Babat Negeri Leluhur

Babat Negeri Leluhur
Wahyu Hasta Brata


__ADS_3

Panji Watugunung menarik nafas lega. Kiriman guna-guna yang nyaris mencelakai nya, semakin menunjukkan bahwa dia harus hati-hati dalam bertindak.


Semua orang lega melihat Panji Watugunung baik baik saja. Kalau sampai terjadi apa apa, bukan tidak mungkin mereka ikut di salahkan istana Dahanapura.


"Kakang Watugunung,


Syukurlah kau baik-baik saja", ujar Ratna Pitaloka yang segera memeluk tubuh suami nya. Tadi dia sempat khawatir terjadi sesuatu pada Panji Watugunung.


Akuwu Wadangdowo langsung bersujud kepada Panji Watugunung.


"Terimakasih banyak atas bantuannya Gusti Pangeran. Tanpa pertolongan Gusti Pangeran, hamba tidak tahu apa yang akan terjadi pada putri hamba", ujar Mpu Magani yang segera di ikuti Pu Parwati dan Dewi Wardani yang baru saja sembuh.


"Sudahlah,


Hanya bantuan kecil. Jangan terlalu di besar besarkan", ujar Panji Watugunung segera.


"Sebagai ucapan terimakasih hamba, mohon kiranya Gusti Pangeran bersedia bermalam disini", Mpu Magani tetap berlutut di hadapan Panji Watugunung.


"Baiklah,


Aku terima niat baik mu Ki Kuwu. Sekarang berdirilah, tidak baik seorang Akuwu berlutut terlalu lama. Cepat berdiri", mendengar ucapan Panji Watugunung, Mpu Magani segera berdiri diikuti Pu Parwati dan Dewi Wardani.


"Gusti Pangeran,


Kami dari Siwatantra Ungaran mengundang Gusti Pangeran untuk datang ke tempat kami", ujar brahmana tua yang sudah di selamatkan Panji Watugunung sambil tersenyum.


"Terimakasih Dang Brahmana,


Nanti kami pasti berkunjung ke sana", ujar Panji Watugunung segera.


Brahmana tua dan muda itu segera mengangguk tanda mengerti, kemudian mundur dari bilik kamar tidur Dewi Wardani. Mpu Magani segera mengambil sekantong kepeng perak dan memberikan nya pada brahmana itu sebagai sedekah nya pada Siwatantra Ungaran.


Setelah itu, Panji Watugunung dan rombongannya di antar ke balai peristirahatan oleh Mpu Magani.


Candani yang biasanya berisik menjadi lebih tenang. Dia sungkan dengan Panji Watugunung dan selir selir nya.


Malam itu mereka beristirahat di balai peristirahatan Pakuwon Wadangdowo dengan damai.


Pagi menjelang tiba di istana Pakuwon Wadangdowo. Suasana dingin terasa menusuk tulang. Meski ayam jantan berkokok bersahutan, namun karena hujan deras yang mengguyur kota Pakuwon Wadangdowo, membuat semua orang enggan untuk keluar rumah.


Panji Watugunung yang hendak bangun dari tempat tidur nya, mengurungkan niatnya lantaran hujan yang turun semakin deras. Dewi Srimpi bahkan kembali memeluk tubuh Panji Watugunung untuk berbagi kehangatan tubuh.


Kriettttt


Pintu kamar terbuka. Sekar Mayang masuk ke dalam kamar beserta Ratna Pitaloka. Melihat sang suami masih dibawah selimut, mereka berdua tersenyum penuh arti dan bergegas menyusul ke atas ranjang setelah menutup pintu kamar.


Saat matahari sepenggal naik, baru hujan mereda. Sinar sang surya mulai menghangatkan suasana di istana Pakuwon Wadangdowo. Daun daun pepohonan berkilat seperti kaca saat sinar matahari mulai memancar dari ufuk timur.


Tok tok tok


"Siapa?", ujar Panji Watugunung dari atas ranjang nya.


"Maaf jika mengganggu istirahat Gusti Pangeran,


Akuwu Wadangdowo meminta Gusti Pangeran untuk datang ke sasana boga pakuwon", ujar Lamana dari luar pintu kamar.


Tak berapa lama kemudian, Panji Watugunung segera keluar dari kamar diikuti oleh ketiga selir nya. Melihat ketiga selir dalam satu kamar, Lamana tersenyum penuh arti.


Di sasana boga, hidangan mewah sudah tersaji di meja makan. Pelbagai jenis masakan tersaji dengan aroma wangi yang mengundang air liur menetes. Para dayang istana Pakuwon hilir mudik menyiapkan makanan untuk para tamu agung sang Akuwu.


Saat Panji Watugunung memasuki sasana boga, Akuwu Mpu Magani dan keluarganya menyambut kedatangan Panji Watugunung dengan penuh hormat.


Putri bungsu sang Akuwu diam diam melirik ke arah Panji Watugunung.


"Mari silahkan Gusti Pangeran.


Kita sarapan pagi dulu sebelum Gusti Pangeran melanjutkan perjalanan ke Kalingga", ujar Mpu Magani segera.


Panji Watugunung mengangguk tanda mengiyakan. Pagi itu mereka sarapan dengan lahap.


Usai sarapan pagi bersama, Panji Watugunung berterima kasih kepada Mpu Magani kemudian pangeran Daha itu berpamitan pada sang Akuwu Wadangdowo.


Lamana yang tau jalan, mendahului Panji Watugunung yang ingin menepati janji nya pada brahmana tua yaitu berkunjung ke Siwatantra Ungaran.


Siwatantra Ungaran adalah salah satu pusat kegiatan keagamaan yang ramai pada masa itu. Berbagai Resi dan Pandita mengunjungi tempat itu. Puluhan pelajar dari berbagai daerah di Jawa Dwipa, Suvarnabhumi, Bedahulu, serta negeri negeri lain di Nusantara mendatanginya untuk belajar ilmu agama. Ratusan pelancong dan pengembara dari luar Nusantara, seperti dinasti Song dari Tiongkok, Negeri Champa dan Kerajaan Chola di India Selatan datang untuk sekedar berziarah atau menuntut ilmu.


Dari kejauhan, ratusan brahmana nampak hilir mudik di sekitar 9 bangunan di Siwatantra itu.


Sang pemimpin Siwatantra Ungaran, Maharesi Jayantaka nampak tersenyum tipis melihat kearah timur. Murid kesayangan nya, Brahmana Janitra nampak heran memandang kearah gurunya itu.


"Maaf Maharesi,


Apa hal yang membuat Maharesi begitu bahagia sehingga tersenyum tanpa henti? Apa Maharesi melihat Dewa Wisnu di ufuk timur?", tanya Janitra dengan penuh sopan.


"Bukan Dewa Wisnu, Janitra.


Dewa Wisnu akan menitis seratus tahun lagi pada keturunan tamu yang sebentar lagi hadir di Siwatantra ini", ujar Maharesi Jayantaka sambil tersenyum tipis.


"Mana tamu nya Maharesi? Saya tidak melihat apa apa", Brahmana muda itu ikut menatap ke arah timur.


"Perhatikan Janitra,


Itu mereka datang", ujar Maharesi Jayantaka sambil menunjuk rombongan Panji Watugunung yang mulai terlihat di kejauhan.

__ADS_1


Semakin lama, rombongan Panji Watugunung semakin mendekati Siwatantra Ungaran.


"Sambut mereka, Janitra. Cari yang bernama Watugunung.


Langsung hadapkan mereka kepadaku di serambi kediaman ku", ujar Maharesi Jayantaka pada muridnya itu.


"Baik Maharesi", Brahmana Janitra langsung menghormat pada Maharesi Jayantaka dan bergegas menuju ke gerbang timur Siwatantra Ungaran.


Lamana yang baru saja turun dari kudanya hendak bertanya pada seorang brahmana saat Janitra mendekati nya.


"Maaf Kisanak,


Apa ada yang bernama Watugunung diantara kalian?", tanya Brahmana Janitra dengan sopan.


"Ada brahmana muda. Ada perlu apa kau mencari nya?", Lamana menatap wajah Brahmana Janitra dengan penuh pertanyaan.


"Maharesi Jayantaka, Pemimpin Siwatantra Ungaran ingin bertemu dengan Watugunung", ujar Janitra yang seketika membuat kaget rombongan Panji Watugunung.


Tanpa banyak bertanya, mereka lantas mengikuti langkah sang brahmana muda. Di barat bangunan pemujaan Siwatantra Ungaran, di serambi kediaman nya, Maharesi Jayantaka sudah duduk bersila menunggu kedatangan Panji Watugunung dan rombongannya.


"Silahkan duduk Nakmas Panji Watugunung, dan selamat datang di Siwatantra Ungaran", ujar Maharesi Jayantaka sambil tersenyum tipis.


Panji Watugunung segera berjongkok dan menyembah kepada Maharesi Jayantaka diikuti oleh ketiga selir nya dan keempat temannya.


"Panji Watugunung menghaturkan hormat kepada Maharesi Jayantaka".


Pemimpin Siwatantra Ungaran itu langsung tersenyum melihat penghormatan yang dia terima.


"Sudah, duduk dengan tenang disini Nakmas.


Jangan jauh-jauh, aku ingin melihat wajah bapak wangsa Kadiri nantinya", ujar brahmana tua berjenggot panjang itu segera.


Panji Watugunung segera duduk bersila di samping sang Maharesi Jayantaka.


"Mohon maaf Maharesi, Watugunung masih belum memahami apa maksud dari perkataan Maharesi baru saja", Panji Watugunung segera menghormat.


"Akan kuberikan kepada mu sesuatu yang berguna untuk kehidupan mu dan keturunan mu kelak Nakmas", usai berkata demikian Maharesi Jayantaka segera memejamkan matanya.


Seketika jiwanya berpisah dari badannya. Panji Watugunung segera mengikuti langkah sang Maharesi. Dalam sekejap mata, dua Sukma itu sudah duduk bersila di alam kasat mata.


"Nakmas Panji,


Aku akan menurunkan Wahyu Pemimpin yang disebut juga Hasta Brata yang berasal dari Kitab Manawa Dharma Sastra.


Dengar baik-baik..


Pemimpin itu harus memiliki 8 sifat yang akan menjadi pegangan dalam melaksanakan tugasnya sebagai panutan bagi masyarakat.




Seorang Pemimpin harus bersikap seperti matahari yang menerangi seluruh alam dan menghangatkan jagat raya. Arti nya seorang pemimpin harus mampu memberikan pencerahan pemikiran dan bersikap melindungi masyarakat di bawahnya.



Pindha Candra.



Seorang pemimpin harus bersikap seperti bulan yang lembut dan menerangi seluruh jagat saat malam tiba. Arti nya seorang pemimpin harus mampu menjadi penerang hati masyarakat saat mereka dalam masalah, juga lembut mengayomi masyarakat.



Pindha Bhumi.



Seorang pemimpin harus bersikap seperti bumi yang menjadi pijakan untuk hidup. Arti nya seorang pemimpin harus mampu memberikan tempat perlindungan dan tempat untuk setiap masyarakat di bawahnya.



Pindha Kartika.



Seorang pemimpin harus bersikap layaknya bintang yang bersinar di langit saat gelap malam. Arti nya pemimpin harus bisa menjadi contoh, menjadi suri tauladan bagi masyarakat nya saat mereka tersesat di kegelapan hati yang mereka terima.



Pindha Angkasa.



Seorang pemimpin harus bersikap layaknya Langit yang luas tak terbatas. Arti nya pemimpin wajib meluaskan pemikiran dan pandangan nya untuk memberikan masa depan yang cerah bagi anak cucu dan masyarakat di bawah pengayoman nya.



Pindha Samudera.



Seorang pemimpin harus bersikap seperti laut yang luas, yang bisa menampung air dari seluruh dunia. Maksud nya, pemimpin harus mampu menampung semua pemikiran dari seluruh masyarakat dan mengolahnya agar menjadi landasan hidup bagi sang pemimpin menjalankan tugas nya.

__ADS_1



Pindha Dahana.



Seorang pemimpin harus bersikap seperti api yang panas membakar apa saja. Arti nya seorang pemimpin harus tegas bersikap dalam menghadapi musuh dan memberikan rasa hangat bagi masyarakat.



Pindha Maruta.



Seorang pemimpin harus bersikap seperti angin yang berhembus. Arti nya pemimpin harus memberikan rasa nyaman pada masyarakat di bawahnya, namun juga bisa menghancurkan lawan yang berusaha mengacaukan masyarakat.


Itulah yang disebut Hasta Brata Nakmas", ujar sukma Maharesi Jayantaka sambil tersenyum lega.


Seketika muncul sebuah cahaya kuning keemasan di bahu kiri Panji Watugunung. Cahaya itu membentuk sebuah rajah kotak bersegi delapan bertuliskan Hasta Brata.


"Terimakasih banyak Maharesi. Semoga Dewa memberikan kekuatan pada saya untuk mengemban amanah yang sudah di berikan kepada saya", ujar sukma Panji Watugunung yang segera menghormat pada sukma Maharesi Jayantaka.


Maharesi Jayantaka tersenyum dan sekejap mata dua sukma itu kembali ke raganya.


Brahmana Janitra langsung menarik nafas lega saat tubuh Maharesi Jayantaka kembali seperti semula.


Siang itu, usai menerima wejangan dari Maharesi Jayantaka, Panji Watugunung dan rombongannya segera mohon diri untuk melanjutkan perjalanan ke Kalingga. Kuda mereka melesat cepat menuju ke utara, kearah Kalingga.


**


"Kakang,


Berapa lama kakang akan pergi?", ujar Juminten sambil cemberut wajahnya.


Usai pengumuman tentang siapa saja yang menyusul Panji Watugunung ke Kalingga, semua perwira prajurit Garuda Panjalu bersiap siap untuk berangkat. Termasuk Gumbreg dan Ludaka.


"Ya gak tau to Dhek Jum,


Kakang ini kesatria. Wajib taat perintah negara. Harusnya kamu bangga aku ditugaskan untuk mengawal Gusti Pangeran Panji", ujar Gumbreg sambil meneguk air minum dari kendi kemudian mengulurkan nya pada Ludaka.


"Yah pasti lama,


Aku kan sedang nyidam kang. Mbok tolong di carikan buah mangga muda", Juminten mengelus perutnya yang masih rata.


"Haahhhhh??!


Musim begini mana ada buah mangga muda Dhek? Aneh-aneh saja", Gumbreg menatap penuh keheranan.


"Aku gak mau tau ya, pokok nya harus dapat, kalau gak dapat jangan harap tidur di dalam rumah", ujar Juminten sambil melengos pergi masuk ke dalam rumah sambil membanting pintu.


Gumbreg langsung melas wajah nya.


"Lu, kamu tau tempat yang ada mangga yang lagi berbuah?", tanya Gumbreg yang sedang duduk di sebelah nya.


"Mana ada Mbreg? Ini bukan musimnya", jawab Ludaka sambil mengangkat bahunya. Mendengar jawaban itu, Gumbreg langsung kusut wajah nya.


"Yahhh,


Alamat tidur di luar ini aku".


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Ikuti terus kisah selanjutnya guys 😁😁


Jangan lupa untuk dukung author terus semangat menulis dengan like 👍, vote ☝️ dan komentar 🗣️ nya


Selamat membaca guys 😁😁😁

__ADS_1


__ADS_2