
Mentari pagi bersinar malu malu dari balik awan. Cuaca musim penghujan benar benar membuat udara semakin dingin di lereng bukit Lanjar.
Setelah pertarungan kemarin, suasana duka masih menyelimuti seluruh murid murid Padepokan Anggrek Bulan. Walaupun mereka menang, tapi 30 saudari mereka harus tewas membela kehormatan perguruan.
Anggrek Perak dan Anggrek Emas juga luka dalam cukup serius tapi setelah di obati luka luar nya, dan di bantu tenaga dalam Dewi Anggrek Bulan, keadaan mereka sudah membaik.
Pagi itu, Panji Watugunung dan ketiga gadis cantik nya bersiap siap untuk melanjutkan perjalanan.
Mereka berempat, dan Anggrek Perak serta Anggrek Emas menghadap Dewi Anggrek Bulan di kediaman utama Padepokan Anggrek Bulan.
"Dewi Anggrek Bulan, kami mohon pamit untuk meneruskan perjalanan ke Gelang-gelang", ucap Panji Watugunung seraya menghormat.
"Pendekar muda, aku mengucapkan terima kasih atas kunjungan dan bantuan mu. Semoga di lain kesempatan kita bertemu lagi. Tapi sebelum pergi, aku ingin minta tolong pada mu", Dewi Anggrek Bulan menyerahkan sepucuk surat dari daun lontar.
"Sampaikan surat ini kepada Bupati Gelang-gelang, dia mengerti apa yang harus dilakukan.
Dan ini untuk bekal perjalanan mu, terimalah".
Dewi Anggrek Bulan menyerahkan sekantong kepeng perak kepada Panji Watugunung.
"Saya tidak meminta upah untuk bantuan kami berikan Dewi", tolak Panji Watugunung halus.
"Aku tidak memberi mu upah pendekar muda, anggap saja itu untuk biaya mengantar surat ku ke Gelang-gelang", Dewi Anggrek Bulan sedikit memaksa.
"Baiklah jika itu kemauan Dewi, kami mohon pamit", Panji Watugunung segera berdiri di ikuti ketiga gadis nya. Mereka menghormat pada Dewi Anggrek Bulan dan melangkah keluar dari kediaman utama.
Panji Watugunung segera melompat ke atas kuda nya di ikuti Dewi Anggarawati, Ratna Pitaloka dan Sekar Mayang. Mereka memacu kudanya menuju barat kearah Watugaluh. Debu jalanan beterbangan mengiringi langkah kaki kuda mereka.
Dewi Anggrek Bulan tersenyum tipis memandang kearah Panji Watugunung dan ketiga gadis nya yang menghilang di tikungan jalan.
'Cucu ku sudah besar dan gagah rupanya'
**
Dewi Tunjung Biru sedang berkeliling di pinggir kota Pakuwon Watugaluh melihat lihat keramaian kota. Banyak pedagang baru dan penduduk kota itu meningkat pesat sejak pemecahan kerajaan Kahuripan.
Banyak pedagang dari Tamwelang memilih berpindah ke Watugaluh karena pajak rendah dari Kahuripan lama masih di terapkan di Panjalu. Sedangkan di Tamwelang yang masuk wilayah Jenggala, pajak pedagang hampir 2 kali lipat dari Panjalu, di tambah tekanan dan ancaman dari prajurit kerajaan Jenggala yang berpatroli setiap akhir pekan.
Dewi Tunjung Biru di kawal Bekel Setyaka dan puluhan prajurit Pakuwon Watugaluh. Semenjak peristiwa penculikan oleh Perguruan Kalajengking Biru, Akuwu Watugaluh Hangga Amarta memberikan pengawalan ketat kepada Dewi Tunjung Biru. Suka tidak suka Tunjung Biru harus menerima nya, sebab jika Tunjung Biru menolak maka dia tidak boleh keluar dari istana Pakuwon Watugaluh.
Dari kejauhan nampak 4 orang berkuda berhenti di ujung jalan dekat gapura kota Pakuwon Watugaluh. Mereka berempat segera mengikat tali kekang kudanya, dan masuk ke rumah makan.
'Bukankah itu Kakang Watugunung?'
Dewi Tunjung Biru yang penasaran karna merasa mengenali nya bergegas menepak punggung kuda nya agar berjalan mendekati rumah makan. Begitu sampai, Tunjung Biru melompat turun dari kudanya, dan menambatkan kuda.
Langkah kaki Tunjung Biru terhenti saat melihat 4 orang yang sedang asyik menikmati makanan di salah satu meja makan.
"Kakang Watugunung!"
Teriakan Dewi Tunjung Biru membuat seisi rumah makan menoleh ke arah pintu.
'Cihhh gadis itu lagi'
'Putri bodoh itu pasti cari masalah'
'Pasti dia ingin mendekati Kakang Watugunung lagi. Tak kan ku biarkan'
Gerutuan segera muncul di batin para gadis cantik Watugunung saat Tunjung Biru berlari menuju meja makan mereka.
"Kakang Watugunung apa kabar mu?", Dewi Tunjung Biru segera menempel di lengan Panji Watugunung.
"Baik Dewi, kamu sendiri bagaimana?", jawab Watugunung sopan.
__ADS_1
Belum sempat menjawab pertanyaan Watugunung, puluhan prajurit Pakuwon Watugaluh di pimpin Bekel Setyaka merangsek masuk. Para pembeli yang ketakutan segera bergegas berlari keluar.
Bekel Setyaka bernafas lega setelah melihat lelaki yang ada di dekat cucu kesayangan Akuwu Watugaluh. Segera dia mendekat dan memberi hormat.
"Salam hormat Pendekar Pedang Naga Api".
"Paman Setyaka, jangan seperti itu. Mari duduk di sini. Temani kami makan ya paman", ujar Panji Watugunung sambil tersenyum.
Bekel Setyaka segera memerintahkan prajuritnya untuk berjaga di luar rumah makan.
"Maaf merusak suasana makan Pendekar sekalian.
Pelayan, beri kami makanan yang paling enak".
Pelayan rumah makan tergopoh-gopoh mengantarkan makanan ke meja.
Sambil makan, mereka bercakap-cakap kembali.
"Maaf kalau boleh tau, Pendekar sekalian ada tujuan apa ke Watugaluh?", tanya Bekel Setyaka sambil mengunyah makanan.
"Kami kebetulan lewat Paman Bekel, tujuan kami ke Gelang-gelang", jawab Watugunung seraya tersenyum.
"Iya Paman, kami mau ke Gelang-gelang karna ayahanda Kakang Watugunung mau menikahkan kami", jawab Anggarawati sambil tersenyum simpul memandang Tunjung Biru.
Sekar Mayang semakin menambah panas suasana dengan berkata, " Betul itu Paman, katanya sudah ingin menimang cucu dari Kakang Watugunung".
Tunjung Biru yang tak tahan lagi mendengar kata kata Sekar Mayang dan Anggarawati segera memandang tajam kearah Panji Watugunung.
"Benar yang mereka katakan Kakang Watugunung?".
"Mayang..
Anggarawati..
Kalian ingin aku hukum ya??", Panji Watugunung mendelik tajam kearah Sekar Mayang dan Dewi Anggarawati yang tersenyum geli melihat tingkah Dewi Tunjung Biru.
Ratna Pitaloka sekuat tenaga menahan tawa nya melihat Sekar Mayang dan Dewi Anggarawati mendapat marah dari Watugunung.
"Kapok. Makanya jangan usil", ucap Ratna Pitaloka memandang adik seperguruannya.
"Kakang Watugunung belum menjawab pertanyaan ku", ujar Tunjung Biru dengan wajah memelas.
"Sudah jangan dengarkan mereka. Ayo kita makan lagi", ucap Panji Watugunung sambil menaruh sepotong paha ayam di piring Tunjung Biru.
Tunjung Biru yang merasa di perhatikan Panji Watugunung, segera menyantap makanan nya dengan lahap.
Usai makan, Panji Watugunung hendak membayar, di cegah oleh Bekel Setyaka.
"Biarkan saya yang mengurus nya Pendekar, anggap sebagai jamuan makan dari Watugaluh untuk pendekar sekalian".
"Terimakasih atas kebaikan Paman. Suatu saat jika bertemu lagi, pasti ganti kami yang membayar nya", Watugunung menghormat.
"Kalau begitu kami mohon pamit Paman Bekel. Sampaikan salam hormat saya kepada Ki Kuwu".
Panji Watugunung dan ketiga calon istri nya segera melompat ke atas kuda mereka. Setelah mengangguk pada Tunjung Biru, mereka memacu kudanya melesat meninggalkan Pakuwon Watugaluh menuju Pakuwon Kunjang di selatan.
Tunjung Biru masih memandang kearah Panji Watugunung yang sudah tidak tampak. Air mata gadis cantik itu menetes perlahan. Ada bahagia dan juga sedih melihat lelaki itu.
Senja semakin merah, pertanda malam segera tiba. Rombongan Panji Watugunung berhenti di tepi hutan kecil di perbatasan Pakuwon Kunjang. Ada sebuah gubuk kayu di tepi hutan.
Rombongan Panji Watugunung segera menuju kesana.
Mereka segera menambatkan kuda mereka di semak belukar kecil di samping gubuk yang ternyata kosong tanpa penghuni. Ratna Pitaloka segera mengumpulkan kayu kayu kering untuk membuat api unggun. Sekar Mayang menata tempat istirahat sedangkan Dewi Anggarawati sibuk menyiapkan makanan kering dari perbekalan mereka.
__ADS_1
Malam semakin larut. Panji Watugunung tidur diapit 3 gadisnya. Mereka begitu nyaman di dekat lelaki pujaan hatinya.
Pagi harinya, Panji Watugunung dan ketiga gadis nya menggebrak kuda mereka memasuki wilayah Pakuwon Kunjang. Rombongan Panji Watugunung berhenti di ujung jalan. Panji Watugunung melompat turun dari kudanya, dan bertanya pada seorang wanita tua di pinggir jalan.
"Maaf nek, numpang tanya. Di sekitar tempat ini, warung makan paling dekat di sebelah mana?".
"Kau lurus saja, nanti di kiri jalan ada warung makan",ujar wanita tua itu.
"Terimakasih nek".
Panji Watugunung segera melompat ke atas kuda nya dan mengikuti arah yang di tunjukkan.
Sepasang mata terus mengikuti gerakan mereka dari kejauhan.
"Tolu laporkan pada Lurah e, orang yang kita cari sudah ketemu", seorang lelaki muda segera berlari meninggalkan tempat itu.
"Lurah e Lurah e,
ada berita penting lurah e.."
Tolu berteriak pada seorang lelaki tua berbaju hitam dan di kelilingi oleh puluhan orang berwajah seram.
"Ada apa Tolu? Kenapa kau berteriak seperti orang gila gah?", teriak lelaki tua itu gusar.
"Kata Kang Wuye, orang yang kita cari sudah ketemu. Dia sedang makan di rumah makan", Tolu bersuara pelan takut kena marah.
"Hahahaha bagus.."
Lelaki itu tertawa terbahak-bahak mendengar berita itu.
"Kalau benar lelaki itu yang kita cari, sebentar lagi pasti menuju ke Gelang-gelang. Kita cegat dia disana"
"Sebentar lagi tujuan ku tercapai"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Siapa orang orang ini?
Apa tujuan mereka?
Author sedikit penasaran juga.😁😁
__ADS_1
Happy reading guys
Sampai jumpa di episode selanjutnya 🙏🙏