
Hujan deras mengguyur kota kadipaten Seloageng pagi itu dengan deras. Semua kegiatan di luar rumah nyaris berhenti total.
Guntur menggelegar membuat suasana semakin seram.
Panji Watugunung terbangun dari tidurnya, saat suara guruh keras terdengar. Wajah lelaki tampan itu terlihat lelah setelah semalaman bercumbu dengan Dewi Anggarawati. Dewi Anggarawati terlihat puas, wajah nya tetap cantik meski masih tertidur pulas.
Senyum mengembang di bibir Panji Watugunung mengingat kejadian semalam. Dengan perlahan Panji Watugunung menundukkan kepalanya dan..
Cup..
Mengecup mesra kening Dewi Anggarawati. Dewi Anggarawati menggeliat perlahan dengan mata masih tertutup. Panji Watugunung perlahan memindahkan tangan Anggarawati yang melingkar di perutnya. Kemudian turun dari ranjang peraduannya, memungut pakaian nya dan mengenakan nya.
Cuaca begitu dingin di luar. Panji Watugunung segera membuka pintu kamar dan menutup nya kembali. Dewi Anggarawati masih tertidur pulas di atas ranjang.
Saat akan melangkah ke arah serambi keputran, Panji Watugunung di kejutkan oleh kehadiran Dewi Srimpi yang sudah berdiri di luar pintu kamar. Sudah sepekan ini, Dewi Srimpi tidak membangunkan Panji Watugunung. Ratna Pitaloka dan Sekar Mayang mewanti-wanti nya agar Dewi Srimpi memberi tempat dan waktu bagi mereka bermesraan. Dan Dewi Srimpi mematuhi nya.
"Kau ini mengagetkan saja..
Apa yang kau lakukan pagi pagi begini di depan kamar ku??", ucap Panji Watugunung yang kaget dengan kejadian itu.
"Maaf Denmas, saya hanya berjaga di sini. Tidak berani mengganggu Denmas. Barangkali ada yang di butuhkan Denmas??", Dewi Srimpi menatap wajah lelah Panji Watugunung.
"Buatkan aku wedang jahe. Sudah sepekan ini kau tidak membuatkannya untuk ku", jawab Watugunung seraya melangkah menuju ke serambi keputran Seloageng.
Dewi Srimpi tersenyum dan memutar tubuhnya. Dengan bergegas dia menuju ke arah dapur istana Seloageng. Meminta air panas pada juru masak dan menyiapkan secangkir wedang jahe dengan madu. Menyiapkan air cuci muka dengan sirih.
Setelah selesai, gadis bercadar hitam itu melangkah menuju ke arah serambi keputran dimana Panji Watugunung sedang duduk memandang kearah hujan yang turun deras.
"Monggo Denmas, silahkan", ucap Dewi Srimpi seraya mengulurkan secangkir wedang jahe madu nya.
"Terimakasih Srimpi", sahut Panji Watugunung seraya tersenyum tipis. Dewi Srimpi mengangguk pelan.
Usai Panji Watugunung mencuci muka, Dewi Srimpi membawa gendok berisi air hangat kembali ke dapur istana. Saat di depan kamar Panji Watugunung, Dewi Anggarawati menghentikan langkah kaki Dewi Srimpi.
"Dimana suami ku?", tanya Anggarawati .
"Di serambi depan Gusti Putri", jawab Srimpi segera.
Dewi Anggarawati segera bergegas menuju serambi keputran, sedangkan Dewi Srimpi menuju dapur istana kadipaten.
Panji Watugunung yang sedang duduk di kursi dikejutkan oleh Dewi Anggarawati yang tiba-tiba duduk di pangkuan nya.
"Nakal, buat aku kaget saja", Panji Watugunung mencubit pipi kiri Dewi Anggarawati sambil tersenyum.
"Lha Kakang Watugunung bangunkan aku. Main tinggal saja", Dewi Anggarawati merajuk.
"Kakang bukan begitu, tidak tega membangunkan Dinda. Kelihatan kalau Dinda Anggarawati kecapekan kog", Panji Watugunung tersenyum tipis sambil melirik istri nya.
Wajah cantik Anggarawati memerah, mengingat semalam suntuk di hajar habis habisan oleh Panji Watugunung nyaris tanpa perlawanan. Dia hanya bisa pasrah melayani semua gempuran sang suami.
Saat mereka berdua sedang asyik berbincang, dari arah belakang Ratna Pitaloka dan Sekar Mayang diikuti oleh Dewi Srimpi menuju ke serambi keputran.
"Kakang Watugunung sudah keluar dari sarangnya ternyata", teriak Ratna Pitaloka yang membuat Panji Watugunung dan Dewi Anggarawati menoleh.
"Dinda Pitaloka dan Dinda Mayang,
Ada apa pagi pagi sudah kemari?", tanya Panji Watugunung setelah mereka dekat.
"Ya mengganggu kemesraan kakang Watugunung lah, hehehehe", seloroh Sekar Mayang disambut senyum Dewi Anggarawati.
"Bukan waktu nya bercanda,
Ada apa sebenarnya Dinda?", mimik wajah Panji Watugunung serius.
"Ada laporan dari Wanua Jambe di wilayah Pakuwon Randu. Kata utusan, desa kecil mereka sering di serang perampok berbaju merah. Berita ini sebenarnya datang dari hari pertama kau menikah kakang, tapi Ki Saketi tak berani melaporkan ini karna takut mengganggu mu", jawab Ratna Pitaloka sambil tersenyum.
Hemmmmm
Panji Watugunung menghela nafas panjang. Dia paham maksud mereka bawahan nya bersikap demikian.
"Nanti aku akan menghadap ke Kanjeng Romo Adipati Seloageng. Kita tidak bisa tenang tenang saja, bila ada laporan seperti ini", ujar Panji Watugunung segera mendapat anggukan kepala dari mereka.
__ADS_1
"Dinda Pitaloka,
Cari Ki Saketi segera. Suruh dia menghadap ku sekarang".
Ratna Pitaloka mengangguk dan bergegas meninggalkan serambi keputran Seloageng. Dewi Srimpi dan 2 orang dayang datang membawa nampan berisi makanan dan jamu untuk Panji Watugunung dan Dewi Anggarawati.
Sekar Mayang terkekeh geli melihat tingkah Panji Watugunung yang terpaksa meminum jamu.
Tepat saat mereka selesai makan, Ratna Pitaloka dan Ki Saketi sampai ke serambi.
Dewi Srimpi dan 2 orang dayang istana segera membereskan perkakas dan berlalu menuju dapur.
"Maafkan saya mengganggu Gusti Panji, Saketi tidak tahu sopan santun", ujar Ki Saketi sambil menghaturkan sembah.
"Jangan seperti itu Paman, kau sudah ku anggap saudara sendiri".
"Terimakasih atas kepercayaan Gusti Panji. Ada hal apa yang membuat Gusti Panji memanggil saya?", Ki Saketi segera berdiri dan duduk bersila di lantai serambi keputran.
"Bagaimana keadaan keamanan perbatasan? Apa ada laporan terbaru dari masing-masing telik sandi yang sudah kita pasang?", tanya Panji Watugunung segera.
"Berdasarkan laporan, ada pergerakan gerombolan pengacau di Pakuwon Randu, Kunjang, dan Watugaluh. Untuk Watugaluh, mereka sudah berusaha mengatasi nya namun masih belum selesai. Kunjang menjadi daerah paling sering karna di ujung wilayah menjadi markas Gunung Kematian", laporan dari Ki Saketi membuat Panji Watugunung segera mengernyitkan dahi.
"Sepertinya Gunung Kematian sudah tidak bisa diampuni lagi.
Parman Saketi, siapkan pasukan Garuda Panjalu.
Hari ini aku akan meminta ijin kepada Kanjeng Romo Adipati.
Besok kita berangkat ke Pakuwon Randu", titah Panji Watugunung yang segera di terima Ki Saketi. Setelah menghormat pada Panji Watugunung, pria paruh baya itu mundur dari serambi keputran Seloageng menuju bangsal keprajuritan.
Lepas tengah hari, Panji Watugunung sudah menghadap Adipati Seloageng.
Tejo Sumirat sedikit keberatan tapi karna ini tugas dan tanggung jawab Panji Watugunung, dia harus merelakan.
"Romo berpesan kepada mu Cah Bagus, berhati hati dalam menghadapi semua situasi. Jangan lupa untuk tetap bekerja sama dengan para Akuwu di setiap daerah yang kamu kunjungi", ucap Tejo Sumirat.
"Pesan Kanjeng Romo Adipati akan saya lakukan", sahut Panji Watugunung.
Semua menunggu kedatangan Panji Watugunung, dan setelah mendapat kabar bahwa Tejo Sumirat mengijinkan mereka semua mempersiapkan semua kebutuhan pribadi masing-masing.
Senja segera berganti malam..
Hujan yang sempat reda, mengguyur kembali wilayah kota kadipaten Seloageng. Malam itu pasukan Garuda Panjalu terus mempersiapkan diri untuk melanjutkan tugas mereka yang tertunda.
****
Pagi itu suasana cerah, matahari bersinar terang walau masih di kelilingi awan awan kelabu.
Panji Watugunung di iringi Dewi Anggarawati, 2 selir dan 1 pelayan bergegas menuju alun-alun kota kadipaten Seloageng. Tejo Sumirat dan Nararya Candradewi menatap sendu kepada menantu dan putrinya.
"Kami mohon pamit Kanjeng Romo, Kanjeng Ibu. Doakan semoga tugas kami lancar", Panji Watugunung dan Dewi Anggarawati menghaturkan sembah di ikuti semua anggota pasukan Garuda Panjalu.
"Aku hanya bisa mendoakan semoga perjalanan kalian dalam mengemban tugas bisa berjalan dengan lancar", ujar Tejo Sumirat seraya tersenyum tipis.
Usai berpamitan, Panji Watugunung segera melompat ke atas kuda mereka di ikuti Dewi Anggarawati, Ratna Pitaloka dan Sekar Mayang serta Dewi Srimpi. Para anggota pasukan Garuda Panjalu menyusul tindakan pemimpin mereka. Mereka memacu kudanya melesat cepat menuju Pakuwon Randu.
Menjelang tengah hari, pasukan Garuda Panjalu sudah sampai di kota Pakuwon Randu.
Mpu Kebi Akuwu Pakuwon Randu tergopoh-gopoh menyambut kedatangan mereka.
Setelah berbasa-basi sebentar, Panji Watugunung segera meminta laporan terkait keamanan kawasan itu.
Hmmmmmm
Terdengar dengusan nafas berat dari pria sepuh itu.
"Ampuni hamba Gusti Panji, pasukan Pakuwon Randu benar benar tidak berdaya menghadapi gerombolan pengacau itu. Kami bahkan sudah menyewa beberapa pendekar namun hasilnya nihil. Gerombolan ini tetap saja melakukan penjarahan di wanua wanua di wilayah kami. Para pedagang yang melintas pun tak luput dari perampokan. Sekarang mereka memilih jalan memutar, tidak mau melewati pakuwon kami karna takut dirampok".
Panji Watugunung mendengarkan penjelasan Mpu Kebi dengan seksama.
"Terimakasih Ki Kuwu untuk laporan nya. Pasukan ku sementara akan bermarkas di Pakuwon ini. Mohon maaf jika nanti kami merepotkan".
__ADS_1
"Gusti Panji tidak perlu begitu sopan terhadap hamba. Sesuai perintah dari Gusti Adipati, kami akan membantu semua yang kami bisa. Toh ini juga untuk ketentraman masyarakat pakuwon kami", Mpu Kebi tersenyum lega.
"Menurut telik sandi kami, markas mereka ada di ujung timur timur Pakuwon, bekas pemukiman warga yang ditinggalkan Gusti".
"Baiklah, besok kita serbu markas mereka. Kalau di biarkan terlalu lama, mereka akan semakin merajalela", sahut Panji Watugunung kemudian.
Hari itu semua anggota pasukan Garuda Panjalu mempersiapkan diri untuk penyerbuan ke markas pengacau keamanan di wilayah pakuwon Randu.
Menjelang sore Panji Watugunung memanggil Ratna Pitaloka. Mereka berdua lalu melompat ke atas kuda dan melesat cepat meninggalkan Pakuwon Randu menuju arah timur.
Di tepi hutan kecil mereka berdua berhenti dan menambatkan kuda mereka.
"Kenapa berhenti kakang?", tanya Ratna Pitaloka.
"Menurut berita dari Ki Kuwu, markas mereka ada di timur hutan kecil ini Dinda Pitaloka, aku ingin mengintai langsung markas mereka seperti apa", Panji Watugunung tersenyum di balas anggukan kepala dari Ratna Pitaloka.
Dua orang itu segera melesat ke dahan pohon kearah timur hutan kecil. Mereka berhenti di sebuah pohon rindang di tepi hutan kecil. Langit semakin kelam tapi mata mereka masih jelas melihat puluhan orang berbaju merah berlalu lalang di bekas pemukiman itu.
"Banyak sekali jumlah mereka Kakang", bisik Ratna Pitaloka.
"Setidaknya ada 70 orang lebih Dinda Pitaloka, di lihat dari pakaian nya, mereka bukan anggota dari Gunung Kematian tapi mereka anggota Alas Larangan", bisik Panji Watugunung.
"Apa langkah kita selanjutnya kakang?".
"Kita kembali ke Pakuwon Randu lebih dulu, susun rencana sebaik-baiknya. Kita jangan gegabah dalam bertindak".
Usai berkata demikian, Panji Watugunung dan Ratna Pitaloka segera melesat cepat meninggalkan tempat itu. Ajian Sepi Angin mereka membuat gerakan mereka lincah melesat di balik pepohonan.
Saat mencapai tempat kuda mereka tertambat, 3 orang lelaki sedang berusaha melepas tali tambatan kuda.
Ratna Pitaloka mendengus kesal.
'Pencuri tengik, kalian cari mati'
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Happy reading guys 😁😁😁😁
__ADS_1
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak kalian lewat like vote dan komentar nya 👍👍👍