Babat Negeri Leluhur

Babat Negeri Leluhur
Istana Katang-katang


__ADS_3

"Siapa yang mencari ku, prajurit?", tanya Panji Watugunung yang segera berdiri dari duduknya.


"Ampun Gusti Pangeran,


Ada seorang lelaki tua yang mengaku bernama Mpu Ganendra ingin bertemu. Katanya penting Gusti Pangeran", ujar sang prajurit penjaga sambil menghormat.


"Dimana orang itu berada?", tanya Panji Watugunung segera.


"Dia masih di luar gerbang istana Gusti Pangeran, kalau Gusti Pangeran berkenan hamba akan mengantarkan dia kesini", sang prajurit penjaga siap menerima perintah.


"Suruh dia masuk kesini", titah sang Pangeran Daha segera.


Sang prajurit segera menyembah dan mundur dari ruangan tengah keputran. Panji Watugunung bergegas menuju ke serambi keputran Gelang-gelang.


Seorang lelaki tua berpakaian pertapa berwarna putih dengan rambut di gelung berkonde tembaga tampak sedang memutar biji genitri yang menjadi tasbih di tangan kanan nya. Dari mulut nya terus mengucap puja Dewa Wisnu.


Jenggotnya panjang berwarna putih menutupi dada. Dari sumping sulur pakis dari emas di telinga nya menandakan dia adalah kesatria yang mempersiapkan diri untuk perjalanan ke nirwana.


Begitu Panji Watugunung datang, dia segera menoleh. Sang prajurit penjaga buru-buru memperkenalkan si tamu kepada Panji Watugunung.


"Ini Mpu Ganendra Gusti Pangeran", ujar sang prajurit penjaga sambil menghormat.


"Silahkan duduk kisanak, maaf jika penyambutan ku tidak begitu menyenangkan mu", Panji Watugunung segera duduk bersila di lantai serambi keputran Gelang-gelang.


Lelaki tua itu segera menghormat kemudian duduk di hadapan Panji Watugunung.


"Maaf jika kedatangan saya, mengganggu istirahat Gusti Pangeran. Saya dengar, salah seorang selir Gusti Pangeran bernama Ratna Pitaloka.


Apakah itu benar Gusti Pangeran?", tanya Mpu Ganendra dengan sopan.


"Iya memang benar Mpu..


Salah satu selir ku bernama Ratna Pitaloka. Memang kenapa Mpu? Apa ada yang salah dengan itu?", Panji Watugunung menatap wajah tua di hadapannya itu segera.


"Maaf jika pertanyaan saya menyinggung perasaan Gusti Pangeran.


Apa Gusti Pangeran pernah menanyakan siapa orang tuanya? Dan dimana mereka berada?", Mpu Ganendra menatap wajah Panji Watugunung dengan penuh perasaan.


"Dinda Pitaloka tidak pernah menceritakan tentang orang tuanya kepada ku. Dan aku tidak mempermasalahkan jika dia tidak bercerita tentang asal-usul nya. Sebab aku menyukainya, dan dia mencintaiku. Dan untuk ku itu sudah lebih dari cukup", ucap Panji Watugunung sambil tersenyum tipis.


"Mungkin benar demikian Gusti Pangeran, untuk Gusti Pangeran ketahui Ratna Pitaloka adalah keponakan saya. Dia adalah putri dari Mpu Gajendra, saudara kembar saya.


Jika suatu saat Gusti Pangeran melewati daerah Tapan, silahkan cari saya.


Saya yang sudah membuat hidup keponakan saya menderita. Saya sangat menyesal.


Saya ingin menitipkan sesuatu untuk Ratna Pitaloka, mohon Gusti Pangeran memberikannya kepada keponakan saya", Mpu Ganendra segera memberikan sebuah kalung dari tanduk rusa kecil kepada Panji Watugunung.


Dengan segera, Panji Watugunung menerima kalung itu segera. Usai memberikan kalung, Mpu Ganendra mohon pamit untuk pulang ke Tapan.


Tapan adalah sebuah Pakuwon dengan pelabuhan laut di Kadipaten Bojonegoro di wilayah Jenggala. Meski tidak terlalu besar seperti pelabuhan Halong di Kalingga, namun sebagai pintu masuk ke Bojonegoro, pelabuhan Tapan memiliki fungsi layaknya pelabuhan Hujung Galuh yang merupakan pelabuhan laut terbesar yang dimiliki Jenggala.


Panji Watugunung segera kembali ke dalam taman sari Keputran Gelang-gelang sambil menimang-nimang kalung itu.


"Siapa tamunya Kakang?", tanya Sekar Mayang setelah Panji Watugunung duduk bersama mereka.


"Seorang lelaki tua bernama Mpu Ganendra dari Tapan Dinda", ujar Panji Watugunung segera.


Mendengar nama Mpu Ganendra disebut, Ratna Pitaloka segera mendekat kepada sang suami.


"Apa Kakang Watugunung barusan menyebut nama Mpu Ganendra dari Tapan?", tanya Ratna Pitaloka dengan penasaran.


"Benar Dinda Pitaloka,


Dia bernama Mpu Ganendra dari Tapan. Tadi dia menitipkan kalung ini untuk Dinda", jawab Watugunung seraya mengulurkan tangannya yang berisi kalung tanduk rusa kecil itu pada Ratna Pitaloka.


Ratna Pitaloka terkejut sesaat. Wanita cantik itu kemudian melepaskan kalung yang ada di lehernya. Kemudian meletakkan kalung itu diatas meja. Dua kalung itu sama persis.

__ADS_1


"Ini adalah sepasang kalung tanduk rusa emas, tanda putra kembar Adipati Bojonegoro, yang bernama Ganendra dan Gajendra.


Ganendra, menjadi Adipati Bojonegoro selanjutnya, sedangkan Gajendra memilih menjadi brahmana di Gunung Tapan dengan menikahi wanita putri seorang pertapa di Tapan yang bernama Kaniraras", ujar Ratna Pitaloka sambil berkaca-kaca saat dia berkata.


"Karena fitnah keji dari seorang pembesar istana Kadipaten Bojonegoro, Gajendra di bunuh oleh Ganendra saat Kaniraras baru saja melahirkan seorang putri", imbuh Ratna Pitaloka. Air mata bening perlahan menetes membasahi pipinya.


"Darimana Dinda Pitaloka tau kejadian itu?", tanya Panji Watugunung segera.


Ratna Pitaloka segera menoleh kearah Panji Watugunung, kemudian memeluk tubuh suaminya dengan terisak lirih sambil berkata,


"Putri Kaniraras itu adalah aku Kakang hiks hiks".


Panji Watugunung segera mengelus kepala Ratna Pitaloka. Dengan lembut dia membelai rambut hitam selir pertama nya ini.


"Sudahlah jangan menangis Dinda,


Takdir manusia kita tidak bisa menolaknya. Yang penting sekarang Dinda Pitaloka sudah bahagia. Lain waktu jika kita punya kesempatan, maka kita akan mengunjungi makam orang tua mu", hibur Panji Watugunung segera.


Ratna Pitaloka segera mengangguk tanda mengerti.


Esoknya, Panji Watugunung memenuhi janjinya kepada Cempluk Rara Sunti untuk menikah. Dengan disaksikan kelima istri nya yang lain, dengan sebuah upacara pernikahan sederhana di keputran Gelang-gelang, Cempluk Rara Sunti resmi menjadi istri ketujuh Panji Watugunung.


Pada hari berikutnya, Panji Watugunung ditemani oleh Naganingrum, Srimpi, Ratna Pitaloka, Sekar Mayang dan Rara Sunti bersama Mpu Soma dari Ranja menuju ke Sanggur.


Mereka segera disambut oleh para anggota pasukan Garuda Panjalu dengan gembira. Kabar pengangkatan Panji Watugunung sebagai Yuwaraja menjadi kebanggaan tersendiri bagi mereka.


"Selamat Gusti Pangeran atas pengangkatan nya sebagai yuwaraja Panjalu, hamba turut bergembira", ujar Ki Saketi sambil menghormat.


"Paman Saketi jangan berlebihan,


Aku masih tetap Panji Watugunung yang kemarin Paman", Panji Watugunung tersenyum tipis.


"Menjadi pasukan Garuda Panjalu merupakan kehormatan besar bagi hamba Gusti Pangeran, apalagi Gusti Pangeran masih menyebut hamba sebagai paman. Seumur hidup, Saketi akan setia mengabdi kepada Gusti Pangeran Panji Jayengrana", Ki Saketi tersenyum simpul sambil kembali menghormat.


Suasana meriah terasa hangat di markas besar pasukan Garuda Panjalu di Sanggur.


"Lu, kau lihat tadi Gusti Pangeran bertambah lagi wanita nya?", tanya Gumbreg dengan cepat.


"Iya Mbreg, memang kenapa? Kau iri?", Ludaka balik bertanya.


"Iri sih gak Lu, cuma heran saja. Kira kira Gusti Pangeran pakai ilmu apa ya? Kog bisa dapat wanita wanita cantik itu?", Gumbreg menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Bilang tidak iri, tapi masih mau tanya ilmu nya apa? Dasar kebo bunting", gerutu Ludaka sambil menenggak arak beras yang di sodorkan Jarasanda.


"Ya sekedar tahu kan tidak apa-apa Lu, orang aku juga sadar diri. Pakai ilmu pengasihan apapun, wanita juga tidak mau dekat-dekat dengan ku kecuali Dhek Jum", ujar Gumbreg memelas.


"Sebenarnya kalau aku lihat, kalau aku lihat si Gumbreg ini cukup tampan loh Lu", Jarasanda tiba-tiba ikut bicara.


Mendengar pujian Jarasanda, hidung Gumbreg langsung mengembang.


"Nah ini nih yang namanya teman sejati. Tau melihat kelebihan teman, bukan hanya menjelekkan seperti kau Lu", Gumbreg tersenyum penuh percaya diri.


"Kau melihat nya darimana Jar?", tanya Ludaka yang keheranan mendengar pujian Jarasanda.


"Dari puncak gunung Kelud, Lu", jawab Jarasanda sambil menenggak minuman keras nya.


Huahahaha


Tawa Ludaka langsung pecah mendengar ucapan Jarasanda. Wajah Gumbreg langsung ditekuk.


"Brengsek,


Ternyata kalian sama saja", Gumbreg langsung ngeloyor pergi menuju ke arah kediaman nya.


Pagi menjelang tiba di markas pasukan Garuda Panjalu. Kokok ayam jantan bersahutan membangunkan semua penghuni markas pasukan. Langit timur mulai memerah menyertai kemunculan sang Surya.


Pagi itu Panji Watugunung dan kelima istri nya juga Mpu Soma dari Ranja menuju ke batas barat Pakuwon Kunjang dan Pakuwon Kadri. Mereka di kawal Gumbreg, Ludaka, Warigalit, Ratri dan 20 prajurit.

__ADS_1


Di hulu sungai kecil, Mpu Soma tersenyum penuh arti. Dalam semedinya untuk mendapatkan petunjuk Dewa tentang letak istana untuk Panji Watugunung, dia mendapat wangsit untuk menyusuri sungai kecil yang berhulu di bawah batu. Kemudian di barat sungai kecil itu, ada sebuah sarang burung elang di puncak pohon yang tinggi dengan memakai bakul persegi empat.


"Gusti Pangeran,


Letak istana untuk mu sudah ada. Lihatlah Katang-katang yang menjadi sarang burung elang di ujung pohon wadang ini.


Itu adalah pertanda dari wangsit yang aku dapatkan", ujar Mpu Soma sambil tersenyum penuh arti.


"Terimakasih atas petunjuk nya Resi. Setelah ini aku akan pulang ke Daha, mengabarkan bahwa tempat tinggal untuk ku sudah kudapatkan", Panji Watugunung menghormat pada Resi Mpu Soma dari Ranja.


Dan demikianlah, setelah Panji Watugunung kembali ke Daha dan memberi tahu kepada Prabu Samarawijaya, maka dimulailah pembangunan istana untuk sang Yuwaraja.


Ratusan prajurit Daha dan pasukan Garuda Panjalu bahu membahu membabat hutan kecil di perbatasan Pakuwon Kadri, Kunjang dan Watugaluh itu. Dengan cepat, kabar di bangunnya istana Yuwaraja mendapat perhatian dari penduduk Daha.


Mereka berbondong-bondong datang dari berbagai daerah ikut membuka lahan di seputar istana Yuwaraja untuk ikut meramaikan suasana di seputar istana baru tersebut.


Dalam waktu tiga purnama, istana megah berdiri di wilayah yang disebut Kadiri oleh orang orang yang bermukim di sekitar istana Yuwaraja yang dinamakan Istana Katang-katang.


Saat istana itu jadi, Panji Watugunung memboyong Ayu Galuh yang tengah hamil tua ke istana Katang-katang.


Istana megah itu memiliki 7 puri kecil untuk masing-masing istri Panji Watugunung dan sebuah tempat pribadi Yuwaraja sebagai tempat tinggal sang Pangeran Daha.


Sementara itu, Ranggawangsa yang semakin geram melihat banyaknya dukungan untuk Panji Watugunung memilih meninggalkan Kota Dahanapura. Dia pulang ketempat asalnya di Kadipaten Muria setelah Prabu Samarawijaya menolak usulan nya untuk menjadikan Wiramukti sebagai Mahamantri I Hino.


Ranggawangsa merencanakan pemberontakan nya.


Dengan menghasut Adipati Muria yang masih bersaudara dengan nya, dengan gerak cepat Ranggawangsa segera menyiapkan bala tentara untuk berperang melawan pasukan Daha jika Prabu Samarawijaya menggempur Muria. Berbekal harta yang disisihkan dari penggelapan pajak dan upeti para Adipati daerah, Ranggawangsa benar benar siap memberontak.


Prabu Samarawijaya marah besar mendengar laporan dari Mapatih Jayakerti soal ulah Ranggawangsa.


"Tidak ampun untuk pemberontak, meskipun dia adalah pembesar Panjalu"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Ikuti terus kisah selanjutnya kak 😁


Yang suka silahkan tinggalkan jejak kalian dengan like 👍, vote ☝️, favorit ❤️ dan komentar 🗣️ nya


Selamat membaca kak 🙏🙏😁😁

__ADS_1


__ADS_2