Babat Negeri Leluhur

Babat Negeri Leluhur
Sihir Nyi Suhita


__ADS_3

Darah segar mengalir membasahi kepala Mpu Pamadi. Bau anyir bercampur amis yang membuat perut mual langsung meliputi seluruh tubuh Mpu Pamadi. Ada perasaan ingin muntah dari ayah Pangeran Banjarsari itu, namun dia sekuat tenaga menahan diri nya.


Nyi Suhita terus mengguyurkan darah 10 perawan pada tubuh Adipati Kembang Kuning itu sambil membaca mantra mantra puja Batari Durga.


Saat guyuran darah perawan terakhir mengalir, tiba tiba hawa panas segera mengalir ke tubuh Mpu Pamadi. Tubuh Adipati Kembang Kuning itu berguncang hebat. Dia berteriak kesakitan.


AAAARRRGGGGGGHHHHH!!!


Tumenggung Kertawahana yang hendak mendekat kepada Adipati Mpu Pamadi langsung di sambut pelototan mata Nyi Suhita yang menyeramkan.


"Jangan coba-coba untuk menyentuh kulit Mpu Pamadi, Kertawahana!


Biarkan saja! Biarkan Ajian Wastra Mahesa ini bersatu dengan setiap pori pori kulit dan tubuh nya", ujar Nyi Suhita sambil tersenyum menatap Mpu Pamadi yang menggeliat kesakitan.


"Tapi Nyi..."


Belum sempat Tumenggung Kertawahana menyelesaikan ucapannya, Nyi Suhita sudah membentaknya dengan keras.


"Tidak ada tapi!


Dia akan baik baik saja, Kertawahana. Tutup mulut mu dan lihat hasilnya", potong Nyi Suhita sembari terus menatap Mpu Pamadi yang menggeliat bagai cacing kepanasan.


Perlahan darah segar yang menutupi seluruh tubuh Mpu Pamadi menyusut karena terhisap masuk ke dalam tubuh Adipati Kembang Kuning itu.


Melihat itu, Nyi Suhita tertawa terbahak bahak.


"Ehehebehehehehehe...


Sebentar lagi kau akan menjadi manusia pilih tanding, Mpu Pamadi.


Hihihihihihihi", Nyi Suhita terus tertawa melihat tubuh Mpu Pamadi yang menghisap darah segar.


Saat tetes darah segar terakhir masuk, Mpu Pamadi membuka mata nya. Sorot mata lelaki sepuh bertubuh gempal itu menjadi menakutkan layaknya sorot mata iblis dari neraka.


"Kertawahana,


Suruh orang mu mencoba kedahsyatan ilmu ku ini sekarang! Ehehebehehehehehe...", perintah Nyi Suhita sambil tertawa menakutkan.


Tumenggung Kertawahana segera melambaikan dua jari tangan kiri nya pada para prajurit Kadipaten Kembang Kuning yang ikut serta hari itu. Dua orang prajurit berbadan besar langsung mencabut pedangnya kemudian mereka berlari cepat kearah Mpu Pamadi sambil membabatkan pedang nya.


Thrrraaannnnggggg thhraaaangggggggg!


Tubuh Mpu Pamadi seperti logam keras saat pedang prajurit Kembang Kuning menyentuh kulit Adipati Kembang Kuning itu.


Dua prajurit Kembang Kuning itu kembali membabatkan pedang nya namun tetap saja tak mampu melukai Mpu Pamadi.


Semua orang melotot lebar melihat kejadian itu kecuali Nyi Suhita yang terus tertawa terbahak bahak.


Merasa sudah cukup, dua prajurit itu segera mundur dari dalam pagar kediaman Nyi Suhita menyisakan Adipati Kembang Kuning dan Tumenggung Kertawahana saja.


"Ilmu Ajian Wastra Mahesa sudah masuk sempurna ke dalam tubuh mu Adipati Mpu Pamadi.


Ilmu ini hanya punya dua kelemahan dan satu kelemahan dari 2 kelemahan itu sudah di bawa Prabu Airlangga moksa ke nirwana", ucap Nyi Suhita sambil tersenyum memamerkan gigi nya yang menghitam.


"Lalu kelemahan kedua apa Nyi?", tanya Mpu Pamadi dengan cepat. Dia ingin sei tahu tentang kelemahan dari ilmu itu karena dia ingin bersiaga.


"Jaga kedua daerah diantara dua paha mu itu karena hanya itu yang tak bisa di masuki darah perawan. Kau tau kenapa? Karena kau sudah bukan perjaka saat menerima ilmu ini hehehehe", tawa Nyi Suhita terdengar menakutkan bagi siapa saja yang mendengarnya.


"Terimakasih atas bantuan mu Nyi..


Saat Jayengrana aku kalahkan, kau yang akan pelindung ku dalam tahta Kerajaan Panjalu", ujar Adipati Mpu Pamadi sambil tersenyum lebar. Laki laki paruh baya berkumis tipis itu benar benar mabuk kekuasaan.


"Akan ku tagih janji mu itu, Mpu Pamadi..


Bila sampai kau ingkar janji, maka ku pastikan bahwa gandarwa yang ada di dalam tubuh mu itu akan memangsa mu dari dalam hehehehe", Nyi Suhita tertawa lebar dan menatap tajam ke Mpu Pamadi.


"Aku tidak akan berani Nyi Suhita..


Oh iya, ubo rampe yang kau minta sudah ada. Aku mohon undur diri dulu Nyi", ucap Adipati Mpu Pamadi segera.


"Pergilah..


Selepas kau pergi nanti akan ku kirimkan teluh dan santet ku untuk para prajurit Panjalu hehehe", Nyi Suhita mengangguk mengerti.


Mpu Pamadi segera bergegas meninggalkan lembah angker itu menuju ke arah istana Kembang Kuning.


Saat Adipati Mpu Pamadi dan pasukannya sudah menghilang di balik rimbun pohon yang tumbuh di lembah angker, Nyi Suhita segera menoleh ke arah dua cantrik nya yang berwajah aneh dan menyeramkan.


"Banggal, Wandini..


Tata semua mayat mayat perawan itu di sekeliling patung Batari Durga. Cepat!!", perintah Nyi Suhita dengan keras.


Dua cantrik Nyi Suhita yang bernama Banggal dan Wandini itu segera meletakkan mayat mayat perempuan korban Ajian Wastra Mahesa ke sekeliling patung Batari Durga yang ada di belakang rumah Nyi Suhita.


Penyihir itu segera duduk bersila di depan sanggar pamujan nya seraya menaburkan kemenyan keatas anglo pembakaran. Asap putih kemenyan segera mengepul dan membumbung tinggi ke udara.


"Oh Batari Durga, ibu dari segala kehidupan dan kematian..


Oh sang penguasa kematian sejati, tunjukkan aku kuasa mu yang maha agung untuk hamba mu yang hina ini", ucap Nyi Suhita sambil mengangkat kedua tangan ke atas asap kemenyan.


Tiba tiba angin bertiup kencang disertai mendung tebal diatas lembah angker. Satu kilat menyambar ke arah arca Batari Durga hingga hancur berkeping keping.


Dhhhhuummmmmmm!!

__ADS_1


Diatas dudukan arca muncul seorang wanita cantik memakai mahkota kedewaan dengan 6 lengannya.


"Kau ingin apa Nyi Suhita?


Persembahan mu baru saja adalah wujud kesetiaan mu kepada ku", ujar sosok wanita cantik itu segera.


"Oh Batari yang mulia,


Hamba hanya ingin kesepuluh mayat perempuan itu menjadi senjata pelindung bagi hamba, oh Dewi segala dewi", pinta Nyi Suhita yang bersujud kepada sosok wanita cantik itu.


"Ku kabulkan permintaan mu, Nyi Suhita", ujar wanita cantik itu seraya melempar sepuluh jarum emas ke depan Nyi Suhita. Lalu wanita cantik itu menghilang.


ZZZRRRRRRRRTTTTTHHHHH!!


Keanehan segera terjadi saat wanita cantik itu menghilang. Arca Batari Durga yang meledak hancur tiba-tiba menyatu kembali seolah tidak terjadi apa-apa.


Nyi Suhita segera mengambil kesepuluh jarum emas lalu menancapkan ke dahi sepuluh perawan yang menjadi tumbal ilmu kesaktian Adipati Kembang Kuning.


Jarum emas perlahan melesak masuk ke dalam kepala sepuluh gadis yang sudah mati itu. Mata mereka langsung terbuka lebar dan mereka menjadi hidup kembali dengan wajah pucat.


"Hehehehe...


Sempurna! Ajian Mayat Hidup ku memang hebat hehehehe...


Dengarkan perintah ku, kalian sekarang adalah budak ku. Apapun yang aku perintahkan, kalian harus lakukan hehehehe..


Kau dan kau, juga kau dan kau..


Ku kirim kalian ke tempat para prajurit Panjalu. Bunuh mereka sebanyak mungkin", ujar Nyi Suhita sambil menyeringai lebar.


Banggal lalu menyiapkan 4 kuali tanah liat lalu mengisi dengan air bunga 7 rupa dan meletakkan nya di depan arca Batari Durga. Satu kuali ini mewakili satu mayat hidup.


4 orang mayat hidup itu segera di kirim oleh Nyi Suhita menggunakan ilmu teluh nya. Mereka seketika menjadi 4 bola api yang menyala.


Panji Watugunung yang tengah mengatur siasat bersama para perwira tinggi prajurit Daha tiba tiba merasakan sesuatu yang tidak umum. Punggung kiri nya yang tertutup baju menyala terang dengan warna kuning keemasan.


Dewi Srimpi yang mendampingi sang suami segera berucap keras.


"Denmas Prabu, punggung mu...", ucapan Dewi Srimpi membuat para perwira tinggi yang hadir di tempat itu seketika menatap ke arah punggung kiri Panji Watugunung.


Saat para perwira tinggi prajurit Daha itu masih kebingungan dengan apa yang terjadi, tiba-tiba saja...


Bhuuummmmmh bhummmmh..!!


Dhummm dhuum!!


Empat ledakan dahsyat terdengar di tengah perkemahan para prajurit Panjalu. Mendengar suara itu, para perwira tinggi prajurit Daha segera bergegas keluar dari tenda besar diikuti oleh Panji Watugunung dan kedua istrinya.


"A-anu Gusti Senopati,


Tadi ada bola api besar datang dari arah barat kemudian jatuh dan meledak itu", tunjuk sang prajurit sambil menunjuk asap tebal yang mengepul.


Saat mereka masih bertanya-tanya dengan apa yang sedang terjadi, tiba tiba muncul sesosok wanita muda berwajah pucat yang berlari menuju ke arah seorang prajurit. Wanita itu segera melompat dan menggigit leher si prajurit hingga urat nadi nya putus. Si prajurit naas itu segera meregang nyawa.


Kejadian yang begitu cepat membuat para prajurit Panjalu kebingungan sampai mereka tersadar saat teriakan keras Panji Watugunung terdengar.


"Jauhi wanita wanita itu. Mereka bukan manusia!", teriak Panji Watugunung yang membuat para prajurit Panjalu segera membuat pagar betis untuk mengepung pasukan mayat hidup kiriman Nyi Suhita.


Seorang wanita mayat hidup meloncat ke arah seorang prajurit dan berupaya untuk membunuh nya namun sang prajurit dengan cepat menusukkan tombaknya ke arah ulu hati si mayat hidup.


Jleeeeppppph!!


Hhooooaaaarrrggghhh!!


Tombak si prajurit menusuk ulu hati hingga tembus punggung namun si mayat hidup hanya menjerit keras tapi tidak juga mati. Dia justru mencabut tombak yang menancap di ulu hati nya dan menusukkan pada si prajurit tadi.


Cleepppph!


Aarrrggghhhhhhhhh!!!


Si prajurit meraung keras lalu tewas bersimbah darah.


Melihat lawan yang dihadapi tidak bisa mati, para prajurit Panjalu ketakutan. Mereka mundur beberapa langkah ke belakang.


Panji Watugunung segera melesat cepat kearah seorang mayat hidup yang menyerang para prajurit nya dengan ganas.


Satu tendangan keras dari kaki Panji Watugunung menghantam telak di perut mayat hidup. Si mayat hidup terlempar jauh dan menghantam tanah dengan keras. Namun tak lama kemudian dia bangkit lagi dan berlari ke arah Panji Watugunung.


"Gunakan kekuatan Rajah Kala Cakra Buana mu Nakmas Prabu,


Gabungkan dengan ilmu kesaktian mu yang lain, untuk mengatasi mahkluk halus ini", sebuah suara berat terngiang di telinga Panji Watugunung. Itu adalah suara Mpu Soma dari Pertapaan Ranja.


Raja Panjalu itu segera merapal Ajian Guntur Saketi. Bersamaan dengan tangan kanannya diliputi oleh sinar biru keputihan seperti warna kilat yang menyambar, punggung kiri Panji Watugunung bersinar terang kuning keemasan.


Si mayat hidup berusaha mencakar Panji Watugunung namun Raja Panjalu itu berkelit ke samping kanan. Lalu dengan cepat tangan kanannya yang diliputi sinar biru keputihan menghantam dahi mayat hidup itu dengan cepat.


Blllaaammmmmmmm!!


Kepala mayat hidup langsung hancur berantakan. Tubuhnya roboh ke tanah lalu menghitam dan hancur menjadi debu.


Senopati Warigalit yang melihat cara adik seperguruannya itu segera melesat cepat kearah seorang mayat hidup yang tengah mengancam nyawa seorang prajurit.


Tangan kanannya berubah warna menjadi merah menyala seperti api merupakan ciri Ajian Tapak Dewa Api ajaran Mpu Sakri. Warigalit dengan cepat menghantam dahi si mayat hidup.

__ADS_1


Bllaaaaaaaarrrrrr!!!


Si mayat hidup langsung tersungkur ke tanah dengan kepala hancur berantakan. Tubuh mayat hidup itu langsung roboh kemudian menghitam. Sekejap kemudian tubuh mayat hidup itu hancur menjadi debu.


Senopati Dewangkara dan Dewi Srimpi pun bergerak cepat. Mengikuti langkah Panji Watugunung dan Senopati Warigalit, mereka berdua berhasil memusnahkan dua mayat hidup yang tersisa memakai ajian andalan masing-masing.


Keberhasilan mereka langsung mendapat sorak sorai dari para prajurit Panjalu.


Sementara itu Nyi Suhita yang melihat keempat kuali tanah liat nya hancur marah besar. Perempuan tua menyeramkan itu dengan geram menendang sebuah batu besar hingga batu besar itu meledak dan terbelah menjadi beberapa bagian.


"Kurang ajar!


Pasukan Panjalu keparat!! Tunggu saja.. Tunggu saja pembalasan ku'!!", teriak Nyi Suhita yang membuat dua cantrik nya diam ketakutan.


Di tenda perkemahan para prajurit Panjalu, Panji Watugunung segera mengumpulkan para perwira tinggi, menengah dan rendah di depan tenda besar nya. Dia yakin bahwa serangan ilmu hitam baru saja menandakan bahwa akan ada serangan susulan yang lebih mengejutkan.


"Kalian semua aku kumpulkan disini karena kejadian yang baru kita alami. Pasukan Kembang Kuning menggunakan ilmu sesat untuk menyerang kita. Aku yakin serangan tadi baru awalnya saja.


Aku tanya kepada kalian, siapa yang pernah berguru kepada resi atau pandita dan mendapatkan pengajaran tentang mantra penolak bala??", Panji Watugunung mengedarkan pandangannya pada para perwira dari pasukan nya.


Seorang berpangkat Bekel Prajurit dari Kurawan, seorang Demung dari Lasem, seorang Juru dari Lewa dan Seorang Tumenggung dari Anjuk Ladang mengangkat tangan kanannya.


"Baiklah, 4 orang sudah cukup.


Masing masing dari keempat orang ini akan berdiam di keempat penjuru mata angin, membaca mantra penolak bala dan puja Dewa Siwa.


Senopati Dewangkara,


Atur prajurit peronda menjadi dua kali lipat dari biasanya. Malam ini usahakan kita bertahan dalam situasi ini.


Besok pagi kita gempur Kadipaten Kembang Kuning", ujar Panji Watugunung segera.


"Sendiko dawuh Gusti Prabu", ujar semua orang serentak. Lalu mereka semua membubarkan diri untuk menjalankan tugas masing-masing. Menyisakan Senopati Warigalit dan Tumenggung Sindupraja.


"Sindupraja,


Sampaikan pada Pasukan Lowo Bengi untuk memberi kabar pada Pasukan Kurawan dan Pasukan Garuda Panjalu untuk mulai bergerak", perintah Panji Watugunung pada Tumenggung Sindupraja. Lelaki berusia 3 warsa itu segera menghormat pada Panji Watugunung dan bergerak sesuai arahan.


Senja mulai turun dengan secercah sinar jingga kemerahan di ufuk barat. Tak lama kemudian, malam menggantikan nya dengan kegelapan yang bertabur bintang meski tidak sebanyak yang biasanya.


Panji Watugunung sedang duduk bersama kedua istrinya dan Senopati Warigalit saat Tumenggung Sindupraja datang bersama Tumenggung Landung.


Usai menghormat, dua perwira tinggi prajurit Daha itu segera duduk bersila di lantai tenda besar.


"Bagaimana Tumenggung Landung?


Apa pasukan di sebelah selatan sudah siap bergerak?", tanya Panji Watugunung sembari menatap Tumenggung Landung.


Segera perwira prajurit Daha itu menghormat pada Panji Watugunung sebelum berbicara.


"Mohon ampun Gusti Prabu,


Kami tinggal menunggu perintah dari Gusti Prabu Jayengrana. Namun pasukan Kembang Kuning rupanya terbagi menjadi dua dan satu pasukan bertahan di kota Kadipaten Kembang Kuning.


Sisanya membuat pertahanan di Pakuwon Semanding di timur kota Kadipaten", jawab Tumenggung Ludaka dengan cepat.


"Hemmmmmmm..


Kalau begitu, bawa pasukan Lowo Bengi mu menyusup ke dalam Pakuwon Semanding. Aku dan pasukan yang disini akan bergerak perlahan untuk menciptakan suasana ketakutan di kalangan masyarakat Kembang Kuning.


Bilang pada Jarasanda untuk mengambil jalan memutar untuk sampai di Pakuwon Semanding. Kita gempur pasukan Kadipaten Kembang Kuning di Pakuwon Semanding dari dua sisi yang berbeda", perintah Panji Watugunung tegas.


Belum sempat Tumenggung Landung menjawab, dari luar terdengar suara lengkingan keras.


Hooooaaaarrrrggghhh!!


Panji Watugunung dan para perwira tinggi prajurit Daha segera melesat keluar dari tenda besar.


Di langit malam yang gelap, sesosok mahluk yang berwujud api yang berkobar-kobar melemparkan bola bola api pada pasukan Panjalu.


Panji Watugunung yang melihat itu semua langsung menggeram kesal karena di ganggu terus dengan mahkluk kasat mata.


"Banaspati"


.


.


.


.


.


.


.


Ikuti terus kisah selanjutnya 😁


Yang suka silahkan sedekah like 👍, vote ☝️, favorit 💙 dan komentar 🗣️ nya yah 😁


Selamat membaca 🙏😁😁🙏

__ADS_1


__ADS_2