
Rombongan Iblis Bukit Jerangkong terus bergerak menuju ke Tamwelang. Mereka sudah sampai di barat Pakuwon Bandar.
"Guru, berapa lama kita sampai di Tamwelang?", tanya Pedang Iblis yang berkuda di samping gurunya.
"Tidak usah terburu-buru Janamerta, biarkan Dewi Kalajengking Biru dan Pangeran Lembah Hantu sampai lebih dulu. Ku dengar 5 Perampok Bukit Hitam juga sudah berkumpul di sana", Iblis Bukit Jerangkong tersenyum sinis.
"Para cecunguk itu sudah sepekan lebih berada disana guru. Kalau bukan karena perintah Gusti Mapanji Garasakan, sudah ku bantai mereka. Dendam kematian adik ku suatu saat akan aku balas", Pedang Iblis mengepalkan tangannya.
"Hahahaha,
Tahan sebentar lagi Janamerta. Begitu Watugaluh jatuh, kau boleh menghabisi mereka", Iblis Bukit Jerangkong menyeringai kejam.
Rombongan yang berjalan kaki itu terus bergerak menuju ke barat.
**
Sementara itu di istana Daha.
Berita berkumpul nya ratusan orang dari berbagai dari perguruan aliran hitam di Tamwelang dari telik sandi membuat Senopati Ganggadara dan perwira tinggi prajurit Panjalu gerah. Ketegangan di perbatasan ini membuat mereka gundah.
"Tumenggung Ardanata,
Pimpin 1000 prajurit ke Watugaluh. Bergeraklah cepat. Buat mereka yang di Tamwelang juga tau kalau kita tidak berdiam diri saja dengan ancaman dari mereka.
Tumenggung Wiguna, segera kabari Pasukan Garuda Panjalu Selatan untuk bersiap menghadapi situasi yang terjadi.
Aku sementara akan menunggu kedatangan pasukan bantuan dari dari Kurawan dan Tanggulangin", perintah Senopati Ganggadara pada dua bawahan nya itu.
"Sendiko dawuh Gusti Senopati", ujar Tumenggung Ardanata dan Tumenggung Wiguna kompak. Mereka segera mundur dari kediaman pribadi sang Senopati dan bergegas melaksanakan tugas yang diberikan.
Tumenggung Wiguna segera memacu kuda nya menuju ke arah Sanggur di ikuti 10 orang prajurit pilihan. Debu beterbangan mengiringi langkah kaki kuda kuda mereka.
**
Panji Watugunung sedang duduk bersama dengan para kepala kelompok pasukan Garuda Panjalu.
Dengan pertambahan puluhan prajurit baru yang bergabung, kini jumlah pasukan Garuda Panjalu sudah mencapai 200 prajurit. Di luar pagar maskas besar di bangun puluhan bangunan tempat tinggal untuk para prajurit baru.
"Gusti Pangeran,
Sepertinya setiap hari jumlah prajurit yang bergabung semakin banyak. Apa ini tidak akan merepotkan? Sebab selama ini kita menjalankan markas dari bantuan dari Seloageng, Gelang-gelang juga pakuwon Randu, Kunjang dan Sengkapura", ujar Ki Saketi sambil menatap ke arah Panji Watugunung.
"Benar Paman Saketi, kita memang harus berusaha untuk mandiri tanpa merepotkan daerah daerah yang sudah berbaik hati memberikan dukungannya terhadap kita", Panji Watugunung menghela nafas panjang.
Saat mereka sedang asyik berbincang, seorang prajurit penjaga gerbang berlari menuju serambi utama.
"Maaf Gusti Pangeran, ada 11 orang utusan Daha ingin menghadap".
"Persilakan mereka masuk kesini", ujar Panji Watugunung yang segera berdiri.
Prajurit itu segera menghormat dan mundur dari serambi utama. Kemudian 11 orang utusan Daha bergegas menuju serambi utama setelah mendapat ijin.
Tumenggung Wiguna segera memberi hormat kepada Panji Watugunung yang di ikuti oleh semua prajurit pengiring nya. Semua orang terkejut melihat itu kecuali Warigalit dan Ki Saketi.
"Wiguna menghaturkan sembah kepada Gusti Pangeran Panji Watugunung".
"Bangunlah Tumenggung Wiguna. Jangan membuat aku seperti seorang dewa. Berdiri", ujar Panji Watugunung yang segera di lakukan oleh Tumenggung Wiguna dan seluruh prajurit pengiring nya.
"Ada apa kau kesini? Bukankah seharusnya kau menata para prajurit bantuan dari penguasa daerah di Daha?", tanya Panji Watugunung kemudian.
"Mohon ampun Gusti Pangeran, hamba di utus Senopati Ganggadara untuk meminta bantuan kepada Pasukan Garuda Panjalu Selatan agar menyiapkan diri. Ada ratusan orang dari perguruan aliran hitam sedang berkumpul di Tamwelang. Dikhawatirkan mereka akan menyerbu Pakuwon Watugaluh Gusti Pangeran", ujar sang Tumenggung Wiguna.
__ADS_1
Hemmmm
'Rupanya sudah di mulai', batin Panji Watugunung.
"Maafkan saya menyela pembicaraan. Kami sudah mendengar kabar itu sejak 2 hari yang lalu Gusti Tumenggung. Saya sudah mengirim telik sandi yang memantau perkembangan terakhir.
Mereka tidak bergerak karena menunggu kedatangan Padepokan Bukit Jerangkong yang akan memimpin serangan", Ki Saketi memberi hormat.
"Berapa banyak pasukan Daha yang di persiapkan untuk mengatasi masalah ini Tumenggung Wiguna?", tanya Panji Watugunung segera.
"Tumenggung Ardanata membawa 1000 prajurit yang terdiri dari 800 prajurit berkuda dan 200 pemanah Gusti Pangeran", laporan Tumenggung Wiguna seraya menatap wajah Panji Watugunung.
"Baiklah Tumenggung Wiguna, pasukan Garuda Panjalu di Sanggur ada 200 prajurit pilihan. Kami akan bergerak ke Watugaluh. Sampaikan kepada Senopati Ganggadara kami akan membantu secepatnya", ujar Panji Watugunung yang segera di sambut anggukan kepala dari Tumenggung dari Daha itu.
"Kami mohon diri dulu Gusti Pangeran Panji, hamba akan menyusul Tumenggung Ardanata sedangkan untuk laporan ke Senopati Ganggadara, biar Bekel Majaya saja".
Tumenggung Wiguna segera menghormat pada Panji Watugunung dan segera bergegas keluar dari markas besar pasukan Garuda Panjalu.
Panji Watugunung menghela nafas panjang.
"Sepertinya perang saudara akan segera terjadi. Kita harus menyiapkan diri sebaik-baiknya.
Marakeh,
Pergilah ke Seloageng. Bawa 10 prajurit. Minta Gusti Adipati untuk memasang telik sandi di perbatasan Kali Aksa dan Sungai Brantas. Aku khawatir kita kecolongan dari belakang. Sebab sepertinya serangan ini hanya pancingan untuk mengetahui seberapa besar kekuatan tempur Panjalu.
Selesai mengirim pesan, segera kembali ke markas pasukan kita, berangkatlah sekarang".
"Sendiko dawuh Gusti Pangeran", ujar Marakeh sambil menghormat pada Panji Watugunung.
"Rakai Sanga,
"Rakai Sanga siap menjaga markas pasukan Garuda Panjalu dengan jiwa raga", Rakai Sanga menghormat.
"Ludaka..
Pimpin 10 prajurit berkemampuan khusus dalam penyamaran. Menyusuplah ke Tamwelang. Kumpulkan berita sebanyak mungkin. Perbatasan Watugaluh dan Kunjang adalah titik kumpul kita. Berhati-hatilah dalam bertugas", Panji Watugunung menatap ke arah Ludaka.
"Ludaka siap bertugas Gusti Pangeran", Ludaka menghormat.
"Yang lain, segera bersiap untuk mengikuti ku. Hanya 140 prajurit yang mengawal ku. 50 prajurit akan bertugas menjaga markas", ujar Panji Watugunung sambil memandang kearah wajah wajah mereka.
"Lalu bagaimana dengan kami?", tanya Ayu Galuh yang baru datang dari belakang bersama ketiga selir Panji Watugunung.
"Tentu saja kalian ikut serta dengan ku", Panji Watugunung tersenyum tipis.
Marakeh dan 10 prajurit segera berangkat ke Seloageng, sementara Ludaka dan 10 memacu kuda mereka dengan cepat menuju ke Tamwelang.
Esok pagi nya, Pasukan Garuda Panjalu mulai bergerak menuju ke arah Kunjang. Landung dan Jarasanda segera memacu kuda mereka ke Pakuwon Kunjang untuk menemui Akuwu Rakeh Kepung, mengabarkan bahwa Panji Watugunung dan pasukannya bergerak menuju Watugaluh.
Rakeh Kepung menyambut kedatangan mereka di istana Pakuwon Kunjang.
Setelah mereka memasuki balai pisowanan Pakuwon, mereka berbicara tentang rencana mereka.
"Ki Kuwu, bagaimana kesiapan Pakuwon Kunjang? Berapa banyak prajurit yang kamu miliki?", tanya Panji Watugunung segera.
"Ampun Gusti Pangeran, prajurit Pakuwon Kunjang semuanya 300 orang. 100 orang menjaga istana Pakuwon, sedang 200 orang prajurit yang bisa di gerakkan", Rakeh Kepung menghormat pada Panji Watugunung.
"Aku pinjam separuh dari prajurit kalian, biar di pimpin Kakang Warigalit. Sisanya bersiap untuk menjaga bila sewaktu-waktu ada hal yang tidak terduga.
Bagaimana Ki Kuwu?", Panji Watugunung memandang kearah Rakeh Kepung.
__ADS_1
"Hamba patuh pada aturan dan perintah Gusti Pangeran", Rakeh Kepung menghormat pada Panji Watugunung.
100 orang prajurit berkuda Pakuwon Kunjang bergerak cepat dipimpin oleh Warigalit, Ratri dan seorang bekel yang bernama Mpu Seti.
Menjelang sore, Warigalit dan pasukannya berhenti bergerak. Sesuai permintaan Panji Watugunung, mereka mendirikan perkemahan di tepi hutan kecil di dekat kota Pakuwon Watugaluh.
Sementara Panji Watugunung dan rombongannya bergerak menuju ke pemukiman tempat tinggal Kelabang Koro.
Di pintu gerbang pemukiman, Tolu dan Wuye begitu gembira melihat Dewi Srimpi datang ke tempat itu. Perempuan cantik itu segera mengunjungi pusara Kelabang Koro dan berdoa.
Malam itu mereka beristirahat di rumah besar bekas kediaman Kelabang Koro.
Saat pagi menjelang tiba, suara kokok ayam jantan bersahutan membangunkan semua orang.
Panji Watugunung segera mengucek matanya, saat sinar matahari mulai menerobos masuk ke dalam kamar nya. Sekar Mayang masih terlelap di bawah selimut.
Seperti biasanya, Dewi Srimpi datang membawakan wedang jahe dan segendok air hangat untuk cuci muka suaminya itu.
Usai bersiap-siap, pasukan Garuda Panjalu segera bergerak meninggalkan pemukiman bekas anak buah Kelabang Koro.
Di perbatasan Kunjang dan Watugaluh, Ludaka dan 10 orang nya sudah menunggu kedatangan mereka.
"Mohon ampun Gusti Pangeran, hasil penyusupan kemarin, nampak nya jumlah mereka sekitar 600 orang. Terdiri dari orang-orang Kalajengking Biru, Bukit Hitam, dan Lembah Hantu", laporan Ludaka.
"Berarti Bukit Jerangkong belum hadir??", tanya Panji Watugunung.
"Belum ada tanda-tanda kelihatan Gusti Pangeran", Ludaka menghaturkan hormat.
Selintas ide segera berkembang di kepala Panji Watugunung. Putra Bupati Gelang-gelang itu tersenyum tipis.
"Ayo kita susul Kakang Warigalit"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ikuti terus kisah selanjutnya guys 😁
Jangan lupa untuk sedekah like vote dan komentar nya 🙏🙏🙏
Dukungan kalian sangat berarti bagi author 👍👍👍
Selamat membaca 😁😁😁
__ADS_1