
Dengan tatapan mata setajam elang, dia terus mengamati situasi penyergapan di penginapan itu.
Bargawa si Bekel prajurit terus menyerang Panji Watugunung dengan gerakan cepat namun Panji Watugunung dengan mudah menghindari sabetan pedang nya.
Sreeetttttt
Panji Watugunung berkelit ke samping kemudian dengan cepat memutar tubuhnya sambil mengayunkan pukulan tangan kanan nya kearah dada Bargawa.
Bukkkkk
Bargawa yang lengah, langsung terpelanting ke samping dan tubuhnya menabrak atap daun alang-alang kemudian jatuh menimpa gentong air.
Bruakkk
Gentong air itu pecah berantakan dan Bargawa merasakan sesak nafasnya. Bekel prajurit Paguhan itu muntah darah.
Disisi lain, Dewi Srimpi dengan Ajian Langkah Kelabang Sewu, berhasil mendesak Ajikonda, salah satu Bekel prajurit Paguhan, hingga dia terpaksa harus berguling ke tanah menghindari jarum beracun Kelabang Neraka Dewi Srimpi.
Baju dan tubuh Ajikonda penuh dengan rumput dan tanah.
Dewi Srimpi tidak menyia-nyiakan kesempatan, langsung melesat cepat menuju Ajikonda yang baru berdiri. Sabetan Pedang Kelabang Sewu yang beracun mengarah ke leher Ajikonda, pria itu berusaha untuk menghindar tapi sentilan jarum beracun nya telak menancap di leher sang Bekel prajurit Paguhan itu.
Creeppp
Aaarghhh
Rasa panas menyengat seperti terbakar api langsung menyebar ke seluruh tubuh Ajikonda. Pria itu melotot menahan sakit sesaat kemudian roboh dengan mulut berbusa. Dia tewas keracunan.
Melihat dua orang bawahan nya meregang nyawa, Tumenggung Rumpaksana melompat sambil mengayunkan pedang nya ke arah Panji Watugunung.
Angin dingin tenaga dalam mengarah pada bahu Panji Watugunung. Merasakan hawa dingin, Panji Watugunung segera melompat ke udara menghindari sabetan pedang Tumenggung Rumpaksana.
Sringggg
Tebasan pedang Tumenggung Paguhan itu menghantam dinding penginapan.
Brakkkk
Dinding penginapan hancur berantakan. Menyisakan lobang besar pada dinding kayu bangunan itu.
Mendengar suara ribut-ribut, Lawana dan Trajutrisna segera melompat ke luar penginapan. Mereka menghadang 4 bayangan hitam yang hendak ikut mengeroyok Panji Watugunung.
Sementara itu, Ratna Pitaloka dan Sekar Mayang yang baru membantai dua penyerang dari belakang segera melesat cepat menuju samping penginapan. Dewi Naganingrum yang telah menghajar dua orang bayangan hitam, segera melompat tinggi ke udara dan mendarat di samping Ratna Pitaloka dan Sekar Mayang yang baru tiba.
Melihat bawahan nya tumbang di tangan pengikut Panji Watugunung, Tumenggung Rumpaksana terkesiap. Dia lengah. Panji Watugunung segera menghantam bahu kiri sang Tumenggung.
Deshhhhh..
Tumenggung muda itu meraung kesakitan seperti dihantam batu besar. Dengan cepat, dia melompat menjauh dari Panji Watugunung.
'Aku harus kabur', batin Tumenggung Rumpaksana yang segera melompat sambil melemparkan pedangnya.
Pedang melayang cepat menuju Panji Watugunung.
Sreeetttttt
Panji Watugunung segera melompat ke samping. Saat menoleh ke arah Tumenggung Rumpaksana, terlihat perwira tinggi prajurit Paguhan itu sudah melesat cepat menjauh menuju Kali Serayu. Segera Panji Watugunung segera mengejar nya.
Di tepi Kali Serayu, Tumenggung Rumpaksana melompat masuk ke dalam sungai. Dan menghilang di derasnya arus sungai besar itu.
Keenam orang yang menyusul Panji Watugunung segera menatap aliran sungai besar.
"Pengecut!
Setelah membuat masalah main kabur saja", gerutu Sekar Mayang. Mereka lalu kembali ke arah penginapan.
Tumenggung Rumpaksana yang bersembunyi di antara rumput yang hanyut menatap mereka dengan tatapan mata penuh dendam.
Di samping penginapan, dengan penuh emosi, Lawana memukuli salah satu dari 3 penyerang yang masih hidup.
"Cukup Lawana,
Biarkan mereka bicara dulu. Kalau mereka masih tutup mulut, kau boleh menyiksa mereka", ujar Panji Watugunung menghentikan gerakan Lawana.
Phuihhh
"Cepat katakan siapa kalian dan mengapa kalian menyerang kemari?", teriak Lawana sambil meludah ke arah mereka. Dari tadi mereka bungkam, sehingga menyulut kemarahan sang bekel Kalingga itu.
"Ku sarankan agar kalian segera bicara. Teman ku ini agak gila. Kalau sampai tahap kumat penyakit nya, jangan harap kalian bisa melihat matahari terbit esok hari", imbuh Trajutrisna menakuti mereka.
__ADS_1
Seorang diantara mereka dengan tatapan penuh ketakutan akhirnya membuka mulutnya.
"Ka-ka kami prajurit Paguhan. Kami adalah pengikut Gusti Tumenggung Rumpaksana", ujar prajurit Paguhan itu dengan ketakutan mendalam.
"Hemmmm..
Rupanya utusan Adipati Gandakusuma kemarin itu ya.
Trajutrisna, Lawana..
Ikat mereka, biar besok pagi Akuwu Wanareja yang mengurus mereka", perintah Panji Watugunung pada Trajutrisna dan Lawana.
Dua orang itu segera menjalankan perintah Panji Watugunung. Sedang Sang Pangeran Daha menemui keempat istrinya didalam ruang makan penginapan. Disana sang pemilik penginapan juga sudah menunggu kedatangan Panji Watugunung.
"Bagaimana Kakang? Mereka buka mulut?", tanya Ratna Pitaloka segera.
"Mereka orang orang Kadipaten Paguhan, Dinda Pitaloka. Sepertinya kegagalan dalam mendapatkan dukungan dari Galuh Pakuan, membuat mereka menjadi geram dengan kita", jawab Panji Watugunung sambil tersenyum.
"Kurang ajar!
Untung saja Ayahanda tidak mengabulkan permintaan paman Gandakusuma. Kalau saja Ayahanda tau aku di serang anak buah Paman Gandakusuma, pasti saat ini juga Paguhan sudah di serbu prajurit Galuh Pakuan", Dewi Naganingrum marah sambil memukul meja makan.
"Sudahlah,
Yang penting kita baik-baik saja Dinda Naganingrum", ujar Panji Watugunung segera. Setelah meminta pemilik penginapan untuk melaporkan kejadian itu pada Akuwu Wanareja, Panji Watugunung memberikan 2 kepeng emas pada pemilik penginapan sebagai ganti kerusakan dan biaya menginap mereka. Laki laki paruh baya itu berterima kasih sambil berjanji untuk tidak mengatakan apa-apa pada Akuwu Wanareja.
Pagi datang dengan sendirinya. Hangat mentari pagi mengusir dingin malam yang menyelimuti seluruh bumi.
Usai bersiap siap, rombongan Panji Watugunung segera melompat ke atas kuda mereka dan memacu kuda menyusuri jalan di tepi Kali Serayu menuju Utara untuk menghindari wilayah kota kadipaten Paguhan.
Sepanjang perjalanan, terlihat banyak penduduk wanua yang bekerja mengolah lahan. Kali Serayu yang menjadi sumber pengairan sawah benar benar berkah untuk para petani.
"Akang Kasep,
Di depan sepertinya ada Wanua. Kumaha lamun urang beristirahat disana?", Naganingrum menatap wajah Panji Watugunung yang berkuda di samping nya.
Benar saja, setelah melewati hutan kecil ada sebuah wanua di tepi Kali Serayu.
"Iya kita beristirahat di sana saja", jawab Panji Watugunung sambil memacu kudanya menuju ke gapura wanua itu mengikuti langkah Trajutrisna yang menjadi penunjuk jalan.
"Berhenti!", teriak seorang penjaga gapura wanua sambil menghadang laju kuda Trajutrisna. Segera Trajutrisna menarik tali kekang kudanya dan berhenti di depan sang penjaga gerbang.
Buru buru Trajutrisna melompat turun dari kudanya.
Saya pengembara dari Galuh, ingin ke Pakuwon Banjar. Apa masih jauh ya?", tanya Trajutrisna dengan sopan.
Si penjaga gapura itu segera mengamati ketujuh orang itu. Setelah yakin mereka bukan orang yang bermaksud tidak baik, dengan santun dia berkata.
"Setelah melewati Pakuwon Pandanarum, kalian akan sampai di Pakuwon Banjar. Tapi selepas melewati wanua ini, tidak ada wanua lagi karena kalian akan melewati hutan luas.
Sebaiknya kalian beristirahat disini, lagipula hari sebentar lagi gelap".
Trajutrisna segera menoleh ke arah Panji Watugunung, begitu melihat anggukan kepala dari Panji Watugunung dia segera bertanya.
"Dimana tempat kami bisa menginap disini kisanak?".
"Hemmmmm..
Sebaiknya di tempat Ki Lurah saja. Tempat nya luas. Mari aku antar kalian kesana", ujar si penjaga gapura sambil berjalan menuju ke tempat Lurah Wanua Kracak. Panji Watugunung dan rombongan nya segera mengikuti langkah si penjaga gapura.
Seorang pria paruh baya dengan langkah tegap berjalan keluar dari serambi rumah saat si penjaga gapura memanggil namanya.
"Ada apa Monggol? Kenapa kau memanggil nama ku?", Lurah Wanua Kracak, Mpu Kati menatap Monggol si penjaga gapura.
"Maaf Ki Lurah, ini ada pengelana dari jauh yang ingin bermalam disini. Kan kasihan Ki kalau mereka sampai bermalam di hutan itu. Sudah sepi, ada rampok nya lagi hiii", Monggol bergidik ngeri.
"Hemmmm..
Apa kalian punya uang? Kalau tidak punya lebih baik kalian segera angkat kaki dari sini", ujar Mpu Kati sambil berkacak pinggang.
"Ki Lurah tenang saja, kami memiliki sedikit perbekalan. Memang berapa yang di butuhkan untuk menginap satu malam disini?", tanya Ratna Pitaloka dengan senyum.
"Satu orang, sekepeng perak. Itu sudah termasuk makan malam", Mpu Kati acuh tak acuh. Dia berpikir pasti mereka hanya niat numpang menginap dan makan saja.
Sekar Mayang merogoh kantong bajunya, dan mengeluarkan 7 kepeng perak kemudian memberikan nya pada Trajutrisna. Laki-laki itu segera memberikan kepeng perak itu pada Mpu Kati.
Mata Mpu Kati langsung melebar melihat tumpukan kepeng perak itu. Lalu dengan sopan, dia mempersilahkan mereka masuk ke serambi kediaman nya untuk menunggu pembantu nya menata tempat tidur.
Malam itu Panji Watugunung dan keempat istrinya menempati sebuah kamar yang luas di salah satu sudut rumah kediaman Lurah Wanua Kracak. Sementara Lawana dan Trajutrisna mendapat tempat tidur di depan.
__ADS_1
Usai sarapan pagi tanpa di pungut biaya oleh Mpu Kati, mereka melanjutkan perjalanan menuju Pakuwon Banjar yang merupakan Pakuwon paling selatan di wilayah Kalingga.
Setelah menyeberangi sungai kecil yang merupakan anak Kali Serayu, mereka memacu kuda mereka melewati jalan setapak di kawasan hutan lebat yang terkenal dengan sebutan Alas Kemukus.
Sampai hampir tengah hari mereka belum menemukan ujung hutan lebat itu. Tiba tiba..
Kraaakkk
Bruakkk
Sebuah pohon tumbang menghalangi jalan mereka. Karena kaget, kuda mereka meringkik keras sambil hendak berbalik arah. Dewi Naganingrum yang nyaris jatuh, segera di sambar oleh Panji Watugunung yang ada di dekat nya.
Dari balik rimbun pohon hutan, muncul 10 orang berpakaian serba hitam dan sepasang orang memakai baju berwarna kuning.
"Mau apa kalian menghalangi jalan kami?", tanya Panji Watugunung sambil memandang kearah sepasang orang berbaju kuning itu.
Hahahaha
"Kami adalah Sepasang Iblis Gading dari Alas Kemukus. Berikan harta benda kalian, maka akan kubiarkan nyawa kalian tetap di tubuh masing-masing. Jika tidak, jangan harap kalian bisa pulang dalam keadaan hidup", ujar si lelaki berbaju kuning itu sambil tersenyum sinis.
Lawana dan Trajutrisna terkejut mendengar nama itu disebut. Di wilayah Kalingga, nama mereka terkenal karena sering merampok pedagang yang melintas di wilayah selatan.
"Hemmmm
Kalian perampok rupanya.
Kami hanya pengelana biasa yang kebetulan lewat di sini. Kami tidak punya cukup bekal untuk berbagi dengan kalian", Panji Watugunung masih tetap tenang, sementara para pengikutnya sudah siap mencabut senjata masing-masing.
"Kau pikir kami bodoh!
Kuda kalian terlalu mahal untuk ukuran pengelana biasa. Cepat serahkan harta kalian sebelum sikap baik kami berubah", ujar si wanita berbaju kuning itu sedikit menggertak.
"Maaf tapi kami masih memerlukan kuda kami untuk melanjutkan perjalanan", Panji Watugunung tersenyum tipis.
Mendengar jawaban Panji Watugunung, Sepasang Iblis Gading segera menoleh kearah anak buah nya.
"Serang mereka!", teriak Iblis Gading Jantan.
Sepuluh orang berpakaian hitam itu segera mengepung rombongan Panji Watugunung dengan pedang terhunus.
Sekar Mayang yang tidak sabaran, langsung melompat ke udara dari atas kudanya. Kemudian melesat turun sambil menghantamkan tumit kaki kanan nya pada bahu salah satu anggota perampok itu.
Bukkkkk..
Si anggota perampok itu langsung tengkurap menyusruk tanah. Dengan cepat dia mundur. Wajahnya penuh tanah dan rumput. Dengan penuh amarah, dia melompat sambil mengayunkan pedangnya ke arah Sekar Mayang.
"Ku bunuh kau, perempuan laknat!"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ikuti terus kisah selanjutnya guys 😁😁
__ADS_1
Yang suka dengan cerita ini, silahkan tinggalkan jejak kalian dengan like 👍, vote ☝️, favorit ❤️, dan komentar 🗣️ nya agar author terus semangat menulis.
Selamat membaca guys 🙏🙏🙏🙏