Babat Negeri Leluhur

Babat Negeri Leluhur
Putri Akuwu Yang Mengganggu


__ADS_3

Gadis itu bernama Surtikanti, putri ketiga Akuwu Palah. Wajah nya cantik dan wataknya supel, membuat semua orang di istana Pakuwon Palah akrab dengan nya.


Saat ayahnya menyambut kedatangan kakak nya yang menjadi anggota pasukan khusus Garuda Panjalu, sebenarnya Surtikanti malas melakukan nya. Makanya dia berdiri di ujung belakang.


Namun setelah melihat lelaki tampan dan gagah itu, Surtikanti benar-benar jatuh cinta pada pandangan pertama. Setelah penyambutan Mpu Wardaya mengajak Panji Watugunung dan kedua selir serta pelayan setia nya juga Ki Saketi, masuk ke ruang terpisah.


Surtikanti menemui kakak nya dan menarik tangan kakak nya menjauhi orang.


"Tumben kau mau dekat-dekat dengan ku, ada apa Kanti??", Rajegwesi curiga dengan adiknya.


"Kau kan kakak ku, apa salah aku mendekati mu?", Surtikanti bergaya mengeluh.


"Aku tau kau mendekati ku pasti ada mau nya.


Katakan apa mau mu?, Aku masih ada tugas ini", Rajegwesi menyelidik.


"Kakang, itu pemuda tampan yang tadi siapa namanya?", Surtikanti bertanya dengan malu malu.


"Pemuda tampan? Yang mana? Kan banyak pemuda tampan di pasukan", tanya Rajegwesi kebingungan.


"Hanya satu yang tampan kang, lain nya jelek. Itu yang pakai ikat kepala hitam kang", Surtikanti menjelaskan.


"Ikat kepala hitam? Gusti Panji Watugunung maksud mu?", tanya Rajegwesi yang masih belum paham sepenuhnya.


"Jadi namanya Gusti Panji Watugunung ya? Pantas saja orangnya gagah sekali", Surtikanti tak menutupi kekagumannya.


"Kanti Kanti... Jangan mimpi kau bisa mendekati nya", Rajegwesi hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah laku adiknya..


"Memang kenapa? Ada yang melarang?", Surtikanti ngotot tak mau kalah.


"Dengar adik ku, Gusti Panji Watugunung itu sudah punya calon istri, sebentar lagi akan menikah. Kau lihat dua wanita yang selalu mengikuti Gusti Panji Watugunung itu? Mereka itu selirnya. Dengan apa kau mau bersaing ha?", Rajegwesi gusar dengan kengototan adiknya.


"Tentu saja dengan kecantikan ku", jawab Surtikanti yang membuat Rajegwesi tertawa terbahak-bahak.


"Kenapa kau tertawa kakang?, Bukankah kau juga tau kalau aku yang paling cantik di Pakuwon Palah?", Surtikanti keheranan.


"Kanti Kanti, hahahaha perut ku sampai sakit karena kekonyolan mu.


Iya Kanti, kau paling cantik di Pakuwon ini, tapi sekarang dengarkan aku.


Calon istri Gusti Panji Watugunung itu putri bungsu Adipati Seloageng, apa mampu kau berebut hati dengannya?


Sedangkan pelayan Gusti Panji Watugunung yang bercadar hitam itu jauh lebih cantik dari kamu", Rajegwesi mencoba menurunkan semangat Surtikanti.


Surtikanti diam, mendengar ucapan dari kakaknya. Dia yang sedang di mabuk cinta seakan tidak peduli dengan lingkungan orang yang di cintai nya.


'Aku tidak peduli, meski jadi selir nya atau gundik nya sekalipun aku bersedia, asal bersama dengan Panji Watugunung', tekad Surtikanti dalam hati.


Sementara itu Panji Watugunung yang mendapat pelayanan istimewa dari Akuwu Palah, sedang berada di kamarnya. Dayang Pakuwon baru saja mengantar makanan makanan ke kamar saat hujan deras tiba tiba mengguyur Pakuwon Palah.


Dewi Srimpi sedang menuangkan air minum dari kendi. Sedangkan Panji Watugunung asyik menikmati makanan nya.


"Kau sudah makan?", Panji Watugunung menatap Dewi Srimpi sambil mengunyah daging lele bakar kesukaan nya.


"Sudah tuan, tadi sama Selir selir tuan", Dewi Srimpi menjawab pertanyaan Watugunung tanpa mengalihkan perhatian dari buah jeruk yang di kupas nya .


"Kan itu tadi siang, sekarang pasti kau belum makan, sudah ayo makan. Ini aku tidak bisa menghabiskan nya seorang diri", ujar Panji Watugunung menunjuk ke meja yang penuh makanan.


"Nanti saja tuan kalau saya sudah lap...."


Kriukkkkk


Belum sempat Dewi Srimpi menyelesaikan omongannya, tiba-tiba perutnya berbunyi.


Dewi Srimpi menunduk malu sedangkan Panji Watugunung tersenyum tipis.


Panji Watugunung kemudian menarik tangan Dewi Srimpi untuk duduk di kursi sebelah nya.


Begitu Dewi Srimpi duduk, Panji Watugunung berdiri, mengambil pinggan kayu kemudian mengambil nasi putih dari bakul.


Usai itu, Panji Watugunung segera mengambil lele bakar dan menaruh nya diatas pinggan.


"Sekarang makan lah", Panji Watugunung kembali menikmati makanan nya.


"Tuan, saya tidak pantas makan bersama tuan", ujar Dewi Srimpi lirih.


"Kau ini ngomong apa? Semua orang itu berhak atas nasib nya sendiri. Aku tidak pernah memandang orang hanya karena dia rakyat, pelayan, prajurit ataupun bangsawan. Semuanya sama. Kalau pangkat dan jabatan itu jadi pembeda, maka hanya karena tugas dan kewajiban nya bukan karena tingkat kedudukannya.

__ADS_1


"Sudah sekarang makan, atau perlu aku suapi?", Panji Watugunung tersenyum tulus.


"Ti-tidak tuan, saya makan sendiri saja", ujar Dewi Srimpi terbata karena jengah dengan perlakuan Panji Watugunung. Dirinya sekarang begitu menghormati tuan nya yang tidak membedakan derajat sesama manusia.


Saat keduanya sedang asyik menikmati makanan, pintu kamar terbuka dan Ratna Pitaloka masuk. Dan duduk di sebelah kanan Panji Watugunung. Malam itu adalah giliran Ratna Pitaloka menemani tidur Panji Watugunung.


Ratna Pitaloka memang tidak segalak Sekar Mayang kalau ada wanita yang mendekati Panji Watugunung, tapi pandangan matanya begitu dingin tetap saja menakutkan.


Malam semakin larut, hujan deras yang mengguyur kota Pakuwon Palah semakin menambah dingin malam.


Hujan terus mengguyur sampai matahari pun tak muncul di ufuk timur. Meski tak sederas tadi malam tapi tetap saja lebat. Petir menggelegar semakin menambah suasana dingin.


Panji Watugunung masih memeluk tubuh Ratna Pitaloka. Cuaca yang dingin memaksa nya untuk mengeratkan pelukannya.


"Dingin ya Kakang?", ujar Ratna Pitaloka dengan suara seraknya khas bangun tidur.


"Iya Dinda Pitaloka, tumben pagi ini dingin sekali", ujar Panji Watugunung.


Dewi Srimpi yang baru masuk, berniat membuka jendela kamar, tapi suara Panji Watugunung menghentikan langkahnya.


"Jangan di buka Srimpi, biarkan saja sebentar".


Dewi Srimpi mengangguk patuh, sedikit melirik ke ranjang. Tangan Ratna Pitaloka tampak di dada Panji Watugunung dan selimut menutupi hampir sebagian besar tubuh mereka berdua.


Entah kenapa, hati Dewi Srimpi kembali panas.


Dewi Srimpi mengambil wedang jahe hangat dari nampan di meja, dan melangkah mendekati ranjang.


"Tuan, biar sedikit hangat", ujar Dewi Srimpi sambil mengulurkan cangkir wedang jahe.


Panji Watugunung tersenyum tipis dan setengah duduk menerima nya. Tegukan pertama wedang jahe menghangatkan tubuh nya.


Tiba tiba terdengar langkah kaki masuk, Panji Watugunung dan Ratna Pitaloka serta Dewi Srimpi menoleh ke arah pintu.


Seorang gadis cantik membawa nampan berisi makanan dan minuman.


"Siapa kamu?, Berani sekali mengganggu istirahat Tuan Panji Watugunung", hardik Dewi Srimpi.


"Maaf mengganggu istirahat Gusti Panji.


Saya Surtikanti, putri Akuwu Wardaya. Selama disini tugas saya melayani semua kebutuhan Gusti Panji", jawab Surtikanti dengan sedikit sopan.


Cihhhhh


'Baru pelayan saja kenapa kau sombong sekali', batin Surtikanti.


"Maaf Gusti Panji Watugunung, saya hanya di tugaskan. Yang bisa menentukan boleh tidak nya saya disini, adalah Gusti Panji Watugunung bukan pelayan nya", ucapan menyindir Dewi Srimpi meluncur sopan dari Surtikanti.


"Kau..."


Dewi Srimpi gusar mendengar sindiran Surtikanti.


"Apa?!!


Kau mau apa?


Hanya pelayan jangan sok mengatur Gusti Panji", Surtikanti menunjuk wajah Dewi Srimpi.


"Minta di hajar kau rupanya", Dewi Srimpi yang biasa nya hanya diam seketika menjadi garang.


"Siapa takut pada mu?", Surtikanti memasang tingkah menantang.


Melihat kejadian itu, Panji Watugunung segera melompat dari ranjang nya.


"Berhenti kata ku!"


Surtikanti dan Dewi Srimpi seketika menghentikan adu mulut mereka.


"Kenapa kalian berdua mengganggu istirahat ku?


Sekarang kau Srimpi, bawa nampan mu dan cepat keluar dari sini.


Putri Akuwu, aku tidak tau apa mau mu, tapi kau mengganggu istirahat ku. Sekarang cepat keluar dari kamar ku.


Sekarang!", teriak Panji Watugunung membuat Dewi Srimpi segera bergegas keluar dari kamar.


Sedangkan Surtikanti hanya diam saja.

__ADS_1


"Kenapa kau tidak keluar?", ucap Panji Watugunung dingin.


"Aku ditugaskan untuk melayani mu Gusti Panji", Surtikanti benar-benar menjengkelkan.


"Aku tidak butuh. Sekarang keluar dari kamar ku. Kalau tidak...


Akan ku buat seluruh keluarga mu di pancung di alun alun kota.


Mau kau?", Panji Watugunung menyeringai lebar.


Surtikanti bergidik ngeri melihat wajah Watugunung segera bergegas keluar dari kamar.


Ratna Pitaloka tertawa kecil melihat tingkah Panji Watugunung.


"Bisa galak juga ternyata kamu Kakang saat lawan perempuan".


"Aku kalau tidak keterlaluan juga tidak akan bersikap seperti itu Dinda", Panji Watugunung tersenyum sambil kembali ke dekat Ratna Pitaloka.


Hujan deras yang terus mengguyur membuat semua orang malas keluar rumah.


**


Sementara itu di sebuah rumah kosong di batas wilayah Pakuwon Randu, beberapa orang sedang bercakap-cakap.


"Aku melihat nya sendiri kakang, bangsawan muda itu adalah pendekar muda yang membunuh Setan Geni dan Setan Air tempo hari. Menurut kabar yang baru kudengar dari telik sandi Gunung Kematian, Sampar Angin saja tewas di tangan pelayan nya. Kalau kita tidak segera melapor ke markas besar, kita akan mati konyol jika melawan mereka", seorang lelaki bercodet menatap seorang lelaki paruh baya berambut putih keperakan.


"Persekutuan ini merepotkan. Padepokan Bukit Jerangkong selaku pemimpin hanya menunggu kabar enak saja. Kita dan Gunung Kematian saja yang harus bekerja", lelaki berambut putih keperakan menggerutu.


"Ku dengar Lembah Hantu juga mulai bergerak Kakang, kalau mereka bisa bekerja sama dengan Kalajengking Biru, seharusnya bisa cepat mengumpulkan harta dengan cepat", si wajah bercodet menatap langit malam yang gelap.


"Jangan memikirkan orang lain. pikirkan saja nasib kita sendiri, karna adanya pasukan itu berbahaya", potong lelaki berambut putih keperakan,


"Kita harus hati-hati"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


*Ikuti terus kisah selanjutnya guys.


Jangan lupa untuk dukung author terus semangat menulis dengan like vote dan komentar nya 👍👍👍👍


Bagi yang sudah memberikan dukungannya author mengucapkan terima kasih banyak.

__ADS_1


Selamat membaca 😁😁😁😁*


__ADS_2