
Dewi Anggarawati mendongak menatap wajah tampan Panji Watugunung. Bulir air mata bening masih menetes dari ujung matanya. Dia begitu senang mendengar suaminya pulang untuk nya.
Panji Watugunung segera mengusap air mata sang istri dan perlahan mencium kening putri Kadipaten Seloageng itu dengan lembut. Rasa hangat dari kecupan mesra sang suami mampu meredakan air mata wanita cantik yang sedang hamil itu segera.
Ehemmmm
Deheman dari Ayu Galuh membuat mereka yang melepas rindu tersadar bahwa di tempat itu tidak hanya ada mereka berdua.
Panji Watugunung seketika menoleh pada Panji Gunungsari dan Dewi Pancawati yang tersenyum penuh arti memandang kemesraan mereka berdua.
"Maaf Kanjeng Romo, karena kangen sama Dinda Anggarawati saya jadi lupa dengan keadaan.
Sembah bakti saya untuk Kanjeng Romo dan Kanjeng Ibu", Panji Watugunung segera berjongkok dan menyembah kepada Bupati Gelang-gelang itu setelah melepaskan pelukannya pada Dewi Anggarawati.
Keempat istrinya yang lain dan juga Resi Widagdo serta Wandansari turut berjongkok menyembah.
"Berdirilah kalian semua. Aku mengucapkan selamat datang di istana Kabupaten Gelang-gelang", ujar Panji Gunungsari segera. Mereka segera berdiri.
"Maaf Gusti Bupati Gelang-gelang, kalau boleh hamba tau. Nakmas Watugunung ini siapa?", tanya Resi Widagdo yang dari tadi kebingungan melihat adegan mereka.
"Bopo Resi,
Watugunung ini adalah putra ku. Apa mereka tidak mengatakan apa-apa padamu?", Panji Gunungsari memandang kearah Resi Widagdo yang terkejut mendengar ucapan sang Bupati.
Laki laki tua itu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sambil melongo. Begitu juga Wandansari.
"Dia adalah suami ku, mantu Tejo Sumirat, Adipati Seloageng", imbuh Dewi Anggarawati sambil tersenyum simpul.
"Dia juga suami ku, menantu Gusti Prabu Samarawijaya, Maharaja Panjalu", Ayu Galuh tak mau kalah.
Resi Widagdo makin terpana dengan kejutan besar yang dia terima.
"Lantas yang tiga ini siapa?", ujar Resi Widagdo menunjuk pada 3 selir Panji Watugunung.
"Kami bertiga juga istri Kakang Watugunung", jawab Sekar Mayang sambil tersenyum tipis.
Panji Gunungsari dan Dewi Pancawati hanya bisa tersenyum tipis sambil geleng-geleng kepala melihat kelima mantu mereka berkumpul.
Panji Gunungsari segera memerintahkan kepada penjaga istana untuk mengantarkan Resi Widagdo dan Wandansari ke balai tamu.
Sedangkan Panji Watugunung dan kelima istri nya bergegas menuju ke Keputran Gelang-gelang. Sepanjang perjalanan ke Keputran, Dewi Anggarawati lengket terus dengan Panji Watugunung. Ayu Galuh terlihat sebal sedangkan ketiga selir nya maklum.
Saat Ayu Galuh hendak protes, Ratna Pitaloka segera menarik tangan nya.
"Mau apa kau, putri liar?", tanya Ratna Pitaloka dengan mendelik tajam.
"Lihat mereka Kangmbok, lengket terus.
Kita seolah tidak ada saja disini", gerutu Ayu Galuh.
"Dasar perempuan bodoh, apa kau pikir kami juga tidak kesal dengan ulah Kakang Watugunung?
Tapi kita juga harus mengerti.
Kita itu berbagi cinta dengan Kakang Watugunung. Dan selama ini, dia adil dan baik pada kita semua. Apa itu tidak cukup untuk mu?", Ratna Pitaloka menatap wajah Ayu Galuh.
"Kau harus nya berterima kasih kepada Anggarawati karna dia mau berbagi kedudukan yang sama dengan mu.
Kau jangan lupa, sekalipun putri raja, tapi di mata Kakang Watugunung kau itu sama seperti kami", timpal Sekar Mayang.
"Kita sudah berbulan-bulan lamanya bersama Denmas Panji, kita setiap hari bersama dengan nya, bahagia menjalani hidup bersama.
Sedangkan Dewi Anggarawati mengalah dan tinggal di Gelang-gelang.
Kalau kau masih protes dengan Dewi Anggarawati, bagaimana kalau posisi nya di balik? Apa kau tidak bisa memikirkan ini?", Dewi Srimpi yang biasanya tenang dan diam, kali ini ikut bicara.
Ayu Galuh langsung diam seketika.
Mereka berempat lalu berjalan mengikuti langkah sang suami masuk ke Keputran Gelang-gelang tanpa banyak bicara. Ayu Galuh kini menyadari bahwa Panji Watugunung adalah milik mereka berlima. Mereka harus belajar saling berbagi cinta dan saling mengisi.
Sore segera berganti malam.
Di serambi keputran Gelang-gelang, nampak Panji Watugunung sedang duduk di kursi serambi keputran di temani oleh istri pertama nya.
__ADS_1
Dewi Srimpi datang membawakan beberapa makanan kecil dan minuman hangat. Saat hendak melangkah pergi, tiba-tiba Dewi Anggarawati bertanya kepada nya.
"Srimpi,
Mana saudara kita yang lain? Kog tidak kelihatan?".
"Maaf Kangmbok Anggarawati, kami tidak mau mengganggu kalian", jawab Dewi Srimpi sambil mengulum senyumnya.
"Lah kenapa mesti begitu?
Kita itu bersaudara sekarang. Kangmas Panji Watugunung itu suami kita.
Sudah, minta tolong panggilkan mereka semua", ujar Dewi Anggarawati tersenyum tipis.
Dewi Srimpi segera bergegas menuju kamar peristirahatan ketiga istri Panji Watugunung yang lain. Tak berapa lama kemudian mereka berempati sudah duduk bersama di serambi keputran.
Malam semakin larut.
Para istri Panji Watugunung sudah ke kamar tidur masing-masing. Panji Watugunung dan Dewi Anggarawati juga sudah naik ke atas ranjang. Wajah cantik Anggarawati merah merona. Jantung nya selalu berdebar kencang saat bersama sang suami meski mereka sudah lama menikah.
Malam itu mereka bercinta dengan penuh perasaan cinta.
**
Pagi menjelang tiba...
Di Utara Pakuwon Kadri.
Seorang Bekel prajurit berlari masuk ke pendopo utama markas pasukan Panjalu, saat para petinggi pasukan sedang berkumpul.
Sambil terengah-engah akibat berlari, dia berkata,
"Ampun Gusti Senopati. Pasukan Jenggala dengan jumlah sekitar 20 ribu prajurit bergerak menyerbu Kadipaten Lasem".
"APAAAAA??"
Senopati Ganggadara langsung berdiri dari tempat duduknya.
"Kurang ajar!
Narapraja, Maitreya..
Persiapkan pasukan kalian, hari ini kita berangkat ke Lasem".
Dua senopati muda Daha langsung menyembah Panglima Pasukan Daha dan mundur dari pendopo utama.
Suara bende dan terompet tanduk kerbau berbunyi nyaring. Hiruk pikuk prajurit Daha segera bersiap. Saat matahari sepenggal naik pasukan Daha bergerak cepat menuju Lasem.
Sekitar 18 ribu pasukan Daha dipimpin oleh Senopati Ganggadara selaku Panglima Pasukan Daha, diapit dua senopati muda Maitreya dan Narapraja. Para tumenggung dari Kembang Kuning, Lasem, Anjuk Ladang, Kurawan, Bumi Sambara, Kalingga, Lewa dan Muria memimpin pasukan yang terbagi menjadi beberapa kelompok.
Setelah menyebrang sungai Brantas, pasukan Garuda Panjalu Utara yang di pimpin Balapati bergabung.
Keesokan harinya.
Saat Pasukan Panjalu mencapai perbatasan Lasem, Pasukan Jenggala yang menyerbu Kadipaten Lasem telah berhasil menundukkan Adipati Waisudana yang baru saja dilantik menjadi Adipati.
Seluruh anggota keluarga sang Adipati Lasem tewas terbunuh dalam usaha mempertahankan istana Kadipaten Lasem. Hanya beberapa orang yang bisa lolos dari maut.
Malam itu mereka beristirahat dan berkemah di perbatasan kota Kadipaten Lasem.
Di tenda besar mereka tengah mempersiapkan diri untuk menggempur pertahanan pasukan Jenggala yang menguasai istana Lasem.
"Gusti Senopati,
Menurut telik sandi yang hamba kirim, mereka memang menguasai istana Lasem. Tapi kelihatannya warga Lasem tidak menyukai kehadiran mereka.
Apa yang sebaiknya kita lakukan untuk menaklukkan mereka?", ujar Senopati muda Maitreya.
"Mereka telah membantai keluarga hamba Gusti Senopati,
Mohon tegakkan keadilan", ujar Tumenggung Lasem, Wasikerta sambil berlutut kepada Senopati Ganggadara.
Hemmmm
__ADS_1
"Kita tidak boleh gegabah dalam bertindak,
Dengan jumlah pasukan yang sedemikian banyak, tidak mudah bagi kita untuk mengalahkan mereka.
Sebagai penduduk Kadipaten Lasem, kau begitu hafal medan dan keadaan wilayah.
Apa saran mu, Wasikerta?", Senopati Ganggadara menatap ke arah Tumenggung Lasem itu.
"Kita serang mereka dari arah barat Gusti Senopati, tembok istana di sebelah barat tidak setinggi di sisi lain nya.
"Baik,
Besok pagi kita serang mereka dari sisi barat istana kadipaten.
Maitreya, Narapraja..
Besok pagi pagi sekali kita berangkat", perintah panglima pasukan Daha.
"Sendiko dawuh Gusti Senopati", Narapraja dan Maitreya menghormat pada Senopati Ganggadara.
Seorang mata mata dari Jenggala yang berhasil menyusup ke pasukan Panjalu, mendengar semua percakapan mereka.
Diam diam dia melangkah keluar dari perkemahan pasukan Panjalu, berjalan tergesa-gesa menuju sebuah rumah penduduk.
Disana, seorang lelaki berbadan kurus dengan kumis jarang jarang sedang duduk sambil menikmati sekendi arak beras ketan.
"Kakang Waseso, pasukan Panjalu akan menyerang istana Kadipaten Lasem besok pagi buta. Mereka akan menyerang istana dari arah barat", ujar si mata mata Jenggala pada lelaki kurus itu yang bernama Waseso.
"Akan ku laporkan ini pada Gusti Tumenggung Srenggapati, Gondho..
Kau berhati hatilah dalam bertugas", ujar Waseso yang segera melempar kendi arak beras nya. Dia berlari cepat menuju ke istana Kadipaten Lasem.
Gondho, si mata mata Jenggala segera kembali ke tempat perkemahan pasukan Jenggala di luar kota Lasem. Pria bertubuh kekar itu kembali ke tempat nya di sisi tenda besar.
Pagi menjelang tiba..
Pasukan Daha yang di pimpin oleh Senopati Ganggadara bergerak cepat menuju sisi barat istana Lasem.
Dengan lantang, Senopati Ganggadara berteriak untuk menyemangati pasukannya.
"Hari ini,
Kita rebut kembali Lasem"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Author mengucapkan beribu terima kasih kepada semua kakak reader tersayang atas dukungannya untuk cerita perjalanan Kang Panji Watugunung 👍👍👍👍
Jangan lupa sedekah like vote dan komentar nya ya. 😁😁😁😁
Ailupyu guys ❤️❤️❤️
__ADS_1
Selamat membaca 😁😁😁