Babat Negeri Leluhur

Babat Negeri Leluhur
Perguruan Gunung Semilir


__ADS_3

Mpu Rikmajenar langsung mundur beberapa langkah. Raut muka orang tua itu pucat melihat sosok Raja Panjalu di depannya.


"Apa benar dia Prabu Jayengrana, saudara Rikmajenar?", tanya Mpu Warak saat Mpu Rikmajenar sampai di dekat nya. Dia masih sedikit ragu dengan ucapan kakek tua itu.


"Be-benar Mpu Warak.


Di-dia adalah Prabu Jayengrana dari Kerajaan Panjalu", jawab Mpu Rikmajenar dengan tergagap.


Sementara itu para pembesar istana Singhapura langsung heboh begitu mendengar Prabu Jayengrana ada di antaranya mereka. Apalagi melihat Tumenggung Ludaka dan Tumenggung Landung menghormat pada Panji Watugunung.


"Jadi be-benar dia adalah Prabu Jayengrana, hai Utusan Kerajaan Panjalu?", tanya Adipati Damar Galih yang gugup saat tahu bahwa orang yang menemani Tumenggung Ludaka tadi di ruang pribadi adipati adalah Raja Panjalu.


"Benar Gusti Adipati,


Beliau ini adalah Prabu Jayengrana. Maharaja Panjalu yang tersohor dengan ilmu kedigdayaan nya", Tumenggung Ludaka tersenyum simpul menatap ke wajah Adipati Damar Galih yang pucat pasi. Kalau sampai terjadi sesuatu pada Raja Panjalu itu, pasti bala tentara Panjalu yang ada di perbatasan pasti menyerbu Kadipaten Singhapura.


Segera dia berbisik pada Senopati Ragasingha untuk menyiapkan para prajurit Kadipaten Singhapura untuk membantu jika para murid Perguruan Gunung Semilir menyerang maju.


Chuuiiiiiiihhhh..


"Nama besar mu memang menakutkan, Prabu Jayengrana. Tapi Mpu Warak tidak takut padamu.


Saudara Rikmajenar,


Kau jangan kecil hati. Selama aku masih hidup kau akan tetap aman disini", teriak Mpu Warak dengan pongah.


"Oh jadi kau mau melindungi Mpu Rikmajenar, hai orang Singhapura. Boleh juga.


Adipati Damar Galih,


Ini wilayah mu. Apa Mpu Rikmajenar juga termasuk dalam perlindungan mu?", Panji Watugunung menoleh ke arah Adipati Damar Galih segera.


"A-aku tidak ada urusan dengan Mpu Rikmajenar. Kalau dia ada disini itu bukan tanggung jawab ku", jawab Adipati Damar Galih dengan terbata-bata.


"Jika ada warga Singhapura ada yang melindungi buronan pemerintah Panjalu, apa kau ijinkan aku untuk melakukan tindakan yang diperlukan?", Panji Watugunung berbicara pelan namun terdengar penuh ancaman di telinga Adipati Damar Galih.


"Aku tidak akan keberatan. Prabu Jayengrana bisa melakukan apa pun asal tidak menyangkut pautkan istana Kadipaten Singhapura", Adipati Damar Galih segera melepaskan tanggung jawabnya.


Mendengar itu, Panji Watugunung segera menoleh ke arah Mpu Warak sambil tersenyum lebar.


"Kau dengar sendiri omongan junjungan mu, hai wong Singhapura..


Sekarang minggir kau jangan halangi jalan ku", tuding Panji Watugunung sambil menatap tajam ke arah Mpu Warak.


"Sudah ku bilang. Sekali aku bilang aku mau melindungi Mpu Rikmajenar, maka mati pun aku siap..


Majulah kau Raja Panjalu", ujar Mpu Warak sambil menepuk dadanya.


"Kalau begitu jangan salahkan aku memaksa mu", ucap Panji Watugunung yang segera melesat cepat kearah Mpu Warak sambil menghantamkan tangan kanannya.


Dhhhhaaaaaassssss!!!


Mpu Warak langsung menyilangkan kedua tangan nya di depan dada menahan hantaman tangan kanan Panji Watugunung. Pria paruh baya berbadan besar itu terdorong mundur sejauh 2 tombak ke belakang.


Melihat ada lawan menyerang, anak murid Perguruan Gunung Semilir langsung melesat cepat kearah para pembesar istana Singhapura dan para prajurit Panjalu.


Pertarungan sengit antara mereka segera pecah.


Para pendekar sewaan Mpu Rikmajenar segera melesat ke arah Tumenggung Ludaka, Tumenggung Landung dan para pengawal Panji Watugunung usai menerima isyarat dari Mpu Rikmajenar.


Dewi Srimpi langsung melepaskan caping bambu nya dan melemparkannya ke arah para pendekar sewaan. Salah satu pendekar yang tidak siap, langsung terpelanting terkena hantaman caping bambu yang dilapisi tenaga dalam tingkat tinggi.


Cempluk Rara Sunti pun tak mau kalah. Putri Warok Surapati itu langsung menerjang ke arah seorang pendekar tubuh kurus yang bersenjatakan golok.


Satu tebasan pedang dari Cempluk Rara Sunti mampu menghentikan langkah si pendekar kurus yang berjuluk Golok Terbang itu.


Si Golok Terbang langsung mundur beberapa langkah. Pria kurus itu mendengus keras.


"Rupanya ada perempuan cantik yang ingin cepat mati", ujar Si Golok Terbang sambil menyiapkan kuda-kuda serangan nya.


"Banyak mulut!


Majulah kau kerempeng. Biar ku tebas leher mu yang tinggal kulit dan kentut itu", mendengar jawaban Cempluk Rara Sunti, Si Golok Terbang langsung marah besar.


"Dasar perempuan ******!


Ku robek mulut beracun mu itu bangsat!", teriak Si Golok Terbang yang langsung melesat ke arah Cempluk Rara Sunti sembari babatkan golok nya.


Cempluk Rara Sunti langsung menyambut serangan Si Golok Terbang dengan Ilmu Tarian Pedang Badai Laut Selatan andalannya. Tangan kanannya bergerak gemulai menangkis sabetan golok dari lawannya.


Thrrriiinnnggggg!!!


Melihat serangan nya mentah, Si Golok Terbang langsung bergerak cepat ke samping kanan sembari kembali babatkan golok nya kearah pinggang putri bungsu Warok Surapati itu dengan cepat. Ilmu meringankan tubuh si pendekar kurus ini merupakan kunci kecepatan serangannya.


Thrrraaannnnggggg!!


Namun lagi lagi dia harus kecele karena serangan nya kembali tak berhasil. Gerakan gemulai Cempluk Rara Sunti yang seperti orang menari justru menjadi ilmu serangan dan pertahanan yang sempurna.


Secepat apapun serangan golok dari Si Golok Terbang selalu mampu di tahan maupun di tangkis oleh Cempluk Rara Sunti. Puluhan jurus telah berlalu. Si Golok Terbang mulai gusar.


Dia melompat mundur beberapa tombak. Kemudian ia memusatkan tenaga dalam nya pada golok di tangan kanannya. Lalu secepat kilat dia melemparkan golok nya kearah Cempluk Rara Sunti.


Whuuuuuttt!!


Cempluk Rara Sunti langsung menangkis lemparan golok dari Si Golok Terbang.


Thrrriiinnnggggg!!


Namun golok itu seolah memiliki nyawa karena kemudian golok itu berbalik arah dan kembali menyerang kearah Cempluk Rara Sunti yang terperanjat melihat golok dari lawannya menyerang kembali.

__ADS_1


Cempluk Rara Sunti terus menerus menangkis sabetan dan tusukan golok yang melayang kearahnya.


'Sial kalau begini terus tenaga ku lama lama bisa habis karena meladeni permainan golok keparat ini', batin Cempluk Rara Sunti sambil terus melirik ke arah Si Golok Terbang yang menggerakkan jari jemari tangan kanannya seolah mengendalikan gerakan goloknya.


Cempluk Rara Sunti melenting tinggi ke udara namun tusukan golok dari Si Golok Terbang Terbang masih sempat menyayat lengan kiri atas nya.


Shreeeeettttthhh..


Aaauuuuggggghhhhh!!


Golok melesat cepat kearah si empunya dengan cepat dan Si Golok Terbang langsung menangkapnya.


"Hahahaha...


Saat ini lengan mu yang tersayat golok ku, perempuan cantik. Sayangnya sebentar lagi leher mu yang akan terpotong oleh ilmu golok terbang ku hahahaha", tawa Si Golok Terbang terbahak bahak dengan angkuh.


Putri Warok Surapati langsung menotok beberapa jalan darah untuk menghentikan darah yang keluar dari luka nya.


Thuk thukk!!


Luka sayat itu langsung berhenti mengeluarkan darah. Cempluk Rara Sunti mendengus dingin sembari menatap tajam ke Si Golok Terbang.


"Buktikan omongan mu, hai kerempeng..


Jangan terlalu membual, mulut mu bau!", ejek Cempluk Rara Sunti yang membuat Si Golok Terbang menggeram keras.


"Gadis tengik!


Ku cincang tubuh mu!", maki Si Golok Terbang sambil kembali melemparkan goloknya. Senjata itu melesat cepat kearah Cempluk Rara Sunti namun perempuan itu telah menyadari asal kemampuan Si Golok Terbang mengendalikan senjatanya.


Cempluk Rara Sunti melesat cepat menghindari lemparan golok dari Si Golok Terbang, lalu berlari ke arah Si Golok Terbang sambil menyabetkan pedang nya.


Whhhuuuggghhhh..!!


Si Golok Terbang langsung pucat, dia langsung berguling ke tanah menghindari sabetan senjata Cempluk Rara Sunti. Dan langsung bangkit sambil menggerakkan jemari tangannya.


Golok kembali melesat cepat kearah Cempluk Rara Sunti. Namun selir bungsu Panji Watugunung itu dengan cepat menebas gagang golok hingga golok mencelat jauh. Saat itu dengan cepat Cempluk Rara Sunti menghantam tangan kiri nya.


Whuuuuusssshhhh...


Serangkum angin dingin menderu kencang berbarengan dengan hantaman tangan kiri Cempluk Rara Sunti. Si Golok Terbang melesat menghindari namun satu tebasan pedang Cempluk Rara Sunti menghadang arah pergerakannya.


Chhrrrraaaaaassss!!


Aaaarrrgggggghhhhh.....!?!!!


Si Golok Terbang menjerit keras saat pedang Cempluk Rara Sunti menebas lengan kanannya. Golok nya langsung terjatuh ke tanah. Saat Si Golok Terbang masih terhuyung-huyung kesakitan karena luka potong di lengan kanannya, Cempluk Rara Sunti langsung menendang gagang golok yang menancap di tanah.


Dhhhhaaaaaassssss!!


Golok itu melesat cepat kearah Si Golok Terbang yang tengah kesakitan.


Jleeeeppppph..


Ouuuuggghhhh!!!


Cempluk Rara Sunti langsung merobek kain selendang nya kemudian mengikat lukanya. Setelah beres, selir bungsu Panji Watugunung itu segera melompat ke arah kerumunan anak murid Perguruan Gunung Semilir dan mengamuk di sana.


Di sisi lain, Dewi Srimpi yang baru menghabisi nyawa seorang anak murid Perguruan Gunung Semilir merasakan angin tajam menderu kencang kearahnya.


Selir ketiga Panji Watugunung segera jejak tanah dengan keras hingga tubuhnya melenting tinggi ke udara menghindari serangan dan mendarat dua tombak jauhnya. Putri Kelabang Koro itu menoleh ke arah seorang perempuan yang memegang sebuah kipas dari bilah besi yang tipis.


"Hemmmmmmm..


Hebat juga para pengawal dari Panjalu. Aku ingin menjajal kemampuan mu Nisanak", ujar perempuan yang memakai baju putih.


"Menjajal kemampuan tidak berarti menyerang dari belakang, nisanak!


Itu tindakan pengecut namanya", balas Dewi Srimpi sambil mendengus dingin.


"Kalau hanya dengan serangan itu kau tidak bisa berbuat apa-apa, kau tak layak melawan ku Putri Kipas Besi", jawab perempuan yang memiliki tahi lalat di sudut bibirnya itu sambil tersenyum.


"Alasan mu basi!


Majulah jika kau ingin menjajal kemampuan beladiri dari Panjalu", ucap Dewi Srimpi sambil tangan kanannya menggenggam erat pedang Kelabang Neraka.


Mendengar ucapan itu, Putri Kipas Besi segera mengibaskan kipas besi nya kearah Dewi Srimpi.


Whhhuuuuuuuuussshhh!!


Serangkum angin tajam laksana pisau membelah udara menerabas cepat kearah Dewi Srimpi. Selir ketiga Panji Watugunung segera memasukkan tangan kiri nya ke kantong baju nya lalu melemparkan 4 jarum berwarna hitam kehijauan sambil melompat tinggi ke udara.Dia ingin mencoba keampuhan racun baru yang dia kembangkan dari racun racun yang dimilikinya.


Serangkum angin dingin menderu di bawah kaki Dewi Srimpi bersamaan dengan lemparan jarum beracun putri Kelabang Koro itu


Shrrriinnnggg shhhrriinggg!!


Putri Kipas Besi segera ayunkan kipas nya untuk menghadang serangan jarum beracun dari Dewi Srimpi.


Blllaaaaaarrr..


Traaakkkkkkk!!!


Hembusan angin kencang dari kipas besi menghantam jarum. Senjata mematikan itu meledak dan hancur di udara saat angin bertenaga dalam tinggi berbenturan dengannya.


Melihat serangannya mental, Dewi Srimpi yang baru menjejak tanah langsung menggunakan Ajian Langkah Dewa Angin. Kali ini dia mencoba membongkar pertahanan Putri Kipas Besi dengan kecepatan dan serangan jarak dekat.


Zaaaapppppph!


Tiba-tiba saja Dewi Srimpi muncul di depan Putri Kipas Besi sambil mengayunkan pedang pendek nya.

__ADS_1


Kemunculan Dewi Srimpi yang tiba-tiba mengejutkan Putri Kipas Besi. Perempuan itu langsung menarik kipas besi hitam nya untuk menahan sabetan Pedang Kelabang Neraka.


Thrrraaannnnggggg!!


Meskipun bisa menahan sabetan pedang Dewi Srimpi, namun karena tidak sepenuhnya siap, Putri Kipas Besi terdorong mundur sejauh 2 tombak.


Melihat lawan mulai memakai ilmu kedigdayaan, Putri Kipas Besi langsung memutar kipasnya sambil menyalurkan tenaga dalam tingkat tinggi pada senjata andalannya.


Perempuan itu segera mengibaskan kipas besi di tangan kanannya ke arah Dewi Srimpi.


"Angin Hawa Neraka...


Chiiiiaaaaaaaaaatttttttt!!!


Serangkum angin panas menyengat menderu kencang kearah Dewi Srimpi. Lagi lagi Putri Kipas Besi harus terkejut melihat kecepatan Dewi Srimpi yang mendadak lenyap dari angin yang berhembus kearahnya.


Whhhuuuusssssshhhhhh..


Blllaaammmmmmmm!!!


Pintu gerbang Perguruan Gunung Semilir hancur berantakan terkena angin kipas dari Putri Kipas Besi. Dalam satu kedipan mata, Dewi Srimpi sudah di samping Putri Kipas Besi sambil sabetkan Pedang Kelabang Neraka ke arah leher lawan. Putri Kipas Besi berusaha keras untuk menahan sabetan pedang pendek Dewi Srimpi, namun rupanya itu hanya pengalih perhatian.


Tangan kiri Selir Ketiga Panji Watugunung yang sudah berwarna kebiruan itu dengan cepat menghantam perut Putri Kipas Besi yang terbuka pertahanan nya.


Blllaaammmmmmmm!!!!!


Aaaarrrgggggghhhhh!!!


Putri Kipas Besi terpelanting jauh ke belakang dan menghantam tanah dengan keras. Perempuan itu perutnya gosong akibat benturan Ajian Tinju Petir Dewi Srimpi. Dia tewas setelah mengejang sesaat.


Dewi Srimpi mendengus dingin melihat nyawa lawan nya melayang. Selir ketiga Panji Watugunung itu segera melesat ke arah Cempluk Rara Sunti yang mengamuk di tengah para murid Perguruan Gunung Semilir.


Panji Watugunung terdorong mundur beberapa langkah ke belakang. Baru saja Ajian Tapak Dewa Api menghantam dada Mpu Warak namun hanya membuat dia dan Mpu Warak terdorong mundur.


'Kulit kakek tua itu sangat keras seperti kulit badak. Aku harus cari cara untuk mencari kelemahan nya', batin Panji Watugunung. Mpu Warak langsung melesat cepat kearah Panji Watugunung. Namun Raja Panjalu itu dengan cepat melenting tinggi ke udara.


Gerakan Mpu Warak benar benar mirip badak yang mengamuk dengan menabrakkan badan nya.


Tumenggung Mardeya yang tepat di lajur serangan Mpu Warak benar benar sial. Saat dua masih menghadapi serangan anak murid Perguruan Gunung Semilir tiba-tiba saja dia di tabrak oleh Mpu Warak.


Bhhhuuuuuuggggh..


Ouuuuggghhhh!!!


Tumenggung Mardeya langsung terhempas ke belakang dan nyaris menimpa seorang prajurit Kadipaten Singhapura yang hendak menyerang lawan.


Perwira tinggi prajurit Singhapura itu langsung muntah darah segar. Dia menderita luka dalam akibat tabrakan itu.


Melihat dia salah sasaran, Mpu Warak segera berbalik. Dia mendengus keras sambil menatap tajam ke arah Panji Watugunung.


"Nama besar mu tak sebanding dengan kemampuan mu, Prabu Jayengrana..


Dari tadi kau lompat kesana kemari seperti belalang saja. Ayo kita adu kekuatan, kulit ku yang keras atau pukulan mu yang melempem?", hina Mpu Warak sambil menepuk dadanya dengan sombong.


"Jumawa..


Kau belum tahu tinggi nya gunung dan dalamnya lautan begitu sombong, hai Wong Singhapura.


Majulah, kali ini aku tidak akan menghindar dari serangan mu", ujar Panji Watugunung segera. Raja Panjalu itu segera merapal mantra Ajian Tameng Waja. Tubuh sesembahan rakyat Panjalu itu diliputi oleh sinar kuning keemasan. Perlahan tangan kanannya diliputi oleh sinar biru terang Ajian Brajamusti.


Mpu Warak menyeringai lebar. Dia segera mengerahkan seluruh tenaga dalam hingga seluruh tubuh nya berwarna kemerahan. Ajian Warak Geni andalannya siap di gunakan untuk menabrak tubuh lawannya.


Dengan berlari cepat, Mpu Warak menabrakkan tubuhnya pada Panji Watugunung.


Brrruuuaaaaakkkkh!!!


Panji Watugunung sama sekali tidak bergeser sedikit pun dari tempat berdirinya. Mpu Warak terkejut bukan main karena baru kali ini ada orang yang mampu menahan tabrakan Ajian Warak Geni.


Belum sempat dia tersadar dari kekagetannya, Panji Watugunung menghantam dada Mpu Warak dengan Ajian Brajamusti.


Blllaaammmmmmmm!!


Mpu Warak terpelanting jauh ke belakang dan menghantam tanah dengan keras. Pimpinan Perguruan Gunung Semilir itu muntah darah kehitaman. Ajian Brajamusti meski tidak menggores kulitnya namun mampu melukai organ dalam Mpu Warak.


Segera Mpu Warak berdiri dari tempat jatuhnya. Sambil mengurut dada nya yang sesak, Mpu Warak menunjuk ke arah Panji Watugunung sembari berteriak lantang.


"Ku bunuh kau Jayengrana!"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Selamat beraktifitas semuanya.

__ADS_1


Jangan lupa sarapan karena sarapan lebih nikmat dibanding harapan.


Kalau ada pertanyaan seputar BNL atau apapun bisa lewat IG author : ebez2812


__ADS_2