Babat Negeri Leluhur

Babat Negeri Leluhur
Kehamilan Dewi Anggarawati


__ADS_3

Ratri segera menyikut pinggang Warigalit dengan keras. Bola mata nya mendelik tajam kearah laki laki berkumis tipis.


Warigalit hanya mengaduh kecil. Dia tidak marah karena telah salah menggoda Ratri.


Upacara pernikahan Panji Watugunung dan ketiga selir nya berlangsung meriah. Kain putih yang membelit tubuh mereka, serta bunga kamboja pada telinga kiri menandakan kesucian hati dan niat untuk berumah tangga.


Usai acara, semua merayakan hari bahagia itu. Jarasanda langsung menuang arak beras kesukaannya, dia turut bersukacita karena junjungannya berbahagia. Ludaka, Landung dan Manahil sibuk makan makanan yang di sediakan.


Gumbreg asyik merayu wanita dari wanua Klakah yang dia temui.


"Dhek Jum, kalau kakang sudah diangkat jadi perwira, nanti dhek Jum tak buatkan puri indah di Gelang-gelang. Aku ini anak Akuwu Kancar, dhek Jum pasti bahagia jika mau jadi istri ku".


Gadis desa bertampang imut dan berkulit hitam manis itu hanya tersenyum.


"Memang kakang itu belum diangkat jadi perwira to?"


"Ya belum to dhek Jum, wong masih jadi kepala prajurit bagian perbekalan. Itu si Weleng, sama Gubarja itu anak buah ku lho dhek", Gumbreg menyombongkan diri.


Si Juminten hanya manggut-manggut saja, sedang si Gumbreg terus berkoar-koar.


"Pokoknya nanti aku pasti diangkat jadi tumenggung sama Gusti Panji Watugunung, aku ini kesayangannya kog".


Ludaka yang kebetulan lewat, mendengar ucapan Gumbreg langsung memotong ucapan pria tambun itu.


"Iya, nanti diangkat menjadi tumenggung tapi tumenggung urusan dapur".


"Sialan kamu Lu", Gumbreg mendelik ke arah Ludaka. Semua orang tertawa terbahak-bahak.


Sementara itu di istana Pakuwon Watugaluh, tabib istana Pakuwon sedang berjalan terburu-buru menuju kamar peristirahatan Dewi Anggarawati di ikuti Dewi Tunjung Biru.


Sesampainya di kamar, tampak Ayu Galuh menunggui Dewi Anggarawati yang sedang berbaring di atas ranjang.


"Mohon maaf jika hamba lancang Gusti Putri", ucap sang tabib sambil memegang tangan Dewi Anggarawati.


Kemudian sang tabib menyentuh dahi dan leher Anggarawati. Tampak tabib istana Pakuwon Watugaluh itu mengerutkan keningnya. Kemudian memegang tangan Dewi Anggarawati lagi.


Huk huekkk huuekk


Kembali Anggarawati muntah muntah. Ayu Galuh buru buru mengulurkan kendi tanah liat untuk menampung muntahan.


Tabib istana Pakuwon Watugaluh itu tersenyum.


Ayu Galuh buru buru mendekati pada lelaki tua itu. Wajahnya terlihat cemas melihat Dewi Anggarawati kembali muntah muntah.


"Maaf tabib, bagaimana keadaan Dewi Anggarawati? Apa sakit nya bisa disembuhkan?".


"Tidak ada yang perlu di obati pada Gusti Putri Anggarawati ini, Gusti Putri Ayu", jawab si tabib.


Ayu Galuh mendelik tajam kearah tabib istana Pakuwon Watugaluh itu.


"Apa maksudmu berkata seperti itu? Jelas jelas Kangmbok Anggarawati sakit, kenapa tidak perlu diobati?", tanya Ayu Galuh gusar. Terbayang perkataan Panji Watugunung tadi pagi. Ayu Galuh benar benar takut kalau sampai Panji Watugunung memarahinya.


Tabib istana Pakuwon Watugaluh hanya tersenyum tipis.


"Maafkan hamba Gusti Putri, hamba berkata seperti itu, karna Gusti Putri Anggarawati sedang hamil. Jadi tidak perlu repot-repot diobati".


"APAAA?"


Teriak Ayu Galuh kaget mendengar ucapan si tabib. Sementara di ranjang, Dewi Anggarawati tersenyum bahagia mendengar berita kehamilan dirinya.


Dewi Tunjung Biru juga tak kalah kaget.


'Anggarawati beruntung sekali, sekarang dia mengandung anak Kakang Watugunung'


Ayu Galuh buru buru tersenyum tipis. Ini berita penting. Sekarang Anggarawati mengandung, besok harus aku yang mengandung, batin Ayu Galuh.


Dewi Anggarawati segera berusaha bangun dari tempat tidur nya.


"Tabib istana, aku minta berita ini tidak boleh keluar dari kamar ini".


"Hamba mengerti Gusti Putri", jawab si tabib sambil menghormat.


Usai memberikan beberapa racikan ramuan penguat kandungan, dan obat untuk mengatasi mual, si tabib istana Pakuwon Watugaluh segera mengundurkan diri dari kamar peristirahatan Dewi Anggarawati.


Matahari sudah hampir tenggelam di ufuk barat. Suara suara burung malam dan jangkrik serta belalang mulai bersahutan.

__ADS_1


Panji Watugunung membawa ketiga selir nya ke rumah besar bekas rumah Lurah Wanua Klakah. Raut wajah ketiga selir tampak berseri seri.


"Sesuai peraturan, malam ini aku yang pertama menemani Kakang Watugunung. Kalian tidak boleh mengacaukannya", ucap Ratna Pitaloka.


"Tidak bisa kangmbok, malam ini malam pertama kita bertiga. Kakang Watugunung harus bersama kita bertiga, iya kan Srimpi??, Sekar Mayang memandang kearah Dewi Srimpi.


Gadis itu hanya mengangguk begitu saja.


"Kalian ini, mana bisa seperti itu?", Ratna Pitaloka memerah wajahnya.


"Bisa saja Kangmbok Pitaloka, cuma kita harus memberikan ramuan penambah tenaga untuk Kakang Watugunung", Sekar Mayang terkekeh dengan wajah mesumnya.


"Srimpi, kau punya bukan?", timpal Sekar Mayang. Ratna Pitaloka ikut memandang kearah Dewi Srimpi.


Gadis itu mengangguk lagi. Wajahnya merona merah, membayangkan betapa Panji Watugunung harus bekerja keras malam ini.


Panji Watugunung nampak masuk ke kamar tidur nya setelah berbincang dengan Begawan Sulapaksi. 3 selirnya menunggu di dalam. Ada senyum tak biasa dari wajah mereka bertiga. Semua nya berdandan cantik, Dewi Srimpi bahkan melepaskan cadar hitam nya hingga membuat wajah cantiknya terlihat sempurna.


"Kalian bertiga semua mau tidur disini?", tanya Watugunung penasaran.


"Malam ini, malam pertama kita Kakang. Jadi aku akan menemani kakang tidur", ucap Ratna Pitaloka dengan muka malu malu.


"Pokoknya malam ini kita harus melewati nya, akan ku berikan semuanya pada Kakang", Sekar Mayang tersenyum genit.


"Aku sudah membuka cadar hitam ku, Denmas Panji sudah boleh melihat yang lain karena sudah menikahi ku", Dewi Srimpi menundukkan wajahnya.


Hemmmmmm


'Ini tidak akan mudah', batin Panji Watugunung sambil garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


Sekar Mayang segera menyodorkan secangkir wedang kearah Panji Watugunung. Bau nya sedikit aneh. Setelah sedikit dipaksa Sekar Mayang, satu cangkir wedang aneh itu masuk ke perut Panji Watugunung.


Selanjutnya, hanya rintihan dan erangan kenikmatan yang terdengar dari kamar Panji Watugunung sepanjang malam.


Gumbreg mendekati Ludaka yang asyik membolak balik ketela pohon di api unggun.


Dia masih kesal dengan ocehan Ludaka tadi siang yang membuat nya gagal merayu Juminten.


"Kau belum tidur Mbreg? Ini kan bukan giliran ku berjaga?", ujar Ludaka sambil melemparkan ketela pohon bakar yang sudah matang ke arah Landung.


Hahahaha


Ludaka dan Landung tertawa terbahak-bahak.


"Apanya yang lucu?", Gumbreg mendelik sewot.


"Salah mu sendiri, merayu perempuan di tempat umum. Otakmu itu di taruh dimana sih Mbreg Gumbreg", Landung berujar dari depan rumah tempat perbekalan.


"Lha apa salah nya? Gusti Panji Watugunung di tempat umum juga memeluk selir nya", Gumbreg tak mau kalah.


"Kalau Gusti Panji Watugunung wajar, orang nya tampan, gagah, putra Bupati Gelang-gelang, keturunan darah biru. Wajar Mbreg. Trus lha kamu siapa? Ganteng enggak, gagah uhh jauh dari kata itu, putra bangsawan hemmm mungkin karena bapakmu Akuwu. Pokoknya gak cocok lah kalau main perempuan", ujar Ludaka yang di sambut tatapan kesal dari Gumbreg.


"Puas kau menghina ku?".


"Bukan menghina Mbreg tapi menyadarkan mu. Kita itu abdi, jangan berlagak seperti atasan. Kalau mau dapat wanita ya bergaya sesuai kemampuan. Jangan memaksakan diri", ujar Ludaka bijak.


"Aah aku tak peduli. Pokoknya sekarang aku mau menjalankan rencana ku tadi siang", jawab Gumbreg yang langsung berdiri.


"Mau kemana Mbreg? Ini ketela pohon bakar nya masih banyak", teriak Landung yang memandang Gumbreg berjalan ke arah selatan Wanua Klakah.


Gumbreg dengan wajah bersungut-sungut berjalan ke arah selatan. Tujuan nya satu. Ke rumah si Juminten yang ada di dekat pagar wanua.


'Pokoknya malam ini aku harus bersama dhek Jum. Biarlah orang berkata apa, yang penting aku bahagia'.


Saat Gumbreg hampir sampai di rumah Juminten, sesosok bayangan berkelebat cepat membekap mulut Gumbreg.


"Hmmmmppphhhh hemmmmppp"


"Ssstttt jangan berisik Mbreg", bisik si bayangan hitam itu.


Gumbreg manggut-manggut paham.


Ternyata bayangan itu adalah Rajegwesi.


"Ada 2 orang memata matai tempat ini. Mereka bersembunyi di atas pohon krombang itu. Kembalilah ke Ludaka dan Landung. Laporkan ini pada Ki Saketi. Cepat!", bisik Rajegwesi lirih.

__ADS_1


Gumbreg manggut-manggut tanda mengerti dan segera bergegas menuju ke tempat Ludaka dan Landung.


"Lho kok kembali lagi Mbreg? Masih mau ketela bakarnya?", tanya Landung.


Gumbreg yang ngos-ngosan mengatur nafas nya.


"Ra-Rajegwesi laporan ya laporan hah hah hah".


Landung dan Ludaka segera mendekati Gumbreg. Mendengar nama Rajegwesi, mereka sudah menduga ada yang tidak beres.


"Rajegwesi kenapa Mbreg? Ada masalah?", tanya Ludaka.


"Rajegwesi berkata, ada 2 orang yang memata-matai tempat ini. Mereka bersembunyi di pohon krombang di ujung wanua.


Kita disuruh lapor sama Ki Saketi segera", ujar Gumbreg.


Landung dan Ludaka saling berpandangan seolah-olah berbicara. Setelah Ludaka mengangguk, dia melesat ke arah selatan sedangkan Gumbreg dan Landung berlari ke tempat Ki Saketi.


Kebetulan Ki Saketi masih terjaga dan berbincang-bincang dengan Jarasanda, Marakeh, Rakai Sanga dan Manahil di serambi tempat tidur nya.


"Ki, Rajegwesi melaporkan ada 2 orang memata matai tempat ini. Mereka bersembunyi di pohon krombang di ujung selatan Wanua ini. Ludaka dan Rajegwesi sudah mengepung nya", ujar Landung.


"Keparat! Cari masalah rupanya.


Ayo kita kesana!", Ki Saketi segera menyambar pedang nya. Jarasanda, Rakai Sanga, dan Marakeh segera bergegas keluar serambi.


"Manahil, bangunkan pendekar Warigalit".


"Baik Ki", tubuh gempal Manahil segera berlari ke tempat Warigalit dan Ratri.


"Apa tidak sebaiknya kita membangunkan Gusti Panji Watugunung Ki?", Gumbreg menyampaikan usulan nya.


Semua mata orang disitu melotot tajam kearah Gumbreg.


"Kau mau di pancung lehermu Mbreg?"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Gumbreg memang konyol, selalu saja cari perkara 😁😁😁😁


Ikuti terus kisah selanjutnya guys


Jangan lupa untuk dukung author terus semangat menulis dengan like vote dan komentar nya ya 👍👍👍


Selamat membaca 🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2