
Usai berkata demikian, Panji Watugunung segera menghisap nafas panjang. Yuwaraja Panjalu yang memiliki istri 7 itu lantas menjejak tanah dengan keras. Di bantu dengan Ajian Sepi, tubuh Panji Watugunung melesat cepat bagai kilat kearah Mapanji Garasakan sambil mengayunkan Pedang Naga Api kearah leher Sang Penguasa Jenggala.
Mapanji Garasakan pias wajahnya. Dengan sigap, tangan Raja Jenggala itu mengangkat Gada Wesi Kuning untuk menangkis sabetan pedang Panji Watugunung.
Thhraaaangggggggg!!
Bunga api kecil tercipta dari benturan dua senjata mereka, di tambah gelombang kejut yang menakutkan membuat semua orang yang menyaksikan pertarungan mereka bergidik ngeri.
Dengan cepat, tangan kiri Mapanji Garasakan yang sudah di lapisi Ajian Dewa Surya menghantam dada kiri Panji Watugunung.
Blammmmm!!
Ledakan dahsyat terdengar dari beradunya Ajian Dewa Surya dan Ajian Tameng Waja. Panji Watugunung terdorong mundur beberapa langkah sedangkan Mapanji Garasakan terpental ke belakang. Sebelum tubuh pria paruh baya itu menghujam tanah, dengan bantuan dari Gada Wesi Kuning, Mapanji Garasakan merubah gerakan tubuhnya dan mendarat dengan keseimbangan yang sedikit goyah.
Panji Watugunung tersenyum tipis sedang Mapanji Garasakan tampak menahan nyeri pada dadanya.
'Bedebah,
Bocah edan ini tidak boleh dianggap enteng. Aku harus hati-hati', batin Prabu Mapanji Garasakan sambil perlahan mengurut dadanya yang nyeri.
Dyah Bayunata yang tengah bertarung melawan Ratna Pitaloka sedikit melirik ke arah Mapanji Garasakan. Warangka praja Jenggala itu segera tahu bahwa nyawa junjungan nya dalam bahaya.
Sabetan pedang nya yang cepat membuat Ratna Pitaloka harus melompat mundur menjauhi Mapatih Jenggala.
Saat yang bersamaan, Panji Watugunung kembali menjejak tanah dengan keras kemudian melesat cepat kearah Mapanji Garasakan. Pedang Naga Api yang memancarkan pamor kemerahan terayun ke arah sang Penguasa Jenggala.
'Celaka,
Nyawa Gusti Prabu Garasakan dalam bahaya', batin Dyah Bayunata yang segera melesat cepat menyongsong serangan Panji Watugunung.
Panji Watugunung yang terkejut dengan gerakan Dyah Bayunata langsung mengayunkan Pedang Naga Api kearah sosok yang menghalangi jalan nya.
Thrrriiinnnggggg..
Trakkk!!!
Begitu Pedang Naga Api beradu dengan pedang Dyah Bayunata, senjata Mapatih Jenggala itu langsung patah. Meski sempat mencoba untuk berkelit, namun tebasan Pedang Naga Api tetap merobek dada sang Mapatih Jenggala itu.
Chrraaasssshhh..
AAAARRRGGGHHHH!!
Jerit kesakitan Mapatih Dyah Bayunata terdengar keras saat Pedang Naga Api merobek dadanya. Laki laki sepuh itu terpental ke belakang. Tubuhnya nyaris menghantam tanah andaikata Mapanji Garasakan tidak segera menangkap nya.
"Paman Bayunata,
Kenapa kau berbuat seperti ini?", ada getar kesedihan dalam ucapan Mapanji Garasakan melihat dada kiri Dyah Bayunata yang terluka parah. Pria bertubuh gempal itu terus muntah darah segar.
Dengan tersengal sengal, Dyah Bayunata mencoba untuk berbicara dengan Penguasa Jenggala itu.
"Ha..hamba adalah a-abdi paduka. Su-sudah sep-sepantasnya mengorbankan nyawa demi Gusti Prabu..
Mohon ampun Gusti Prabu,
Ti-dak bisa me-mengabdi pada Gusti Prabu Garasakan lebih laaaaammmaaaa", usai berkata demikian Dyah Bayunata menghembuskan nafas terakhirnya. Tubuh tua Mapatih Jenggala itu lunglai dengan luka menganga lebar pada dadanya.
Dari sudut mata Mapanji Garasakan, setetes air mata mengalir. Teringat akan kesetiaan Dyah Bayunata sejak awal mula berdirinya Kerajaan Jenggala. Perlahan Mapanji Garasakan menutup mata Dyah Bayunata yang kini telah menjadi mayat kemudian perlahan membaringkan tubuh nya ke tanah.
"Bocah edan,
Akan ku balas kematian Paman Mapatih Bayunata!", teriak Mapanji Garasakan sambil berdiri. Mata Maharaja Jenggala itu mendelik tajam ke arah Panji Watugunung.
Segera kedua tangan Mapanji Garasakan terentang lebar. Lalu mengepal kuat. Rupanya dia berniat untuk mengeluarkan ilmu kanuragan pamungkas nya yang bernama Ajian Surya Sengkala. Satu Ajian pamungkas karena hanya bisa digunakan sekali seumur hidup karena setelah memakai ajian itu maka sang pemakai akan hancur urat nadi tubuh nya.
Tubuh Raja Jenggala itu perlahan mengeluarkan asap tipis berwarna merah. Lalu seluruh otot pada tubuh Mapanji Garasakan membesar hampir dua kali lipat hingga terlihat tubuh Mapanji Garasakan berubah menjadi jauh lebih besar. Kulit nya berubah warna menjadi merah seperti bunga mawar.
Dengan melihat perubahan wujud pada Mapanji Garasakan, Panji Watugunung segera bersiap untuk menghadapi serangan. Dengan merapal Ajian Tameng Waja dan dipadu dengan Ajian Sepi Angin, Panji Watugunung terus mengawasi gerak-gerik Sang Maharaja Jenggala.
Tiba tiba...
Whuuussshh..!
Entah darimana datangnya, Mapanji Garasakan sudah ada di depan Panji Watugunung dan menghantam dada sang Yuwaraja Panjalu itu dengan keras.
Dhiesshhhhhhh!!
Bhuuummmmmh..!!
Panji Watugunung langsung terpelanting ke belakang sejauh beberapa tombak. Untung saja, meski hantaman Mapanji Garasakan sangat keras, namun tubuh Panji Watugunung yang sudah di lapisi sinar kuning keemasan dari Ajian Tameng Waja tidak terluka sedikitpun.
Belum sempat Panji Watugunung berdiri tegak, dari arah samping, sebuah tendangan keras di layangkan oleh Mapanji Garasakan.
Bhuuukkkhhh!!!
Blaaarrrhhh!!
__ADS_1
Kembali tubuh Panji Watugunung terpental beberapa tombak ke samping. Namun Putra Mahkota Kerajaan Daha itu sama sekali tidak terluka meski tubuhnya terlempar jauh.
Memang, Ajian Surya Sengkala mampu meningkatkan kecepatan dan kekuatan tubuh para pemakainya berkali kali lipat meski tidak mampu bertahan lama.
Mapanji Garasakan terus menggempur pertahanan Panji Watugunung terus menerus. Kecepatan gerak dan kekuatan yang jauh meningkat membuat Sang Maharaja Jenggala itu bagai mempermainkan Panji Watugunung.
Semua prajurit Panjalu sangat putus asa melihat junjungan mereka seperti menjadi bahan mainan Mapanji Garasakan.
Rupanya Ajian Tameng Waja benar benar menjadi pertahanan diri paling sempurna bagi Panji Watugunung. Sekeras apapun usaha Maharaja Garasakan untuk menjatuhkan Panji Watugunung dengan ilmu silat dan hantaman Gada Wesi Kuning namun penguasa Kadiri itu tetap saja bugar seperti tidak terjadi apa-apa.
Mapanji Garasakan mulai merasakan sakit pada seluruh tubuh nya.
Dengan gerakan yang tidak bisa di ikuti oleh mata biasa, Mapanji melesat bagai anak panah lepas dari busurnya.
Laki laki paruh baya itu menghantamkan Gada Wesi Kuning kearah kepala Panji Watugunung.
Meski dengan pertahanan sempurna Panji Watugunung, gebukan Gada Wesi Kuning mampu melemparkan tubuh Panji Watugunung sejauh 2 tombak.
Dewi Naganingrum yang melihat suaminya jadi serangan bertubi-tubi dari Mapanji Garasakan hendak bergerak membantu sang suami. Namun belum sempat dia bergerak, tangan kanannya segera di cekal oleh Sekar Mayang yang kebetulan ada di dekat nya.
"Mau kemana kau, Putri Sunda?", tanya Sekar Mayang sambil memegang erat pergelangan tangan Dewi Naganingrum.
"Abdi ingin membantu Akang Kasep, Teh..
Lihat lah, abdi mah tak tega lamun Akang Kasep jadi bulan-bulanan seperti itu", ucap Dewi Naganingrum sambil berusaha melepaskan diri dari cekalan Sekar Mayang.
"Jangan bodoh Naganingrum,
Perhatikan saja keadaan Kakang Watugunung. Lihatlah meski dia seperti tak berdaya, namun kulitnya pun tidak lecet sama sekali bukan?", ujar Sekar Mayang sambil tersenyum tipis melihat kekhawatiran permaisuri ketiga Panji Watugunung itu.
Mendengar ucapan itu, Dewi Naganingrum segera menajamkan penglihatan mata nya. Dan memang benar ucapan Sekar Mayang. Perempuan cantik itu menarik nafas lega.
"Sekarang kita lihat dari sini saja,
Aku yakin Kakang Watugunung sedang mencari celah dari pergerakan Maharaja Jenggala itu.
Tidak lama lagi, Kakang Watugunung pasti bisa mengalahkan raja Jenggala itu. Kau tenang saja", ujar Sekar Mayang dengan penuh keyakinan. Dewi Naganingrum langsung mengangguk mengerti dengan maksud omongan selir kedua Yuwaraja Panjalu itu segera.
Pertempuran di sisi lain terus berkecamuk dengan hebat.
Para prajurit Jenggala yang semakin terdesak sebisa mungkin bertahan menghadapi gempuran para prajurit Panjalu yang terus memburu mereka tanpa ampun.
Mapanji Garasakan mulai melambat gerakannya. Dari pori pori kulit nya mulai muncul titik darah yang merupakan pertanda bahwa Ajian Surya Sengkala telah mencapai batasnya.
Sapuan kaki kanan Mapanji Garasakan berhasil di hindari oleh Panji Watugunung dengan melompat mundur selangkah. Sekejap kemudian, dengan memutar gerakan tubuhnya, Panji Watugunung segera melayangkan tendangan keras kearah pinggang sang penguasa Jenggala.
Aauuggghhhh!!
Mapanji Garasakan menjerit keras saat tendangan kaki kanan Panji Watugunung menghajar telak pinggang nya. Pria paruh baya itu berusaha untuk membalas serangan itu dengan mengayunkan Gada Wesi Kuning di tangan kanannya ke arah kepala Panji Watugunung.
Dengan cepat Panji Watugunung segera berkelit ke samping menghindari gebukan Gada Wesi Kuning, lalu dengan cepat dia menebaskan pedangnya ke arah tangan kanan Mapanji Garasakan.
Chrraaasssshhh...
Aarrrggghhhhhhhhh!!!
Jerit kesakitan terdengar dari mulut Mapanji Garasakan saat Pedang Naga Api memotong lengan kanannya. Gada Wesi Kuning terjatuh ke tanah bersamaan dengan potongan tangan kanan Mapanji Garasakan.
Maharaja Jenggala itu terhuyung huyung mundur ke belakang sambil membekap tangan kanannya yang buntung.
"Menyerahlah Gusti Maharaja,
Kau sudah kalah!", ucap Panji Watugunung sambil menatap ke arah Mapanji Garasakan yang terluka parah.
Phuihhhh!
"Jangan harap aku menyerah pada Samarawijaya, Bocah edan..
Akan ku cabut nyawamu!", teriak Mapanji Garasakan sambil mencabut keris di pinggangnya. Lalu dengan berlari cepat dia menuju ke arah Panji Watugunung dengan maksud untuk menusukkan kerisnya.
Dengan terpaksa, Panji Watugunung segera berkelit menghindari tusukan keris Mapanji Garasakan lalu menusukkan Pedang Naga Api ke arah perut Sang Maharaja Jenggala.
Jleeeeppppph!!
Ougghhh!!
Mapanji Garasakan melengguh saat Pedang Naga Api menusuk perutnya tembus punggung. Saat Panji Watugunung mencabut Pedang Naga Api dari perut Mapanji Garasakan, putra Prabu Airlangga itu segera roboh ke tanah. Tak berapa lama kemudian, Mapanji Garasakan Sang Maharaja Jenggala tewas dengan bersimbah darah.
Hari itu, di tahun 1052 Masehi di timur Hutan Marsma, putra Prabu Airlangga dari selir tercintanya, gugur demi mempertahankan ambisi nya untuk menyatukan kembali kerajaan Kahuripan yang terpecah menjadi dua. Sejarah mencatat bahwa kematian Mapanji Garasakan ternyata tidak mampu meredakan permusuhan antara dua keturunan wangsa Isyana yang menjadi penguasa di Jenggala dan Panjalu yang berlangsung hingga 6 Warsa selanjutnya.
Panji Watugunung segera mengacungkan Pedang Naga Api ke udara sambil berteriak lantang.
"Hentikan pertempuran!
Raja Jenggala sudah tewas!", teriak Panji Watugunung yang segera membuat kedua belah pihak yang berperang menghentikan pergerakan mereka.
__ADS_1
Para prajurit Jenggala yang tersisa, segera membentuk kelompok pasukan. Di pimpin oleh Bekel Suwandha, mereka sepakat untuk menyerah. Satu persatu mereka mulai melemparkan senjata sebagai tanda takluk pada Panji Watugunung.
Sorak sorai segera terdengar dari mulut para prajurit Panjalu.
Dewi Naganingrum, Dewi Srimpi, Ratna Pitaloka dan Sekar Mayang segera mendekati Panji Watugunung. Mereka merasa lega karena pertempuran mereka hari ini berhasil mereka menangkan.
"Selamat Kakang,
Kau sudah memenangkan pertempuran kita hari ini", ucap Ratna Pitaloka sambil tersenyum manis.
Panji Watugunung tersenyum tipis dan mengangguk tanda menerima ucapan selamat dari Selir pertama nya.
"Terimakasih atas ucapan mu, Dinda Pitaloka.
Namun sebaiknya kita tidak bersuka cita terlebih dahulu karena kita belum bisa menahklukan kota Kahuripan.
Terlebih lagi, yang kita kalahkan adalah Mapanji Garasakan. Dia masih saudara jauh ku Dinda", ujar Panji Watugunung dengan lembut.
"Pitaloka mengerti Kakang", jawab Ratna Pitaloka dengan cepat.
Panji Watugunung segera menoleh kearah Jarasanda yang mendekati ke arah Panji Watugunung. Tubuh adik ipar Warigalit itu penuh dengan darah.
"Jarasanda,
Siapkan upacara penyucian jiwa untuk Gusti Maharaja Garasakan. Dia masih terhitung saudara jauh ku. Selayaknya kita memberikan penghormatan terakhir kepada nya.
Urus para tawanan perang itu dengan baik", perintah Panji Watugunung pada sang Wakil Pimpinan Pasukan Garuda Panjalu.
"Sendiko dawuh Gusti Pangeran", Jarasanda segera menghormat pada Panji Watugunung dan melaksanakan perintah dari junjungan nya itu segera.
Para prajurit Panjalu segera menguburkan mayat mayat teman seperjuangan mereka yang gugur pada hari itu, sementara para prajurit Jenggala yang sudah menyerah di perintahkan agar mengumpulkan mayat mayat kawan mereka untuk di kumpulkan selanjutnya di bakar agar tidak menjadi sarang penyakit.
Demung Gumbreg segera memerintahkan kepada para prajurit perbekalan untuk mendirikan kemah di sisi barat dari padang rumput. Dengan cepat mereka bergerak membangun tenda perkemahan untuk para prajurit Panjalu yang bertempur hari itu.
Saat hari mulai senja, upacara penyucian jiwa bagi Mapanji Garasakan di laksanakan di tempat itu. Baik prajurit Panjalu maupun Jenggala yang tersisa ikut menghadiri upacara penyucian dengan khidmat. Dengan mengenakan kain putih sebagai tanda duka cita, Panji Watugunung sendiri yang menyalakan api ke tumpukan kayu kering yang menjadi alas upacara penyucian jiwa Mapanji Garasakan.
Api perlahan mulai membakar kayu kayu kering yang menjadi alas tubuh Mapanji Garasakan. Hembusan angin dari selatan yang berhembus pelan membuat api cepat merambat dan membesar. Kepulan asap tebal membumbung tinggi ke udara. Asap kemenyan dan dupa yang di bakar semakin menambah suasana duka cita mendalam bagi segenap orang yang menghadiri upacara penyucian jiwa untuk Mapanji Garasakan.
Ratna Pitaloka segera menghampiri Panji Watugunung yang masih termangu memandangi api yang membakar jasad Mapanji Garasakan. Selir pertama Panji Watugunung itu melingkarkan tangannya ke tangan kiri Sang Yuwaraja Panjalu.
"Kakang,
Apakah kematian Maharaja Garasakan ini akan menjadi akhir yang damai untuk kita semua?", tanya Ratna Pitaloka sambil menyenderkan kepalanya di bahu kiri Panji Watugunung.
"Aku tidak tahu Dinda Pitaloka.
Setidaknya untuk saat ini, halangan terbesar untuk kedamaian di Tanah Jawadwipa ini sudah pergi ke nirwana", jawab Panji Watugunung dengan terus menatap ke arah api yang berkobar.
"Lantas apa langkah kita selanjutnya, Kakang Watugunung?", Ratna Pitaloka menoleh ke arah Panji Watugunung.
Sambil menghela nafas panjang, Panji Watugunung berkata dengan suara tegas.
"Besok kita gempur istana Kahuripan!"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Yang suka silahkan tinggalkan jejak dengan like 👍, vote ☝️, favorit 💙 dan komentar 🗣️ nya yah
__ADS_1
Selamat membaca 🙏🙏🙏