Babat Negeri Leluhur

Babat Negeri Leluhur
Empat Setan Gunung Kematian


__ADS_3

Panji Watugunung segera bangun. Cuaca segar pagi membuat nya bersemangat. Ketiga gadis ikut bangun, melihat calon suami mereka berdiri..


Mereka kemudian bersiap melanjutkan perjalanan ke Padepokan Padas Putih.


Berita penyerangan Puri Agung Gelang-gelang ternyata sangat cepat menyebar. Bahkan di daerah Kunjang yang lumayan jauh dari kota Gelang-gelang, berita tewasnya anggota Gunung Kematian menjadi topik hangat perbincangan.


Panji Watugunung dan ketiga gadis nya berhenti di warung makan untuk mengisi perut. Ratna Pitaloka yang sedikit kelaparan, segera masuk dan memesan makanan untuk 4 orang.


Setelah mereka masuk dan sebentar menunggu, makanan sudah diantar ke meja mereka. Rasa lapar membuat mereka tak sadar ada beberapa orang memperhatikan gerak gerik mereka.


Seorang pria bercodet di wajah dan 3 lelaki berwajah seram duduk di meja tak jauh dari Watugunung dan ketiga gadis nya.


"Menurut kakang Muka Setan, apa mereka orang nya?", ujar si pendek pada lelaki bercodet setengah berbisik.


"Tak salah, menurut berita yang aku terima, pembunuh Hantu Tanpa Muka dan Mahesa Rangkah adalah orang yang sama. Pendekar muda dengan pedang bersarung merah", jawab si Muka Setan.


"Kalau begitu, kita habisi saja mereka disini kakang. Tangan ku sudah gatal ingin membunuh", ucap si pendek.


"Jangan Setan Pendek, kita cegat mereka di jalan utama saat di perbatasan hutan", ujar lelaki kurus yang berjuluk Setan Kurus.


"Benar kata Setan Kurus, lebih baik disana tidak menarik perhatian", jawab pria dengan alis mata tebal yang berjuluk Alis Setan membenarkan si kurus.


"Aah kelamaan, akan ku cabut nyawa mereka disini", usai berkata, Setan Pendek melempar cangkir kayu dengan tenaga dalam kearah Panji Watugunung dan ketiga gadis nya.


Whutttt....


Panji Watugunung merasakan angin dingin melesat ke meja mereka, menoleh dan melempar secuil tulang ayam untuk menangkis.


Dhakkkk...


Prokkk..


Cangkir dan tulang ayam meledak saat berbenturan. Setan Pendek mencabut pedang pendek nya, dan langsung merangsek maju.


Ratna Pitaloka kesal karna acara makan nya diganggu, langsung menyongsong ke arah Setan Pendek dengan mencabut pedang Bulan Kembar nya.


Pemilik warung, dan pelayan serta pembeli lainnya langsung buyar. Berbahaya bagi mereka, lebih baik menyelamatkan diri.


Setan Pendek membabatkan pedang pendek nya ke arah leher, Ratna Pitaloka tidak berusaha menghindar namun menangis dengan pedang bulan di tangan kiri, dan pedang bulan di tangan kanan menyabet perut Setan Pendek.


Setan Pendek terkejut melihat pedang perempuan menyabet perut nya, memutar pedang yang mengarah perut.


Tringgg..


Benturan pedang beraliran tenaga dalam menciptakan beberapa bunga api. Setan Pendek mundur dua langkah.


'Sial, tenaga dalam gadis ini setingkat lebih tinggi dari aku', batin Setan Pendek.


Ratna Pitaloka mundur selangkah dan mempersiapkan diri .


"Tunggu dulu kisanak,


Ada masalah apa kau tiba-tiba menyerang kami?", ucap Panji Watugunung dari meja makan.


Hahahaha


Tawa Muka Setan keras , lalu berdiri sambil mencabut pedang besar dari punggungnya.


"Kalian harus membayar kematian Mahesa Rangkah, kakak seperguruan kami"


"Ow jadi kalian orang orang Gunung Kematian rupanya", Panji Watugunung segera berdiri.


"Hahahaha, sudah dengar nama perguruan kami kau anak muda. Apa kau takut sekarang?", Setan Kurus ikut berdiri, dan memutar tongkat besinya.


Cihhhhh..


"Apa yang perlu di takuti dari kumpulan manusia sampah seperti kalian?", Sekar Mayang melepas Selendang Es dari pinggang nya, bersiap bertarung.


"Kurang ajar. Akan ku robek mulut mu gadis busuk. Hari ini Empat Setan Gunung Kematian akan mencabut nyawa kalian", Muka Setan melesat membabatkan pedang besar nya dengan sekuat tenaga.


Angin menderu kencang bertenaga dalam tinggi melabrak meja makan. Tapi sebelum sampai, Panji Watugunung sudah menarik tangan Anggarawati dan Sekar Mayang melesat keluar dari warung makan. Begitu juga Ratna Pitaloka.


Brakkk..


Meja makan hancur berantakan.

__ADS_1


Kelihatannya Muka Setan paling tinggi ilmunya dari mereka berempat.


Setan Kurus melesat maju menghantamkan tongkat besi kearah Sekar Mayang, yang segera disambut dengan ayunan Selendang Es Sekar Mayang.


Benturan tongkat besi dan Selendang Es meledak keras.


Sekar Mayang segera melesat maju, sambil memutar selendangnya yang menjadi kaku setelah dialiri tenaga dalam.


Setan Kurus yang di serang pada dada, melompat tinggi ke udara,dan memukulkan tongkatnya ke kepala Sekar Mayang.


Sekar Mayang menghindar ke samping, menarik selendangnya, kemudian melecut selendang es menuju dada Setan Kurus.


Laki laki bertubuh kurus itu kaget, dan menangkis lecutan selendang dengan tongkat besi. Besarnya tenaga dalam dingin dari selendang es membuat Setan Kurus terpental 1 tombak ke belakang. Dadanya sesak, dan tongkat besi miliknya terasa sedingin es.


Melihat Setan Kurus terpental, Muka Setan segera melompat ke arah Setan Kurus, dan menyalurkan tenaga dalam nya.


Huoooggghhh


Darah membeku muncrat dari mulut Setan Kurus. Setan Pendek langsung merangsek maju, melihat temannya terluka dalam.


Ratna Pitaloka yang geram, menghadang Setan Pendek dan langsung mengeluarkan jurus Pedang Dewi Bulan. Gerakan nya lincah dan gesit dengan Pedang Bulan Kembar menyongsong serangan Setan Pendek.


Dalam tiga jurus saja, Pedang Bulan Kembar sudah berhasil menyayat beberapa bagian tubuh Setan Pendek.


"Kurang ajar. Ku bunuh kau perempuan laknat", teriak Setan Pendek geram melihat darah mengalir dari luka sayatan pedang.


Setan Pendek mundur selangkah, memusatkan tenaga pada pedang pendek nya. Asap hitam tipis menyelimuti pedang pendek nya.


"Dinda Pitaloka, hati hati ", ucap Panji Watugunung


Ratna Pitaloka seperti mendapat tambahan tenaga baru setelah mendengar calon suami nya memperingatkan nya.


Wanita cantik itu tersenyum lalu memusatkan tenaga dalam pada Pedang Bulan Kembar nya.


Mempersiapkan jurus andalannya.


Setan Pendek menyabetkan pedang pendeknya.


"Sayatan Pedang Setan..


Ratna Pitaloka menyilang Pedang Bulan Kembar nya, seketika pedang bersinar terang seperti bulan sabit berwarna putih lalu Ratna Pitaloka membabatkan pedang kearah Setan Pendek.


"Jurus kedua Pedang Bulan Kembar___ Bulan Sabit Surga...


Chiaaatttttt..."


Kilatan cahaya berwarna hitam dari pedang Setan Pendek, melesat cepat menuju Ratna Pitaloka. Cahaya putih kekuningan dari Pedang Bulan Kembar menyongsong nya


Darrrr...


Ledakan keras terjadi, namun sinar putih kekuningan tetap menerabas cepat kearah Setan Pendek.


"Adik awaaaass..", teriak Muka Setan tapi terlambat.


Setan Pendek melihat sinar putih kekuningan menerabas kearah nya, mencoba menahan dengan pedang pendek nya namun dia terpental ke belakang dan tubuh nya menghantam tanah.


Darah segar muncrat dari mulut Setan Pendek, lalu tubuh nya diam tak bergerak lagi.


Alis Setan yang dari tadi diam, melesat maju ke arah Ratna Pitaloka saat melihat Setan Pendek tewas.


"Kangmbok mundur, dia bagian ku..", ujar Anggarawati melompat maju dan mencabut sepasang pisau berwarna hijau..


Alis Setan mengayunkan senjata berbentuk cakar dari besi. Anggarawati melompat ke samping, mengayunkan pisau pendek di tangan kiri nya mengincar perut Alis Setan.


Pria beralis tebal itu memutar badannya, dan menyambut pisau pendek dengan cakarnya.


Tranggg...


Pisau pendek di tangan kanan menusuk dada, saat pisau di tangan kiri di tangkis.


Brett


Alis Setan mundur melihat serangan ke arah dada, namun terlambat beberapa detik. Pisau merobek bajunya.


"Perempuan tengik, berani sekali kau merusak baju kesayangan ku", teriak Alis Setan gusar.

__ADS_1


"Baju robek ya beli lagi, apa kau tidak punya uang sampai baju robek saja marah marah?", sahut Anggarawati tersenyum mengejek.


Alis Setan marah. Wajah lelaki itu berubah bengis.


"Perempuan jahanam, hari ini ku antar nyawa. mu ke neraka", teriak Alis Setan geram.


"Coba saja kalau bisa", Anggarawati mengejek dengan menjulurkan lidahnya..


Ratna Pitaloka segera membisiki Panji Watugunung, "Kakang, istrimu yang satu ini memang pintar memancing emosi orang ya?".


Panji Watugunung terkekeh geli mendengar bisikan Ratna Pitaloka..


Alis Setan segera menyiapkan ilmu nya. Memusatkan tenaga dalam pada tangan. Seketika tangan Alis Setan berubah kehitaman.


Anggarawati juga menyiapkan jurus andalan nya. Dulu ketika melawan Macan Kumbang, dia tidak bisa mengeluarkan kemampuan nya karna sudah lebih dulu di racuni. Tapi kini setelah sempat di ajari Panji Watugunung soal pengaturan tenaga dalam, kemampuannya dalam beladiri hanya setingkat di bawah Sekar Mayang, tapi Anggarawati unggul dalam bersiasat.


Anggarawati segera memusatkan tenaga dalam nya, pisau pendek di tangan nya berputar dengan cepat. Tiba tiba satu pisau pendek melayang cepat kearah Alis Setan.


Alis Setan menangkis dengan tangan nya yang kehitaman. Pisau mental tapi balik menyerang lagi dengan cepat seperti punya nyawa.


Hal itu membuat semua orang terkejut tak terkecuali Panji Watugunung, Ratna Pitaloka dan Sekar Mayang.


Mereka sama sekali tidak menduga sebelumnya.


Anggarawati tersenyum tipis, kemudian melempar pisau di tangan kanan nya. Pisau melesat cepat menuju ke Alis Setan.


Anggarawati segera membuat gerakan seperti menari, semakin lama semakin cepat gerakan nya dan pisau terbang nya bergerak semakin cepat pula.


Itulah jurus Bidadari Pisau Terbang, jurus andalan Dewi Gunung Gajah yang sempat menjadi guru Anggarawati ketika berkunjung ke Kadipaten Seloageng.


Alis Setan hanya bisa menangkis sabetan pisau terbang. Namun tenaga dalam nya semakin lama semakin terkuras habis.


Saat gerakan Alis Setan melambat, sebuah pisau melesat menusuk punggung. Alis Setan meringis kesakitan, lalu pisau terbang lainnya menghajar jantung Alis Setan. Darah langsung menyembur keluar.


Gerakan Anggarawati yang mengendalikan pisau tak juga berhenti. Pisau terbang menusuk, tercabut, dan menusuk lagi menciptakan luka luka parah di sekujur tubuh Alis Setan.


Lelaki itu tewas bersimbah darah..


Dengan sentakan pelan, pisau terbang melayang ke arah Anggarawati, yang segera menangkap dan memasukkan kembali ke sarung pisau di pinggang nya.


Cihhhhh


Sekar Mayang bergidik melihat luka di sekujur tubuh Alis Setan.


'Tampangnya memang putri Adipati, tapi dia kejam seperti pendekar golongan hitam'.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Author juga jadi sedikit takut pada Anggarawati


Bagaimana kisah selanjutnya?


Sabar ya readers..


😁😁😁😁

__ADS_1


__ADS_2