
"Adipati Windupati,
Besok pagi aku minta kau mencari seorang pemahat batu untuk datang kemari", perintah Panji Watugunung pada penguasa Kadipaten Karang Anom itu.
"Sendiko dawuh Gusti Prabu..
Sebaiknya hari ini kita pulang ke Kota Kadipaten Karang Anom, Gusti Prabu. Hamba tidak mungkin membiarkan istana kadipaten kosong tanpa pemimpin", ujar Adipati Windupati segera.
"Aku mengerti Adipati..
Tapi aku juga tidak bisa langsung mengajak Dinda Srimpi untuk langsung pergi. Dia butuh waktu untuk dekat dengan ayah kandungnya", Panji Watugunung menoleh kearah Dewi Srimpi yang tengah berbincang dengan Mpu Kerta.
"Kalau begitu hamba mohon diri Gusti Prabu. Mohon maaf jika hamba tidak bisa menemani Gusti Prabu Jayengrana disini.
Mengenai kebutuhan para prajurit biar nanti Mpu Bahula yang mencukupi selama berada di sini", Adipati Windupati menghormat pada Panji Watugunung.
"Terimakasih atas bantuan mu Adipati Windupati", jawab Panji Watugunung segera. Penguasa Kadipaten Karang Anom itu segera menyembah pada Panji Watugunung kemudian mundur dari tempat itu bersama dengan Patih Sengguruh dan para prajurit Kadipaten Karang Anom.
Hari itu Panji Watugunung dan para prajurit Panjalu yang mengawal nya menginap di Pertapaan Rance, agar Dewi Srimpi atau Dewi Sasikirana lebih dekat dengan Mpu Kerta, ayah kandung nya.
Keesokan paginya....
Berita kedatangan Prabu Jayengrana di Pertapaan Rance langsung menarik perhatian para penduduk Pakuwon Tawing dan sekitarnya. Mereka berduyun-duyun datang ke tempat itu hanya untuk melihat Raja Panjalu yang baru.
Di kaki bukit Rance, Demung Gumbreg yang berjaga jaga sampai kewalahan menghadapi para penduduk yang ingin melihat Panji Watugunung.
"Mohon maaf ya para warga semuanya..
Kalau semua nya ingin naik ke atas bukit untuk bertemu dengan Gusti Prabu Jayengrana, apa tempat itu muat menampung kalian semua?
Kalau ingin bertemu dengan beliau, bergiliran saja. Satu Wanua di wakili oleh beberapa orang tokoh masyarakat agar kedatangan kalian semua tidak menggangu kenyamanan para pertapa yang ada di sana.
Bagaimana tawaran ku?", ujar Demung Gumbreg sambil menatap ke arah wajah para warga Pakuwon Tawing yang ada di situ.
Mereka segera mulai kasak kusuk untuk menentukan siapa yang akan menghadap kepada Panji Watugunung.
Seorang lelaki sepuh dari Wanua Wonorowo segera berdiri dari tempat duduknya di tanah.
"Kalau begitu, biar kami dahulu yang dari Wonorowo menghadap pada Gusti Prabu Jayengrana. Rumah kami yang paling jauh dari tempat ini", ujar lelaki sepuh berjenggot putih itu.
"Tidak bisa begitu, kami yang lebih dulu sampai kemari. Kami dari Wanua Wajak harus di dahulukan", ujar seorang lelaki paruh baya dengan pakaian mahal seperti orang kaya segera berdiri dari tempat duduknya.
"Kalian tidak sopan. Kami seharusnya yang lebih dulu karena kami tuan rumah disini", ujar seorang lelaki bertubuh gempal yang merupakan salah satu penduduk Wanua Rance.
Perdebatan mereka berlangsung sengit. Masing masing ingin berebut untuk lebih dulu menghadap pada Maharaja Panjalu itu. Saat perdebatan mereka nyaris menjadi bentrokan, teriakan keras Demung Gumbreg terdengar lantang.
"Kalian bisa diam tidak?!!
Kalau kalian ribut terus seperti ini jangan harap bisa sowan pada Gusti Prabu Jayengrana. Aku yang akan mengatur giliran kalian. Kalau tidak terima, kalian pulang saja ke Wanua masing masing", teriak Demung Gumbreg yang berang karena mereka tidak ada yang mau mengalah.
Suasana hiruk pikuk langsung hening seketika.
"Kalian dari Wanua Waja, kalian boleh naik lebih dulu. Tidak boleh lebih dari 7 orang", perintah Demung Gumbreg segera. Lelaki bertubuh tambun itu menatap tajam ke arah para penduduk Wanua Waja.
7 orang wanua Wajak langsung bergegas naik menuju ke arah atas bukit Rance.
"Tumben kau bisa garang Mbreg, aku acungi 2 jempol padamu", ujar Tumenggung Ludaka sambil tersenyum simpul. Pemimpin pengawal rombongan itu baru saja turun dari atas bukit.
"Lha mau bagaimana lagi Lu?
Dari tadi mereka ribut terus dengan giliran untuk sowan pada Gusti Prabu. Sedangkan aku capek juga lapar, belum sempat sarapan sudah mengurusi orang sebanyak ini.
Kamu enak, mengawal Gusti Prabu Jayengrana di atas bukit. Lha aku semalaman berjaga di bawah sini. Mana nyamuknya besar besar lagi", keluh Demung Gumbreg sambil mengelus perutnya yang buncit.
"Sabar Mbreg..
Sebentar lagi makanan kiriman dari Lurah Wanua Rance datang untuk para prajurit disini. Kau tunggu saja", ujar Tumenggung Ludaka sambil tersenyum tipis.
Dan benar saja, tak berapa lama kemudian serombongan orang dari kediaman Lurah Wanua Rance datang membawa nasi yang sudah di bungkus daun jati. Mereka adalah para wanita muda yang cantik dengan dandanan khas gadis desa yang lugu. Dengan keranjang bambu yang di gendong, mereka mendekati Tumenggung Ludaka dan Demung Gumbreg yang tengah berbincang.
"Permisi Gusti Perwira,
Saya Suketi yang diutus Ki Lurah Mpu Bahula untuk mengantar makanan bagi para prajurit.
Kami harus menaruh makanan ini dimana?", ujar Suketi, gadis paling manis diantara 10 gadis yang datang ke tempat itu.
Mata Demung Gumbreg langsung melebar melihat kecantikan wanita itu.
"Eh cah ayu, siapa namamu tadi?", tanya Demung Gumbreg sambil menatap wajah cantik Suketi hampir tak berkedip.
"Saya Suketi Ndoro", jawab Suketi sambil tersenyum malu-malu kucing.
"Wah sungguh cantik perawan wanua ini. Aku Demung Gumbreg, wakil pimpinan pengawal pribadi Gusti Prabu Jayengrana..
Nah kau boleh meletakkan keranjang mu disana. Bilang sama teman teman mu ya?", ujar Demung Gumbreg sambil menunjuk ke sebuah batu datar yang ada di bawah pohon rindang.
"Baik Gusti Demung. Saya permisi", Suketi mengangguk sambil tersenyum manis. Gadis desa itu dengan langkah kemayu berjalan menuju ke arah yang ditunjukkan oleh Gumbreg.
"Ckckckckckck...
Gadis itu cantik. Tidak kalah dengan para gadis cantik Kota Kadiri", gumam Demung Gumbreg sambil terus memperhatikan gerak-gerik Suketi.
__ADS_1
Tumenggung Ludaka mendekati Demung Gumbreg yang tengah memperhatikan para gadis dari rumah Ki Lurah Wanua Rance.
"Awas jaga mata. Ingat anak istri di rumah", ujar Tumenggung Ludaka sambil meraih kendi air minum yang ada di samping Demung Gumbreg.
"Gadis itu cantik Lu.. Sepadan dengan Dhek Jum. Aku pengen bawa pulang ke Kadiri", ucap Demung Gumbreg sambil terus menatap ke arah Suketi.
"Kau yakin mau menduakan Juminten Mbreg?
Apa kau tidak ingat dengan kejadian tempo hari?", Tumenggung Ludaka mengingatkan kawan karibnya itu.
Ya, tempo hari Gumbreg yang kedapatan mabok di acara pernikahan Demung Rajegwesi di gebuki oleh Juminten gara-gara merangkul seorang penari tledek yang menghibur di acara itu. Bibirnya sampai pecah dan matanya lebam akibat pukulan keras Juminten hingga selama sepekan Gumbreg menjadi bahan ejekan Ludaka, Landung dan Jarasanda.
Mengingat peristiwa itu, Demung Gumbreg bergidik ngeri.
"Ya ingat Lu.. Dhek Jum menghajar ku sampai babak belur begitu siapa yang lupa coba?
Memang nya kenapa?", Demung Gumbreg menoleh ke arah Tumenggung Ludaka.
"Masih tanya kenapa lagi? Kau mau mengulangi Juminten ngamuk lagi Mbreg?", Tumenggung Ludaka menatap heran kearah Demung Gumbreg.
"Ya gak Lu..
Aku kapok deh kalau harus menghadapi amukan Dhek Jum Lu..", ujar Demung Gumbreg memelas.
"Nah itu baru namanya suami takut istri eh maksudnya sayang istri hehehehe", Ludaka tertawa terpingkal-pingkal mendengar ucapan Gumbreg.
"Dasar sompret kau Lu", gerutu Gumbreg sambil menggasak sebungkus nasi yang beralaskan daun jati.
Hari ini satu persatu perwakilan rakyat dari wanua wanua di sekitar Pakuwon Tawing menghadap pada Maharaja Panjalu untuk menyampaikan keluh kesahnya terkait aneka hal yang terjadi di daerah mereka masing-masing.
Sang Raja melayani sowan mereka dengan arif dan bijaksana. Rata rata para sesepuh wanua itu puas dengan apa yang menjadi penjelasan dari Panji Watugunung.
Semua itu tidak lepas dari pengamatan Resi Mpu Kerta.
"Sasikirana,
Raja Panjalu memang bijak dalam bersikap ya. Lihatlah para penduduk yang sowan kemari. Semua terlihat puas mendengar jawaban dari Gusti Prabu Jayengrana", ujar Mpu Kerta yang menatap Panji Watugunung dari serambi kediamannya. Dewi Srimpi alias Dewi Sasikirana tersenyum mendengar pujian ayahnya.
Setelah menaburkan bunga pada abu jenazah ibunya di sanggar pamujan, Dewi Srimpi memang mengikuti langkah sang ayah ke kediaman pribadinya di sisi barat Pertapaan Rance.
Dia begitu gembira mendengar pujian dari ayahnya untuk Panji Watugunung.
'Suami ku memang raja yang bijaksana', batin Dewi Srimpi sambil tersenyum simpul menatap ke arah Panji Watugunung yang tengah menghadapi keluhan para rakyat nya.
Hari itu datang seorang pemahat batu yang dijanjikan Adipati Windupati untuk membuat prasasti mengenai Tanah Sima untuk Wanua Rance yang akan menjadi penyokong kehidupan sehari-hari Pertapaan Rance.
Selepas 3 hari berada di Pertapaan Rance, rombongan Panji Watugunung mohon pamit untuk pulang ke Kadiri. Dengan berat hati, Mpu Kerta melepas kepergian Dewi Srimpi, putri kandungnya yang baru bertemu selepas lebih dari 2 warsa menghilang.
"Romo hanya bisa mendoakan agar kau selalu bahagia Ngger Cah Ayu..
Kalau Dewa menghendaki, Romo berdoa agar kau diberikan seorang putra yang kelak akan menjadi ksatria bijaksana seperti Gusti Prabu Jayengrana", ujar Mpu Kerta sambil mengusap air matanya.
"Gusti Prabu Jayengrana,
Hamba titip Sasikirana. Mohon Gusti Prabu senantiasa menjaga putri hamba ini. Pada Dewata hamba berdoa, semoga Gusti Prabu Jayengrana mampu memimpin rakyat Panjalu dengan adil dan bijaksana", imbuh Mpu Kerta sembari menghormat pada Panji Watugunung.
"Terimakasih atas semua wejangan dan doa mu Mpu Kerta..
Kami mohon pamit", ujar Panji Watugunung yang segera melompat ke atas kuda nya. Dewi Srimpi dan Cempluk Rara Sunti segera mengikuti langkah sang suami. Perlahan rombongan Panji Watugunung bergerak meninggalkan Pertapaan Rance untuk kembali ke Istana Katang-katang di Kadiri.
Mpu Kerta terus memandangi kepergian mereka hingga rombongannya itu menghilang di tikungan jalan.
Rombongan Panji Watugunung terus bergerak menuju ke arah kota Kadipaten Karang Anom.
Namun mereka tidak mampir ke arah Istana Kadipaten Karang Anom melainkan berbelok arah ke timur menuju kearah wanua Sumberjati yang memiliki dermaga penyeberangan menuju ke wilayah Gelang-gelang.
Sesampainya di dermaga penyeberangan, matahari telah hampir tepat di atas kepala. Rombongan itu segera menghentikan langkah kaki kuda mereka di dekat dermaga sambil menunggu kapal yang masih bergerak dari seberang sungai.
Pandangan Cempluk Rara Sunti tertuju pada seorang pemuda berbadan gempal dengan kumis tebal dan ikat kepala hitam yang duduk tak jauh dari tempat mereka berhenti. Selir bungsu Panji Watugunung itu segera melompat turun dari kudanya dan berjalan mendekati orang itu.
"Kakang Singo Manggolo...
Apa benar ini kau Kakang?", tanya Cempluk Rara Sunti segera. Lelaki muda bertubuh gempal itu segera menoleh ke arah Cempluk Rara Sunti.
"Cempluk? Cempluk Rara Sunti adik ku?
Jagat Dewa Batara, ini Cempluk adik ku?", pemuda itu seakan tak percaya dengan penglihatannya. Dia sampai mengucek matanya.
"Benar ini aku Cempluk adik mu, Kakang Manggolo...", ujar Cempluk Rara Sunti yang segera menghambur ke arah pemuda yang bernama Singo Manggolo itu. Cempluk Rara Sunti segera memeluk erat Singo Manggolo.
"Ini siapa Dinda Sunti?", tanya Panji Watugunung yang tiba-tiba muncul di samping mereka berdua. Ada raut muka kesal pada wajah Panji Watugunung yang melihat kejadian itu, namun sebagai Raja Panjalu dia berusaha keras untuk menyembunyikan perasaannya.
"E-eh sampai lupa aku. Perkenalkan Kakang Prabu, ini kakak ku Singo Manggolo, putra sulung Bopo Warok Surapati..
Kakang Manggolo, ini suami ku Maharaja Panjalu Prabu Jayengrana", ujar Cempluk Rara Sunti sambil tersenyum simpul dan melepas pelukannya pada Singo Manggolo.
"Kakak kandung mu Dinda Sunti? Kog aku tidak pernah melihatnya waktu tinggal di sana", Panji Watugunung mengernyitkan dahinya.
"Mohon maaf Gusti Prabu,
Ketika Gusti Prabu tinggal di rumah Bopo Warok Surapati, hamba tengah berguru pada Resi Wanapati di Pesisir Selatan. Bopo Warok Surapati juga menceritakan tentang kisah Gusti Prabu Jayengrana sewaktu berada disana", sahut Singo Manggolo dengan cepat.
__ADS_1
"Hemmmmmm begitu..
Kalau begitu aku minta maaf karena sudah salah paham dengan Kakang Manggolo.
Lantas ada apa hingga Kakang Manggolo sampai ke tempat ini? Sekedar jalan-jalan atau ada keperluan?", tanya Panji Watugunung segera.
"Iya Kakang Manggolo, tumben sekali kau sampai di sini. Biasanya kau tak pernah mau pergi jauh dari Kadipaten Wengker", timpal Cempluk Rara Sunti sembari menatap ke arah Singo Manggolo.
Lelaki muda bertubuh gempal itu menghembuskan nafas panjang sebelum berbicara.
"Aku kemari karena di utus Bopo Warok Surapati, Cempluk..
Kadipaten Wengker tengah dalam bahaya. Ancaman perebutan kekuasaan tengah terjadi di sana. Paman Warok Surajaya ingin melengserkan Paman Warok Suragati dengan mengumpulkan para pendekar yang membangkang terhadap perintah Paman Adipati Warok Suragati.
Dia juga menghasut rakyat Pakuwon Sunggingan untuk membantu nya melawan Paman Adipati Suragati.
Bopo kebingungan harus berpihak pada siapa karena mereka dua-duanya adalah saudara kandung Bopo Surapati. Karena itu diam-diam Bopo memerintahkan aku untuk berangkat ke Daha mencari mu juga untuk meminta bantuan kepada Gusti Prabu Jayengrana agar menyelesaikan masalah ini", ujar Singo Manggolo menutup cerita nya.
Heeemmmmmmmmmmm..
"Adipati Suragati sangat setia kepada ku, bahkan mendukung ku saat aku masih seorang Yuwaraja Panjalu..
Masalah ini tidak boleh dibiarkan begitu saja. Karena menyangkut keluarga besar Kadipaten Wengker", Panji Watugunung mengelus dagunya.
"Gumbreg..
Kemari kau!", panggil Panji Watugunung pada Demung Gumbreg yang sedang berteduh di bawah pohon rindang. Demung bertubuh tambun itu segera berlari menuju ke arah Panji Watugunung dan Cempluk Rara Sunti.
"Ada perintah untuk hamba Gusti Prabu?", Demung Gumbreg menyembah pada Panji Watugunung.
"Bawa 10 prajurit untuk mengawal mu hingga istana Katang-katang. Kemudian minta Kakang Warigalit untuk membawa 3 ribu prajurit menyusul ku ke Wengker. Minta Kakang Warigalit untuk menugaskan kepada Jarasanda untuk melakukan pengamanan ketat di sekitar Kotaraja.
Apa kau mengerti?", perintah Panji Watugunung segera.
"Sendiko dawuh Gusti Prabu", jawab Demung Gumbreg sambil menghormat pada Panji Watugunung. Pria bertubuh tambun itu segera melaksanakan tugas dari raja nya.
Panji Watugunung segera bergegas menuju ke arah kuda nya diikuti oleh Cempluk Rara Sunti dan Singo Manggolo. Di temani oleh dua orang istri nya, Singo Manggolo dan Tumenggung Ludaka, Panji Watugunung memimpin para pengawal pribadi nya menuju ke arah Kadipaten Wengker.
****
Janasamba dan ketiga kawannya telah sampai di kota Kahuripan setelah menempuh perjalanan hampir sepekan lamanya. Mereka sempat tersesat di wilayah hutan di timur Kota Kadipaten Matahun.
Keempat orang itu terus menggebrak kudanya menuju ke arah Istana Kahuripan.
Sesampainya di sana, empat orang prajurit penjaga langsung menghadang begitu mereka sampai di pintu gerbang istana Kahuripan.
"Siapa kalian? Mau apa kemari?
Ini wilayah istana raja. Tidak semua orang bisa masuk seenaknya", ujar seorang prajurit penjaga berbadan besar dengan bengis.
"Maaf Gusti Prajurit.
Hamba utusan Akuwu Wiryamukti dari Lwaram. Ingin bertemu dengan Gusti Prabu Mapanji Alanjung", ujar seorang caraka pilihan Akuwu Wiryamukti dengan penuh hormat.
"Hemmmmmmm..
Kau tunggu disini sebentar. Aku akan melapor pada Gusti Prabu lebih dulu", ujar sang prajurit yang segera berlalu meninggalkan mereka. Selang waktu beberapa saat kemudian, si prajurit itu kembali dan mengajak Janasamba dan ketiga kawannya untuk menemui Prabu Mapanji Alanjung di ruang pribadi Raja.
Keempat orang itu segera menyembah pada Prabu Mapanji Alanjung begitu sampai di ruang pribadi Raja. Mereka segera duduk bersila di lantai dengan rapi. Mapanji Alanjung langsung berdiri dari tempat duduknya sebelum berbicara.
"Mau apa kalian kemari?"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Setelah sejak tadi mengetik, akhirnya rampung juga episode ini.
Selamat beraktifitas kawan kawan semua.
Kalau ada pertanyaan seputar BNL atau novel author yang lain bisa lewat IG author : ebez2812.
__ADS_1
Salam kompak selalu. Semoga terhibur.