Babat Negeri Leluhur

Babat Negeri Leluhur
Kelicikan Ranggawangsa


__ADS_3

Panji Watugunung segera mendekati Cempluk Rara Sunti yang masih pucat wajah nya. Segera dia membopong tubuh padat perempuan Wengker itu ke kamar tidur Cempluk. Para istri segera mengikuti langkah sang suami ke kamar Rara Sunti termasuk Naganingrum yang baru membantah anggota kelompok Serigala Hitam yang sudah mengacaukan malam mereka.


Para prajurit segera memindahkan mayat mayat anggota kelompok Serigala Hitam itu dari keputran. Mereka membawa mayat mayat itu ke tepi hutan kecil di luar kota dan membakarnya.


Sepasang mata menatap kearah para prajurit Gelang-gelang yang melaksanakan tugas nya. Kemudian sepasang mata itu segera menggebrak kuda nya menembus kegelapan malam menuju ke arah Kotaraja Dahanapura.


Perlahan, Panji Watugunung segera meletakkan tubuh Cempluk Rara Sunti ke ranjang tidur nya.


"Dinda Srimpi,


Bagaimana keadaan Cempluk yang sebenarnya?", tanya Panji Watugunung pada putri Kelabang Koro itu segera.


"Rara Sunti terkena racun tapak wisa Denmas,


Obatnya hanya daun sambiloto dan bubuk kumbang emas. Besok pagi aku akan mencari daun sambiloto di sekitar hutan di luar kota Kabupaten, kalau bubuk kumbang emas aku punya", jawab Dewi Srimpi sambil tersenyum.


"Untuk saat ini, obat penawar racun ku akan bisa menahan racun untuk tidak menyebar dengan syarat Denmas harus sering menyalurkan tenaga dalam di bawah kulit yang menghitam itu", imbuh Dewi Srimpi seraya menutup mulut agar tidak tertawa. Membuka bagian yang terkena racun tapak wisa, berarti sama seperti menelanjangi Rara Sunti. Panji Watugunung harus menahan diri untuk tidak tergoda, itu yang membuat Dewi Srimpi menahan tawa.


"Cempluk, beristirahatlah ya.


Aku sangat berhutang nyawa kepada mu malam ini. Budi baik ini tidak akan pernah aku lupakan", ujar Dewi Anggarawati sambil tersenyum simpul. Cempluk Rara Sunti mencoba tersenyum meski punggungnya terasa seperti di tusuk ribuan jarum.


"Malam ini, Kangmas Panji akan menjaga Cempluk beristirahat. Aku minta pengertian kalian semua.


Jangan sampai ada yang menggangu, terutama kau Kangmbok Mayang", sambung Dewi Anggarawati. Ucapan nya halus tapi terdengar nada ancaman dari suara merdu nya.


Sekar Mayang yang hendak berbicara, langsung di bekap mulutnya oleh Ratna Pitaloka.


Hmmmmmppphhh


Hmmmmphhhff


Hanya itu yang terdengar dari mulut Sekar Mayang.


"Jangan cari masalah dengan Anggarawati. Ingat kemarin dulu dia yang membela mu habis-habisan di depan Kakang Watugunung", bisik pelan Ratna Pitaloka seketika membuat wajah Sekar Mayang pias. Melintas di benaknya saat sebelum berangkat ke Kawali, Dewi Anggarawati bersitegang dengan Panji Watugunung hanya karena membelanya. Teringat kejadian itu, Sekar Mayang langsung tenang.


Setelah itu, Dewi Anggarawati dengan menggendong bayi nya, menggiring mereka berempat keluar dari kamar Rara Sunti.


Panji Watugunung mengusap rambut hitam si Cempluk. Kalau bukan karena dia, mungkin Anggarawati atau Panji Tejo Laksono putranya yang terbaring sekarang.


Merasa mendapat perhatian lebih, Cempluk Rara Sunti tersenyum tipis di bibir pucat nya.


Dia begitu gembira melihat orang yang dicintainya memperhatikan nya. Walaupun harus merasakan sakit, tapi dia rela melakukan nya.


Dengan penuh perasaan, dia meletakkan tangan Panji Watugunung di pipinya sampai tertidur. Putra Bupati Gelang-gelang itu akhirnya ikut tidur sambil duduk di samping ranjang Rara Sunti.


Menjelang tengah malam, Panji Watugunung terbangun saat mendengar batuk batuk. Dia melihat dari sudut bibir Rara Sunti keluar darah.


Segera dia mendudukkan tubuh Rara Sunti sambil mencoba mengingat apa yang di katakan Dewi Srimpi tadi.


'Di bawah kulit yang menghitam? Bagaimana aku bisa melihat jika Cempluk masih berpakaian?', batin Panji Watugunung.


Melihat Panji Watugunung tidak segera menyalurkan tenaga dalam, Rara Sunti langsung berujar.


"Ada apa Kakang? Ada yang menggangu pikiran mu? Uhuk uhuk.."


"Eh tadi Dinda Srimpi berkata, menyalurkan tenaga dalam nya di bawah kulit yang menghitam. Masalah nya aku tidak tau dimana letak kulit yang menghitam jika...", Panji Watugunung tidak meneruskan kalimatnya.


Cempluk Rara Sunti segera memahami maksud ucapan Panji Watugunung. Perlahan dia membuka pakaiannya dengan tetap memunggungi Panji Watugunung. Dadanya terasa berdegup kencang. Satu persatu kain penutup tubuh Rara Sunti terlepas hingga memperlihatkan kulit yang sawo matang tapi bersih itu.


Panji Watugunung seketika menelan ludah nya dengan keras.


Dengan bantuan sentir lampu minyak jarak, Panji Watugunung segera menyalurkan tenaga dalam nya ke tempat yang di maksud Dewi Srimpi.


Perlahan tubuh Rara Sunti terasa hangat dan batuk nya berhenti. Setelah merasa cukup Panji Watugunung segera menidurkan Rara Sunti usai perempuan itu berpakaian lagi.


Tak berapa lama kemudian Rara Sunti tertidur pulas. Namun Panji Watugunung yang kelimpungan, akhirnya memilih bersemedi untuk menghilangkan pikiran keruhnya.

__ADS_1


Pagi menjelang tiba di istana Kabupaten Gelang-gelang. Sang Surya terbit dengan malu-malu di ufuk timur, bersembunyi dibalik awan awan kelabu.


Pagi itu, setelah melaksanakan kewajiban nya, Dewi Srimpi di temani Ratna Pitaloka dan Sekar Mayang memacu kuda mereka menuju ke hutan kecil di timur kota Kabupaten Gelang-gelang. Begitu sampai, mereka langsung berkeliling mencari daun sambiloto.


Setelah mendapat apa yang di cari, mereka segera bergegas menuju ke istana Gelang-gelang. Tak butuh waktu lama untuk membuat penawar racun itu bagi Dewi Srimpi, setelah obat jadi, Dewi Srimpi segera bergegas menuju ke kamar Cempluk Rara Sunti.


Dengan bantuan Panji Watugunung, Cempluk Rara Sunti meminum obat itu segera. Dewi Srimpi segera melepas totokan di seputar punggung Cempluk untuk melancarkan peredaran darah nya. Setelah itu, mereka membiarkan Cempluk Rara Sunti beristirahat.


Menjelang tengah hari, Rara Sunti dengan senyum manisnya sudah bergabung dengan istri Panji Watugunung yang lain di serambi keputran Gelang-gelang. Meski belum begitu pulih seutuhnya, Rara Sunti tidak mau menghabiskan waktu di kamar tidur saja.


"Dinda semuanya,


Sebenarnya aku ingin menemui Mpu Soma untuk meminta bantuan nya menentukan letak istana untuk tempat tinggal kita semua.


Jadi maaf tidak bisa mengajak kalian", usai berkata demikian Panji Watugunung segera menyilangkan tangan di depan dada. Sekejap mata kemudian dia sudah menghilang dari pandangan mata semua istrinya. Dengan ajian Halimun ajaran Ki Buyut Permana, Panji Watugunung memindahkan raga nya melintasi ruang dan waktu.


Di timur Seloageng, tepatnya di pertapaan Ranja. Mpu Soma tersenyum tipis saat tiba-tiba Panji Watugunung muncul di halaman kediaman sang Resi. Dia sedang mengajar para brahmana muda waktu itu.


"Rupanya ada tamu agung yang berkunjung.


Selamat datang di pertapaan Ranja Nakmas Panji", ujar Mpu Soma saat Panji Watugunung melangkah masuk menuju serambi kediaman nya. Melihat isyarat tangan dari Mpu Soma, para murid segera mundur dari serambi.


"Terimakasih atas keramahan nya Resi. Saya kemari untuk meminta bantuan dari Resi Mpu Soma", ujar Panji Watugunung sambil menghormat usai dipersilahkan duduk oleh Resi Mpu Soma.


"Apa yang bisa orang tua ini lakukan untuk mu Nakmas?", Resi Mpu Soma tersenyum tipis.


"Saya mohon bantuannya untuk menentukan letak rumah yang bisa menjadi tempat tinggal untuk saya dan keluarga saya Resi.


Diantara Kunjang, Watugaluh dan Kadri Resi", Panji Watugunung menatap dengan penuh harap.


Resi Mpu Soma tersenyum penuh arti, segera dia berdiri dan menatap ke langit barat laut.


"Dua hari lagi Nakmas Panji,


Aku akan mengantarmu ke tempat yang akan menjadi tempat anak turun mu kelak memimpin Panjalu.


"Terimakasih atas bantuannya Resi, saya mohon pamit", ujar Panji Watugunung sambil menghormat. Kembali Panji Watugunung menyilangkan tangan di depan dada, kemudian dalam sekejap mata dia sudah menghilang dari pandangan Mpu Soma.


Para istri Panji Watugunung kembali dikejutkan dengan kehadiran Panji Watugunung diantara mereka.


Sementara itu seorang lelaki muda terus menggebrak kuda nya, saat memasuki wilayah kota Daha.


Saat sampai di tempat yang dia tuju, segera dia melompat turun dari kudanya. Setengah berlari dia menuju ke serambi kediaman Ranggawangsa.


"Celaka Gusti,


Kelompok Serigala Hitam di bantai oleh Panji Watugunung dan istri nya. Mereka sudah mengakui bahwa mereka di suruh oleh mu", lapor pria muda itu segera.


Ranggawangsa terkejut bukan main mendengar ucapan si pria muda itu.


Seketika dia berdiri.


'Pangeran Jayengrana pasti tidak akan melepaskan ku dengan mudah, aku harus cepat mencari pemecahan masalah ini', batin Ranggawangsa segera.


"Aku akan segera menghadap Gusti Prabu Samarawijaya,


Awasi terus Pangeran Jayengrana", ujar laki laki tua itu segera. Dia kemudian segera bergegas menuju ke istana Daha. Sementara itu si pria muda itu segera melompat ke atas kuda nya kembali menuju Gelang-gelang.


Di ruang pribadi raja, Prabu Samarawijaya sedang duduk di kursi nya, berhadapan dengan Mapatih Jayakerti saat Ranggawangsa masuk.


Setelah menyembah kepada Prabu Samarawijaya, Ranggawangsa segera duduk bersila di lantai ruang pribadi raja.


"Ada apa Paman Ranggawangsa? Apa ada hal yang perlu kau laporkan sampai menghadap tanpa di panggil?", Prabu Samarawijaya menatap wajah tua Ranggawangsa.


"Mohon ampun Gusti Prabu, hamba kemari untuk meminta pertolongan dari Gusti Prabu dari fitnah keji", ujar Ranggawangsa sambil menghormat.


"Apa maksud mu Paman? Coba jelaskan", Prabu Samarawijaya sedikit kaget mendengar ucapan Ranggawangsa. Pun Mapatih Jayakerti segera menoleh ke arah nya.

__ADS_1


"Mohon ampun beribu ampun Gusti Prabu,


Hamba baru mendapat berita, bahwa semalam di Gelang-gelang, Gusti Pangeran Panji Jayengrana mendapat serangan dari sekelompok pembunuh.


Dan para pembunuh itu menyebut hamba yang menyuruh mereka", Ranggawangsa memperlihatkan kecemasan.


Prabu Samarawijaya dan Mapatih Jayakerti terkejut mendengar berita itu.


"Hamba takut Gusti Pangeran Panji Jayengrana akan membalas dendam kepada hamba karena fitnah keji ini.


Hamba berani bersumpah tidak melakukan nya", imbuh Ranggawangsa sambil memelas.


Hemmmm


Prabu Samarawijaya tertegun sejenak mendengar ucapan Ranggawangsa. Teringat jasa Ranggawangsa saat pemecahan wilayah dulu, Prabu Samarawijaya pun sulit percaya jika Ranggawangsa berbuat seperti itu. Itulah kelicikan Ranggawangsa yang selama ini bisa membuat nya berada di posisi penting.


"Paman Ranggawangsa tenang saja,


Biar nanti aku yang akan bicara dengan Dhimas Panji Jayengrana untuk masalah ini", Prabu Samarawijaya mengelus kumis nya.


"Terimakasih atas kepercayaan Gusti Prabu. Sepenuhnya nasib hamba di tangan Gusti Prabu, junjungan hamba", ujar Ranggawangsa sambil menunduk dan menyeringai lebar.


"Hamba mengusulkan, agar ada pasukan pengawal pribadi untuk Gusti Pangeran agar keamanan nya lebih terjaga Gusti Prabu", ujar Ranggawangsa sambil menghormat.


"Besok saat dia kembali, akan ku bicarakan ini dengan nya", titah sang Maharaja Samarawijaya kemudian.


Di keputran Gelang-gelang, Panji Gunungsari dan Dewi Pancawati sedang bercengkrama dengan Panji Watugunung dan istri istri nya.


Kehadiran Panji Tejo Laksono benar benar memberikan warna tersendiri bagi kehidupan mereka.


Seorang prajurit penjaga gerbang segera menyembah kepada Panji Gunungsari.


"Mohon ampun Gusti Bupati,


Ada tamu ingin bertemu dengan Gusti Pangeran Panji Watugunung".


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Ikuti terus kisah selanjutnya kak 😁😁


Yang suka silahkan tinggalkan jejak kalian dengan like 👍, vote ☝️, favorit ❤️ dan komentar 🗣️ nya

__ADS_1


Selamat membaca kak 😁😁


__ADS_2