
Keenam istri Panji Watugunung langsung terdiam. Mereka tidak berani menentang kebijakan Dewi Anggarawati. Bahkan Ayu Galuh sekalipun hanya tersenyum saja mendengar ucapan Dewi Anggarawati. Selama ini Anggarawati selalu menjaga kerukunan antar mereka, juga selalu bersikap adil pada mereka berenam. Dia juga banyak memberikan waktu nya kepada para istri Panji Watugunung yang lain agar mereka segera mendapatkan keturunan.
Dengan patuh, mereka meninggalkan tempat pribadi Yuwaraja Panjalu bersama-sama. Menyisakan Panji Watugunung dan Dewi Anggarawati berdua.
Panji Watugunung tersenyum manis. Dia tidak menyangka bahwa istri pertama nya itu meminta hak nya kali ini setelah sekian lama lebih memilih untuk mengurus Panji Tejo Laksono yang sudah berumur sewarsa lebih.
"Wandansari,
Bawa Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono ke tempat tidur nya lebih dulu", perintah Dewi Anggarawati pada Wandansari yang sedang menggendong bayi Panji Tejo Laksono.
"Baik Gusti Putri", Wandansari segera menggendong bayi itu meninggalkan tempat pribadi Yuwaraja. Wandansari memang mendapat tugas untuk menjaga Panji Tejo Laksono, sedangkan Tantri bertugas sebagai pengasuh Mapanji Jayawarsa.
"Sudah beres sekarang. Tinggal kita berdua Kangmas", ujar Dewi Anggarawati sambil tersenyum penuh arti.
"Kau sangat merindukan ku ya Dinda Anggarawati?", Panji Watugunung tersenyum tipis melihat tingkah istri pertama nya ini.
"Tentu saja Kangmas..
Selama sewarsa lebih aku berpuasa untuk tidak berhubungan dengan Kangmas demi Tejo Laksono.
Kangmas pikir aku tidak merana selama ini?", tanya Dewi Anggarawati yang mendekat ke Panji Watugunung. Perlahan dia meletakkan kepalanya di bahu sang suami.
"Hehehehe,
Aku kira Dinda Anggarawati sudah melupakan ku karena terlalu sibuk dengan putra kita", Panji Watugunung mengelus rambut hitam Dewi Anggarawati.
"Bukan begitu Kangmas,
Aku hanya ingin para istri mu yang lain juga memiliki ikatan batin yang kuat dengan mu. Aku dan Galuh sudah memiliki buah cinta dari mu, terus bagaimana dengan yang lain? Mereka tentu saja pasti ingin memiliki momongan juga seperti aku bukan?", Dewi Anggarawati tersenyum tipis sambil mendongak menatap wajah Panji Watugunung.
"Permaisuri ku ini memang benar benar bijaksana.
Terimakasih banyak atas semua pengertian dan cinta yang kau berikan padaku Dinda", ujar Panji Watugunung yang segera mengecup kening putri Kadipaten Seloageng itu dengan penuh cinta.
Dewi Anggarawati memejamkan matanya, menikmati setiap sentuhan lembut dari suaminya.
Perlahan Panji Watugunung mendorong tubuh Anggarawati keatas ranjang nya.
Malam itu Panji Watugunung dan Dewi Anggarawati bersama menggapai puncak hubungan suami istri dengan penuh perasaan. Sepanjang malam, hanya erangan kenikmatan dan lenguhan kepuasan yang terdengar memenuhi seluruh ruangan kamar tidur Panji Watugunung.
Bukan hanya sekali, tapi berkali kali mereka mendaki puncak asmara bersama.
Pagi menjelang tiba di istana Katang-katang. Mentari pagi bersinar hangat di ufuk timur. Awan Awan mulai berwarna kelabu, sebagai pertanda bahwa musim penghujan tak lama lagi akan segera tiba. Suara burung gelatik dan manyar saling bersahutan di antara ranting ranting pohon yang ada di taman sari istana Katang-katang.
Dewi Anggarawati tersenyum tipis melihat sang suami yang masih terlelap dalam tidurnya. Teringat pertarungan panas mereka semalam suntuk, senyum bahagia terukir di bibir mungil Anggarawati.
Dengan lembut, Dewi Anggarawati mengecup bibir Panji Watugunung. Merasa ada sesuatu yang menyentuh bibirnya, Panji Watugunung segera membuka matanya dan mendapati Dewi Anggarawati tengah menciumnya.
"Masih kurang Dinda?", ucapan Panji Watugunung segera membuat Dewi Anggarawati kaget dan ingin menjauhi suaminya itu. Namun gerakan cepat tangan Panji Watugunung yang memeluk tubuh polos Anggarawati membuat perempuan itu tidak bisa berkutik.
"Eh ternyata Kangmas sudah bangun", ujar Dewi Anggarawati dengan muka memerah karena malu.
"Salah mu sendiri Dinda, pagi pagi membangunkan suami dengan ciuman. Sekarang Dinda Anggarawati harus tanggung jawab", ujar Panji Watugunung sambil menindih tubuh istrinya itu.
Pagi itu kembali Anggarawati menjerit puas dengan perbuatan Panji Watugunung.
Tiga orang wanita cantik mendengus panjang diluar pintu kamar Panji Watugunung.
Panji Watugunung dan Dewi Anggarawati yang cekikikan berdua segera menghentikan tawa mereka saat pintu kamar di ketok dari luar.
Tok tok tok
Tok tok tok
"Ada apa?", tanya Panji Watugunung dari atas tempat tidurnya. Dewi Anggarawati tersenyum tipis sambil memakai pakaiannya.
"Aku, Mayang dan Srimpi ingin bertemu Kakang", suara Ratna Pitaloka terdengar dari balik pintu.
Dewi Anggarawati yang sudah selesai berpakaian, segera melangkah menuju ke arah pintu kamar dan membuka nya.
Kriettttt
Pintu kamar terbuka, dan ketiga wajah cantik selir Panji Watugunung segera terlihat. Dewi Anggarawati tersenyum tipis melihat kedatangan mereka yang terlihat seperti kesal.
"Ada apa kalian pagi pagi kemari?", tanya Panji Watugunung segera.
"Pagi apanya Kakang? Ini matahari sepenggal naik.
Apa kalian masih belum puas bermain semalam suntuk?", gerutu Ratna Pitaloka sambil melirik ke arah Dewi Anggarawati.
"Ya kan ini memang jatah ku Kangmbok setelah sewarsa berpuasa.
Kalau nanti aku belum puas, malam nanti Kangmas Panji masih tetap milikku", ujar Dewi Anggarawati sambil tersenyum simpul.
"Kau...", Ratna Pitaloka menuding Dewi Anggarawati.
"Apa perlu aku perhitungan dengan jatah ku selama setahun ini Kangmbok Pitaloka?", Anggarawati tersenyum penuh kemenangan. Perempuan itu segera berlalu pergi menuju ke Puri pribadi nya.
Ratna Pitaloka langsung diam seketika.
"Kalau kalian datang hanya untuk ribut, sebaiknya lain kali saja. Aku capek, pengen tidur", ujar Panji Watugunung segera.
__ADS_1
"Bukan begitu Kakang,
Kami kemari untuk memberi tahu mu bahwa kau di tunggu Tumenggung Wiguna di balai paseban", ujar Sekar Mayang menimpali.
"Hahhhhh?
Kenapa kalian tidak bilang dari tadi?", Panji Watugunung segera menyambar celana nya.
"Bagaimana mau bilang, sedang orang nya masih asyik bercumbu?", gerutu Sekar Mayang yang di tanggapi dengan senyum nakal dari suaminya.
Panji Watugunung segera bergegas menuju ke arah tempat mandi.
Dengan dibantu oleh ketiga selir nya, Panji Watugunung segera berdandan layaknya seorang Yuwaraja. Dengan sedikit tergesa, putra Bupati Gelang-gelang itu melangkah menuju ke balai paseban agung Kayuwarajan Kadiri di dampingi oleh Ayu Galuh dan Dewi Naganingrum.
Patih Saketi, Senopati Warigalit, Tumenggung Ludaka, Demung Gumbreg, dua penasehat Mpu Gondho Lukito dan Rakeh Kepung sudah menunggu kedatangan Panji Watugunung. Semua pembesar istana Kayuwarajan Kadiri segera berjongkok dan menyembah kepada Panji Watugunung yang masuk ke bangsal paseban agung. Setelah Pangeran Jayengrana itu duduk di singgasana Yuwaraja Panjalu, kedua permaisuri juga ikut duduk di bawah kaki kanan dan kiri Sang Pangeran Daha.
Para pembesar istana segera duduk bersila di tempat mereka masing-masing.
Tak berapa lama kemudian, Tumenggung Wiguna di dampingi oleh 2 orang Bekel prajurit Daha menghadap pada paseban agung ini.
"Sembah bakti hamba untuk Gusti Yuwaraja Panjalu Pangeran Jayengrana", ujar Tumenggung Wiguna sambil menghormat pada Panji Watugunung.
"Aku terima Tumenggung Wiguna.
Duduklah", ujar Panji Watugunung sambil mengangkat tangan kanannya sebagai tanda bahwa dia menerima kedatangan mereka.
Tiga orang perwira Panjalu itu segera duduk bersila.
"Apa keperluan mu kemari Tumenggung Wiguna?
Apa ada tugas dari Gusti Prabu Samarawijaya?", tanya Panji Watugunung segera.
"Mohon ampun beribu ampun Gusti Pangeran,
Hamba diutus oleh Gusti Maharaja Samarawijaya untuk meminta agar Gusti Pangeran Panji Jayengrana dan Gusti Putri Ayu Galuh datang ke istana.
Mohon untuk mengajak Gusti Pangeran Mapanji Jayawarsa juga", jawab Tumenggung Wiguna sambil menghormat.
Hemmmm
"Ada perlu apa Kanjeng Romo meminta ku datang ke istana Daha, Tumenggung Wiguna?
Tumben sekali dia ingat kepada ku", tanya Ayu Galuh dengan senyum tipis.
"Hamba kurang tau Gusti Putri. Pesan Gusti Maharaja Samarawijaya hanya seperti itu", jawab Tumenggung Wiguna sambil menghormat pada Ayu Galuh.
"Baiklah,
"Kalau begitu, kami mohon diri Gusti Pangeran", ujar Tumenggung Wiguna yang segera menyembah kepada Panji Watugunung dan mundur dari balai paseban agung Kayuwarajan Kadiri.
Pagi itu, Panji Watugunung menanyakan berbagai hal yang perlu diperhatikan di wilayah Kayuwarajan Kadiri, termasuk rencana penambahan pasukan Kadiri dan pembangunan beberapa tempat yang akan dijadikan sebagai lumbung pangan di beberapa tempat.
Tumenggung Ludaka yang bertugas sebagai petugas perekrutan prajurit mengatakan bahwa setidaknya sudah lebih dari dua ribu pemuda dari berbagai wilayah di Panjalu mendaftarkan diri sebagai calon prajurit Kayuwarajan Kadiri.
Panji Watugunung segera memerintahkan kepada Patih Saketi untuk menghubungi beberapa pesilat yang tersohor dari wilayah Kayuwarajan Kadiri untuk melatih kemampuan beladiri mereka. Untuk pengawasan terhadap pelaksanaan kebijakan itu, Senopati Warigalit diwajibkan bertanggung jawab secara penuh.
Tak lupa juga ada pengangkatan beberapa perwira menengah yang akan memimpin kelompok kecil pasukan.
Semua orang di istana Katang-katang begitu bersemangat dalam menjalankan tugasnya sebagai pembesar istana Kayuwarajan Kadiri.
**
Jauh di barat, tepat nya di perbatasan kota Kadipaten Lewa.
Dewi Api dan Dewa Tanah yang baru menghajar si pemilik warung makan untuk melampiaskan kekesalan, menatap tajam ke arah Bhirawa yang sudah sadar dari pingsannya.
"Bhirawa,
Kau memalukan. Cepat bangun!", teriak seorang kakek bertubuh gendut dengan perut buncitnya. Kakek tua yang tak pernah memakai alas kaki itu adalah Dewa Tanah, guru dari Bhirawa, Darugeni dan Simbarmayura.
Bhirawa segera bangun, meskipun luka dalam nya cukup parah, tapi berkat bantuan tenaga dalam Dewa Tanah, pria paruh baya itu terlihat sedikit lebih segar.
"Ampun Guru,
Ilmu kanuragan biksu botak itu hebat. Padahal aku sudah menggunakan Tapak Beku tapi dia mampu membuat ku terpental", ujar Bhirawa membela diri.
Hemmmm
"Kurang ajar!
Kalau begitu ayo kita kejar mereka. Kita balas penghinaan ini", ujar Dewa Tanah yang segera melompat ke atas kuda nya. Diikuti oleh Dewi Api, pendekar pendekar Alas Larangan bergerak menuju ke arah perbatasan Kadipaten Lewa dan Kadipaten Kurawan.
Sementara itu, tiga biksu dari negeri Tiongkok itu terus bergerak cepat menuju ke arah Kadiri tanpa menyadari bahwa mereka sedang di buru para pendekar dari Alas Larangan.
Usai mengisi perut dan bertanya arah di kota Wuwatan yang merupakan ibukota Kadipaten Kurawan, mereka memacu kudanya menuju ke arah Anjuk Ladang.
Dewa Tanah, Dewi Api, Bhirawa, Darugeni, Simbarmayura dan 10 anak murid Padepokan Alas Larangan terus menggebrak kuda mereka berharap agar cepat menemukan tiga biksu dari negeri Tiongkok itu.
Di pinggir kota Wuwatan, mereka berhenti di sebuah rumah yang ada di dekat jalan besar menuju ke Anjuk Ladang.
Seorang lelaki paruh baya segera menghormat pada Dewi Api.
__ADS_1
"Sembah bakti saya Guru", ujar si lelaki paruh baya itu pada Dewi Api. Nenek tua berambut merah seperti api dan bertubuh kurus itu hanya mengangguk saja.
"Jalaniti,
Apa kau melihat tiga orang biksu botak bermata sipit melewati tempat mu ini?", tanya Dewi Api pada lelaki paruh baya yang bernama Jalaniti itu segera.
"Tepat tengah hari tadi, ada tiga biksu yang tampak nya orang asing melewati jalan besar itu Guru.
Kata pemilik warung makan, mereka bertanya arah menuju ke Kadiri.
Memang ada apa Guru?", tanya Jalaniti penasaran.
"Tiga biksu dari negeri seberang itu baru menghajar Bhirawa, dan dua murid Kakang Dewa Tanah.
Pangeran Alas Larangan meminta kami membawakan kepala mereka", jawab Dewi Api sambil mendengus dingin.
"Mereka belum terlalu lama pergi Guru kalau ingin mengejar", ujar Jalaniti segera.
"Kita sudah capek Jalaniti, lebih baik malam ini kita beristirahat dulu di tempat mu. Lagipula kita juga tau kemana tujuan mereka. Kita bisa mencegat mereka di Daha atau pun memburu mereka di Kadiri", ujar Dewi Api yang mendapat anggukan kepala dari Dewa Tanah.
Dan malam itu, mereka beristirahat di rumah Jalaniti di pinggir kota Wuwatan.
Di perbatasan Anjuk Ladang dan Kurawan, tiga biksu dari negeri seberang itu bermalam di rumah lurah wanua Mruwak yang ada di kaki Bukit Penampihan.
Malam itu, Resi Wanayasa yang baru menemani murid nya membeli kebutuhan pangan kepada warga Wanua Mruwak berkunjung ke tempat sang Lurah yang dulu merupakan salah satu murid Padepokan Bukit Penampihan.
"Gelangwesi,
Ada tamu dari rupanya", ujar Resi Wanayasa sambil tersenyum tipis melihat tiga orang biksu yang ada di serambi kediaman Lurah Wanua Mruwak itu.
"Eh Guru kenapa tidak memberi tahu murid kalau ingin kemari.
Selamat datang Guru, maaf jika penyambutan ku tidak begitu menyenangkan", ujar Gelangwesi sambil menghormat pada Resi Wanayasa.
"Sudahlah, jangan banyak adat.
Siapa mereka Gelangwesi?", tanya Resi Wanayasa sambil tersenyum simpul. Dia sangat bangga melihat anak murid nya yang tetap menghormati guru meski sudah tidak tinggal di padepokan lagi. Segera dia duduk bersila di lantai serambi rumah Lurah Gelangwesi.
"Oh perkenalkan guru, ini adalah para biksu yang datang dari negeri seberang. Namanya Biksu Hong Ki, Biksu Hong Jian dan Biksu Hong Yi", ujar Gelangwesi memperkenalkan ketiga tamu nya pada Resi Wanayasa.
"Tuan Resi,
Salam hormat kami dari Kuil Shaolin Selatan di negeri Tiongkok", ujar Biksu Hong Ki sambil membungkuk hormat kepada guru Padepokan Bukit Penampihan itu.
"Salam kenal juga dari kami biksu dari negeri seberang. Aku Resi Wanayasa dari Bukit Penampihan.
Kalau boleh tau, ada urusan apa yang membuat biksu yang terhormat sampai ke tempat ini?", tanya Resi Wanayasa dengan penasaran.
"Tujuan kami adalah memperdalam ilmu agama Buddha di wilayah Kalingga, Tuan Resi.
Selain itu kami juga ingin bertemu dengan seorang lelaki yang bernama Watugunung yang tinggal di Kota Kadiri yang katanya merupakan pendekar terhebat di tanah Jawa. Kami ingin mengadu kemampuan beladiri kami dengan nya", ujar Biksu Hong Ki sambil tersenyum tipis.
Hehehehe
Terdengar suara tawa kecil dari Resi Wanayasa yang membuat ketiga biksu itu saling berpandangan satu sama lain. Biksu Hong Ki langsung bertanya kepada Resi Wanayasa dengan cepat.
"Maaf Tuan Resi,
Apa ada yang lucu dengan perkataan ku?
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ikuti terus kisah selanjutnya kak 😁
Yang suka silahkan tinggalkan jejak kalian dengan like 👍, vote ☝️, favorit ❤️ dan komentar 🗣️ nya agar author terus semangat menulis yah 😁
__ADS_1
Selamat membaca 🙏🙏🙏