
Sang lelaki bertubuh kekar dengan kumis tipis itu turun dengan dengan dikawal oleh dua orang sepuh berjenggot panjang dan 20 orang berpakaian bagus layaknya bangsawan. Pun di belakangnya ada dua perempuan cantik layaknya seorang putri bangsawan mengikuti langkah sang lelaki. Mereka berkumpul di pelabuhan Kambang Putih menunggu kapal lain yang merupakan pengikut sang lelaki. Satu persatu kapal perlahan merapat di pelabuhan laut terbesar kedua di negeri Panjalu setelah pelabuhan Halong di Kalingga.
Usai telah berkumpul semua, tak kurang 2000 berpakaian asing ada bersama sang lelaki itu.
Mereka datang ke Tanah Jawadwipa dengan membawa 100 kapal besar dari Suwarnadwipa.
"Dang Hyang Dyah Wijayawarman,
Semua orang pengikut setia Yang Mulia telah berkumpul semua. Mohon petunjuk selanjutnya", ujar seorang lelaki tua berjenggot putih yang sepertinya merupakan tangan kanan atau penasehat utama dan lelaki bertubuh kekar itu dengan penuh hormat.
"Mpu Danda,
Tujuan kita adalah Daha yang merupakan keturunan dari si pengkhianat Mpu Sindok. Daha saat ini menguasai hampir seluruh tanah Jawa di bagian tengah. Sedangkan Jenggala hanya menguasainya wilayah di timur.
Menurut pendapat mu, apa yang harus aku lakukan sekarang? Langsung menemui raja Panjalu atau pun menemui raja Jenggala?", tanya si lelaki yang bernama Dyah Wijayawarman itu segera.
"Menurut yang hamba dengar, Raja Jenggala baru di kalahkan oleh Raja Panjalu dalam perang besar mereka, Dang Hyang..
Kita gunakan taktik adu domba untuk menjatuhkan mereka berdua. Pertama kita dekati Raja Jenggala untuk bersekutu dengan kita. Selepas kita tundukkan Daha, baru kita habiskan Raja Jenggala.
Bagaimana menurut Dang Hyang?", Mpu Danda sang penasehat utama menatap wajah Dyah Wijayawarman.
"Hemmmmmmm boleh juga..
Tahta Kerajaan Mataram harus kembali pada keturunan wangsa Syailendra. Akan ku kembalikan lagi kejayaan leluhur ku di Tanah Jawadwipa", ujar Dyah Wijayawarman sambil mengepalkan tangannya kuat-kuat. Pria muda itu menatap langit biru di atas Pelabuhan Kambang Putih dengan tatapan penuh percaya diri.
Usai melakukan pembelian kuda besar-besaran di wilayah Kambang Putih, rombongan itu segera berangkat menuju ke wilayah Lwaram, bekas sekutu Sriwijaya yang pernah menghancurkan kerajaan Medang sebagai bentuk balas dendam keturunan Wangsa Syailendra yang menguasai kerajaan Sriwijaya.
Seorang Akuwu Lwaram bernama Mpu Wiryamukti adalah tujuan mereka.
Dyah Wijayawarman, adalah keturunan Dyah Wawa, raja terakhir kerajaan Mataram Lama yang memerintah wilayah Jawa Tengah dan sebagian besar Jawa Timur tanpa wilayah Blambangan dan Lamajang. Saat pralaya yang memusnahkan kerajaan Mataram Lama karena letusan Gunung Mandrageni atau Gunung Merapi, Mpu Sindok yang menjadi Mahamantri i Hino memimpin sisa sisa penduduk ibukota Mataram Lama di Mamrati untuk mengungsi ke Jawa Timur.
Sebagai menantu Dyah Wawa yang juga merupakan satu-satunya keluarga istana Mataram Lama yang masih hidup, Mpu Sindok di nobatkan sebagai Raja kerajaan Medang yang baru dengan gelar Sri Maharaja Rakai Hino Dyah Sindok Isyanawikrama Dharmottunggadewawijaya dengan ibukota di Tamwelang. Mpu Sindok lalu mendirikan dinasti Isyana yang memerintah wilayah Kerajaan Mataram Lama di Jawa Timur.
Sedangkan seorang pangeran Mataram Lama yang bernama Dyah Mahasumba berhasil menyelamatkan diri dari pralaya itu memilih untuk mengungsi ke Suwarnadwipa, meminta bantuan kepada keturunan Balaputradewa yang memerintah wilayah Kerajaan Sriwijaya. Dyah Mahasumba yang pengecut dan hanya mau hidup enak, memilih mengabaikan rakyat Mataram yang terlunta-lunta akibat dari bencana alam yang meluluhlantakkan seluruh Kotaraja Mamrati dan wilayah selatan Mataram Kuno.
Dikatakan oleh seorang pujangga, bahwa kehancuran Kota Mamrati merupakan balak dari Hyang Tunggal karena seringnya terjadi pertumpahan darah di kalangan istana untuk berebut tahta kerajaan Mataram.
Dyah Wijayawarman adalah buyut dari Dyah Mahasumba. Dia datang ke tanah Jawadwipa usai di usir oleh Maharaja Sriwijaya, Sri Sanggramawijayottunggawarman usai percobaan merebut tahta. Bersama 2 ribu pengikutnya, Dyah Wijayawarman tidak diijinkan untuk menginjak Bumi Suwarnadwipa lagi. Dyah Wijayawarman tidak dibunuh oleh Maharaja Sriwijaya karena istrinya merupakan adik kandung sang raja.
Atas usul Mpu Danda dan Dyah Pangkaja mereka berlayar ke Tanah Jawadwipa. Mereka ingin mengambil tanah Jawa yang menurut mereka adalah hak waris dari Dyah Wawa, raja terakhir kerajaan Mataram Lama.
Rombongan Dyah Wijayawarman terus bergerak ke arah barat daya. Usai menempuh perjalanan selama 2 hari semalam, melewati beberapa Pakuwon di wilayah Bojonegoro, mereka sampai di wilayah Pakuwon Lwaram.
Kedatangan 2 ribu orang di bawah pimpinan Dyah Wijayawarman membuat para penduduk kota Pakuwon Lwaram ketakutan. Mereka memilih untuk menyingkir dari jalanan kota daripada berhadapan dengan para orang asing.
Para prajurit istana Pakuwon langsung bersiaga begitu mereka sampai di depan pintu gerbang istana.
"Mau apa kalian kemari ha?", hardik seorang prajurit yang bersiaga dengan tombak siap menghujam ke arah rombongan itu.
Seorang lelaki bertubuh kekar segera melompat turun dari kuda tunggangan nya. Gerakan tubuhnya yang cepat dan ringan menandakan bahwa dia memiliki ilmu kanuragan yang tinggi.
"Lancang sekali mulut mu berkata kasar pada Sang Hyang kami!
Cepat minta maaf atau ku cabut nyawamu sekarang juga", bentak lelaki bertubuh kekar dengan kumis tebal dan tahi lalat besar di sebelah hidung.
"Sudiwara,
Jangan terlalu kasar. Kita bukan mau berperang di tempat ini", ucap Dyah Wijayawarman dari atas kuda nya.
"Baik Dang Hyang...
Hai prajurit,
Katakan pada pimpinan mu Akuwu Wiryamukti bahwa Dang Hyang Wijayawarman dari Sriwijaya telah sampai dan ingin bertemu", ujar lelaki bertubuh kekar yang bernama Sudiwara itu sambil mendengus dingin pada sang prajurit penjaga gerbang istana Pakuwon Lwaram.
Sang prajurit segera menoleh ke arah seorang kawannya. Sedikit isyarat darinya membuat sang kawan langsung berlari menuju ke dalam Istana Pakuwon Lwaram.
Akuwu Wiryamukti dan dua pejabat istana Pakuwon Lwaram, Sang Pamgat (sejenis hakim) Mpu Ketu dan Bekel Prajurit Kumbina tengah berbincang mengenai keadaan Pakuwon Lwaram saat sang prajurit penjaga masuk ke dalam balai pisowanan Pakuwon.
"Ada apa kau masuk kemari tanpa aku panggil, Prajurit?", tanya Akuwu Wiryamukti sambil menatap ke arah sang prajurit penjaga.
"Mohon ampun Gusti Akuwu,
Ribuan orang datang ke depan pintu gerbang istana Pakuwon. Salah seorang dari mereka mengaku bernama Dyah Wijayawarman dari Sriwijaya ingin bertemu dengan Gusti Akuwu", lapor sang prajurit penjaga gerbang istana sembari menghormat pada Akuwu Wiryamukti.
Seutas senyum lebar terkembang di bibir Akuwu Wiryamukti. Hampir 6 purnama yang lalu dia baru menerima sepucuk surat dari Dyah Wijayawarman yang meminta persekutuan dengan Akuwu Wiryamukti untuk menuntut hak tahta kerajaan Mataram Kuno yang kini telah berpindah kuasa kepada keturunan Mpu Sindok.
__ADS_1
Mpu Wiryamukti yang memang berambisi untuk mendirikan kembali kekuasaan Kerajaan Wurawari yang telah musnah pada era kekuasaan Prabu Airlangga, langsung menyetujui permintaan persekutuan itu dengan harapan menjadi Raja bawahan yang merdeka di bawah Kerajaan Mataram Lama. Tak dia sangka bahwa kedatangan mereka akan secepat ini sampai di istana Pakuwon Lwaram.
Akuwu Mpu Wiryamukti segera bangkit dari tempat duduknya dan segera berjalan menuju ke arah pintu gerbang istana Pakuwon untuk menyambut kedatangan Dyah Wijayawarman. Dua orang pejabat istana Lwaram pun mengikuti langkah sang pemimpin.
Dyah Wijayawarman langsung melompat turun dari kudanya begitu melihat seorang lelaki bertubuh gempal dengan rambut sedikit memutih dengan pakaian mewah ala pejabat istana datang menghampiri rombongan nya.
"Selamat datang di Pakuwon Lwaram Gusti Pangeran Dyah Wijayawarman", ujar Akuwu Mpu Wiryamukti sambil membungkukkan badannya pertanda bahwa dia hormat kepada Dyah Wijayawarman.
"Hemmmmmmm..
Terimakasih atas sambutan mu Akuwu Lwaram. Kau benar benar bisa di andalkan", ucap Dyah Wijayawarman sambil tersenyum penuh arti.
"Mari kita berbincang di dalam saja, Gusti Pangeran.
Bekel Kumbina,
Kau atur tempat untuk para pengikut Gusti Pangeran Dyah Wijayawarman di tempat yang sudah aku siapkan di barat kota ini. Ingat jangan sampai menarik perhatian", Akuwu Mpu Wiryamukti menoleh ke arah Bekel Kumbina yang berdiri di belakangnya.
"Sendiko dawuh Gusti Akuwu", ujar Bekel Kumbina sambil menghormat pada Akuwu Lwaram itu.
Para pimpinan pengikut Dyah Wijayawarman mengikuti langkah sang pemimpin bersama Akuwu Mpu Wiryamukti ke dalam istana Pakuwon Lwaram. Sedangkan Bekel Kumbina di bantu oleh beberapa prajurit mengarahkan para pengikut Dyah Wijayawarman dari Suwarnadwipa untuk menempati beberapa bangunan barak prajurit yang sudah di persiapkan untuk mereka.
Akuwu Wiryamukti langsung duduk bersila di lantai balai pisowanan Pakuwon Lwaram bersama Sang Pamgat Mpu Ketu. Dyah Wijayawarman pun mengikuti nya bersama para pengikutnya yang berjumlah sekitar 20 orang.
"Hamba mohon diri tidak menyambut kedatangan Gusti Pangeran dengan layak. Hamba memang tidak menduga kalau kedatangan Gusti Pangeran Wijayawarman akan secepat ini ke Lwaram", ujar Mpu Wiryamukti sambil tersenyum tipis.
"Sudahlah jangan kau bahas masalah ini lagi. Kau masih mengakui bahwa aku adalah pewaris sah tahta kerajaan Mataram Lama pun itu sudah membuat aku gembira.
Aku berjanji, jika aku mampu mendirikan kembali kekuasaan Kerajaan Mataram Lama, maka wilayah Lwaram dan sekitarnya akan menjadi hak kekuasaan ku sebagai Raja bawahan ku, Mpu Wiryamukti", Dyah Wijayawarman tersenyum simpul.
"Terimakasih atas kemurahan hati Gusti Pangeran. Wiryamukti sangat menghargainya.
Lantas apa langkah Gusti Pangeran selanjutnya? Saat ini tidak mungkin Gusti Pangeran mengadakan perang terbuka melawan Kerajaan Panjalu. Kekuatan perang mereka terlalu besar untuk kita hadapi saat ini", Mpu Wiryamukti menatap wajah Dyah Wijayawarman segera.
"Kita memang tidak mungkin langsung menyatakan perang terhadap Kerajaan Panjalu, Mpu Wiryamukti.
Kita harus membangun dulu satu kekuatan yang cukup besar untuk persiapan ku menuntut hak atas tahta kerajaan Mataram Lama.
Musuh utama Panjalu hanya Jenggala. Galuh Pakuan pun tidak mau macam-macam dengan Panjalu karena putri bungsu Prabu Darmaraja diambil istri oleh Raja Panjalu yang sekarang. Saat ini kita harus bekerjasama dengan Jenggala untuk menghadapi Panjalu.
Ingat, musuhnya musuh adalah teman Mpu Wiryamukti", ujar Dyah Wijayawarman sambil tersenyum lebar.
Maka dari itu kita harus merahasiakan ini semua sebelum kita benar-benar mampu untuk melawan armada perang Kerajaan Panjalu.
Lantas kapan Gusti Pangeran akan mengutus seorang duta untuk berangkat ke Jenggala?", tanya Mpu Wiryamukti sambil menatap ke arah Dyah Wijayawarman.
Mendengar pertanyaan itu, Dyah Wijayawarman segera menoleh ke arah para pengikutnya. Seorang lelaki bernama Janasamba yang terkenal sebagai juru bicara segera menghormat pada Dyah Wijayawarman.
"Saya siap menjadi duta ke Jenggala, Dang Hyang.
Namun saya butuh seorang caraka sebagai penunjuk jalan ke wilayah itu", ujar Janasamba sembari menghormat pada Dyah Wijayawarman.
"Nah, kau dengar sendiri omongan pengikut ku, Mpu Wiryamukti.
Tinggal kau mengutus seorang caraka untuk menemani Janasamba ke Jenggala", Dyah Wijayawarman tersenyum simpul pada Akuwu Wiryamukti.
Sepanjang hari itu mereka terus membahas berbagai rencana tentang persiapan untuk meminta hak tahta pada Panjalu.
Keesokan paginya. Mentari pagi mulai menampakkan diri di langit timur yang biru. Cuaca di kota Pakuwon Lwaram cerah. Secerah harapan Dyah Wijayawarman yang ingin menjadi raja.
Empat orang berpakaian rakyat jelata menunggangi kuda mereka masing-masing menuju ke arah timur. Usai menerima sepucuk surat dari Dyah Wijayawarman, Janasamba dan ketiga caraka dari Pakuwon Lwaram segera berangkat menuju ke arah Kota Kahuripan.
****
Selepas sepekan setelah kelahiran Pangeran Jayagiri, Panji Watugunung bersama Dewi Srimpi dan Cempluk Rara Sunti berangkat ke menuju ke arah Kadipaten Karang Anom.
Roda pemerintahan Kerajaan Panjalu di lakukan oleh Mapatih Jayakerti dibantu oleh Senopati Warigalit dan Tumenggung Landung. Patih Saketi di beri tugas sebagai pengurus Istana Katang-katang dan wilayah Kadiri yang terdiri dari Watugaluh, Tamwelang, Kunjang dan Kadiri. Pemerintahan berjalan baik.
Tumenggung Jarasanda mendapat tugas untuk memindahkan markas Pasukan Garuda Panjalu yang menjadi benteng utama pertahanan. Di wanua Pajarakan, Tumenggung Jarasanda membangun markas untuk Pasukan Garuda Panjalu di bantu Demung Rajegwesi dan Rakai Sanga.
Sedangkan Senopati Narapraja dan Tumenggung Sindupraja mendapat tugas untuk membangun kembali istana Daha. Di bantu para rakyat Daha, mereka bahu membahu membangun Istana Daha.
Kali ini perjalanan Panji Watugunung dan kedua istrinya di kawal oleh Demung Gumbreg dan Tumenggung Ludaka serta 100 prajurit pengawal raja.
Setelah menyeberangi sungai Brantas, rombongan Panji Watugunung bergerak cepat menuju ke arah Kota Kadipaten Karang Anom.
Kedatangan mereka di Kota Kadipaten Karang Anom membuat para penduduk langsung menepi dan memberi hormat kepada rombongan itu.
__ADS_1
"Lu, kau tahu tujuan kita kemari?", tanya Demung Gumbreg yang berkuda di samping Tumenggung Ludaka.
"Mana aku tahu Mbreg?
Memang kau sendiri tahu apa tujuan Gusti Prabu Jayengrana berkunjung ke Karang Anom?", Tumenggung Ludaka menatap perwira prajurit perbekalan bertubuh tambun itu.
"Ini pasti ada hubungannya dengan telat nya upeti mereka tempo hari, Lu...
Diantara para Adipati wilayah Panjalu, kan cuma Karang Anom dan Bhumi Sambara yang paling lambat mengirim upeti kepada pemerintah Panjalu", ujar Demung Gumbreg sambil mengelus dagunya.
"Aku rasa bukan masalah itu Mbreg.. Aku yakin itu", Tumenggung Ludaka menepak punggung kudanya.
"Kog kamu yakin sekali Lu?
Memang pajak bumi telat itu tidak jadi masalah?", Demung Gumbreg menoleh ke arah Tumenggung Ludaka.
"Ya masalah tapi ada lagi yang lebih jadi masalah Mbreg", ujar Tumenggung Ludaka sambil menatap ke arah dua prajurit yang berkuda di depan nya.
"Apa itu Lu?", tanya Demung Gumbreg penasaran.
"Orang yang tidak tahu apa apa tapi sok tahu dalam segala hal", jawab Tumenggung Ludaka segera.
"Orang yang sok tahu tapi tidak tahu apa apa?
Hemmmmmmm...
Eh kau menyindir ku Lu?", Demung Gumbreg melotot ke arah Tumenggung Ludaka.
"Tidak menyindir mu Mbreg. Tapi kenyataannya begitu. Coba kau ngomong seperti itu pada Gusti Prabu Jayengrana, sudah pasti kena marah beliau.
Kau mau coba?", ujar Tumenggung Ludaka sambil tersenyum simpul.
Demung Gumbreg langsung menoleh ke belakang dimana Panji Watugunung dan kedua istrinya berkuda. Melihat wajah Panji Watugunung sebentar, Gumbreg langsung bergidik ngeri.
"Gak usah Lu..
Cari penyakit saja", ucap Demung Gumbreg segera. Tumenggung Ludaka terkekeh geli melihat tingkah laku kawan karibnya itu.
Di depan gapura istana Kadipaten Karang Anom, Adipati Windupati telah berdiri menyambut kedatangan mereka.
"Selamat datang di Istana Kadipaten Karang Anom, Gusti Prabu Jayengrana"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Nikmati selagi ada, jangan sampai lupa bahagia
Tetap semangat apapun yang terjadi.
Yuk ngopi ☕☕☕
__ADS_1
IG author : ebez2812