Babat Negeri Leluhur

Babat Negeri Leluhur
Guna Guna Palaguna


__ADS_3

Sekar Mayang garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal mendengar jawaban Panji Watugunung. Lamana segera menyerahkan harta rampasan dari para rampok itu pada Lurah Darsana untuk di kembalikan pada penduduk yang menjadi korban perampok.


Pagi itu, rombongan Panji Watugunung melanjutkan perjalanan mereka kembali setelah berpamitan pada Lurah Darsana. Mereka menuju barat menyusuri jalanan di sepanjang utara sungai Bengawan Solo.


Di tepi sungai kecil, mereka berhenti. Sungai kecil itu merupakan batas wilayah Kadipaten Lasem dan Kalingga.


"Seberang sungai ini sudah masuk wilayah Pakuwon Wadangdowo Gusti Pangeran", ujar Lamana menunjuk ke arah tepi sungai kecil yang merupakan wilayah persawahan.


Tampak para penggarap lahan sedang sibuk mengerjakan pekerjaan mereka.


Panji Watugunung mengangguk sambil mendengarkan penjelasan Lamana.


Setelah bersantap di tepi sungai kecil, mereka melanjutkan perjalanan ke arah kota Pakuwon Wadangdowo yang terletak di kaki gunung Ungaran.


Suasana mendung membuat udara terasa dingin. Sesampainya di kota Pakuwon Wadangdowo, Lamana mengajak Panji Watugunung dan rombongannya ke istana Pakuwon Wadangdowo.


Prajurit penjaga gerbang istana Pakuwon segera menghentikan mereka begitu mereka sampai di depan gerbang istana.


"Berhenti!


Siapa kalian? Orang biasa dilarang masuk ke istana Pakuwon", ucap sang penjaga gerbang istana.


Lamana segera melompat turun dari kudanya diikuti Panji Watugunung, ketiga selir nya, juga Candani, Harsa dan Gentala.


"Katakan pada Akuwu Mpu Magani, bahwa aku Lawana yang datang", ujar Lamana pada sang penjaga gerbang istana Pakuwon.


Sang prajurit itu segera bergegas menuju ke ruang pribadi Akuwu Wadangdowo.


"Kau itu siapa? Sombong sekali menyuruh prajurit seenak jidat mu", ujar Candani yang menatap tajam ke arah Lawana saat prajurit itu masuk ke dalam istana.


"Kau lihat saja nanti", jawab Lawana acuh tak acuh.


Tak berapa lama kemudian, si prajurit kembali dengan tergopoh-gopoh.


"Silahkan masuk Den..


Sudah di tunggu Gusti Akuwu", ujar si prajurit dengan raut muka takut.


Lawana berjalan menuju balai pisowanan Pakuwon Wadangdowo. Di belakangnya, Panji Watugunung dan rombongannya mengikuti.


"Magani memberi hormat kepada Gusti Bekel Lawana", ujar Akuwu Wadangdowo pada Lawana.


"Terimakasih atas keramahan mu Mpu Magani.


Aku membawa surat tugas dari Senopati Lokananta.


Kau baca baik baik sebelum kau kembalikan pada ku", Lawana menyerahkan sepucuk surat kepada Akuwu Wadangdowo itu. Dengan terburu-buru, Mpu Magani segera membuka kain merah yang menjadi pembungkus surat itu kemudian membacanya. Ada rona terkejut pada wajah Akuwu sepuh itu. Segera setelah membaca, Mpu Magani menyerahkan kembali surat itu pada Lawana.


"Saya patuh dengan perintah dari Senopati Lokananta, Gusti Bekel..


Tapi saya tidak bisa melaksanakan tugas secara langsung. Putri bungsu saya sakit Gusti", ujar Mpu Magani sambil menunduk.


"Sakit apa Ki Kuwu?", Panji Watugunung buka suara.


"Maaf Kisanak ini siapa?", tanya Akuwu Wadangdowo itu segera.


"Perkenalkan Mpu Magani, ini Gusti Pangeran Panji Watugunung yang tersebut di surat dari Senopati Lokananta tadi", ujar Lawana segera.


Semua orang terkejut mendengar ucapan Lawana kecuali selir Panji Watugunung. Mpu Magani segera berlutut dan menyembah.


"Ampuni hamba Gusti Pangeran.


Akuwu sepuh ini begitu buta tidak mengetahui ada pangeran Daha yang berkunjung ke Wadangdowo ini".


"Sudahlah, jangan banyak adat.


Sakit apa sebenarnya putri mu?", tanya Panji Watugunung segera.


"Hamba tidak tahu Gusti Pangeran, tapi brahmana dari Siwatantra Ungaran sedang mengobati nya", Mpu Magani segera menghormat.


"Boleh kami melihat nya Ki Kuwu?", Panji Watugunung tersenyum tipis.


"Dengan senang hati Gusti Pangeran", ujar Akuwu Wadangdowo yang segera bergegas menuju ke kamar tidur putri bungsu nya. Panji Watugunung segera mengikuti diiringi oleh ketiga selir nya. Lawana yang hendak mengikuti, di tarik tangan nya oleh Candani.

__ADS_1


"Lawana,


Jelaskan sebenarnya siapa saudara Watugunung itu? Apa ia benar-benar Pangeran dari Daha?", Candani menatap wajah Lamana dengan penasaran. Harsa dan Gentala turut mengerubungi Lamana.


"Dia memang pangeran Daha, Candani. Dia suami putri sulung Prabu Samarawijaya. Kemungkinan besar, jika Prabu Samarawijaya tidak memiliki putra dan hanya putri saja, maka sangat mungkin istrinya menjadi Rani Daha. Dengan demikian, pemerintahan pasti di atur oleh suaminya", jawab Lamana sambil tersenyum tipis.


Candani, Harsa dan Gentala terkejut mendengar ucapan Lamana.


"Tapi mengapa sebagai pangeran Daha, dia tidak membawa pengawal pribadi atau prajurit Lamana? Dan pakaian nya hanya seperti pendekar muda biasa", Harsa masih tak percaya dengan omongan Lamana.


Lamana tersenyum tipis.


"Buat apa pengawal pribadi atau prajurit Harsa?


Dia orang yang sakti mandraguna. Apa kalian pernah mendengar nama Iblis Bukit Jerangkong? Atau berita penyerbuan Watugaluh beberapa bulan kemarin? Dia yang menyelesaikan nya.


Mulanya aku tidak percaya, melihat dia masih begitu muda. Tapi peristiwa di Randuombo tempo hari benar-benar membuka mata ku bahwa Gusti Pangeran Panji Watugunung itu pendekar hebat".


Candani, Harsa dan Gentala saling berpandangan seolah tak percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar. Bahwa selama ini, mereka melakukan perjalanan dengan seorang lelaki yang menjadi buah bibir di kalangan pendekar golongan putih. Gurunya, Resi Soka sangat mengagumi sosok pendekar muda yang membuat harum nama para pendekar golongan putih itu. Candani sedikit menyesal karena telah berani meremehkan kemampuan beladiri Panji Watugunung.


"Tunggu,


Darimana kau bisa tau itu semua? Siapa kau sebenarnya?", tanya Gentala pada Lamana.


"Aku Bekel Lamana, pengawal pribadi Gusti Senopati Lokananta dari Kalingga", jawab Lamana sambil tersenyum tipis dan berlalu menyusul Panji Watugunung dan ketiga selir nya ke kamar tidur putri bungsu Akuwu Wadangdowo.


Untuk kedua kalinya, ketiga murid Padepokan Gunung Alang-alang pimpinan Mpu Soka itu terkejut bukan main. Segera mereka bergegas menyusul Lamana.


Di dalam bilik kamar putri bungsu Akuwu Wadangdowo yang bernama Dewi Wardani, 2 orang brahmana sedang membaca mantra mantra puja untuk Dewi Wardani saat Akuwu Mpu Magani masuk bersama Panji Watugunung dan ketiga selir nya. Istri Mpu Magani, Pu Parwati menunggu dengan cemas.


"Apa yang terjadi Ki Kuwu?", tanya Panji Watugunung yang merasakan hawa aneh di dalam bilik kamar itu.


"Sepekan yang lalu, seorang lelaki bernama Palaguna datang ke istana Pakuwon Wadangdowo bersama seorang lelaki tua, Gusti Pangeran. Dia mengajukan lamaran untuk putri hamba. Tapi karena merasa aneh, putri hamba menolaknya.


Dia marah, kemudian dia pergi meninggalkan istana Pakuwon. Beberapa saat setelah kepergiannya, putri hamba jatuh tak sadarkan diri.


Menurut tabib, putri bungsu hamba ini tidak sakit. Namun dia tetap tidak sadar. Kemudian seorang brahmana menyarankan agar hamba menghubungi Siwatantra Ungaran untuk meminta bantuan. Dan pagi tadi, dua brahmana ini hadir untuk berdoa", Mpu Magani menjelaskan semuanya dengan raut wajah sedih.


Hemmmm


'Rupanya ilmu hitam', batin Panji Watugunung.


"Kau tidak apa-apa, brahmana?", Panji Watugunung menatap wajah brahmana sepuh itu yang terlihat pucat. Darah masih mengalir di sudut bibirnya.


"Aku tidak apa-apa, pendekar muda. Hanya guna-guna ini terlalu kuat", ucap sang brahmana sambil batuk kecil beberapa kali.


Panji Watugunung segera menoleh kearah Mpu Magani.


"Ki Kuwu, undang pandita dan beberapa orang yang bisa melakukan puja mantra.


Cepat!".


Mpu Magani segera bergegas menuju ke halaman. 2 orang penjaga langsung berlari ke rumah pandita. Tak berapa lama kemudian sang penjaga kembali dengan seorang pandita dan 4 orang cantriknya. Mereka segera masuk ke bilik kamar itu.


"Dang Brahmana, bacakan mantra mantra puja sekarang, jangan sampai putus", ujar Panji Watugunung yang segera duduk bersila di lantai bilik kamar. 7 orang segera membentuk lingkaran mengelilingi Panji Watugunung.


Dengan tangan bersilang di depan dada, Panji Watugunung merapal mantra Ajian Ngrogoh Sukma ajaran Warok Suropati.


Di lain tempat, seorang kakek tua berjenggot panjang sedang duduk bersila di taburi bunga mawar, melati dan kenanga. Seorang pria muda berwajah tampan tampak harap harap cemas menunggu.


Rupanya dia menunggu raga sang kakek tua itu yang sedang menjaga sukma Dewi Wardani dari doa para brahmana. Sukma sang kakek tua yang bernama Ki Rongkot tampak bersiap di suatu alam kasat mata.


Whuttttt...


Sukma Ki Rongkot terkejut saat melihat sukma Panji Watugunung datang. Dia tidak menduga akan ada yang mampu menembus mantra ilmu hitam nya.


"Lepaskan dia,


Jangan kotori tangan mu dengan perbuatan nista", ujar sukma Panji Watugunung segera.


"Huhhh


Bukan urusan mu anak muda. Sekali aku bertindak, pantang mundur sebelum berhasil", ujar Sukma Ki Rongkot sambil memutar gada di tangan kanan nya.

__ADS_1


"Kalau kau keras kepala, jangan salahkan aku bertindak kejam kakek tua", ujar sukma Panji Watugunung segera sambil melompat ke arah Sukma Ki Rongkot yang berdiri di depan ikatan tali ghaib pada tubuh Dewi Wardani.


Sukma Ki Rongkot menyambut serangan Sukma Panji Watugunung dengan ayunan gada nya.


Deshhhhh


Benturan keras serangan membuat raga Ki Rongkot bergetar hebat. Keringat bercucuran dari kening nya. Sementara di sisi lain, tubuh Panji Watugunung terlihat terguncang sedikit. Para brahmana, pandita dan 4 orang lain terus membaca mantra mantra puja.


Pertarungan sengit antara sukma Panji Watugunung dan Ki Rongkot terus berlangsung sengit. Saat tendangan keras Panji Watugunung telak menghajar dada Ki Rongkot, kakek tua itu meraung keras dan muntah darah. Merasa tidak bisa memenangkan pertarungan, Sukma Ki Rongkot langsung kembali ke raganya. Tubuh tua itu yang semula kaku langsung bergerak dan muntah darah segar.


Sementara, Sukma Panji Watugunung segera menyambar Sukma Dewi Wardani dan segera kembali ke raganya.


Panji Watugunung segera membuka matanya dan berdiri kemudian tangan kanan nya menyentuh kening Dewi Wardani. Putri bungsu Akuwu Wadangdowo itu perlahan membuka matanya. Seluruh orang disitu tersenyum lega.


Sementara itu, Ki Rongkot yang geram karena merasa kalah, langsung menggenggam bara arang kayu yang ada dihadapannya.


Mulut kakek tua itu berkomat-kamit membaca sesuatu. Dari tangan nya, bola api melayang cepat saat kakek tua itu meniup nya.


"Mampus kau pemuda tengik", teriak Ki Rongkot sambil menyeringai lebar.


Panji Watugunung yang merasakan hawa panas menuju ke arah nya seketika membaca mantra puja Dewa Wisnu ajaran Mpu Soma dari Ranja.


Bola api itu berhenti di depan dada Panji Watugunung. Para brahmana, pandita dan 4 cantriknya yang belum berdiri dari duduknya langsung membaca mantra mantra perlindungan. Semua orang menahan nafas melihat itu semua.


Dari bahu kanan Watugunung, keluar cahaya kuning keemasan bergambar lingkaran roda bergerigi. Rajah Kala Cakra Buana menampakkan wujudnya saat ada ilmu sesat mengancam nyawa Panji Watugunung. Para brahmana sangat kaget melihat itu semua.


Setelah usai mengucap mantra, Panji Watugunung segera menyentil bola api itu sambil berkata,


"Kembalilah pada penyuruh mu".


Thasss...


Bola api itu langsung berbalik arah kembali ke menuju selatan.


Ki Rongkot melotot saat melihat bola api santetnya berbalik arah. Dengan cepat kakek tua menghindar dari terjangan bola api namun Palaguna yang di belakang nya tak bisa berbuat apa-apa. Bola api itu telak menghantam dada Palaguna.


Blarrrrr


Ledakan keras terdengar dan Palaguna meraung keras. Tubuh pemuda tampan itu terlempar dan berhenti menabrak dinding kediaman Ki Rongkot. Palaguna tewas seketika.


Ki Rongkot hanya melihat Palaguna tewas sambil mengusap darah yang mengalir di sudut bibirnya.


"Kau yang minta ini semua"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Author mengucapkan beribu terima kasih kepada semua kakak reader tersayang yang sudah memberikan dukungannya terhadap cerita ini ❤️❤️❤️❤️❤️


Selamat membaca guys 😁😁😁😁

__ADS_1


__ADS_2