Babat Negeri Leluhur

Babat Negeri Leluhur
Selamat Jalan Paman Guru


__ADS_3

Tangan kanan Iblis Bukit Jerangkong segera menyambar leher Panji Watugunung, pria itu mengelak dengan cepat sambil mengayunkan dengkul kanan nya ke arah perut Dadung Awuk.


Kakek tua itu mundur selangkah, kemudian memutar tubuhnya dan sikutnya mengarah ke dada Watugunung.


Panji Watugunung menahan serangan itu dengan tapak tangan kiri sambil menyapu kaki kakek tua kurus itu.


Iblis Bukit Jerangkong melenting ke udara dan menyerang turun dengan serangan tapak bertubi-tubi.


Panji Watugunung segera menahan dengan serangan yang sama.


Plak plak plak


Mereka bertarung dengan jurus silat Padas Putih.


Setelah dua puluh jurus, terlihat mereka sama sama ahli dalam pertarungan jarak dekat.


Dadung Awuk segera menghantamkan tapaknya yang mulai di lambari tenaga dalam, Panji Watugunung menyongsong dengan cara yang sama.


Blarrrrr!


Ledakan keras terdengar saat kedua tapak mereka bertemu.


Keduanya terdorong mundur beberapa langkah ke belakang. Iblis tua itu menatap tajam ke arah Panji Watugunung. Dia merasa seperti bertarung melawan Mpu Sakri.


"Bajingan, kau belajar pada Sakri juga rupanya", Dadung Awuk mendelik tajam.


"Mpu Sakri adalah guru pertama mu, Paman Guru. Jadi kalau paman ingin bertarung dengan Mpu Sakri, aku bisa mewakili nya", Panji Watugunung tersenyum tipis.


"Bangsat!!


Kau tidak pantas melawan ku", Iblis Bukit Jerangkong geram.


Segera dia merapal mantra Ajian Tapak Setan Neraka. Tangannya bergetar hebat saat sinar hijau kemerahan melingkupi seluruh tangannya.


Panji Watugunung segera bersiap. Ajian Tapak Dewa Api di padu Ajian Tameng Waja segera dia keluarkan.


Iblis tua itu segera melompat ke udara dan langsung menghantamkan kedua tangannya bergantian dengan cepat.


Whuttttt whutttt whutttt!!


Sinar hijau kemerahan menerabas cepat kearah Panji Watugunung yang tubuhnya sudah di liputi sinar kuning keemasan.


Blar!!


Blar!!


Blarrrrr!!!!


Tiga sinar hijau kemerahan berhawa panas telak mengenai tubuh Panji Watugunung.


Iblis Bukit Jerangkong segera melayangkan serangan keempat nya.


Siuuuttttt


Tangan kanan Watugunung yang sudah berubah warna menjadi merah menyala segera menghantam ke depan. Sinar merah menyala seperti api menyongsong sinar hijau kemerahan dari tangan Dadung Awuk.


Dhuarrrr!!!!


Ledakan keras terdengar sampai jauh saat dua ilmu andalan itu beradu. Watugunung dan Dadung Awuk kembali terdorong mundur beberapa langkah.


Semua pertarungan sengit memilih menjauhi Watugunung dan Iblis Bukit Jerangkong.


Pedang Iblis yang sedang terluka memilih sedikit mundur dengan perlindungan anak buah nya yang tersisa.


Iblis Bukit Jerangkong menatap geram pada Panji Watugunung. Dia sudah mengerahkan separuh lebih tenaga dalam nya tapi pemuda itu masih bisa mengimbangi nya.


Segera iblis tua itu menata nafasnya. Apa boleh buat, dia akan habis-habisan bertarung melawan Panji Watugunung.


Mulut Iblis Bukit Jerangkong komat kamit merapal mantra. Dari langit hampa tiba tiba muncul sebuah pedang berwarna hitam dengan gagang seperti tulang manusia. Hawa dingin segera menyebar dari pedang yang berbau amis darah itu.


Itulah Pedang Tulang Iblis, salah satu dari 7 pusaka tertinggi dunia persilatan selain Pedang Naga Api dan Golok Iblis Air milik Pangeran Alas Larangan.


Panji Watugunung perlahan mencabut Pedang Naga Api nya. Panas menyengat seperti api segera melingkupi udara di sekitar tempat itu.


Tiba tiba saja waktu terasa berhenti. Panji Watugunung melihat semuanya berhenti bergerak.


Aura kemerahan yang perlahan menyebar, perlahan berubah menjadi sesosok naga berwarna merah. Roh Naga Api muncul di hadapan Panji Watugunung.


"Roh Naga Api, ada apa kau menemui ku?", tanya Panji Watugunung segera.


"Berhati-hatilah lah keturunan Lokapala. Pedang Tulang Iblis itu memiliki kesaktian yang seimbang dengan ku. Temukan kelemahan pemegangnya, kalau tidak dia akan merepotkan", jawab Roh Naga Api.


"Terimakasih atas petunjuk mu Roh Naga Api", Watugunung menghormat pada Roh Naga Api yang kemudian segera menghilang.


Waktu kembali berjalan seperti sedia kala.


Iblis Bukit Jerangkong terkejut melihat Panji Watugunung mampu mencabut Pedang Naga Api dari sarungnya. Hanya Mpu Sakri saja dulu yang mampu mencabut pedang itu. Bahkan Resi Bagaspati gurunya saja tidak mampu.


'Rupanya bangsat ini keturunan Lokapala. Aku harus berhati-hati', batin Dadung Awuk sambil mulai memutar Pedang Tulang Iblis nya.

__ADS_1


Angin dingin bercampur bau amis darah segera bersiutan dari putaran pedang di tangan Dadung Awuk.


Panji Watugunung segera merapalkan Ajian Guntur Saketi di tangan kirinya. Sementara di tangan kanan Pedang Naga Api dia gengam erat.


'Pedang Tanpa Bentuk, jurus ke 9..


Pedang Pembasmi Iblis'


Chiaattttt....


Panji Watugunung menebaskan pedangnya ke arah Iblis Bukit Jerangkong. Hawa panas bercampur cahaya kemerahan menerabas cepat kearah kakek tua kurus itu.


Whuuus...


Iblis Bukit Jerangkong segera menyongsong serangan itu dengan tebasan pedangnya.


Angin dingin berbau amis darah menabrak hawa panas bercampur cahaya kemerahan itu segera.


Blammmm!


Dentuman keras membuat Panji Watugunung dan Iblis Bukit Jerangkong terdorong mundur dua langkah.


Dadung Awuk segera melompat tinggi ke udara dan melayang turun sambil membabatkan pedang nya kearah leher Panji Watugunung.


Putra Bupati Gelang-gelang itu menyambut serangan itu dengan Pedang Naga Api.


Tranggg..


Blammmm!!


Bunga api kecil berloncatan saat dua senjata pusaka itu beradu. Kuatnya pengaruh gelombang kejut dari beradunya pusaka langsung menciptakan ledakan keras.


Panji Watugunung dan Iblis Bukit Jerangkong sama sama terdorong mundur dua tombak. Panji Watugunung segera melesat cepat kearah Dadung Awuk sambil membabatkan pedang kearah dada lawannya.


Iblis tua itu segera menangkis sabetan pedang Panji Watugunung sambil mundur selangkah.


Tringgg...


Blammmm!!


Kembali ledakan keras terdengar lagi hingga jauh.


Pertarungan sengit itu benar benar membuat orang lain di sekeliling semakin menjauh.


Setelah hampir 15 jurus, Panji Watugunung segera melompat tinggi ke udara dan segera mengayunkan pedang nya kearah kepala Iblis Bukit Jerangkong. Kakek bertubuh kurus itu segera melompat ke samping menghindari sabetan pedang sambil melayangkan pukulan tangan kiri nya yang sudah berubah warna menjadi hijau kemerahan.


'Tapak Setan Neraka..


Panji Watugunung segera bersalto dua kali di udara menghindari sinar hijau kemerahan yang keluar dari tangan kiri Iblis Bukit Jerangkong.


Begitu menjejak tanah, dengan cepat bagai kilat dia melesat ke arah Dadung Awuk sambil menyabetkan Pedang Naga Api nya.


Iblis tua itu terkejut melihat kecepatan Panji Watugunung dan segera menangkis sabetan pedang itu dengan Pedang Tulang Iblis nya.


Saat pedang hampir beradu, tangan kiri Watugunung yang diliputi oleh sinar putih kebiruan segera menghantam mengincar dada Iblis Bukit Jerangkong. Kakek tua itu gelagapan dan berusaha menangkis dengan Tapak Setan Neraka nya. Namun terlambat.


Ajian Guntur Saketi Panji Watugunung lebih dulu menghajar dada Iblis Bukit Jerangkong itu.


Dhuarrrr!


Blammmm!!!


Dua ledakan dahsyat beruntun terjadi akibat benturan pedang dan ajian. Iblis Bukit Jerangkong meraung keras saat Ajian Guntur Saketi telak menghajar dada kanan nya. Walaupun sempat memukul bahu kiri Panji Watugunung, tapi tidak setelak pukulan pemuda itu.


Tubuh kurus Iblis Bukit Jerangkong terlempar jauh ke belakang. Pedang Tulang Iblis nya mencelat ke arah Pedang Iblis. Dada kakek tua itu hancur seperti disambar petir. Dia tewas seketika.


Panji Watugunung juga terlemparnya ke belakang namun saat hendak menyentuh tanah, Ratna Pitaloka menyambar tubuh suami itu dan segera mendudukkan tubuhnya.


Bahu kiri nya menghitam akibat pukulan Tapak Setan Neraka. Saat jurus terakhir tadi, Panji Watugunung hanya merapal Ajian Sepi Angin dan Guntur Saketi saja.


Uoooghhhh


Melihat suaminya muntah darah kehitaman, Dewi Srimpi yang baru menebas dada Bidadari Bengis dengan Pedang Kelabang Sewu nya, segera bergegas mendekati suaminya yang mulai memejamkan matanya.


Dengan cepat dia meraih pil pengobat luka dalam berwarna biru dari dalam bajunya dan meminumkannya pada Panji Watugunung.


Ratna Pitaloka terus menyalurkan tenaga dalam nya.


Rasa panas menyengat seperti api langsung merasuk ke dalam tubuh Panji Watugunung.


Huoooggghhh


Panji Watugunung kembali memuntahkan darah. Melihat darah segar itu, Dewi Srimpi tersenyum lega. Segera dia menusukkan jarum kecil berwarna perak pada bahu kiri Panji Watugunung yang menghitam. Menciptakan beberapa luka kecil, lalu menotok urat nadi di bahu. Darah hitam perlahan merembes dari luka kecil yang di buat Dewi Srimpi. Kemudian kulit bahu kiri Panji Watugunung berangsur pulih seperti sedia kala.


Panji Watugunung perlahan membuka matanya. Dewi Srimpi dan Ratna Pitaloka segera tersenyum manis menatap wajah Panji Watugunung yang masih pucat.


Seketika, Panji Watugunung menoleh kearah mayat Iblis Bukit Jerangkong dan berkata,


"Selamat jalan Paman Guru".

__ADS_1


Sementara itu, Warigalit akhirnya mampu membuat Dewa Rampok tewas dengan menusuk leher pemimpin Perampok Bukit Hitam itu.


Sekar Mayang juga berhasil membunuh Setan Pengkor setelah Selendang Es nya telak menghajar dada manusia cacat nan kejam itu.


Gumbreg yang baru saja menggebuk kepala salah seorang anggota Bukit Hitam dengan pentung sakti nya, terus menerjang kearah musuh bagai kerbau gila.


Anak murid Padepokan Bukit Jerangkong hancur nyali nya usai melihat guru besar mereka tewas mengenaskan. Mereka di bawah pimpinan Pedang Iblis yang baru memperoleh Pedang Tulang Iblis mencoba mundur dari medan laga. Namun kesempatan itu semakin menipis, karena mereka terkepung di dua sisi.


Saat genting itu, tiba-tiba sesosok bayangan abu-abu melesat menyambar Pedang Iblis yang terluka. Gerakannya yang cepat membuat semua orang tak sempat mengejar. Mereka lolos setelah melompati tembok istana Pakuwon Watugaluh.


Seratus lima puluh orang anak buah Iblis Bukit Jerangkong yang tersisa, segera melempar senjatanya tanda menyerah dan berlutut setelah pemimpin mereka kabur dari medan perang.


Pasukan Garuda Panjalu bersorak gembira dengan kemenangan ini. Mereka begitu terharu dan bangga menjadi bagian dari pasukan Garuda Panjalu.


Dari 1700 orang yang menyerbu, mereka hanya kehilangan 300 prajurit saja. Sedangkan musuh yang berjumlah sekitar 700 lebih hanya tersisa kurang dari 150 orang.


Para prajurit Pakuwon Watugaluh segera mengikat para tawanan, dan mengantar mereka ke penjara.


Para perwira tinggi prajurit segera mendekati Panji Watugunung yang masih sedikit pucat wajah nya.


"Maaf Gusti Pangeran, mohon turunkan perintah", ujar Tumenggung Adiguna selaku perwira paling sepuh diantara mereka.


"Kubur mayat mayat saudara kita yang gugur hari ini, Tumenggung Adiguna. Kita semua bisa menghirup nafas hari ini adalah karena pengorbanan nyawa mereka.


Untuk musuh, kumpulkan saja mayat mereka jadi satu. Bakar agar tidak menjadi tempat penyakit.


Selepas itu selesai, baru kita berkumpul di balai pisowanan Pakuwon Watugaluh.


Ludaka, Landung dan kau Jarasanda..


Jemput Ayu Galuh dan yang lainnya di perkemahan.


Gumbreg, ikuti mereka. Bongkar tenda perkemahan dan angkut kemari", titah sang pemimpin pasukan Garuda Panjalu.


"Sendiko dawuh Gusti Pangeran", ucap mereka semua kompak. Semua orang segera menjalankan tugas masing-masing dengan cepat.


Panji Watugunung diikuti oleh dua selirnya menuju tempat peristirahatan. Meski masih belum pulih seperti sedia kala, tapi Panji Watugunung sudah tidak merasakan sakit di bahu kiri nya.


Menjelang sore, semua tugas dan pekerjaan masing-masing sudah selesai.


Para prajurit berjaga di semua sudut istana Pakuwon Watugaluh, sedangkan para perwira prajurit berkumpul di bangsal pisowanan Pakuwon untuk membicarakan langkah selanjutnya.


Sementara itu, dua orang berlari menuju ke arah perbatasan Panjalu dan Jenggala. Mereka adalah mata mata dari Jenggala.


"Hayo cepat Kang, kita harus segera melaporkan kejadian ini pada Gusti Tumenggung Srenggapati", ujar si lelaki bertubuh kurus itu sambil terus berlari.


Pria gendut di belakang nya berlari sambil ngos-ngosan mengatur nafas.


Dengan tergesa-gesa mereka segera menyebrang sungai kecil yang menjadi batas wilayah Jenggala dan Panjalu.


Mereka berlari menuju Tamwelang.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Akhirnya selesai juga episode Watugaluh..


Persiapan sebelum perang kolosalnya nih 😁😁😁😁


Terimakasih banyak atas dukungannya terhadap cerita ini, author hanya bisa mendoakan reader tersayang semuanya sehat selalu 🙏🙏🙏🙏

__ADS_1


Selamat membaca guys 😁😁


__ADS_2