
Pagi menjelang tiba di Istana Kadipaten Kurawan. Malam yang dingin berganti hangat pagi. Burung malam sudah pulang ke peraduannya. Kokok ayam jantan bersahutan menambah indahnya suasana pagi.
Panji Watugunung membuka matanya. Dengusan nafas Dewi Srimpi yang masih terlelap lembut menyentuh kulit lehernya. Semalam selir termuda itu begitu liar. Beberapa tanda merah di dada Panji Watugunung adalah buktinya.
Perlahan, Panji Watugunung memindahkan tangan Dewi Srimpi yang memeluk nya. Saat hendak turun, Dewi Srimpi bergerak bangun. Wajahnya yang bulat telur tetap cantik meski baru bangun tidur.
"Maaf Denmas, aku terlambat bangun", ucap Dewi Srimpi sambil mengucek kedua mata.
"Tidak apa-apa, ayo bangun. Pagi ini kita akan melakukan perjalanan ke Wengker. Cepatlah mandi dan bersiap-siap", Panji Watugunung tersenyum tipis sambil merapikan baju.
Selir termuda itu tersenyum dan dengan cepat mencium pipi suami nya itu. Setelah merapikan pakaiannya, dia berlari keluar kamar menuju tempat mandi di belakang balai peristirahatan tamu Kadipaten Kurawan.
Usai semua orang bersiap, mereka kemudian bergegas menuju ruang pribadi Adipati Wangsakerta. Wangsaatmaja segera berdiri saat Sang Pangeran Daha dan rombongannya datang, tapi isyarat tangan Panji Watugunung memaksa nya duduk kembali.
Adipati Wangsakerta yang sudah bisa bangun, tersenyum ramah pada mereka. Adipati Kurawan itu sudah tau siapa yang menyelamatkan nyawa nya dari cerita putranya.
"Aku mengucapkan terima kasih banyak atas bantuannya, wahai Utusan Daha. Tanpa bantuan kalian, mungkin aku sudah mati. Ijinkan prajurit Kurawan mengantar kalian hingga batas Kadipaten Kurawan.
Ini surat untuk Baginda Prabu Samarawijaya. Kami dari Kurawan, mendukung penuh setiap kebijakan Gusti Prabu".
Adipati Wangsakerta mengulurkan surat dari daun lontar yang terbungkus kain biru. Panji Watugunung segera menerima nya dan menyerahkan pada Sekar Mayang.
"Terimakasih atas segala budi baik Gusti Adipati. Kami mohon pamit Gusti Adipati".
Usai menghormat, Panji Watugunung segera bergegas mundur dari ruang pribadi Adipati di ikuti pengiringnya.
Dua orang bekel dan 10 prajurit Kadipaten Kurawan mengawal rombongan Panji Watugunung. Mereka memacu kuda mereka meninggalkan Wuwatan, ibukota Kurawan menuju ke selatan. Dua orang gadis muda berwajah cantik mengikuti perjalanan mereka dari Anjuk Ladang dari kejauhan.
Setelah sehari perjalanan, mereka sampai di Pakuwon Sukowati di lereng gunung Wilis.Ini adalah wilayah perbatasan sebelum masuk ke Wengker. Pakuwon ini terkenal di seluruh Panjalu karna gadis nya yang cantik cantik.
Rombongan Panji Watugunung berhenti di istana Pakuwon Sukowati. Kedatangan mereka disambut oleh Akuwu Sukowati dengan hormat.
"Selamat datang di Pakuwon Sukowati, Ki Bekel Mpu Seta. Kami senang para perwira Kadipaten Kurawan bersedia mampir ke Pakuwon kami", ujar Akuwu Sukowati, Rakeh Pamintihan.
"Kami hanya mengawal rombongan utusan dari Daha, Ki Kuwu. Mohon jangan salah sangka", ujar Mpu Seta, sang bekel prajurit.
"Silahkan silahkan duduk Ki Bekel. Dimana para utusan dari Daha itu berada?", tanya sang Akuwu Sukowati bersemangat.
"Mereka masih di luar istana Pakuwon Sukowati, aku akan membawa mereka masuk", ujar sang bekel prajurit.
Kedatangan Panji Watugunung membuat heboh para gadis cantik di istana Pakuwon Sukowati. Ketiga selir nya yang biasanya tenang kali ini sedikit geram. Kecantikan wanita di wilayah itu memang diatas rata rata.
Saat mereka memasuki balai paseban Pakuwon Sukowati, dua orang gadis cantik yang telah mengikuti Panji Watugunung dari Anjuk Ladang segera mendekati putri Akuwu Rakeh Pamintihan yang memandang Panji Watugunung dari belakang balai paseban.
"Itu orang nya Gusti Putri. Bukankah wajah nya persis dengan yang Gusti Putri lukis?", ujar si gadis cantik berbaju merah.
"Benar sekali, Puspa Abang. Dia adalah pangeran yang hadir di mimpiku", jawab Putri Rakeh Pamintihan yang bernama Dewi Ambarwati sambil tersenyum manis. Dia adalah kembang Pakuwon Sukowati.
"Berdasarkan berita, laki laki itu sudah beristri Gusti Putri. Kami sudah mengikuti nya mulai dari Anjuk Ladang hingga ke Kurawan. Dan berita itu tidak berusaha sama sekali", ujar si gadis berbaju putih alias Puspa Putih.
"Aku tidak peduli, aku pasti bisa mendekati nya dengan mudah. Lihat saja nanti", ujar Dewi Ambarwati percaya diri.
Sementara itu, Rakeh Pamintihan segera mempersilakan Panji Watugunung dan rombongannya beristirahat di balai tamu Pakuwon Sukowati.
Malam menjelang tiba. Saat itu diadakan perjamuan makan di bangsal paseban Pakuwon. Semua pelayan terdiri dari gadis gadis cantik. Hiburan tarian dari rombongan penari Pakuwon Sukowati benar benar memanjakan mata. Para prajurit Kadipaten Kurawan sangat gembira. Kecuali Ratri dan ketiga selir Sang Pangeran Daha.
Dewi Ambarwati malam itu berdandan cantik dan khusus membawakan makanan untuk Panji Watugunung. Semua mata memandang setiap langkah kembang Pakuwon Sukowati itu.
"Silahkan Utusan Daha menikmati makanan dari Pakuwon Sukowati", ujar Dewi Ambarwati sambil tersenyum manis pada Watugunung dan Warigalit.
Ratri yang geram melihat Warigalit terpesona dengan kecantikan Dewi Ambarwati segera mencubitnya.
"Adawwwhhh", teriak Warigalit seketika menoleh pada Ratri.
__ADS_1
"Makanya punya mata itu di jaga. Jangan suka melotot lihat perempuan lain", Ratri mendelik sewot.
Nasib Panji Watugunung lebih mengenaskan. Tiga cubitan langsung bersarang di pinggang nya.
"Kalian apa apaan sih? Sakit ini", protes Panji Watugunung.
"Kakang Watugunung mau tambah istri lagi? Ingin di keroyok ya?", Sekar Mayang garang.
"Kalau punya mata, hati hati. Istrimu semuanya berkumpul disini", Ratna Pitaloka geram.
"Aku tidak mau punya madu lagi", Dewi Srimpi yang biasanya tenang, kali ini ikut meradang.
Dua lelaki murid Mpu Sakri itu hanya bisa menghela nafas panjang. Padahal mereka tidak menggoda atau melirik sama sekali ke Dewi Ambarwati namun masih juga dicemburui.
Karna itu juga, malam itu tiga selir meminta Panji Watugunung tidur bersama.
Malam berganti pagi..
Setengah membersihkan diri dan berganti baju, Panji Watugunung, ketiga selir nya, Warigalit dan Ratri segera melanjutkan perjalanan. Di Pakuwon Sukowati mereka berterimakasih kepada kedua bekel prajurit Kadipaten Kurawan, dan segera bergegas menuju ke arah Wengker. Mereka menggebrak kudanya melesat cepat menuju selatan.
Di tepi hutan di perbatasan Wengker dan Kurawan, langkah kaki kuda mereka terhenti saat tiga orang gadis menghadang perjalanan mereka.
"Berhenti kalian!"
Teriak Dewi Ambarwati sambil berkacak pinggang.
"Maaf Gusti Putri, ada apa kau menghalangi jalan kami? Apa ada permasalahan antara kita", tanya Watugunung sopan.
"Pangeran tampan, cepat lah turun. Aku sudah lama menunggu kedatangan mu", ujar Dewi Ambarwati tersenyum genit.
"Apa maksudmu Gusti Putri? Maaf aku sudah beristri", Watugunung tak mengerti.
"Aku tidak peduli. Apa yang aku inginkan harus ku miliki", ucap Dewi Ambang sambil tersenyum penuh arti.
"Kedudukan rupanya tidak menentukan baik buruknya tata krama bangsawan ya Mayang?", sindir Ratna Pitaloka.
"Iya Kangmbok Pitaloka, aku baru tau ada seorang gadis cantik keturunan bangsawan yang sangat tidak tau malu", jawab Sekar Mayang tersenyum mengejek.
Mendengar ejekan dari dua selir Panji Watugunung, Dewi Ambarwati marah besar. Matanya berkilat seperti hendak mencincang tubuh mereka berdua.
"Perempuan kampung,
Turun kau. Akan ku robek mulut mu itu", teriak Dewi Ambarwati geram.
"Memang kau mampu? Kalau bisa maju saja", suara Ratna Pitaloka tak kalah garang. Selir pertama Panji Watugunung itu segera melompat turun dari kudanya.
"Dinda Pitaloka, kita ada urusan penting ke Wengker. Jangan ribut dengan urusan kecil seperti ini", potong Panji Watugunung bermaksud mendamaikan hati Ratna Pitaloka.
Merasa di bela Panji Watugunung, Dewi Ambarwati tersenyum genit.
"Tenang saja pangeran tampan. Aku tidak akan membunuhnya, hanya akan memberi nya sedikit pelajaran", Dewi Ambarwati jumawa.
"Buktikan omongan mu, putri binal".
Usai berkata, Ratna Pitaloka yang sudah naik pitam segera melesat cepat ke arah Dewi Ambarwati.
Whuttttt
Tangan kanan Ratna Pitaloka bergerak cepat menampar pipi Dewi Ambarwati yang terkejut dengan kecepatan Ratna Pitaloka.
Plakkk..
Tamparan keras Ratna Pitaloka membuat pipi kanan Dewi Ambarwati merah. Ada darah mengalir dari sudut bibirnya.
__ADS_1
Perempuan itu merasa panas pipinya. Dan emosinya segera memuncak.
"Gadis kampung, kurang ajar sekali kau.."
Dewi Ambarwati segera mencabut pedang nya dan melesat cepat menuju ke arah Ratna Pitaloka. Gadis Pakuwon Sukowati itu menyabetkan pedang nya kearah leher Ratna Pitaloka.
Namun murid Mpu Sakri itu dengan mudah menghindari nya.
Pertarungan sengit segera terjadi. Melihat Dewi Ambarwati beberapa kali kena tampar, Puspa Abang dan Puspa Putih segera melesat cepat membantu mengeroyok Ratna Pitaloka.
Melihat itu, Dewi Srimpi dan Sekar Mayang segera melompat turun dari kudanya dan melesat menghambur ke pertarungan.
Suasana semakin sengit.
Dalam beberapa jurus kemudian, Sekar Mayang sudah berhasil menendang Puspa Putih dengan keras. Gadis itu pingsan.
Dewi Srimpi yang biasanya kejam, kali ini hanya membuat Puspa Abang lebam lebam di wajah nya. Gadis itu juga pingsan setelah pukulan Dewi Srimpi telak menghajar rahangnya.
Sementara itu, Ratna Pitaloka yang bertarung dengan Dewi Ambarwati seakan-akan seperti kucing mempermainkan tikus. Satu pukulan tangan kiri Ratna Pitaloka menghajar perut Dewi Ambarwati membuat perempuan itu jatuh terduduk dengan menahan sakit di perut nya.
"Masih mau dilanjutkan?", Ratna Pitaloka mendelik tajam kearah Dewi Ambarwati.
Perempuan itu hanya meringis menahan sakit sambil memegangi perutnya yang seperti di hantam kayu besar. Dia mulai ketakutan.
"Mau merebut suami ku? Kau masih belum pantas", Ratna Pitaloka segera melesat ke arah Panji Watugunung dan melompat ke atas kudanya. Dewi Srimpi dan Sekar Mayang pun sama.
Mereka berenam segera memacu kuda mereka menuju Kadipaten Wengker.
Dewi Ambarwati memandang kearah perginya Panji Watugunung dan rombongannya yang perlahan menghilang di tikungan bukit.
"Suatu saat akan ku rebut suami mu"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Duh kog ngeyel amat sih neng???🤔
Tak bosen bosen author terus ingatin untuk dukung terus author semangat menulis dengan like, vote, share dan komentar nya ya guys
Selamat membaca 🙏🙏😁😁
__ADS_1