Babat Negeri Leluhur

Babat Negeri Leluhur
Istana Kadipaten Kembang Kuning


__ADS_3

Para prajurit Panjalu yang dipimpin oleh Tumenggung Ludaka bergerak menuju arah ke istana keputren tempat awal mereka masuk ke dalam istana Kadipaten Kembang Kuning.


Seluruh jengkal tanah Istana Kembang Kuning menjadi arena pertarungan sengit antara pasukan Panjalu melawan para prajurit Kembang Kuning.


Pertarungan sengit terjadi dimana-mana.


Senopati Warigalit dengan Tombak Angin melesat cepat kearah kerumunan prajurit Kembang Kuning yang membuat pagar betis di sekeliling ruang pribadi adipati.


Senopati Purbaya yang sempat lolos dalam pertempuran di benteng pertahanan kemarin, langsung melesat maju menghadang pergerakan kakak seperguruan Panji Watugunung itu dengan Ajian Cakar Waja nya. Kedua tangan nya terbuka lebar siap untuk menyerang.


Senopati Warigalit langsung merubah gerakan tubuhnya saat tangan Senopati Purbaya yang berwarna putih keperakan terayun ke arah lehernya.


Shrraaaakkkkhhhh!!


Kakak seperguruan Panji Watugunung itu dengan cepat memutar Tombak Angin dan menyabetkan mata bilah Tombak Angin yang tipis ke arah jari jemari Senopati Purbaya.


Thrrriiinnnggggg!!


Senopati Warigalit terkejut melihat kemampuan ilmu kanuragan lawan yang mampu menahan tusukan bilah Tombak Angin dengan tangan kosong. Dan hebatnya jari jemari Senopati Purbaya tak satupun terluka. Malah sempat muncul bunga api kecil seperti menghantam logam keras.


Buru buru kakak seperguruan Panji Watugunung itu melompat menjauh dari Senopati Purbaya untuk memastikan bahwa lawannya menggunakan ilmu kanuragan.


Terlihat mulai siku tangan hingga jari jemari Senopati Purbaya berwarna putih keperakan layaknya baja pedang. Ajian hebat itu adalah hasil Senopati Purbaya berguru pada Begawan Anjar Jati dari Pertapaan Gunung Sindoro di selatan Kadipaten Kembang Kuning.


Meski sifat Senopati Purbaya yang pengecut, namun ilmu kanuragan nya tidak bisa di remehkan.


Sambil memutar Tombak Angin, Warigalit mulai menentukan arah pergerakan nya menghadapi lawannya.


Setelah berpikir beberapa saat, Senopati andalan Kadiri itu melesat cepat kearah Senopati Purbaya yang sudah bersiap.


Tusukan Tombak Angin mengincar bagian tubuh Senopati Purbaya yang tidak berwarna putih keperakan yaitu pada dadanya.


Whuuthhh..


Dengan cepat Senopati Purbaya menangkis tusukan Tombak Angin dengan tangan kiri nya. Lalu tangan kanannya menghantam ke arah dada Senopati Warigalit.


Thriiiinnngggggg..


Warigalit yang terkejut dengan tindakan Senopati Purbaya berusaha menghindari hantaman tangan kanan perwira tinggi prajurit Kembang Kuning itu dengan menggeser tubuhnya sedikit kesamping namun dia sedikit terlambat hingga pukulan Senopati Purbaya menghantam pundaknya.


Bhuuukkkhhh


Senopati Warigalit terdorong mundur sejauh 2 tombak. Dia nyaris jatuh ke tanah jika tidak segera menjadikan Tombak Angin sebagai tumpuan.


Perwira tinggi prajurit Daha itu segera berdiri tegak sembari meringis menahan rasa sakit pada pundak nya. Dia tidak akan main main lagi sekarang.


Kedua tangan Warigalit segera merentang lebar lalu tangan kiri berada di depan dada. Sinar merah menyala seperti api menggulung di tangan kirinya. Dia bersiap menggunakan Ajian Tapak Dewa Api ajaran Mpu Sakri.


Di satu sisi, perlahan dia merapal mantra Ajian Sepi Angin hingga tubuhnya terasa ringan seperti kapas.


'Gawat, dia mulai serius. Aku harus hati-hati jika tak ingin mati konyol', batin Senopati Purbaya dalam hati. Senopati Kembang Kuning itu segera meningkatkan tenaga dalam nya di kedua tangannya.


Warigalit langsung melesat cepat kearah Senopati Purbaya sembari menusukkan Tombak Angin. Deru angin kencang mencicit di telinga bersama dengan tusukan Tombak Angin ke arah leher Senopati Purbaya.


Whhhuuuuuttttthhhh..


Thrrraaannnnggggg!!


Kembali bunyi nyaring terdengar dari benturan Ajian Cakar Waja dan Tombak Angin. Senopati Warigalit yang menggunakan Ajian Sepi Angin melesat ke kiri pada tangan yang menangkis tusukan Tombak Angin nya.


Tangan kiri nya yang berwarna merah menyala seperti api menghantam perut Senopati Purbaya yang kaget melihat perubahan kecepatan gerak Warigalit.


Dia berusaha menangkis hantaman Ajian Tapak Dewa Api dengan Ajian Cakar Waja di tangan kiri sembari menggeser posisi tubuhnya. Namun tusukan Tombak Angin langsung melukai pipi kirinya walaupun Ajian Cakar Waja bisa menahan Ajian Tapak Dewa Api.


Blllaaammmmmmmm!!


Warigalit dan Purbaya sama sama terpental mundur beberapa langkah hanya Senopati Kadipaten Kembang Kuning itu 2 langkah lebih jauh karena kalah tenaga dalam. Dengan sedikit menahan sesak di dada, Senopati Warigalit melesat cepat kearah Purbaya yang masih terhuyung-huyung ke belakang.


Mata Senopati Kadipaten Kembang Kuning itu melotot lebar saat mata bilah Tombak Angin yang tipis menusuk ke lehernya.


Crreepppphhh..


Aaauuuuggggghhhhh!!


Senopati Purbaya langsung memegang lehernya. Darah memancar dari luka tusuk Tombak Angin. Senopati muda itu langsung roboh bersimbah darah. Dia tewas dengan leher menganga lebar.


Kematian Senopati Purbaya membuat Demung Pragola marah besar. Senopati Purbaya adalah suami adiknya.


Pria bertubuh gempal itu langsung melesat cepat kearah Senopati Warigalit yang masih sedikit sesak napas usai benturan dengan Senopati Purbaya tadi. Senopati Mpu Koncar dari Anjuk Ladang yang melihat keadaan Senopati Warigalit sedang tidak terlalu baik, berlari cepat menghadang laju Demung Pragola.


Sabetan sabit panjang dari Demung Pragola berhasil di tangkis Mpu Koncar dengan pedang nya.


Thhraaaangggggggg!!!


Keduanya sama-sama melompat mundur setelah beradu senjata mereka.


"Mundur kau perwira tua!


Aku tidak punya urusan dengan mu. Cepatlah atau aku tidak akan sungkan lagi", hardik Demung Pragola sembari mengacungkan sabit panjang nya yang berwarna hitam.


"Huhhhhh...


Kau memusuhi orang Panjalu maka begitu pula aku akan memusuhi pemberontak macam kalian", ujar Mpu Koncar sembari menatap tajam ke arah Demung Pragola.

__ADS_1


"Bedebah!


Banyak omong kau bangsat tua", teriak Demung Pragola sembari melepaskan kunci pada sabit panjang nya. Senjata itu menjadi dua bagian. Lalu Demung Pragola mulai berputar di tempat nya. Saking cepatnya gerakannya mirip gasing dengan dua sabit panjang yang berbahaya. Itulah Ilmu Gasing Bumi yang merupakan ilmu beladiri andalan Demung Pragola.


Lalu Demung Pragola melesat ke arah Senopati Mpu Koncar. Segera senopati Anjuk Ladang itu membabatkan pedang nya ke arah Demung Pragola.


Thriiiinnngggggg!!


Satu sabetan pedang Mpu Koncar berhasil di tangkis Demung Pragola yang juga menyerang Mpu Koncar dengan sabit panjang nya bertubi-tubi.


Senopati Mpu Koncar mesti berguling ke tanah menghindari sabetan sabit beruntun dari Demung Pragola yang mampu membabat apa saja termasuk dua prajurit naas yang ada di dekat nya.


Tubuh dua prajurit Panjalu itu terpotong-potong menjadi beberapa bagian. Mereka tewas seketika.


Whhhuuuggghhhh..


Senopati Mpu Koncar harus berjumpalitan kesana kemari untuk menghindari amukan Ajian Gasing Bumi dari Demung Pragola yang terus memburunya kemanapun ia menghindar.


Saat Senopati Mpu Koncar bersalto di udara, sebuah sinar hijau kehitaman menghantam punggungnya.


Whuuussshh..


Auuuggghhhhh!!


Senopati Anjuk Ladang itu langsung terpelanting jauh bersamaan dengan serangan Demung Pragola yang membabat pinggang Senopati Mpu Koncar.


Chhrrrraaaaaassss...


Putus sudah pinggang Mpu Koncar. Senopati sepuh dari Anjuk Ladang itu gugur dengan badan terpisah menjadi dua bagian. Dia menyusul meninggalnya Tumenggung Janapati dari Kurawan yang tewas saat penyerbuan ke benteng pertahanan prajurit Kembang Kuning.


Dewi Srimpi melesat cepat mendahului langkah Sang Prabu Jayengrana bersama Cempluk Rara Sunti maju ke medan perang.


Selir ketiga Panji Watugunung segera melemparkan senjata rahasia nya kearah kaki Demung Pragola yang berputar cepat.


Shrrriinnnggg shhhrriinggg..


Chhreepppppph crreepppphhh!!


Aaaarrrgggggghhhhh!!


Demung Pragola meraung kesakitan saat jarum beracun Dewi Srimpi menancap di kakinya. Rupanya Dewi Srimpi melihat kelemahan Ilmu Gasing Bumi terletak pada kaki.


Demung Pragola langsung jatuh tersungkur sembari memegang kakinya yang membengkak akibat adanya racun pelumpuh otot dari Dewi Srimpi.


"Kau pengecut, wanita beracun!


Kau membokong ku saat aku lengah. Dasar perempuan keparat!", maki Demung Pragola sembari terus memegangi kakinya yang membengkak.


Phuihhhh..


Teman mu itu yang mulai lebih dulu. Dia menyerang Senopati Mpu Koncar saat dia berhadapan dengan mu", ucap Dewi Srimpi sembari menunjuk ke arah Rakryan Mantri Soka yang ada di dalam pagar betis prajurit Kembang Kuning. Rupanya dia lah yang menghantamkan sinar hijau kehitaman tadi pada Senopati Mpu Koncar hingga perwira tinggi Anjuk Ladang itu terjatuh dan tewas terkena sabetan sabit panjang Demung Pragola. Dewi Srimpi melihat semuanya.


Demung Pragola mendengus keras. Kaki kiri nya lumpuh akibat racun pelumpuh otot dari Dewi Srimpi. Dia segera merapal Ajian Asta Geni dan menghantamkan tangan kanannya kearah Dewi Srimpi.


Sinar kuning kemerahan menerabas cepat kearah selir ketiga Panji Watugunung itu. Namun dengan mudahnya Dewi Srimpi menghindari sinar kuning kemerahan itu menggunakan Ajian Langkah Dewa Angin andalannya.


Sinar menerabas cepat kearah ke belakang dan menghantam tubuh seorang prajurit Kembang Kuning yang sedang sial.


Bllarrrrrrr!!


Ledakan keras terdengar dan si prajurit Kembang Kuning langsung tewas dengan dada gosong seperti terbakar api.


Demung Gumbreg yang geram melihat istri junjungan nya di serang berlari cepat kearah Demung Pragola yang masih terduduk di tanah.


Dengan cepat dia menghantamkan pentung saktinya kearah kepala Demung Pragola sekuat tenaga.


Prrraaaakkkkkkk!!!


Demung Pragola langsung tumbang. Kepalanya hancur dengan isi kepalanya berhamburan kemana-mana. Demung Pragola tewas mengenaskan.


Chuuiiiiiiihhhh...


"Ternyata kepala mu tak lebih keras dari pentung sakti ku. Mampus kau sekarang", umpat Gumbreg sambil berlari menuju ke arah Dewi Srimpi yang sudah berdiri di dekat Senopati Warigalit.


"Gusti Selir Ketiga tidak apa apa?", tanya Gumbreg seakan takut hal buruk terjadi pada Dewi Srimpi.


"Aku tidak apa apa Demung Gumbreg, kau tidak perlu khawatir", ujar Dewi Srimpi sambil tersenyum tipis. Perempuan cantik itu tengah memberikan obat untuk Senopati Warigalit yang terluka dalam meski tidak terlalu parah.


"Sudah pergi sana. Jangan sok perhatian di depan Gusti Selir. Mau kau ku laporkan pada Dhimas Prabu Jayengrana?", ucap Senopati Warigalit yang segera membuat Gumbreg menjauh dari tempat mereka.


"Huhhhhh..


Sedikit sedikit lapor Gusti Prabu Jayengrana Sedikit sedikit lapor Gusti Prabu..


Dasar tukang ancam bawahan. Atasan tak ada otak", gumam Demung Gumbreg sambil berlalu menjauh Senopati Warigalit dan Dewi Srimpi.


"Apa kau bilang Mbreg?", teriak Warigalit sembari menatap tajam ke arah Gumbreg.


'Loh kog dia bisa tau aku sedang ngomel? Jangan jangan Gusti Senopati Warigalit punya ilmu pendengaran jarak jauh. Gawat ini', batin Gumbreg dengan wajah pucat.


"Ah tidak apa-apa Gusti Senopati.. Saya lapar, perut bunyi klotak klotak", jawab Demung Gumbreg seraya berlari menjauh dari mereka.


Pertempuran sengit antara pasukan Panjalu dan Kembang Kuning terus berlangsung.

__ADS_1


Panji Watugunung yang turun ke medan tempur bersama Cempluk Rara Sunti langsung di hadang puluhan prajurit Kembang Kuning yang bersenjata lengkap.


Seorang prajurit Kembang Kuning melemparkan tombaknya ke arah Cempluk Rara Sunti.


Whhhuuuuuttttthhhh...


Selir bungsu Panji Watugunung itu segera mencabut pedangnya. Sembari sedikit berkelit menghindari hujaman tombak, putri Warok Surapati itu segera membabatkan pedang nya ke gagang tombak.


Trraaanggg traaakkkkkkk!!


Tombak langsung patah menjadi dua bagian. Patahan tombak yang masih di udara langsung di pukul dengan bilah pedang oleh Cempluk Rara Sunti.


Patahan tombak melesat cepat kearah seorang prajurit yang hendak maju menyerang.


Jleeeeppppph


Ougghhh!!


Si prajurit meraung kesakitan karena patahan tombak menancap tepat di dadanya. Dia jatuh tersungkur ke tanah dan tewas seketika.


Puluhan prajurit Kembang Kuning langsung mengepung Cempluk Rara Sunti. Namun putri Warok Surapati itu tidak gentar sedikitpun.


Menggunakan jurus Tarian Pedang Badai Laut Selatan, Cempluk Rara Sunti menghadapi para prajurit Kembang Kuning.


Seorang prajurit menyabetkan pedang nya ke arah leher Cempluk Rara Sunti namun perempuan cantik itu dengan gemulai menghindari serangan yang datang kepadanya lalu mengayunkan pedangnya ke arah tangan si prajurit.


Chrraaasssshhh!!


Aarrrggghhhhhhhhh!


Si prajurit menjerit keras saat pedang Cempluk Rara Sunti menebas lengan kanannya. Darah segar memancar dari luka potong yang dia derita.


Dua prajurit lagi mencoba untuk mencari celah pertahanan Cempluk Rara Sunti dengan menyerang dari dua sisi berlawanan namun Selir bungsu Panji Watugunung itu bergerak cepat menghindar sembari membabatkan pedang nya.


Chraaaaakkk cressshh..


Aaaarrrgggggghhhhh!!


Dua prajurit Kembang Kuning itu langsung tersungkur usai pedang Cempluk Rara Sunti memotong perut mereka berdua.


Dalam 10 jurus, 8 prajurit Kembang Kuning berjatuhan di bantai Cempluk Rara Sunti dengan Ilmu Tarian Pedang Badai Laut Selatan nya yang terlihat lemah lembut tapi mengerikan. Lawan yang cerdas pasti berpikir berulang kali sebelum menerjang sang putri Warok dari Wengker.


Prajurit lainnya memilih mundur selangkah melihat keganasan Ilmu Tarian Pedang Badai Laut Selatan dari Cempluk Rara Sunti.


Panji Watugunung segera menghantamkan kedua tangan kearah para prajurit Kembang Kuning yang mengepung selir bungsu nya itu.


Serangkaian sinar biru keputihan yang menyilaukan mata menerabas cepat kearah para prajurit Kembang Kuning.


Whuuthhh whuuussshh..


Blllaaammmmmmmm!!!


Ledakan dahsyat terdengar dari arah para prajurit Kembang Kuning. Potongan anggota tubuh dan bau anyir darah serta daging terbakar segera menyeruak di sekitar tempat itu. Ajian Guntur Saketi dari Panji Watugunung memang dahsyat.


Hembusan angin pagi yang dingin mengibarkan rambut panjang Sang Maharaja Panjalu. Tatapan matanya tajam ke arah para prajurit Kembang Kuning yang hendak menata raga dan jiwa demi sebuah kebanggaan semu berlambang pengabdian kepada Sang Adipati.


"Tunggu apalagi?


Cepat bunuh Jayengrana", teriak Mpu Pamadi yang membuat prajurit Kembang Kuning yang mengawalnya segera berlarian ke arah Panji Watugunung sembari menghunus senjata mereka masing-masing.


Namun beberapa saat kemudian terdengar suara kesakitan dan mereka semua tumbang karena di hajar oleh Panji Watugunung dan Cempluk Rara Sunti. Menyisakan Tumenggung Gentiri dan 10 prajurit yang mengawal Adipati Mpu Pamadi yang terpojok di sudut halaman ruang pribadi adipati.


Panji Watugunung dengan dingin berkata,


"Mau lari kemana kau??"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Ikuti terus kisah selanjutnya 😁

__ADS_1


Yang suka silahkan tinggalkan jejak kalian dengan like 👍, vote ☝️, favorit 💙 dan komentar 🗣️ nya yah 😁


Selamat membaca 🙏😁😁🙏


__ADS_2