
Mendengar ucapan sang Adipati Matahun, Dewi Sekardadu menghela nafas panjang. Dia berusaha membuang jauh-jauh pikiran buruknya tentang mimpi Adipati Danaraja.
"Kangmas Adipati,
Mimpi itu hanya bunga tidur, tidak usah terlalu dipikirkan. Ayo sekarang kita tidur lagi. Ini masih malam Kangmas", ujar Dewi Sekardadu seraya merebahkan tubuhnya di atas ranjang tidur mereka.
"Tapi Yayi,...."
Belum selesai omongan Adipati Danaraja, Dewi Sekardadu segera memotong ucapan sang pemimpin Kadipaten Matahun itu.
"Sudahlah Kangmas,
Jangan terlalu menjadi beban pikiran. Kangmas Adipati kecapekan, kurang istirahat. Sekarang ayo kita tidur", ucap Dewi Sekardadu yang segera menarik selimut dan menyelimuti tubuh Adipati Danaraja.
Adipati Danaraja menurut. Perlahan dia mulai merebahkan tubuhnya di atas ranjang tempat tidur nya. Meski berusaha untuk memejamkan matanya, namun Adipati Danaraja tetap tidak bisa. Gambaran raksasa merah yang mengobrak-abrik seisi istana Matahun seperti menari di depan pelupuk matanya.
Hingga pagi menjelang tiba, sekejap pun Adipati Danaraja tetap tidak bisa memejamkan matanya.
Matahari pagi mulai menampakkan diri di langit timur. Kilau cahaya nya mencerahkan pagi dari gelap malam yang terusir. Burung burung berkicau bersahutan di pepohonan yang menghiasi taman sari keraton Kadipaten Matahun.
Adipati Danaraja bangkit dari tempat tidur nya hendak melangkah menuju ke arah tempat mandi saat tiba-tiba saja muncul seorang prajurit Jenggala yang datang dengan wajah ketakutan.
"Mohon ampun Gusti Adipati,
Satu pasukan muncul di depan gerbang kota Matahun. Sepertinya mereka adalah para prajurit Panjalu", lapor sang prajurit dengan cepat.
"APAAAAAA??!!!
Kenapa bisa kedatangan mereka mendadak sekali? Kemana para prajurit telik sandi kita?
Senopati Jambuwana,
Ceroboh sekali dia", ujar Adipati Danaraja yang segera berjalan cepat kearah balai paseban agung kadipaten Matahun.
Saat langkah sang pemimpin Kadipaten Matahun itu sampai di balai paseban agung, para pembesar istana sudah berkumpul di sana.
"Adyaksa,
Bagaimana cara kerja mu? Kenapa bisa para prajurit Panjalu kemari tanpa diketahui?", hardik Adipati Danaraja pada Tumenggung Adyaksa setelah duduk di singgasana Kadipaten Matahun.
"Mohon ampun Gusti Adipati,
Hamba sudah mengerahkan puluhan telik sandi untuk mengawasi pergerakan prajurit Panjalu, namun tak satupun dari mereka yang kembali memberikan laporan", jawab Tumenggung Adyaksa sambil menyembah pada Adipati Danaraja.
"Bagaimana hal itu bisa terjadi? Apa mereka semua terbunuh?", tanya Adipati Danaraja sambil menatap ke arah Tumenggung Adyaksa.
"Hamba kurang tau Gusti Adipati,
Yang jelas mereka tidak ada yang kembali. Hamba khawatir jika ada yang diam diam berkhianat kepada Jenggala dan membocorkan rahasia ini pada lawan", ucap Tumenggung Adyaksa sembari melirik ke arah Senopati Matahun, Mpu Janapada yang duduk tak jauh dari tempat duduknya. Senopati sepuh itu sama sekali tidak menyangka bahwa Tumenggung Adyaksa menaruh dendam kepada nya setelah beberapa waktu lalu mempermalukan dirinya di depan sang Adipati.
"Apa maksud mu Tumenggung Adyaksa?", tanya Adipati Danaraja segera.
"Hamba curiga ada yang membocorkan rahasia telik sandi kita, Gusti Adipati.
Selain hamba, hanya Senopati Mpu Janapada yang tau tentang telik sandi kita", ujar Tumenggung Adyaksa sambil menyembah pada Adipati Danaraja dengan menundukkan kepalanya. Di bibir lelaki itu tersungging senyuman sinis.
"Apa kau menuduh aku menjadi pengkhianat Adyaksa?
Tajam sekali mulutmu", hardik Mpu Janapada sambil mendelik tajam ke arah Tumenggung Adyaksa.
"Saya tidak menuduh mu Senopati Janapada, kalau kau tidak merasa bersalah, tidak perlu repot-repot untuk memarahi aku", ucap Tumenggung Adyaksa sambil tersenyum tipis.
"Jadi kau berani berkhianat, Mpu Janapada?
Apa yang kau dapatkan dari itu semua?", Adipati Danaraja menatap tajam ke arah Mpu Janapada.
"Hamba tidak bersalah Gusti Adipati.
Itu semua hanya fitnah dari Tumenggung Adyaksa", ucap Senopati Mpu Janapada mencoba membela diri.
"Kalau kau tidak berkhianat, bagaimana mungkin para telik sandi kita tidak ada yang melapor tentang pergerakan prajurit Panjalu?
Sedangkan hanya kau dan aku yang tahu masalah ini", Tumenggung Adyaksa menyeringai lebar. Dia benar-benar memanfaatkan tidak kembali nya para telik sandi Kadipaten Matahun yang terbunuh oleh Pasukan Lowo Bengi pimpinan Tumenggung Ludaka.
"Sekarang sudah jelas,
Prajurit,
Tangkap Senopati Mpu Janapada. Jebloskan dia ke penjara bawah tanah. Hukumannya akan dijatuhkan usai kita menumpas para prajurit Panjalu yang ada di depan gerbang istana", perintah Adipati Danaraja dengan tegas.
Dua orang prajurit penjaga balai paseban agung segera mendekat ke arah Mpu Janapada dan menggiring perwira sepuh itu ke penjara Kadipaten Matahun.
Tumenggung Adyaksa tersenyum puas melihat itu semua.
Mereka segera menyusun siasat untuk menghadapi pasukan Panjalu yang sudah mengepung kota Matahun dari arah selatan.
Diluar tembok kota Matahun, para prajurit Panjalu yang berjumlah 10 ribu prajurit dipimpin oleh Senopati Sancaka dari Gelang-gelang membuat kehebohan di kalangan masyarakat kota Matahun.
Dengan umbul umbul tinggi berwarna-warni, serta bende perang bertalu-talu membuat para penduduk kota Matahun ketakutan.
Senopati Sancaka terus memerintahkan kepada para prajurit Panjalu untuk membuat ketakutan para warga Kota Matahun.
"Sesuai perintah Gusti Pangeran Jayengrana,
Buat seolah olah kita hanya datang dari selatan kota ini, saudara Gati.
Dengan begitu, para prajurit Jenggala yang berdiam di dalam kota akan memusatkan perhatiannya pada gerbang selatan kota ini", ujar Senopati Sancaka pada Senopati Gati dari Seloageng.
__ADS_1
Senopati sepuh itu manggut-manggut tanda mengerti apa yang di inginkan oleh Panji Watugunung.
"Demung Rajegwesi,
Sekarang tembakkan anak panah berapi mu untuk menakut-nakuti para prajurit Jenggala yang berada di balik dinding kota ini", ujar Senopati Sancaka dengan cepat.
Rajegwesi segera mengangguk. Perwira muda itu segera memberi isyarat kepada para prajurit pemanah pimpinan nya. Dua ribu prajurit pemanah Panjalu segera mengambil anak panah khusus yang sudah di lumuri minyak jarak. Para prajurit yang memegang obor segera menyulutkan api ke mata panah mereka.
"Tembaaaakkkkk!!!!", teriak Demung Rajegwesi dengan lantang.
Shinggg shiinnggggg..
Shhhrriiinnngggg!!!!
Ribuan anak panah melesat cepat kearah dalam kota Matahun dengan membawa api.
Para prajurit Jenggala yang ada di balik tembok kota terkejut melihat hujan anak panah berapi yang mengincar nyawa. Mereka mencoba untuk menyelamatkan diri dengan berlindung pada sekitar tempat mereka atau pun dengan mengangkat tameng yang ada di tangan kiri mereka.
Chrreeeppphh..
Creeppp creeppp!!!
Aughhhh!!
Yang terlambat berlindung menjadi korban hujan anak panah. Ada jerit kesakitan dan raung kengerian yang bergema di dalam barisan Prajurit Jenggala.
Perlahan api mulai membakar atap dan dinding bangunan yang terbuat dari alang-alang kering maupun kayu. Hembusan angin dari selatan semakin mempercepat kebakaran yang tengah terjadi.
"Awas serangan panah!", teriak seorang prajurit Jenggala yang ada di atas tembok kota Matahun.
Para prajurit Jenggala yang mendengar teriakan itu langsung berlindung memakai tameng mereka.
Meski serangan kedua ini tidak separah serangan pertama, namun tetap saja menjatuhkan ratusan korban di pihak prajurit Jenggala.
Senopati Jambuwana yang ada di tengah tengah prajurit Jenggala merasa geram dengan keadaan ini. Dia tidak terima para prajurit nya terbunuh tanpa melawan para prajurit Panjalu.
"Bangsat!!
Buka pintu gerbang! Kita habisi prajurit Panjalu", teriak Senopati Jambuwana dengan keras. Dia yang terbawa emosi melupakan siasat perang yang sudah di tata sebelumnya.
Empat prajurit Jenggala berbadan besar segera menarik tali tambang yang terikat pada palang pintu gerbang kota Matahun.
Krett Kriiiieeeeeetttttt...
Pintu gerbang kota Matahun terbuka lebar. Begitu pintu gerbang kota terbuka para prajurit Jenggala berhamburan keluar dengan senjata terhunus.
Melihat itu, Senopati Sancaka segera memerintahkan kepada prajurit peniup terompet tanduk kerbau segera membunyikan terompet nya.
Thhhuuuuuttttttthhh...!!!
Pasukan Garuda Panjalu yang dipimpin oleh Jarasanda segera mendahului para prajurit Panjalu lainnya dan bergerak cepat kearah pintu gerbang selatan kota Matahun yang sudah penuh dengan para prajurit Jenggala yang keluar dari sana.
Jarasanda segera menerjang maju ke arah seorang prajurit Jenggala yang menghalangi jalan nya. Keris pusaka Kyai Klotok dengan cepat dia tusukkan ke arah ulu hati lawan.
Jleepppp..
Ougghhh!
Si prajurit Jenggala langsung roboh dengan ulu hati menganga dan mengeluarkan darah segar. Usai menghabisi nyawa seorang prajurit Jenggala, wakil pimpinan Pasukan Garuda Panjalu itu segera melesat cepat kearah seorang perwira tinggi prajurit Jenggala yang bernama Tumenggung Mpu Kajar.
Jarasanda segera melayangkan tendangan keras kearah perut Mpu Kajar yang baru menebas leher seorang prajurit Panjalu.
Mendapat serangan tiba-tiba, Mpu Kajar langsung berkelit ke samping kanan kemudian membabatkan pedang nya ke arah leher Jarasanda.
Wakil pimpinan Pasukan Garuda Panjalu yang berpangkat Tumenggung itu segera menangkis sabetan pedang Mpu Kajar dengan Keris Kyai Klotok nya.
Tringgggg
Denting nyaring terdengar saat dua senjata mereka beradu disertai dengan bunga api kecil.
Mpu Kajar langsung menyapu kaki Jarasanda namun wakil pimpinan Pasukan Garuda Panjalu itu langsung melompat tinggi ke udara menghindari sapuan kaki Mpu Kajar.
Tumenggung sepuh dari Jenggala Timur itu dengan cepat memburu Jarasanda yang baru saja menjejak tanah. Sabetan pedang nya mengincar punggung Jarasanda.
Whhhuuuggghhhh..
Jarasanda segera memutar tubuhnya dan jungkir balik di tanah sambil menyabetkan keris nya ke arah perut Mpu Kajar.
Shrraaakkkkk..
Aaaarrrggghhhh!!
Mpu Kajar langsung menjerit keras saat Keris Kyai Klotok merobek baju dan perutnya. Darah segar segera mengalir dari luka yang dialami nya. Tumenggung sepuh itu segera membekap luka nya dan mundur dua langkah kebelakang.
"Bangsat!!
Akan ku cincang tubuh mu", teriak Mpu Kajar yang segera melepas bajunya dan mengikat nya di perut yang terluka.
"Majulah perwira tua!
Jarasanda tidak takut menghadapi mu", ujar adik ipar Warigalit itu dengan tersenyum sinis.
Mpu Kajar segera berlari cepat kearah Jarasanda dengan mengayunkan pedangnya kearah leher. Angin dingin tenaga dalam menyertai sabetan pedang tumenggung tua itu.
Rupanya dia ingin mengadu nyawa.
Jarasanda segera bersiap. Dengan Ajian Pukulan Malaikat nya, tangan kiri nya diliputi oleh asap putih.
__ADS_1
Saat sabetan pedang Mpu Kajar terarah pada leher nya, Jarasanda segera melompat tinggi ke udara kemudian melesat turun sambil menghantamkan tangan kanannya ke arah kepala Mpu Kajar.
Tumenggung tua itu yang tidak siap langsung terhantam Ajian Pukulan Malaikat tepat di kepalanya.
Blarrrr!!
Kepala Mpu Kajar langsung hancur berantakan. Tubuh Tumenggung tua itu roboh dengan bersimbah darah.
Jarasanda tersenyum tipis dan kembali menerjang ke arah para prajurit Jenggala.
Sementara itu Panji Watugunung, Senopati Warigalit, keempat istri Panji Watugunung dan beberapa perwira tinggi prajurit Daha memutar jalan dengan menyerbu sisi timur kota Matahun yang di kelilingi oleh rawa. Itu merupakan satu satunya jalan keluar dari kota Kadipaten Matahun. Semua prajurit bersembunyi di balik pepohonan hutan yang ada di timur kota yang berjarak 300 depa dari pintu gerbang kota.
Begitu terompet tanduk kerbau berbunyi, empat orang pasukan Lowo Bengi segera melesat ke arah pintu gerbang kota. Dengan membawa empat jangkar bertali, mereka melempar benda itu keatas tembok kota yang tingginya 5 depa.
Whuuuuttt whutttt!!!
Setelah jangkar bertali terkait, mereka berempat segera memanjat tembok kota Matahun dengan cepat.
Taphhh taphhh !!
Dengan cepat mereka mengedarkan pandangannya ke sekeliling, dan melihat beberapa prajurit Jenggala tengah menjaga pintu gerbang kota. Ini sesuai dengan perkiraan Panji Watugunung yang menghitung bahwa jika pintu gerbang selatan kota Matahun di serang, maka penjagaan di gerbang timur kota akan melonggar.
Mereka segera melompat turun dari atas tembok kota sambil membabatkan pedang nya ke arah 6 prajurit Jenggala yang berjaga.
Crasshhh crasshhh crasshhh!!!
Empat prajurit Jenggala langsung tersungkur ke tanah setelah pedang keempat anggota pasukan Lowo Bengi menebas batang leher mereka.
Seorang prajurit yang hendak melawan, dengan cepat mengayunkan pedangnya kearah seorang anggota pasukan Lowo Bengi yang memakai topeng warna merah.
Si lelaki bertopeng merah dengan cepat menunduk, memutar tubuhnya dan menusukkan pedangnya kearah perut si prajurit Jenggala yang menyerangnya.
Creeppp!!
Aaarrghhh!
Si prajurit penjaga gerbang kota Matahun langsung menjerit saat tusukan pedang si lelaki bertopeng merah menusuk perut tembus ke pinggang. Dia tewas dengan bersimbah darah.
Sementara itu seorang prajurit Jenggala yang ketakutan langsung kabur menuju ke arah istana Kadipaten Matahun yang terletak di tengah kota itu.
Keempat orang anggota pasukan Lowo Bengi segera bergegas menuju ke arah pintu gerbang kota dan bersama menarik tali palang pintu timur gerbang kota.
Krieetttthhhh!!!
Saat pintu gerbang timur kota Matahun terbuka, Panji Watugunung dan seluruh pasukan Panjalu yang mengikutinya menyerbu masuk ke dalam kota Matahun.
Tanpa halangan yang berarti, pasukan Panjalu bergerak menuju ke arah istana Kadipaten Matahun.
Si prajurit penjaga gerbang timur kota segera mendekati Adipati Danaraja yang baru bersiap untuk bertarung. Senjata yang selama ini tersimpan rapi di kamarnya dia keluarkan.
"Lapor Gusti Adipati,
Pasukan Panjalu sudah menuju kemari. Mereka berhasil membuka pintu gerbang timur kota", ujar si prajurit penjaga dengan nafas tersengal akibat berlari tadi.
Adipati Danaraja terkejut bukan main mendengar laporan itu.
"Jadi begitu rupa nya..
Pasukan Panjalu yang di gerbang selatan hanya pancingan agar penjagaan di timur kota melonggar", ujar Adipati Danaraja dengan menatap ke arah pintu gerbang istana.
"Baiklah,
Akan ku hadapi sendiri perwira yang memimpin pasukan Panjalu!"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ikuti terus kisah selanjutnya 😁
Mohon maaf jika update episode baru nya lambat. Author lagi sibuk kerja 🙏🙏
__ADS_1
Selamat membaca 🙏🙏