
"Terimakasih atas sambutan mu Adipati Windupati...
Aku sangat menghargainya", ujar Panji Watugunung sambil tersenyum tipis.
"Sudah menjadi kewajiban bagi hamba untuk mengabdi kepada Raja Panjalu, Gusti Prabu.
Windupati taat dan setia dengan Kerajaan Panjalu", Adipati Karang Anom itu menghormat pada Panji Watugunung.
Rombongan itu langsung mendapat penempatan di balai tamu kehormatan Kadipaten Karang Anom. Bagi Adipati Windupati, kedatangan Prabu Jayengrana ke istana Kadipaten nya merupakan suatu anugerah kepada masyarakat Kadipaten Karang Anom.
Selepas senja, Panji Watugunung dan kedua istrinya menemui Adipati Windupati di ruang pribadi adipati. Setelah semuanya duduk bersila di lantai ruang pribadi adipati, Panji Watugunung memulai percakapan dengan panguasa wilayah Kadipaten Karang Anom itu yang di temani oleh Patih Sengguruh dan Senopati Gupaksi.
"Adipati Windupati,
Kedatangan ku kali ini adalah ingin meminta bantuan mu", ucap Panji Watugunung dengan penuh kewibawaan.
"Bantuan apa yang Windupati bisa lakukan untuk Gusti Prabu?", tanya Adipati Windupati sambil menghormat pada Panji Watugunung.
"Aku mencari seorang tumenggung dari Karang Anom yang bernama Mpu Kerta. Apa ada orang ini di jajaran pejabat istana Kadipaten Karang Anom?", Panji Watugunung segera menatap wajah Adipati Windupati.
"Mohon ampun Gusti Prabu,
Mpu Kerta adalah pejabat istana Kadipaten Karang Anom saat ayahanda Adipati Windu Segara berkuasa di Kadipaten Karang Anom. Tapi orang itu sudah mengundurkan diri dari jabatannya, saat ayahanda Adipati Windu Segara masih bertahta.
Ada apa dengan Mpu Kerta Gusti Prabu?", Adipati Windupati menunggu jawaban dari Panji Watugunung dengan harap-harap cemas.
"Maaf Adipati Windupati,
Apakah kau tahu dimana letak tempat tinggalnya? Apakah orang nya masih hidup?", berondong pertanyaan terlontar dari Dewi Srimpi.
"Kalau masalah itu hamba kurang tahu Gusti Selir. Mungkin Patih Sengguruh lebih tahu dari hamba", Windupati segera menoleh ke arah Patih Sengguruh yang duduk di sebelahnya.
"Mohon ampun beribu ampun Gusti Selir.
Setelah Mpu Kerta mengundurkan diri dari jabatannya, hamba dengar dia tinggal di Wanua Rance wilayah Pakuwon Tawing. Menurut kabar yang beredar, dia menjadi seorang pemuka agama di wilayah itu", jawab Patih Sengguruh sambil menyembah pada Panji Watugunung dan Dewi Srimpi.
"Besok pagi, bisakah kau tunjukkan jalan ke arah tempat itu Patih Sengguruh?
Aku ingin menemuinya", ujar Dewi Srimpi dengan penuh semangat.
"Atas seijin Gusti Prabu Jayengrana, hamba bersedia untuk mengantar Gusti berdua untuk berangkat ke sana.
Sebenarnya hamba penasaran sedari tadi. Mohon ampun bila hamba lancang. Ada masalah apa antara Gusti Prabu Jayengrana dengan Mpu Kerta?", tanya Patih Sengguruh sambil menghormat.
"Kau akan tahu sendiri saat kita sampai di Wanua Karancenan, Patih Sengguruh.
Ini sudah malam, aku dan kedua istri ku akan beristirahat", ujar Panji Watugunung yang segera berdiri dari tempat duduknya diikuti oleh Dewi Srimpi dan Cempluk Rara Sunti.
Ketiga pejabat tinggi Istana Kadipaten Karang Anom itu langsung menyembah kepada Panji Watugunung yang segera berlalu menuju ke balai tamu kehormatan Kadipaten Karang Anom.
Setelah Panji Watugunung dan kedua istrinya pergi, Adipati Windupati segera mendekati Patih Sengguruh.
"Paman Patih,
Sebenarnya ada apa dengan Mpu Kerta? Apa dia pernah punya masalah dengan Gusti Prabu Jayengrana ataupun keluarga nya?", tanya Adipati Windupati dengan penuh rasa penasaran.
"Mohon ampun Gusti Adipati..
Seingat hamba, Mpu Kerta adalah orang yang lurus tidak pernah berbuat macam-macam. Dia adalah seorang pejabat yang baik, menjalankan tugas dengan sungguh sungguh.
Cuma...", Patih Sengguruh mengambil jeda nafas sejenak.
"Cuma apa Paman Patih?
Jangan kau menggantung omongan mu. Bikin aku tambah penasaran saja", gerutu Adipati Windupati dengan kesal.
"Mohon ampun Gusti Adipati.
Cuma selepas kematian istri dan putrinya di culik malam hari itu, Mpu Kerta seperti orang yang kehilangan semangat hidup. Itulah penyebab Mpu Kerta memutuskan untuk mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Tumenggung di Kadipaten Karang Anom. Gusti Adipati Sepuh sebenarnya menolak pengunduran dirinya tapi Mpu Kerta bersikukuh untuk meletakkan jabatannya kala itu", terang Patih Sengguruh sambil mengelus jenggotnya yang memutih.
"Hemmmmmmm..
Tunggu sebentar Paman Patih. Kau bilang tadi istri nya di bunuh dan anaknya di culik. Siapa orang yang berani melakukan tindakan keji itu di wilayah Kota Kadipaten Karang Anom?", Windupati semakin penasaran dengan omongan Patih Sengguruh.
"Malam itu, kota Kadipaten Karang Anom di satroni oleh sekelompok perampok berilmu tinggi. Mereka membakar beberapa rumah di wilayah barat kota Kadipaten ini. Rumah Mpu Kerta termasuk yang menjadi korban keganasan para perampok itu. Istri Mpu Kerta, yang bernama Dewi Tejawati yang masih sepupu Gusti Adipati Sepuh, di bunuh oleh seorang pendekar wanita sakti mandraguna. Perempuan itu juga menculik putri Dewi Tejawati yang masih berusia 2 purnama. Hamba dengar nama pendekar wanita itu adalah Nyi Sekar Selasih.
Hamba yang sempat ikut mengejar kelompok perampok itu namun tinggi nya ilmu kedigdayaan mereka membuat kami tak mampu mengejar.
Itulah sebabnya mengapa Mpu Kerta merasa bersalah dengan mereka berdua dan mundur dari jabatannya", cerita Patih Sengguruh sambil menghembuskan nafas panjang.
"Lantas apa hubungan Mpu Kerta dengan Gusti Prabu Jayengrana? Ah bikin pusing saja.
Paman Patih,
Besok pagi aku ikut ke Pakuwon Tawing. Ingat untuk menunggu ku", ujar Adipati Windupati segera.
"Sendiko dawuh Gusti Adipati", Patih Sengguruh segera menghormat pada Adipati Windupati.
__ADS_1
Malam segera berganti pagi. Suasana dingin mulai berganti kehangatan dari sinar matahari pagi yang mulai menerangi seluruh jagat raya.
Panji Watugunung menggeliat dari tidurnya dan membuka mata nya. Pandangan Raja Panjalu itu langsung tertuju pada Dewi Srimpi yang tengah duduk sambil memeluk kedua lututnya.
"Dinda Srimpi, kau kenapa?", tanya Panji Watugunung sambil bangkit dari tempat tidur nya.
"Eh Denmas Prabu,
Sudah bangun Denmas?", Dewi Srimpi segera menoleh dan tersenyum manis pada Panji Watugunung.
"Sudah Dinda..
Kau kenapa? Ada yang mengganjal pikiran mu?", kembali pertanyaan terlontar dari mulut Panji Watugunung.
"A-aku hanya gugup saja Denmas Prabu..
Aku takut jika Mpu Kerta tidak mengingat ku sama sekali", ujar Dewi Srimpi dengan sendu. Perlahan bulir air mata menetes dari sudut mata perempuan cantik itu. Panji Watugunung segera memeluk tubuh ramping Dewi Srimpi dan perempuan cantik itu segera menyandarkan kepalanya di bahu sang suami.
"Sudahlah Dinda Srimpi,
Mpu Kerta ingat atau tidak dengan mu itu bukan masalah besar. Kau adalah istri ku. Kewajiban ku adalah menjaga dan menyayangi mu. Tak peduli dengan orang tua mu, tapi itulah kenyataannya sekarang.
Kelabang Koro sudah meminta ku menjaga mu dengan imbalan nyawa nya untuk menyelamatkan ku. Dan itu sudah lebih dari cukup untuk menjadi pengingat ku sebagai suami mu untuk menjaga mu seumur hidup ku", ucap Panji Watugunung yang terasa bagai air dingin yang mampu meredam kekhawatiran Dewi Srimpi akan penolakan dari Mpu Kerta. Dewi Srimpi segera memeluk tubuh Panji Watugunung dengan erat.
Pagi itu usai membersihkan diri dan berdandan, Panji Watugunung bersama kedua istrinya juga di kawal oleh para prajurit pengawal pribadi Raja bergerak menuju ke arah Pakuwon Tawing. Rombongan mereka pun di pandu oleh Patih Sengguruh dan Adipati Windupati yang memang penasaran dengan hubungan antara Mpu Kerta dan Panji Watugunung.
Seorang lelaki sepuh berjenggot panjang dengan rambut di gelung layaknya seorang resi nampak duduk di depan sanggar pamujan di sebuah pertapaan di sudut selatan Wanua Rance. Lelaki sepuh itu menaburkan bebungaan pada sebuah bokor kuningan yang nampaknya berisi abu jenazah seseorang. Kemudian dia meletakkan segenggam kemenyan pada anglo tanah liat yang penuh dengan arang yang membara. Asap putih mengepul dari anglo tanah liat menyebarkan bau wangi kemenyan ke sekitar tempat itu.
Usai membaca beberapa mantra puja Dewa Siwa, lelaki sepuh itu keluar dari sanggar pamujan Pertapaan Rance.
Burung prenjak berkicau bersahutan di ranting pohon mangga depan sanggar pamujan itu seperti tengah memberitahukan sesuatu.
'Firasat apa ini? Kenapa burung burung itu terus berkicau bersahutan?', batin lelaki sepuh itu sambil mengelus jenggotnya.
"Resi Mpu..
Kenapa burung prenjak ini terus mengoceh? Apa akan ada tamu yang datang ke tempat ini?", tanya cantrik sang lelaki sepuh berjenggot panjang itu sambil memegang sapu lidi untuk menyapu halaman pertapaan.
"Aku tidak tahu, Mandala..
Dalam waktu dekat ini tidak ada acara perayaan agama atau pun kegiatan di rumah Keraman ( Lurah) Wanua Rance. Yang paling cepat adalah purnama depan.
Ah mungkin burung prenjak ini sedang senang saja, Mandala. Tak usah kau pikirkan", ujar lelaki tua itu dengan senyum terukir di wajahnya yang keriput.
Dari arah Utara, rombongan Panji Watugunung dan orang orang Karang Anom terus bergerak menuju ke tapal batas Wanua Rance. Kedatangan ratusan prajurit Kadipaten Karang Anom itu membuat jagabaya langsung berlari menuju ke arah rumah Mpu Bahula, Lurah wanua itu.
"Sembah bakti hamba Gusti Adipati. Mohon ampun, hal apa yang membawa Gusti Adipati beserta Gusti Patih mengunjungi tempat kami ini?", ujar Mpu Bahula, Lurah Wanua Rance menghormat pada Adipati Windupati. Penguasa Kadipaten Karang Anom itu segera melompat turun dari kudanya.
"Hemmmmmmm..
Aku ingin ke Pertapaan Rance, Ki Lurah.. Kau bisa antar kami kesana?", tanya Adipati Windupati segera.
"Bisa Gusti Adipati bisa..
Mari Gusti hamba antar kesana", jawab Mpu Bahula dengan sopan. Tanpa banyak bicara, rombongan para prajurit Panjalu dan Karang Anom segera mengikuti langkah Mpu Bahula menuju kesebuah bukit yang ada di ujung selatan wanua itu.
Sesampainya di kaki bukit, perjalanan di teruskan dengan berjalan kaki karena kuda tidak mungkin bisa naik ke lereng bukit yang curam. Beberapa prajurit Karang Anom dan Demung Gumbreg di tugaskan untuk menjaga kuda kuda mereka di kaki bukit Rance.
Kedatangan rombongan Adipati Windupati dan Panji Watugunung yang di sertai oleh Patih Sengguruh dan Lurah Mpu Bahula membuat kaget para penghuni Pertapaan Rance. Kelima orang penghuni Pertapaan segera menghormat pada Adipati Windupati.
"Selamat datang di tempat kami, wahai para tamu agung sekalian. Mari kita duduk disana", ujar Mpu Sumba yang merupakan pemimpin Pertapaan Rance sambil menghormat pada Adipati Windupati dan rombongannya.
Mereka semua segera melangkah menuju ke arah balai kediaman para pertapa di tempat itu. Usai masing masing duduk bersila di lantai balai kediaman, Mpu Sumba segera bertanya kepada tamu nya.
"Mohon ampun Gusti Adipati.
Ada apa gerangan Gusti Adipati datang ke tempat kami ini?", tanya Mpu Sumba segera.
"Aku kemari karena aku mengantar junjungan ku, Gusti Prabu Jayengrana Maharaja Panjalu yang ingin bertemu dengan Mpu Kerta, Resi", jawab Adipati Windupati sembari mempersilahkan Panji Watugunung untuk bicara.
Ucapan Adipati Windupati sontak membuat semua orang terkejut bukan main. Memang kedatangan Panji Watugunung yang tidak memakai pakaian kebesaran nya, membuat semua orang tidak mengenalinya sebagai seorang Raja.
Resi Mpu Sumba, Resi Mpu Kerta dan Lurah Wanua Rance langsung menghormat pada Panji Watugunung.
"Terimakasih atas sambutan kalian. Sekarang aku tanya kepada kalian, siapa diantara kalian yang bernama Mpu Kerta?", tanya Panji Watugunung segera.
"Hamba Mpu Kerta, Gusti Prabu Jayengrana.
Ada dosa apa yang hamba lakukan hingga Gusti Prabu Jayengrana sendiri yang mencari hamba?", ujar Mpu Kerta sambil menghormat pada Panji Watugunung.
"Aku ingin bertanya kepada mu.
Apa benar kau memiliki seorang putri yang diculik oleh Nyi Sekar Selasih saat masih berusia 2 purnama?", Panji Watugunung menatap wajah sepuh Mpu Kerta yang nampak terkejut mendengar pertanyaan Panji Watugunung.
"Darimana Gusti Prabu tahu tentang masalah ini?
Memang benar hamba memiliki seorang putri yang di culik oleh Nyi Sekar Selasih. Istri hamba Dewi Tejawati pun di bunuh oleh nya karena berusaha mempertahankan putri kecil kami", ujar Resi Mpu Kerta dengan nada bergetar. Luka lama yang dia simpan rapat-rapat selama dua Warsa lebih seakan menganga kembali.
__ADS_1
"Hemmmm..
Kalau aku bilang putrimu masih hidup dan ingin bertemu dengan mu, apa yang akan kau lakukan?", Panji Watugunung terus menatap wajah tua Mpu Kerta.
"Tentu saja hamba akan merasa bahagia Gusti Prabu. Apa benar putri hamba masih hidup?", Mpu Kerta terbata-bata saat berbicara.
"Dinda Srimpi,
Majulah. Temui ayahmu sekarang", Panji Watugunung segera menoleh ke arah Dewi Srimpi yang sudah menangis sesenggukan. Selir ketiga Panji Watugunung itu segera berdiri dan bersujud kepada Mpu Kerta.
"Ini adalah putri mu Mpu Kerta. Dia selamat dari cengkeraman Nyi Sekar Selasih oleh seorang pendekar yang merawatnya sedari kecil layaknya putrinya sendiri", mendengar ucapan Panji Watugunung, Mpu Kerta langsung memeluk tubuh Dewi Srimpi yang bersujud di hadapan nya.
Tangis haru tanda kebahagiaan langsung menggema di tempat itu.
"Kau adalah putri ku? Kau adalah putri ku?", ucap Mpu Kerta seakan tak percaya dengan apa sedang terjadi. Air mata lelaki sepuh itu terus mengalir deras membasahi pipinya yang keriput.
"Iya ini aku putri Kanjeng Romo. Putri yang di culik Nyi Sekar Selasih", jawab Dewi Srimpi sambil terus berlinang air mata.
Berita itu sontak mengejutkan semua orang yang hadir di tempat itu termasuk Adipati Windupati dan Patih Sengguruh. Mereka sungguh tak menduga bahwa Resi Mpu Kerta yang sederhana memiliki seorang putri yang menjadi selir Maharaja Panjalu.
Usai tangisan mereka mereda, Dewi Srimpi menceritakan tentang kisah hidupnya kepada Mpu Kerta. Juga mengulurkan sebuah kalung yang ada sejak dia masih bayi. Mpu Kerta mengenali kalung itu sebagai kalung milik Dewi Dewi Sasikirana, putri nya yang di culik. Sepanjang cerita, tak henti hentinya air mata Mpu Kerta mengalir.
"Kanjeng Romo,
Perkenalkan ini adalah suami ku, Maharaja Panjalu Prabu Jayengrana. Selama ini dia adalah tempat bersandar dan berlindung Romo", ujar Dewi Srimpi atau Dewi Sasikirana kepada Resi Mpu Kerta.
"Terimakasih atas kebaikan Gusti Prabu Jayengrana, sudah menjaga putri hamba dengan baik", ucap Mpu Kerta dengan penuh hormat.
"Sudahlah Mpu Kerta,
Dinda Srimpi ini sudah menjaga ku selama perjalanan hidup ku malang melintang di dunia persilatan. Baik sebagai pendekar atau pun sebagai ksatria Daha.
Aku meminta restu mu untuk kedepannya", Panji Watugunung tersenyum penuh arti.
"Gusti Prabu Jayengrana,
Merupakan anugerah bagi hamba karena putri hamba diperistri oleh Gusti Prabu. Selanjutnya hamba mohon agar Gusti Prabu menjaga putri hamba sebaik-baiknya", Mpu Kerta menghormat pada Panji Watugunung. Raja Panjalu itu tersenyum simpul mendengar omongan Mpu Kerta. Kemudian dia menoleh ke arah Adipati Windupati, Patih Sengguruh dan Mpu Bahula.
"Dengarkan titah ku..
Mulai hari ini dan seterusnya, aku tetapkan tanah Wanua Rance sebagai tanah Sima atau tanah Swatantra untuk merawat dan menjaga Pertapaan Rance.
Apa kalian mengerti?", Panji Watugunung menatap ke arah semua pejabat yang hadir di tempat itu.
"Sendiko dawuh Gusti Prabu"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Selamat beraktifitas, jaga kesehatan baik-baik.
Perbanyak minum kopi agar hidup tidak penuh halusinasi.
IG author : ebez 2812
__ADS_1