Babat Negeri Leluhur

Babat Negeri Leluhur
Para Penyerbu


__ADS_3

Ki Sampana datang dengan seorang lelaki muda yang kelihatannya seorang prajurit namun berpakaian seperti rakyat biasa.


"Hampura Kang,


Aya peryogi naon pilari abdi?", tanya Naganingrum sambil menatap tajam ke arah orang itu.


"Maaf kan Nyi,


Saya kurang paham dengan bahasa Nyi. Tolong dijelaskan", si pria muda itu terlihat sedikit kebingungan.


"Ada perlu apa mencari saya? Eta maksud abdi kang", Naganingrum segera menjelaskan.


"Oh begitu..


Saya ingin Nyi menjawab pertanyaan saya sebelum saya mulai bicara. Jika burung garuda terbang tinggi kemana dia akan hinggap?", ganti si pria muda itu menatap ke arah Naganingrum yang di kawal Panji Watugunung dengan mengenakan capingnya.


"Tentu saja, hinggapnya ke Daha. Sok atuh, Aya naon mencari saya??", tanya Naganingrum segera.


Si pria muda itu segera tersenyum tipis. Dia tidak menyangka bahwa penghubung kali ini adalah seorang wanita muda yang cantik jelita.


"Maaf Nyi,


Saya adalah penghubung antara para prajurit yang menyusup masuk ke Muria. Saat ini pasukan Senopati Narapraja sudah berhasil menyusup ke Muria lewat pelabuhan Tanjung Anom. Mereka tersebar di tiga titik di seputar Pakuwon Tanjung Anom", ujar si pria muda itu segera.


Hemmmm


"Sampaikeun ke Senopati Narapraja nyak, pasukan Garuda Panjalu pada hari Hariang Soma Manis akan bergerak menuju sarang burung hantu.


Bilang sama Senopati Narapraja, kita bertemu di hutan bambu timur sarang burung hantu", Naganingrum mengambil sebuah lempengan perak bergambar Ganesha kepada si pria muda itu. Segera dia menerima lempeng perak itu dan kemudian bergegas meninggalkan Penginapan Bunga.


Di istana Kadipaten Muria.


Seorang lelaki paruh baya berjenggot tebal dengan kumis melintang di pipi tampak sedang duduk bersama dengan seorang lelaki tua dan 6 pria dewasa di ruang pribadi Adipati.


Dialah Dyah Ratnapangkaja Sang Ramawijaya, Adipati Muria yang menjabat sejak akhir masa pemerintahan Sang Prabu Airlangga. Sebagai seorang bekas perwira prajurit Medang, dia banyak makan asam garam peperangan.


Ratnapangkaja adalah adik ipar Ranggawangsa, dia menikahi Dewi Pandanwangi yang juga merupakan ibu Balapati, sang pemimpin pasukan Garuda Panjalu Utara.


Sebenarnya mereka adalah keluarga bangsawan yang memiliki kedudukan yang tinggi di istana Daha. Namun hanya karena hasutan Ranggawangsa, Adipati Ratnapangkaja keblinger pemikiran nya.


Angin semilir berhembus sepoi-sepoi memasuki istana Kadipaten Muria. Cuaca begitu sejuk namun tidak menghilangkan ketegangan pikiran para bangsawan di istana itu.


"Kakang Ranggawangsa,


Sejauh ini bagaimana kabar di pelabuhan pelabuhan di wilayah kita? Apa sudah ada kabar pergerakan pasukan Daha?", tanya Adipati Ratnapangkaja sambil memandang kearah Ranggawangsa.


"Sudah ada Dhimas Ratnapangkaja,


Mereka masih melakukan persiapan di pelabuhan Jaladri dengan kapal kapal besar. Sejauh berita telik sandi mereka berjumlah sekitar 5 ribu prajurit.


Kita pasti memenangkan pertempuran karena prajurit kita lebih dari 7 ribu prajurit Dhimas", jawab Ranggawangsa dengan penuh keyakinan.


Hahahaha


Terdengar tawa dari mulut Adipati Muria. Dia begitu gembira mendengar berita itu.


"Rupanya mereka hanya sebanyak itu kekuatan nya.


Kakang Ranggawangsa,


Apa langkah yang akan kita ambil?", Adipati Ratnapangkaja segera menatap wajah kakak iparnya.


Ranggawangsa menyeringai lebar mendengar pertanyaan itu.


"Aku minta kirimkan 5 prajurit untuk menahan mereka di pelabuhan Kapur, seribu prajurit di siapkan untuk bantuan mendadak dan 1000 orang bertahan di istana Kadipaten Muria.


Jangan sampai mereka menginjak tanah kota Kadipaten Muria ini", ujar Ranggawangsa dengan tatapan mata dingin.


"Senopati Mpu Pala,


Segera lakukan sesuai saran Kakang Ranggawangsa. Cepat", titah Adipati Muria.


"Sendiko dawuh Gusti Adipati", Senopati Mpu Pala segera menyembah kepada Adipati Muria dan mundur dari ruang pribadi Adipati.


"Tumenggung Ardi dan Tumenggung Mpu Napi,


Bantu Senopati Mpu Pala untuk menghancurkan pasukan Daha", perintah Adipati Muria segera.


Dua Tumenggung itu segera menghormat dan mundur dari ruang pribadi Adipati menyusul Mpu Pala yang sudah lebih dulu meninggalkan istana Kadipaten Muria menuju kesatrian.


Mereka segera menata pasukan Muria yang akan menghadang pasukan Daha yang akan menyerbu Kadipaten Muria.

__ADS_1


Keesokan harinya..


Para pasukan Muria semuanya berkuda untuk mampu bergerak cepat ke pelabuhan Kapur. Semua dana perang yang diberikan Ranggawangsa sangat membantu kebutuhan Muria dalam rencana makar nya.


Di utara pelabuhan Kapur, mereka mulai membangun pertahanan untuk menahan pasukan Daha.


Senopati Mpu Pala yang cakap, segera memerintahkan kepada para bawahannya untuk mempersiapkan segala sesuatunya dengan cepat.


Sementara itu, di pelabuhan Jaladri Senopati Maitreya mulai menata kapal besar yang akan berlayar ke pulau Muria. Tumenggung Wiguna dan Tumenggung Adiguna yang membantu nya terlihat sibuk di bagian masing-masing.


"Bagaimana persiapan kapal di bagian perbekalan, Tumenggung Adiguna?", tanya Senopati Maitreya menatap wajah sepuh tumenggung Daha itu.


"Semua sudah bersiap Gusti Senopati,


Tinggal menaikkan beberapa bahan makanan besok kita sudah siap berlayar ke Muria", jawab Tumenggung Adiguna yang nampak mengusap peluh di keningnya. Rambut putih panjang nya terlihat semakin menambah aura nya sebagai ksatria berpengalaman.


Senopati Maitreya menatap ratusan kapal besar itu segera. Tampak angin laut selat Yuwana membuat bendera kapal berkibar.


Beberapa prajurit bekerja mengangkut perbekalan ke masing-masing kapal. Beberapa anak buah kapal sedang mengikat tali pada layar kapal. Semua orang nampak sibuk.


Dari arah belakang, Tumenggung Wiguna datang di temani dua orang prajurit.


"Ada apa Tumenggung Wiguna? Apa ada hal penting?", tanya Senopati Maitreya segera.


Tumenggung Wiguna tidak menjawab, namun segera mendekat dan membisikkan sesuatu di telinga Senopati Maitreya. Wajah Senopati Maitreya nampak cerah setelah mendengar bisikan Tumenggung Wiguna.


"Malam ini kita berangkat ke Muria, Tumenggung Wiguna", Senopati Maitreya tersenyum.


Di lain tempat, Senopati Narapraja sedang duduk di serambi tempat peristirahatannya utara pelabuhan Tanjung Anom.


Dengan dandanan layaknya orang biasa, ksatria Daha itu masih tidak bisa disebut sebagai rakyat jelata. Tubuh nya yang tegap dan tatapan matanya yang setajam elang Jawa, membuat nya memiliki kharisma yang berbeda.


Dengan ditemani oleh Tumenggung Muda Kumbayana, dia nampak memikirkan tentang persiapan untuk menyerbu ke istana Kadipaten Muria yang tinggal besok hari.


Seorang prajurit segera masuk ke dalam serambi kediaman Senopati Narapraja.


"Gusti Senopati,


Pasukan Garuda Panjalu akan bergerak pada hari Hariang Soma Manis,


Mereka akan menunggu kedatangan kita di hutan bambu sebelah timur kota", ujar si prajurit muda itu segera.


Segera beritahu seluruh kepala prajurit, malam ini kita bergerak menuju ke tempat pertemuan", ujar Senopati Narapraja yang segera bergegas berdiri. Sang prajurit menyembah kepada Senopati Narapraja dan segera mundur dari tempat itu.


Senopati Utama Daha itu tersenyum tipis.


"Kumbayana,


Siapkan orang orang kita. Sebelum senja, kita harus mulai bergerak", titah sang Senopati.


"Sendiko dawuh Gusti Senopati", Tumenggung Muda Kumbayana segera menghormat dan bergegas menuju ke arah pasukannya.


**


Panji Watugunung sedang memasang caping yang menutupi wajah nya. Ketiga istrinya segera memakai penutup wajah setelah berpakaian hitam layaknya seorang pendekar muda.


Usai Ki Sampana memberikan kuda pada mereka, Panji Watugunung dan ketiga istrinya segera memacu kuda mereka menuju ke sebuah rumah yang tersembunyi di balik hutan kecil di utara pelabuhan Keluwih saat senja mulai turun menyapa langit.


Dengan gerakan cepat, mereka berempat terus menggebrak kuda mereka.


Setelah berbelok ke kiri, mereka menyusuri jalan setapak yang membelah hutan kecil itu. Di ujung jalan, nampak sebuah rumah persembunyian para prajurit Daha.


Begitu melihat Panji Watugunung, para anggota pasukan Garuda Panjalu yang sudah bersiap siap, segera berdiri.


"Kami sudah bersiap Gusti Pangeran", ucap Ludaka sambil menghormat.


"Ayo, jangan buang waktu lagi.


Kita bergerak sekarang", perintah Panji Watugunung segera.


Warigalit, Jarasanda, Gumbreg, Landung, Ludaka, dan Rajegwesi langsung melompat ke atas kuda mereka. Lalu perlahan mereka mulai menyalakan obor dari daun kelapa kering. Setelah masing masing orang menyulut obor mereka, pasukan Garuda Panjalu bergerak cepat menuju ke arah hutan bambu di timur kota Kadipaten Muria.


Menjelang tengah malam, mereka sudah sampai di hutan bambu di timur kota Kadipaten Muria. Saat mereka tiba, pasukan Daha yang di pimpin oleh Senopati Narapraja sudah lebih dulu sampai.


Mereka tidak mendirikan tenda selayaknya pasukan perang namun lebih memilih menyebar dalam kelompok kecil di sekitar hutan bambu itu.


"Ampun Gusti Pangeran,


Hamba sudah mendapat berita, jika kekuatan Muria sebagian besar bersiap untuk menghadapi pasukan Daha yang di pimpin Maitreya.


Apa langkah kita selanjutnya Gusti Pangeran?", Senopati Narapraja menatap wajah Panji Watugunung yang terlihat seperti memikirkan sesuatu.

__ADS_1


Obor daun kelapa kering mereka yang menjadi penerangan mereka malam itu nampak hampir padam. Ludaka segera mengganti nya dengan obor baru.


"Menurut berita itu, berapa kira-kira kekuatan di dalam istana Muria?", Panji Watugunung balik bertanya.


"Kurang lebih sekitar seribu prajurit Gusti Pangeran", Narapraja segera menjawab pertanyaan Panji Watugunung.


Hemmmm


"Dari Ki Sampana, aku dengar bahwa bala tentara Muria ada 7 ribu prajurit. Jika hanya seribu prajurit di istana, maka 6 ribu prajurit yang menghadapi pasukan Daha.


Kalau begitu, besok menjelang pagi kita gempur istana Kadipaten Muria. Seperti pepatah mengatakan potong kepalanya maka ekor akan menurut.


Semakin cepat kita membasmi kepala pemberontak, maka pasukannya pasti segera menyerah.


Jika pasukan di luar membantu mereka, itupun akan sangat terlambat karena jarak antara pelabuhan Kapur dan istana Kadipaten Muria adalah setengah hari perjalanan.


Malam itu mereka segera beristirahat meskipun hanya sebentar. Saat langit timur mulai memerah, Pasukan Garuda Panjalu dan pasukan Daha bergerak cepat menuju ke kota Kadipaten Muria.


Seorang prajurit penjaga gerbang timur istana Kadipaten Muria yang melihat kedatangan ribuan orang berpakaian hitam mengepung istana Kadipaten, langsung membunyikan kentongan dengan cepat.


Tong tong tong tong tong..


Tong tong tong tong tong..


Titir kentongan itu langsung membangunkan semua orang di istana Kadipaten.


"Seraaaaaangggggg!!!!", teriak Panji Watugunung segera. Gerbang timur istana yang tak di jaga ketat langsung diterjang oleh pasukan Garuda Panjalu dan pasukan Daha.


Pertempuran sengit segera pecah di antara pasukan itu. Dengan cepat, pasukan Panji Watugunung segera merangsek menuju kediaman pribadi Adipati Muria dan keluarga nya.


"Ada apa ini?", teriak Ranggawangsa yang baru di bangunkan istrinya.


"Ampun Gusti Sepuh,


Ribuan orang berpakaian hitam menyerbu ke istana Kadipaten. Mereka masuk lewat gapura istana timur yang penjagaan nya paling lemah", lapor seorang prajurit penjaga.


APAAAAA??!!


"Siapa mereka prajurit?", tanya Ranggawangsa setelah keterkejutannya mereda.


"Hamba kurang tau Gusti Sepuh, tapi semuanya memakai ikat kepala berwarna biru langit dan merah", ucap sang prajurit sambil mengusap keringat dingin yang mulai membasahi keningnya. Dia memang takut setelah melihat kemampuan para penyerbu itu. Ditambah lagi kekuatan antara prajurit Muria dan kelompok penyerbu itu tidak berimbang.


Hemmmm


Ranggawangsa termenung sejenak setelah mendengar ucapan sang prajurit.


"Biru langit dan merah??


Celaka,


Mereka adalah pasukan Daha"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Ikuti terus kisah selanjutnya kak 😁😁


Yang suka silahkan tinggalkan jejak kalian dengan like 👍, vote ☝️, favorit ❤️ dan komentar 🗣️ nya


Selamat membaca 😁😁😁

__ADS_1


__ADS_2