍👍👍
Selamat membaca 😁😁😁😁
__ADS_1