
Senopati Jambuwana segera memerintahkan kepada para bawahannya untuk mulai menata persiapan pertahanan para prajurit Jenggala di kota Matahun. Mereka membagi tugas menyiapkan berbagai macam senjata yang akan digunakan untuk melawan pasukan Panjalu.
Para bawahan Senopati Jambuwana mengawasi setiap persiapan yang dilakukan oleh para prajurit Jenggala.
Mereka mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk menghadapi pasukan Panjalu selama beberapa hari ini.
"Bagaimana persiapan kita, Adhi Pungging?", tanya Senopati Jambuwana sambil menatap ke arah Senopati Pungging yang berjalan di dekat nya.
"Pasukan kita sudah siap Kakang,
Kalau sampai pasukan Panjalu menyerbu kemari kita akan ***** mereka segera", jawab Senopati Pungging dengan penuh keyakinan.
Senopati Jambuwana manggut-manggut gembira mendengar ucapan adik sepupu nya itu.
Di istana Kadipaten Matahun, nampak Adipati Danaraja sedang duduk termenung di atas kursi yang ada di taman sari keraton Kadipaten Matahun. Pikiran Adipati paruh baya itu berkelana kemana-mana.
Kegundahan hati sang Adipati Matahun rupanya di lihat oleh sang permaisuri yang bernama Dewi Sekardadu. Perempuan cantik itu segera berjalan mendekati sang suami yang sedang melamun.
"Apa yang sedang kau pikirkan Kangmas?", tanya Dewi Sekardadu yang membuat Adipati Danaraja tersadar dari lamunannya.
"Eh Yayi Dewi..
Ah tidak ada apa apa Yayi. Aku hanya sedikit memikirkan tentang mimpi ku dua pekan yang lalu", jawab Adipati Danaraja dengan menatap wajah cantik putri pertapa yang menjadi istrinya itu.
"Memang kau bermimpi apa Kangmas? Coba ceritakan padaku", ujar Dewi Sekardadu yang penasaran dengan ucapan Adipati Danaraja.
Hemmmm
"Dua pekan yang lalu, aku bermimpi melihat istana Kadipaten Matahun dihancurkan oleh seorang Raksasa yang berwarna merah.
Dia memporak-porandakan seluruh keraton Matahun dengan kaki dan tangan besarnya yang menakutkan. Mayat prajurit Matahun juga bergelimpangan dimana-mana. Keraton Matahun banjir darah.
Aku takut Yayi,
Mimpi itu terasa begitu nyata bagiku", ucap Adipati Danaraja sambil menghela nafas panjang.
"Aduh Kangmas ini ada-ada saja.
Mana mungkin masih ada raksasa yang hidup di jaman sekarang? Mereka hanya ada di dongeng jaman para dewa hidup di Suralaya.
Jangan menjadi takut Kangmas, hanya karena sebuah bunga tidur yang sudah pasti tidak mungkin terjadi.
Tembok kota Matahun begitu tinggi, begitu kokoh. Sehebat apapun ilmu kedigdayaan seseorang, tidak akan mudah untuk memanjatnya apalagi kalau ingin menghancurkannya.
Jadi sebaiknya Kangmas buang jauh-jauh pikiran seperti itu", Dewi Sekardadu mencoba untuk menenangkan hati dan pikiran Adipati Danaraja yang tengah gundah.
Adipati Danaraja tersenyum simpul mendengar suara Dewi Sekardadu yang merdu. Sedikit banyak hatinya tenang karena ucapan sang istri.
"Terima kasih Yayi,
Mendengar ucapan mu membuat hati ku seperti tersiram air hujan yang dingin. Kau memang yang terbaik", ujar Adipati Danaraja yang segera berdiri dari tempat duduknya dan memeluk tubuh Dewi Sekardadu.
"Kangmas harus menjaga kesehatan, sebentar lagi kita akan menghadapi prajurit Daha.
Jangan sampai Kangmas sakit dan dalam keadaan tidak sehat saat bertarung melawan mereka.
Aku tidak mau Kangmas sampai kenapa-kenapa", Dewi Sekardadu merebahkan kepalanya di bahu sang penguasa Kadipaten Matahun.
"Kau tenang lah Yayi,
Semuanya akan baik-baik saja", ucap Adipati Danaraja sambil mengelus rambut hitam Dewi Sekardadu.
"Ayo kita ke sasana boga Kangmas,
Aku lihat dari tadi Kangmas belum makan sesuatu. Aku sudah menyiapkan hidangan enak untuk Kangmas", ajak Dewi Sekardadu sambil menarik tangan Adipati Danaraja.
Penguasa Kadipaten itu menurut.
Mereka berdua segera bergegas menuju ke sasana boga Keraton Matahun sambil terus bergandengan tangan.
**
Sementara itu, pasukan Panjalu di bawah pimpinan Panji Watugunung bergerak menuju ke arah kota Matahun.
Ditemani keempat istri nya, Panji Watugunung menjalankan kudanya dengan pelan. Pandangan pria tampan itu lurus ke depan seakan ingin cepat sampai ke Matahun.
"Kakang,
Berapa lama lagi kita sampai di Matahun?", tanya Ratna Pitaloka yang berkuda di samping Panji Watugunung.
"Kalau tidak ada aral rintangan dalam dua hari kita akan sampai di kota Matahun, Dinda Pitaloka.
Karena kita tidak bisa bergerak cepat dengan jumlah pasukan sebesar ini", jawab Panji Watugunung sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling nya.
Benar saja, 16 ribu prajurit Panjalu yang mengiringi perjalanan mereka bukan jumlah yang sedikit. 3 ribu prajurit perbekalan yang menggunakan pedati sapi untuk mengangkut makanan merupakan titik lemah pergerakan prajurit Panjalu yang hendak menyerbu ke Matahun. Meski ada 5 ribu prajurit berjalan kaki, dan 8 ribu prajurit berkuda pergerakan mereka tetap saja tidak bisa cepat.
Sepanjang perjalanan, pergerakan prajurit Panjalu membuat takut warga di wanua wanua yang mereka lewati walaupun prajurit Panjalu tidak melakukan apa-apa.
Pun para Akuwu juga tidak berani bertindak gegabah karena besarnya pasukan Panjalu yang melewati daerah mereka. Berani menentang mereka bisa dipastikan kota kecil mereka akan hancur lebur rata dengan tanah.
Di barat Pakuwon Sundu, pasukan Panjalu menghentikan pergerakan mereka. Mereka segera membangun tenda tenda besar yang akan menjadi tempat mereka beristirahat.
Gumbreg yang langsung memimpin prajurit perbekalan, dengan cepat menata kerja para bawahannya. 3 ribu prajurit perbekalan dengan cepat membangun tenda perkemahan para prajurit Panjalu.
__ADS_1
Ludaka, Sang Tumenggung Kadiri segera menyebar para prajurit Lowo Bengi untuk menyebar ke sekitar tempat itu. Begitu pula Rajegwesi yang segera memerintahkan kepada para prajurit pemanah untuk bersiaga di tempat tempat yang sudah dia tentukan.
Para prajurit perbekalan bekerja dengan cepat menyelesaikan pekerjaan mereka. Menjelang senja, ratusan tenda perkemahan para prajurit Panjalu sudah berdiri tegak di tanah lapang yang ada di dekat hutan di barat Pakuwon Sundu.
Puluhan ribu prajurit Panjalu membuat para warga wanua yang ada di dekat perkemahan mereka segera melapor kepada Akuwu Pakuwon Sundu, Tanabhaya.
"Bagaimana ini Gusti Akuwu? Para warga wanua kami merasa resah dengan kedatangan mereka", ujar Lurah Wanua Jonggring yang berdekatan dengan perkemahan para prajurit Panjalu.
"Negeri kita sedang berperang melawan Daha, Mpu Goti. Mereka melakukan perjalanan jauh dari Panjalu pasti akan menuju ke Kahuripan.
Biasanya dalam perang mereka akan menghancurkan semua pemukiman warga yang mereka lewati. Tapi aku tidak menerima laporan dari telik sandi maupun berita dari pedagang bahwa mereka melakukannya.
Ini berarti pasukan Panjalu hanya berniat berperang dengan istana Kahuripan tanpa membinasakan para penduduk", jawab Tanabhaya sambil mengelus jenggotnya.
"Tapi Gusti Kuwu, tetap saja warga Wanua kami ketakutan.
Mohon bantuannya Ki Kuwu untuk menenangkan hati para penduduk Wanua kami", ujar Mpu Goti sambil menghormat pada Akuwu Sundu itu.
Hemmmm..
"Baiklah, malam ini juga aku akan ke perkemahan para prajurit Panjalu itu, Mpu Goti.
Akan ku ajukan permohonan damai pada Senopati mereka. Semoga saja pemimpin pasukan Daha mau mengerti dengan maksud ucapan ku", Akuwu Tanabhaya segera berdiri dari tempat duduknya dan berjalan menuju keluar dari balai pisowanan Pakuwon Sundu diikuti oleh bekel prajurit Sundu, Sentiko.
Dengan diiringi oleh 10 prajurit Pakuwon Sundu, Tanabhaya dan Bekel Sentiko memacu kuda mereka menuju ke arah barat. Berbekal obor dari daun kelapa kering yang diikat, mereka menyusuri jalan raya yang menghubungkan Pakuwon Sundu dan Pakuwon Gambir. Meski sinar rembulan cukup terang menerangi langkah mereka, namun obor yang mereka bawa semakin menambah jelas penglihatan.
700 tombak dari tempat perkemahan para prajurit Panjalu, dua orang lelaki berpakaian hitam menghadang laju pergerakan mereka.
"Berhenti!
Jangan melangkah lebih jauh!", teriak salah satu dari dua lelaki yang berbaju hitam. Mereka menutup wajahnya nya separuh dengan memakai topeng.
"Siapa kalian? Mau apa menghadang langkah kami?", teriak Bekel Sentiko dengan keras. Pemimpin prajurit Pakuwon Sundu itu geram karena merasa terganggu.
"Kami yang seharusnya bertanya kepada kalian, mau apa malam hari begini lewat di tempat ini?
Apa kalian tidak takut begal?", si lelaki bertopeng warna merah menatap ke arah 12 orang itu segera.
Phuihhhh
"Memang nya kau pikir aku takut melawan begal?
Apalagi cuma dua orang kroco seperti kalian, aku sama sekali tidak takut", sinis ucapan Bekel Sentiko sambil mulai meraba gagang pedang yang ada di pinggangnya.
"Sombong sekali mulutmu!
Buktikan omongan mu kisanak, jangan hanya besar mulut", ujar si lelaki bertopeng merah sambil menunjuk ke arah Bekel Sentiko.
Kau berani menantang ku? Akan ku buat kau menangis darah", usai berkata demikian Bekel Sentiko segera melompat turun dari kudanya dan menerjang ke arah pria bertopeng merah.
Dengan cepat sabetan pedang Bekel Sentiko mengarah pada leher si pria bertopeng merah.
Whuuuuttt..
Si pria bertopeng merah segera mundur selangkah menghindari sabetan pedang Bekel Sentiko. Kemudian menekuk lutut nya dan membuat sapuan kaki kanan kearah Bekel Sentiko.
Pria bertubuh gempal itu segera melompat ke atas, memutar tubuhnya dan kembali membabatkan pedang nya ke arah pundak kiri si pria bertopeng merah.
Dengan cepat, pria bertopeng merah jungkir balik ke tanah dan segera berdiri. Segera dia mencabut pedangnya dan melesat cepat kearah Bekel Sentiko yang baru menjejak tanah.
Sabetan pedang si pria bertopeng merah mengincar punggung Bekel Sentiko. Pria bertubuh gempal itu segera memutar tubuhnya dan menangkis sabetan pedang.
Thhraaaangggggggg!!!
Denting nyaring terdengar saat dua senjata mereka beradu. Si pria bertopeng merah dengan cepat menghantamkan tangan kiri ke arah perut Bekel Sentiko, namun pria itu segera mendorong tekanan pedangnya dan melompat mundur.
Si lelaki bertopeng merah itu tidak memberikan kesempatan kepada Bekel Sentiko. Dengan cepat ia kembali melesat cepat kearah Bekel Sentiko dengan mengayunkan pedangnya kearah kaki sang bekel.
Whuuuggghhh
Bekel prajurit Pakuwon Sundu itu segera melompat tinggi ke udara menghindari sabetan pedang, si pria bertopeng merah itu segera merubah gerakan tubuhnya dan segera melesat cepat kearah Bekel Sentiko yang hendak mendarat.
Hantaman tangan kiri si pria bertopeng merah dengan cepat menghajar punggung pemimpin prajurit Pakuwon Sundu.
Ddeeeeeeessshhhhhh!
Ougghhh!
Bekel Sentiko terjungkal ke depan kaki kuda Akuwu Tanabhaya. Dengan cepat ia bangkit dari tempat jatuhnya, namun sebelum ia bergerak, suara Tanabhaya menghentikan langkahnya.
"Berhenti Sentiko,
Cukup!
Maaf kisanak, mohon tidak menghalangi jalan kami. Kami adalah Akuwu Sundu yang ada di timur hutan kecil ini. Ingin bertemu dengan pemimpin pasukan Daha yang berkemah di sana", ujar Akuwu Tanabhaya segera.
Dua orang lelaki berbaju hitam itu saling berpandangan sejenak, kemudian si lelaki bertopeng hitam segera bersuara.
"Baiklah,
Akan ku antar kalian ke perkemahan para prajurit Panjalu. Jangan bertindak macam macam kalau nyawa kalian ingin selamat", ancam si pria bertopeng merah yang tidak lain adalah anggota pasukan Lowo Bengi.
Akuwu Tanabhaya segera mengangguk mengerti. Dengan sekali sentakan, kuda nya segera berlari mengikuti langkah dua orang berbaju hitam itu segera. Para pengiring nya mengikuti dari belakang.
__ADS_1
Saat memasuki perkemahan para prajurit Panjalu, mata orang orang Pakuwon Sundu terbelalak lebar melihat puluhan ribu prajurit Panjalu. Nyali mereka langsung ciut seketika.
Setelah sampai di tenda paling besar yang ada di tengah perkemahan, mereka segera menghentikan langkahnya.
"Mohon ampun Gusti Pangeran,
Ada beberapa orang mengaku dari Pakuwon Sundu ingin menemui Gusti Pangeran. Apakah mereka diperkenankan?", tanya si pria bertopeng merah dengan penuh hormat dari luar pintu tenda.
"Persilakan mereka masuk", ucap Panji Watugunung segera. Saat Akuwu Sundu memasuki tenda besar, seluruh mata para perwira prajurit Panjalu menatap ke arah nya. Meski Bekel Sentiko menemani, namun tetap saja dua pembesar Pakuwon Sundu itu ketakutan.
"Ada perlu apa kalian kemari, hai wong Sundu?", tanya Panji Watugunung segera usai mereka menghormat dan duduk bersila di hadapan Panji Watugunung.
"Mohon ampun sebelumnya,
Nama hamba Tanabhaya, Akuwu Sundu. Mohon maaf sebelumnya jika hamba lancang. Saat ini hamba berhadapan dengan siapa kalau boleh tau?", jawab Akuwu Tanabhaya sambil menghormat.
"Namaku Panji Watugunung. Orang biasanya memanggil ku Pangeran Jayengrana.
Sekarang katakan apa yang kau inginkan?", tanya Panji Watugunung dengan tegas.
"Jagad Dewa Batara,
Rupanya hamba berhadapan dengan Yuwaraja Kadiri. Mohon ampun Gusti Pangeran, hamba mewakili penduduk wanua yang ada di wilayah Sundu. Mohon dengan sangat untuk tidak membumihanguskan pemukiman kami", ujar Akuwu Tanabhaya sambil menyembah pada Panji Watugunung.
"Bicara apa kau ini?
Kami berperang dengan istana Kahuripan tidak ada hubungan dengan rakyat Jenggala.
Aku berani menjamin bahwa para prajurit Panjalu tidak akan menyentuh warga Jenggala kecuali jika mereka ingin melawan kami", tegas Panji Watugunung yang segera membuat Akuwu Sundu tersenyum bahagia.
"Terima kasih atas kebaikan hati Gusti Pangeran.
Hamba mohon diri untuk kembali ke Pakuwon Sundu", ujar Tanabhaya sambil menghormat dan bergegas keluar dari tenda besar. Dengan di kawal oleh para prajurit Lowo Bengi, rombongan Pakuwon Sundu itu kemudian kembali ke istana Pakuwon.
Malam semakin larut.
Sementara itu, Adipati Danaraja yang tengah tertidur pulas tiba tiba berteriak.
"Ampun ampun, jangan bunuh aku!"
Teriakan keras itu sontak membangunkan Dewi Sekardadu yang tidur di sebelahnya. Dengan cepat ia segera membangunkan Adipati Danaraja yang tengah mengigau.
"Kangmas, Kangmas Adipati..
Bangun Kangmas bangun", ucap Dewi Sekardadu sambil menggoyangkan tubuh Adipati Danaraja. Dengan cepat, Adipati Danaraja terbangun dari tidurnya. Nafasnya ngos-ngosan. Keringat dingin membasahi keningnya. Dewi Sekardadu segera mengambilkan kendi air minum dan memberikan pada Adipati Danaraja.
Gluk gluk glukkk ahh..
Usai meminum air, raut muka Adipati Danaraja terlihat tenang. Dewi Sekardadu segera mendekati suaminya itu.
"Kau kenapa Kangmas?
Mimpi buruk lagi?", tanya Dewi Sekardadu segera.
Adipati Danaraja segera menoleh ke arah istri nya itu. Setelah menghela nafas panjang, dia berkata.
"Iya Yayi, aku mimpi buruk.
Mimpi yang sama dengan dua pekan yang lalu".
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ikuti terus kisah selanjutnya 😁
Yang suka silahkan tinggalkan jejak nya 😁
Selamat membaca 🙏🙏
__ADS_1