Babat Negeri Leluhur

Babat Negeri Leluhur
Di Barat Hutan Marsma


__ADS_3

Saat asap tebal yang menutupi seluruh tubuh Panji Watugunung mulai menipis dan menghilang tertiup angin, senyum tipis di wajah Resi Wanamarta segera memudar. Tubuh Panji Watugunung yang baru saja terkena hantaman Ajian Tapak Surya andalannya tidak terluka sama sekali malah terlihat bercahaya kuning keemasan.


Panji Watugunung masih tegak berdiri sambil memegang Pedang Naga Api di tangan kanannya. Senyum tipis terukir di wajah tampan nya.


"Ajian Tameng Waja,


Ilmu itu sudah lama menghilang dari dunia persilatan. Darimana kau mempelajari nya?", tanya Resi Wanamarta dengan tatapan penuh keterkejutan.


"Aku belajar ilmu ini dari guru ku Mpu Narasima, wahai pertapa sepuh.


Meski dia terkenal di wilayah Kalingga sebagai Pendekar Bertubuh Emas, tentu kau tidak akan mendengar namanya bukan?", ucap Panji Watugunung dengan senyuman tipis nya.


"Bedebah!


Kau pikir aku ini orang bodoh apa? Mpu Narasima adalah kakak seperguruan Mpu Sakri, Si Tangan Api.


Karena kau sudah terbukti berilmu tinggi, maka akan ku gunakan seluruh kemampuan ku", ujar Resi Wanamarta yang dengan cepat menancapkan gagang Tombak Kahyangan ke tanah.


Tangan Resi Wanamarta yang keriput namun terlihat berotot itu langsung merentang ke samping kiri dan kanan.


Dengan segera, kedua tangan bersilangan di depan dada. Mulut Resi Wanamarta komat kamit membaca mantra. Seluruh tubuh nya kemudian diliputi oleh sinar putih kehijauan berhawa dingin seperti beku. Tanah yang dipijak Resi Wanamarta langsung berwarna putih dan membeku seperti tertutup lapisan es yang dingin.


Rupanya pertapa tua itu mengeluarkan Ajian Kahyangan Beku, yang merupakan salah satu ajian yang di takuti di wilayah Jenggala.


Tiba-tiba waktu terasa berhenti. Dalam pandangan batin Panji Watugunung sekeliling tempat itu di liputi oleh kabut merah lalu dari ujung kabut itu muncul sesuatu yang lama tidak menyapa Panji Watugunung.


Perlahan wujud Roh Naga Api yang mendiami Pedang Naga Api semakin mendekat ke arah Panji Watugunung.


"Lama tidak menyapamu, Watugunung.


Kiranya kau sudah jauh lebih hebat sekarang", ucap Roh Naga Api sambil menggoyangkan kepalanya.


"Aku akhirnya bisa menemui mu lagi, Roh Naga Api.


Apa yang membuat mu hadir menyapa ku?", ujar Panji Watugunung segera.


"Kau tahu aku hanya akan muncul di hadapan mu saat kau dalam bahaya.


Lawan mu itu adalah pemegang Tombak Kahyangan, yang di diami roh Angin Beku. Meskipun ajian Tameng Waja mu hebat, tapi kau harus bertahan menghadapi angin dingin yang mampu membekukan apa saja. Itu tidak akan mudah", ucap Roh Naga Api sambil memutari tubuh Panji Watugunung.


"Lantas apa yang harus aku lakukan, Naga Api?


Pasti ada jalan keluar nya bukan?", tanya Panji Watugunung segera.


"Pergunakan tenaga dalam api mu, agar tubuh mu tetap panas. Aku akan menambah panasnya. Lalu gabungkan dengan Ajian Brajamusti mu, pastikan kau tepat saat memakainya", ucap Roh Naga Api sambil menyentuh dahi Panji Watugunung yang membuat tubuh Yuwaraja Panjalu itu bagai mendapat tambahan tenaga yang luar biasa. Usai berbuat demikian, kabut merah perlahan menghilang di sertai menghilangnya roh Naga Api.


Lantas keadaan kembali seperti semula.


Panji Watugunung segera menyilangkan kedua tangan di depan dada. Panas tubuh Sang Yuwaraja Panjalu meningkat pesat. Para prajurit Panjalu yang ada di belakangnya terpaksa mundur karena tidak kuat menahan hawa panas yang keluar dari tubuh Panji Watugunung. Tangan kanannya diliputi oleh sinar putih kebiruan yang sangat menyilaukan mata.


Resi Wanamarta menjejak tanah dengan keras lalu tubuh kakek tua renta itu segera melenting tinggi ke udara kemudian dengan cepat meluncur turun ke arah Panji Watugunung. Tangan kanannya yang berwarna hijau keputihan segera dihantamkan ke arah Panji Watugunung.


Shhhhiiiiuuuuuttt...


Bersamaan itu Panji Watugunung juga menghantamkan tangan kanannya yang berwarna putih kebiruan.


Dharrrrrr Dhuuuaaaaarrrrrr!!!


Panji Watugunung menerima hantaman Ajian Kahyangan Beku begitu pula Resi Wanamarta menerima ilmu Brajamusti nya Panji Watugunung.


Keduanya sama sama terdorong mundur beberapa tombak ke belakang. Karena Panji Watugunung memakai Ajian Tameng Waja, maka keadaan Sang Yuwaraja Panjalu itu baik baik meski sedikit sesak dadanya. Ajian Kahyangan Beku memang mengerikan.


Sedangkan Resi Wanamarta terpental beberapa tombak sambil menyilangkan kedua tangan di depan dada. Meskipun dia berhasil menahan Ajian Brajamusti, tapi dadanya terasa begitu sakit seperti di timpa batu besar. Pemimpin Padepokan Gunung Welirang itu batuk kecil beberapa kali, dari sudut bibirnya ada darah yang mengalir keluar.


Perlahan Wong Agung Welirang mengusap darah yang mengalir dengan tangan kiri nya.


"Kau hebat anak muda, mampu menahan Ajian Kahyangan Beku milik ku.


Bersiaplah,


Ini ilmu kedigjayaan pamungkas ku", ujar Resi Wanamarta sambil memasang kuda kuda ilmu kanuragan andalannya.


Tangan kurus Resi Wanamarta segera menyilang di depan dada. Tubuh nya perlahan mengeluarkan asap putih berhawa dingin. Perlahan tubuh kurus Resi Wanamarta membesar lalu berubah warna menjadi biru. Itulah Ajian Dewa Biru yang mampu merubah tampilan pemakai nya sebesar 2 kali tubuh manusia pada umumnya.


Panji Watugunung tidak tinggal diam. Segera dia menyarungkan Pedang Naga Api ke punggung nya.


Yuwaraja Panjalu itu segera merapal Ajian Waringin Sungsang nya. Sinar hijau kebiruan segera melingkupi seluruh tubuh Panji Watugunung bercampur dengan sinar kuning keemasan dari Ajian Tameng Waja.


Resi Wanamarta melesat cepat kearah Panji Watugunung. Meskipun tubuh nya membesar, namun kecepatan nya juga meningkat pesat. Tangan besar Resi Wanamarta yang diliputi sinar biru segera menghantam ke arah Panji Watugunung.


Dhuuuaaaaarrrrrr!!


Ledakan dahsyat kembali terdengar memekakkan telinga. Tangan Resi Wanamarta yang menghantam tubuh Panji Watugunung ternyata menempel pada tubuh Yuwaraja Panjalu itu.


Pelan tapi pasti, tenaga dalam Resi Wanamarta segera di sedot Ajian Waringin Sungsang nya Panji Watugunung. Rasa sakit seketika menjalar ke seluruh tubuh Resi Wanamarta.

__ADS_1


AAAARRRGGGHHHH!!


Jerit kesakitan terdengar dari mulut Resi Wanamarta yang perlahan tubuhnya menyusut karena tenaga dalam nya di kuras oleh daya Ajian Waringin Sungsang.


Dari kejauhan, Rara Janggi yang baru saja sampai segera berlari menuju ke arah Panji Watugunung. Saat melihat ayahnya kesakitan, Rara Janggi dengan cepat melesat ke arah Panji Watugunung seraya mengayunkan kipas besi nya.


Tringgggg


Blaaammmmmmmm!!


Akibat gangguan dari Rara Janggi, Resi Wanamarta terlepas dari Ajian Waringin Sungsang. Tubuh Resi Wanamarta terpental ke belakang sejauh lebih dari 3 tombak. Namun Rara Janggi sendiri terlempar jauh ke belakang dan menyusruk tanah. Meski tidak terlalu parah, namun luka dalam Rara Janggi membuat perempuan itu muntah darah segar.


Panji Watugunung segera menghentikan Ajian Waringin Sungsang nya.


Rara Janggi bersusah payah untuk bangkit dan berjalan sempoyongan ke arah Panji Watugunung.


"Ampuni nyawa kami, Gusti Pangeran Jayengrana.


Kami mengaku kalah", ucap Rara Janggi dengan terbata-bata.


"Hemmmmmmm..


Aku lepaskan kalian. Tapi jika sampai di kemudian hari kalian mengganggu para prajurit Panjalu, jangan salahkan aku jika bertindak tegas", ucap Panji Watugunung dengan berwibawa.


"Kami mengerti Gusti Pangeran", ujar Rara Janggi yang segera berjalan mendekati Resi Wanamarta yang muntah darah kehitaman. Luka dalam akibat Ajian Waringin Sungsang menghancurkan beberapa urat nadi tubuh tua Resi Wanamarta. Perlahan Rara Janggi memapah tubuh Resi Wanamarta sambil meraih Tombak Kahyangan yang menancap di tanah. Dengan tertatih tatih perempuan itu berjalan menjauhi para prajurit Panjalu.


Dewi Srimpi, Dewi Naganingrum, Ratna Pitaloka dan Sekar Mayang segera mendekati Panji Watugunung.


"Kau tidak apa-apa apa apa Kakang?", tanya Ratna Pitaloka segera.


"Aku tidak apa-apa Dinda Pitaloka, kalian tidak perlu khawatir mengenai diri ku", jawab Panji Watugunung dengan senyum manisnya.


"Coba ku lihat Denmas", ucap Dewi Srimpi yang merasa Panji Watugunung pasti terluka. Dengan cepat perempuan cantik itu segera membuka baju Panji Watugunung. Dan benar saja, ada memar di dada kiri sang Yuwaraja Panjalu.


"Lha ini buktinya.


Begini bilang tidak apa-apa. Kangmbok Pitaloka, minta pada Senopati Warigalit untuk menghentikan laju pasukan Panjalu di sini. Aku akan mengobati luka dalam Denmas Panji", ucap Dewi Srimpi yang segera mendapat anggukan kepala dari Ratna Pitaloka.


Kebetulan juga Senopati Warigalit dan Senopati Narapraja memang berjalan mendekati mereka usai melihat pertarungan antara Resi Wanamarta dan Panji Watugunung berakhir.


"Ilmu Resi tua itu sangat hebat, melebihi kemampuan beladiri Adipati Danaraja.


Untung saja Kakang Watugunung punya Ajian Tameng Waja.


Perintahkan kepada para prajurit Panjalu untuk mendirikan kemah di tempat ini. Srimpi akan mengobati luka Kakang Watugunung lebih dulu", ujar Ratna Pitaloka pada Senopati Warigalit.


"Baik adik", ucap Senopati Warigalit yang segera berbalik arah dan mulai memerintahkan kepada para prajurit Panjalu untuk mendirikan perkemahan di tempat itu.


Para prajurit perbekalan yang di pimpin oleh Demung Gumbreg segera bekerja dengan cepat.


Sementara itu, Tumenggung Ludaka segera memerintahkan kepada para prajurit Lowo Bengi untuk menyebar ke sekitar tempat itu. Mereka di perintahkan untuk memperbaiki sebanyak mungkin berita tentang para prajurit Jenggala. Dengan cepat mereka bergerak dalam kelompok kecil dan menyebar ke sekitar wilayah barat Kadipaten Hujung Galuh.


Sedangkan Senopati Narapraja segera membentuk kelompok pasukan penjaga yang menjadi pagar betis di sekeliling tempat mereka bermalam.


Dengan menempatkan para perwira menengah, dengan cepat pasukan Panjalu bergerak di sekitar tempat itu untuk berjaga.


Hari segera berganti malam.


Panji Watugunung dengan mata terpejam segera menurunkan kedua tangan nya di atas lutut nya usai menghela nafas panjang.


Nampaknya pengobatan yang di lakukan oleh Dewi Srimpi mampu menyembuhkan luka dalam yang di dapat Panji Watugunung dari pertarungan tadi siang.


"Terimakasih atas bantuannya, Dinda Srimpi.


Aku bersyukur karena membawa mu dalam perang ini", ujar Panji Watugunung usai membuka mata nya.


"Sudah menjadi kewajiban ku, Denmas.


Ini juga tugas yang diberikan oleh Gusti Permaisuri Anggarawati kepada ku", jawab Dewi Srimpi sambil membereskan beberapa barang yang dia gunakan untuk mengobati pria yang dicintainya itu.


"Eh, Teh Srimpi mah memang hebat atuh.


Abdi teh juga bisa tenang lamun nyanghareupan lawan anu kiat. Karena lamun abdi terluka, Teh Srimpi pasti bisa mengobati", sahut Dewi Naganingrum yang duduk tak jauh dari Panji Watugunung.


Dari arah luar, Ratna Pitaloka dan Sekar Mayang masuk membawa nampan berisi beberapa makanan yang akan mereka santap sebagai makan malam mereka.


Di luar tenda besar, para prajurit Panjalu yang bertugas berjaga malam melakukan pekerjaan mereka dengan baik.


Di tenda yang tak begitu jauh dari tenda Panji Watugunung, Demung Gumbreg yang kelaparan, nampak asyik menikmati makanan yang di sajikan kepada nya.


Sudah 3 piring yang di santap perwira prajurit Panjalu itu, namun nampaknya belum memuaskan selera makan nya.


Tumenggung Ludaka yang datang bersama Jarasanda nampak menenteng beberapa jagung bakar. Jarasanda pun menenteng sebuah bumbung bambu yang berisi arak beras kegemaran nya.


Melihat kawannya yang masih menggasak makanan, Ludaka menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Kau ini lapar atau kesetanan to Mbreg?", tanya Ludaka yang segera mendudukkan pantat nya pada tikar daun pandan yang menjadi alas tidur Gumbreg.


"Aku lapar Lu,


Dari tadi siang aku hanya makan sepiring nasi", jawab Gumbreg sambil meneruskan acara makan nya.


"Iya kau memang hanya makan sepiring nasi, tapi kau kan menghabiskan singkong rebus sebakul?", ucap Tumenggung Ludaka yang menatap keheranan pada kemampuan makan Gumbreg.


"Singkong tidak mengenyangkan perut ku Lu.


Kalau nasi baru bisa", Gumbreg masih menyuapkan nasi ke mulutnya yang penuh dengan potongan sayur dan ikan kering.


"Lha daripada mati kelaparan lebih baik mati kekenyangan", imbuh Gumbreg sambil meletakkan piring keempatnya. Melihat kawannya membawa jagung bakar, Gumbreg segera tersenyum.


"Wah kau kawan yang baik Lu,


Datang kemari membawakan jagung bakar", ucap Gumbreg dengan penuh senyuman.


"Enak saja,


Baru saja habis 4 piring nasi masih saja serakah.


Ini adalah makan malam ku. Kalau kamu mau, cari saja sendiri", ujar Ludaka sambil mulai menggigit jagung bakar nya.


Gumbreg hanya bisa ngiler melihat kawannya itu memakan jagung bakar yang kelihatannya sangat enak.


Sementara itu di perkemahan para prajurit Jenggala, nampak Prabu Garasakan sedang duduk di tenda besar yang menjadi pusat pergerakan prajurit Jenggala yang menghadang laju pergerakan prajurit Panjalu.


Di hadapannya, Mapatih Dyah Bayunata, Rakryan Samarotsaha, Senopati Wirondaya, Senopati Mpu Sadewa, Tumenggung Mandalika, Tumenggung Wahana, Tumenggung Adijaya, Demung Wastra dan Demung Rengku tampak sedang menunggu titah sang raja Kahuripan.


"Apa benar mereka telah sampai di barat Pakuwon Jengki, Paman Mapatih?", tanya Maharaja Garasakan sambil menatap ke arah Dyah Bayunata.


"Benar Gusti Prabu,


Menurut mata mata yang hamba kirim, sepertinya mereka jumlahnya mencapai puluhan ribu prajurit", lapor Sang Mapatih Jenggala dengan suara tegas.


"Berarti jika mereka melakukan perjalanan kemari, menjelang tengah hari pasti sudah sampai di sini.


Kalau begitu, kita hadang mereka di barat Hutan Marsma ini Paman.


Bagaimana persiapan mu, Wirondaya?", Prabu Garasakan menoleh ke arah Senopati Wirondaya.


"Semua telah kita persiapkan dengan matang, Gusti Prabu.


Tinggal menunggu perintah dari Gusti Prabu untuk bergerak", Senopati Wirondaya menghormat pada Prabu Garasakan.


Mapanji Garasakan segera berdiri dari tempat duduknya. Sesaat sebelum bicara, dia menata nafas nya sebentar.


"Besok pagi kita berangkat ke arah barat Hutan Marsma.


Kita gempur pasukan Panjalu disana!"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Ikuti terus kisah selanjutnya 😁


Yang suka silahkan tinggalkan jejak kalian dengan like 👍, vote ☝️, favorit 💙 dan komentar nya


Selamat membaca 🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2