Babat Negeri Leluhur

Babat Negeri Leluhur
Enam Malaikat Maut 2


__ADS_3

Dewi Srimpi dengan sedikit kesal langsung memunguti baju nya yang berserakan di lantai kamar tidur.


'Akan kuhajar orang yang sudah mengganggu waktu ku bersama Denmas Panji', batin Dewi Srimpi sambil mengikat centing nya.


Panji Watugunung yang sudah bersiap, langsung menyandang pedang nya di punggung. Hawa pembunuh yang pekat terus mendekat ke arah penginapan. Di dekat penginapan, hawa pembunuh berhenti. Panji Watugunung segera merapal Ajian Halimun nya sambil meraih tubuh Dewi Srimpi. Dalam sekejap mata, mereka berdua sudah di atap penginapan.


Cahaya bulan yang mendekati purnama, turut membantu penglihatan Panji Watugunung dan Dewi Srimpi.


Di barat penginapan, Enam Malaikat Maut berpencar mengepung penginapan. Melihat itu, Panji Watugunung membuka atap daun alang-alang diatas dua kamar istri nya. Dengan halus, dia menggulung daun alang-alang menjadi bola kecil dan melempar ke arah Naganingrum.


Whussss


Bola alang-alang meluncur kearah bantal tidur tepat di samping telinga Naganingrum.


Pletakk!


Naganingrum langsung terbangun dan melihat bola alang-alang segera melihat ke arah atap. Nampak dari celah atap bangunan yang terbuka, dia melihat Panji Watugunung meletakkan jari telunjuk nya didepan bibir tanda meminta untuk diam.


Naganingrum mengangguk tanda mengerti dan segera bergegas menuju kamar Ratna Pitaloka yang ada di sebelah kamar nya.


Tok tok tok


Terdengar ketukan pintu kamar dan suara berisik lalu disusul langkah kaki menuju pintu kamar.


Kriettttt...


"Naganingrum, ada apa?", tanya Ratna Pitaloka sambil menggosok mata nya.


"Sssttt....


Jangan berisik Ceu, Akang Kasep ada diatap penginapan. Pasti ada sesuatu yang gawat", bisik Dewi Naganingrum sambil menunjuk atap penginapan.


Mata Ratna Pitaloka seketika melebar mendengar ucapan Dewi Naganingrum. Ini pasti ada yang tidak beres. Segera dia meraih Pedang Bulan Kembar nya, dan mengikat tali sarung pedang ke pinggang nya.


Mereka bergegas menuju ke pintu keluar yang ada di samping bangunan penginapan.


Ki Jara segera mencabut pedang nya di temani Gandring. Mereka melompat ke atas atap bangunan penginapan itu.


Whuttttt


Tapp..


Mereka mendarat dengan ringan diatas atap penginapan.


"Ada apa kalian mengendap endap di sini? Apa kalian ini maling?".


Ucapan Panji Watugunung membuat Ki Jara dan Gandring kaget bukan main. Mereka benar benar tidak menduga bahwa kedatangan mereka sudah diketahui orang.


Phuihhh


"Kami memang maling, tapi adalah maling nyawa. Bersiaplah untuk mati!", teriak Ki Jara dari balik kain penutup wajah nya.


Gandring segera melesat cepat menuju Panji Watugunung, sambil melemparkan pisau kecil nya.


Sringggg sringgg!


Dewi Srimpi yang biasanya tenang, langsung menyongsong serangan Gandring dengan jarum beracun nya.


Trakk takkk


Dharrrrr


Saat dua senjata rahasia itu beradu, ledakan kecil tercipta. Gandring yang tidak pernah gagal menghabisi korban nya dengan senjata rahasia, sempat terperangah.


'Brengsek, perempuan ini ahli senjata rahasia rupanya', batin Gandring sambil kembali merogoh pisau kecil yang ada di pinggang nya.


Kembali Gandring melompat menjauh sambil melemparkan pisau pisau nya.


Sringggg sringgg sring!!


Tiga pisau kecil kembali melesat cepat menuju Dewi Srimpi. Putri Kelabang Koro itu segera mengibaskan tangan kiri nya kemudian melesat cepat menuju ke arah Gandring sambil mencabut pedang pendek nya.


Tiga jarum kecil berwarna hitam melesat menangkis pisau dari Gandring.


Tranggg


Jarum kecil itu segera menghentikan laju pisau Gandring. Saat itu juga, Dewi Srimpi dengan Ajian Langkah Kelabang Sewu nya, menebas leher Gandring yang rupanya ingin bertarung dengan jarak jauh.


Gandring gelagapan dengan gerakan cepat Dewi Srimpi. Segera dia mencabut dua pisau belati nya untuk menghadapi pertarungan jarak dekat dengan Dewi Srimpi.


Tranggg


Suara nyaring terdengar saat pisau belati Gandring beradu dengan Pedang Kelabang Neraka Dewi Srimpi. Pisau belati di tangan kiri Gandring hendak di hujamkan ke pinggang Dewi Srimpi namun perempuan cantik itu segera melenting tinggi ke udara dan menendang punggung Gandring.


Bukkkkk


Gandring menyusruk atap bangunan penginapan dan kemudian menggelinding turun dari atap dan menabrak tanah di samping dinding penginapan.


Oughhh

__ADS_1


Terdengar lenguhan kesakitan dari Gandring. Dewi Srimpi segera memburu Gandring yang baru berdiri dengan mulut berdarah. Selir ketiga Panji Watugunung itu segera menebas dada Gandring dengan gerakan cepat bagai kilat.


Sreeetttttt


Aarrgghhh


Gandring yang tidak sempat menghindar dari sabetan pedang Dewi Srimpi, menjerit keras saat Pedang Kelabang Neraka merobek dadanya.


Dengan membekap dadanya yang terasa panas menyengat seperti terbakar api, Gandring melotot. Pandangan nya kemudian semakin kabur. Kemudian ia roboh dengan mulut berbusa akibat Racun Kelabang Neraka. Sejenak dia kejang, lalu diam untuk selamanya.


Melihat lawan nya tewas, Dewi Srimpi segera melompat kearah Rara Wulan yang tengah keteteran meladeni permainan pedang Marasamba.


Di sisi lain penginapan, Ludra yang tengah menghadapi Dewi Naganingrum dibuat tak berdaya menghadapi jurus Cakar Rajawali Galunggung. Baju Ludra sudah robek disana sini. Luka cakaran tangan Dewi Naganingrum sudah puluhan bersarang di tubuh Ludra.


"Sok atuh, jangan pura pura lemah.


Tunjukkeun kedigdayaan kamu", ujar Dewi Naganingrum sambil menggerakkan jemari tangannya tanda menyuruh maju.


Ludra yang sudah tak punya banyak tenaga, langsung melompat sambil menyabetkan pedang nya kearah Dewi Naganingrum. Putri Raja Galuh Pakuan itu melompat tinggi ke udara kemudian bersalto dan mendarat di bahu Ludra.


Dengan gerakan berputar cepat, kaki Dewi Naganingrum memelintir leher Ludra.


Kreeekk


Dewi Naganingrum segera melompat turun dari bahu Ludra. Pria itu segera roboh dengan leher patah.


"Huh, dasar jawara kampung.


Kena putar sedikit mah langsung keok", ujar Naganingrum sambil menatap mayat Ludra.


Ratna Pitaloka dengan Pedang Bulan Kembar terus mendesak Rengkong yang juga bersenjata dua pedang.


Tringgg tringgg tringgg!!!


Bunyi benturan dua pedang itu terdengar nyaring. Ratna Pitaloka dengan jurus Pedang Dewi Bulan nya, terus menerus memberikan tekanan kepada Rengkong.


Pria kekar itu sudah bermandi keringat menghadapi Ratna Pitaloka.


'Perempuan ini benar-benar berbahaya, aku harus hati-hati', batin Rengkong sambil terus menangkis sabetan dan tusukan pedang Ratna Pitaloka.


Selir pertama Panji Watugunung itu segera melesat cepat setelah merapal Ajian Sepi Angin nya. Kecepatan tinggi nya membuat Rengkong kelabakan.


Saat Rengkong lengah, satu sabetan pedang Ratna Pitaloka berhasil melukai pinggang nya.


Rengkong menjerit keras. Pedang di tangan kiri nya langsung terjatuh. Ratna Pitaloka tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Dengan gerakan cepat, Ratna Pitaloka segera menebas leher Rengkong dengan pedang di tangan kanan nya.


Crashhhh


Rengkong tewas dengan luka menganga pada lehernya. Ratna Pitaloka segera mengusapkan darah yang membasahi pedang nya pada baju Rengkong.


Sementara itu, Panji Watugunung yang sedang menghadapi Ki Jara nampak sedang mengadu ilmu kanuragan tingkat tinggi. Tampak berkali-kali sabetan pedang nya menghajar udara kosong karena tiba-tiba Panji Watugunung sirna dari pandangan mata nya.


"Bajingan!


Kalau jagoan jangan main kucing-kucingan. Ayo mengadu ilmu dengan ku", teriak Ki Jara dengan nada gusar.


Panji Watugunung yang muncul di belakang Ki Jara hanya tersenyum tipis.


"Baiklah kalau itu mau mu", ucap Panji Watugunung yang segera membuat Ki Jara menoleh ke belakang.


Panji Watugunung melompat turun ke halaman penginapan. Ki Jara dengan cepat mengikuti nya. Mereka lantas bersiap dengan kuda-kuda jurus andalan masing-masing.


Ki Jara langsung melompat sambil menyabetkan pedang nya kearah Panji Watugunung namun Pangeran Daha itu segera berkelit menghindari sabetan pedang seraya melayangkan pukulan tangan kanan nya ke arah dada Ki Jara.


Pria paruh baya berbadan gempal itu langsung melompat mundur sambil menyapu kaki Panji Watugunung.


Dengan cepat Panji Watugunung segera mengangkat kaki kanan nya kemudian secepat kilat menurunkan kaki lalu menyikut pinggang Ki Jara.


Deshhhhh


Ki Jara terhuyung-huyung mundur ke belakang. Dengan meringis menahan sakit, pria paruh baya itu segera memutar mutar pedangnya.


Angin kencang menderu dari putaran pedang Pemimpin Enam Malaikat Maut itu. Rupanya itu adalah Ilmu Pedang Iblis Angin.


Panji Watugunung segera merapal Ajian Tameng Waja. Deru angin kematian itu hanya lewat tanpa melukai tubuhnya.


Ki Jara melesat cepat menuju Panji Watugunung dan menebaskan pedangnya ke arah leher sang Pangeran Daha.


Melihat Panji Watugunung tidak menghindar, seringai lebar tercipta di bibir Ki Jara.


"Mampus kau!!", teriak Ki Jara.


Tranggg!!


Ki Jara terkejut bukan main karena tebasan pedangnya seperti membentur logam baja.


Panji Watugunung hanya tersenyum tipis sambil mengayunkan tangan kanan nya yang sudah berubah warna menjadi kemerahan akibat Ajian Tapak Dewa Api.


Dhuarrrr

__ADS_1


Arrrghh!


Ki Jara melolong panjang saat Tapak Dewa Api telak menghajar dada kanan nya. Pria paruh baya itu terlempar dua tombak ke belakang dan membentur tanah dengan keras.


Dengan mata melotot dan darah mengalir dari sudut bibirnya, Ki Jara menunjuk pada Panji Watugunung.


"Kau... Kau... Ba..ji..ngannnn!!!!"


Ki Jara, pemimpin Enam Malaikat Maut yang ditakuti di wilayah Kadipaten Bojonegoro, tewas dengan dada gosong seperti terbakar api.


Dewi Srimpi yang baru membantai Marasamba segera mendekati suaminya itu.


"Denmas,


Kau baik baik saja?", tanya Dewi Srimpi sambil tersenyum manis.


"Puja Dewa Wisnu,


Aku baik baik saja Dinda Srimpi. Ayo kita lihat keadaan yang lainnya", jawab Watugunung seraya tersenyum tipis.


Hanya Sambu yang masih tersisa dari Enam Malaikat Maut. Pemuda itu masih bisa bertahan menghadapi permainan pedang Pendekar Pedang Elang Sakti meski beberapa luka sudah menghiasi tubuhnya.


"Sebaiknya kau menyerah, teman teman mu sudah menemui ajalnya", ujar Nyai Sati sambil mengacungkan pedangnya ke arah Sambu.


Phuihhh


"Lebih aku mati daripada menyerah pada mu nenek peyot!", teriak Sambu sambil meloncat ke arah Nyai Sati.


"Ingin cepat mampus rupanya.


Baik,


Ku kabulkan keinginan mu", Nyai Sati segera merubah gerakan tubuhnya. Dengan gerakan yang sukar diikuti dengan pandangan mata biasa, Nyai Sati melesat cepat menuju kearah Sambu.


Sreeetttttt


Nyai Sati menebaskan pedangnya ke arah leher Sambu.


Crashhhh


Tanpa sempat berteriak, kepala Sambu menggelinding ke tanah. Lehernya tertebas Pedang Elang Sakti yang terkenal tajam. Sambu tewas dengan kepala terpisah dari badannya.


Usai menghabisi nyawa lawannya, Nyai Sati segera bergegas menuju ke arah Rara Wulan yang berdiri di samping penginapan bersama Panji Watugunung dan ketiga istrinya.


Malam itu aksi menakutkan Enam Malaikat Maut yang meresahkan masyarakat Bojonegoro berakhir di tangan Panji Watugunung dan rombongannya.


Pagi menjelang tiba di Kota Tapan. Sinar matahari mulai menyingsing di ufuk timur.


Suasana di seputar penginapan gempar akibat 6 mayat kelompok pembunuh.


Panji Watugunung dan rombongan nya meninggalkan penginapan saat pagi buta. Mereka tidak mau ikut ditanyai para prajurit kota Tapan soal bagaimana mereka berenam bisa terbunuh.


Mereka terus memacu kudanya menuju ke arah sebuah bukit yang ada di selatan kota Tapan, tempat pertapaan Waruga yang menjadi rumah dari Ratna Pitaloka.


Bukit itu bernama Bukit Kombang.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Ikuti terus kisah selanjutnya kak 😁


Yang suka silahkan tinggalkan jejak kalian dengan like 👍, vote ☝️, favorit ❤️ dan komentar 🗣️ nya agar author terus semangat menulis 😁


Selamat membaca 🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2