
Sementara Panji Watugunung dan Pasukan Garuda Panjalu melaksanakan pembersihan terhadap sisa sisa anggota Gunung Kematian,
berita tentang pasukan Garuda Panjalu membasmi Gunung Kematian beredar cepat berkat para pedagang yang melintas di dua pecahan kerajaan Kahuripan.
Masing masing memiliki kelebihan dan kelemahannya. Ada yang bercerita bahwa pemimpin tertinggi pasukan Garuda Panjalu mampu terbang dengan kecepatan tinggi. Ada yang bilang, pemimpin mereka adalah putra mahkota Daha dengan kesaktian layaknya Dewa yang turun dari kahyangan.
Berbagai cerita itu semakin menambah terkenal pasukan Garuda Panjalu.
Di wilayah Kahuripan Timur, atau Jenggala semua orang yang pernah melintasi perbatasan menceritakan kisah ini.
"Aku mendengar sendiri Ki, pendekar yang menjadi pemimpin mereka memiliki kesaktian yang tiada duanya. Pendekar itu masih muda, punya beberapa selir yang cantik cantik. Kekuatan selir nya bahkan lebih hebat dari bekel prajurit di Pakuwon Bandar ini", seorang pedagang yang sedang makan di sebuah rumah makan di Pakuwon Bandar, asyik berbincang dengan temannya.
"Aku juga dengar dari Ki Rampu yang berdagang ke Daha, pemimpin mereka bahkan mampu mengalahkan Perguruan Gunung Kematian, yang menjadi pengacau keamanan di wilayah Daha. Dewa Maut saja tewas di tangan nya", timpal seorang lelaki muda yang baru bergabung.
"Sesakti apa orang itu tidak ada yang tahu, yang jelas dia itu adalah bangsawan Panjalu. Aku dengar putri raja Daha saja tergila gila padanya", sahut seorang pria paruh baya berjenggot.
"Kita para pedagang, benar benar bersyukur ada pasukan yang mampu mengamankan perbatasan Panjalu. Kita tidak perlu takut di rampok lagi", tukas seorang pedagang yang paling tua diantara mereka.
"Tapi Ki, dengar dengar, dia adalah anak murid Padepokan Padas Putih. Saudara teman ku yang menjadi prajurit di pasukan itu yang bercerita", sambung seorang pemuda yang duduk paling ujung.
"Padas Putih memang selalu melahirkan pendekar tangguh sejak dulu", ucapan pedagang tua itu di sambut anggukan kepala teman nya.
Seorang pemuda berkumis tipis dengan seksama menguping pembicaraan para pedagang itu.
Hemmmm
Pemuda itu segera keluar setelah membayar makan dan bergegas meninggalkan kota Pakuwon Bandar. Kuda nya membawa beban kebutuhan berjalan cepat menuju Padepokan Padas Putih.
Menjelang sore, pemuda itu sampai di gerbang Padepokan Padas Putih.
Penjaga gerbang segera membuka pintu dan mempersilahkan dia masuk.
"Kakang Warigalit, kau sudah pulang", teriak seorang gadis cantik menyambut kedatangan Warigalit.
"Iya Ratri, kakang baru saja sampai", jawab Warigalit sambil menurunkan beban dari kuda nya.
"Mana guru Ratri?", tanya Warigalit kemudian.
"Masih mengajari bocah itu Kakang. Kelihatannya dia dan gadis itu sulit berkembang", jawab Ratri kemudian.
"Aku dulu juga begitu Ratri, di angkatan ku hanya Watugunung saja yang sangat berbakat. Aku selalu ketinggalan jauh dari dia", ujar Warigalit sambil tersenyum simpul.
Dari dalam rumah, Mpu Sakri tersenyum melihat Warigalit dan Ratri mengangkat bahan pokok yang baru di beli dari kota Pakuwon Bandar.
"Kau sudah pulang dari tadi Warigalit?".
"Iya guru, mencari minyak pelita nya yang susah. Tapi menurut pedagang, tidak lama lagi akan mudah sebab kawasan perbatasan Panjalu sudah aman", jawab Warigalit sambil mendekat ke arah guru nya.
"Guru mau dengar tidak berita terbaru di dunia persilatan?".
"Berita terbaru? Apa berita nya Warigalit? Coba ceritakan", Mpu Sakri penasaran.
"Nih, ada seorang lelaki dari Padepokan Padas Putih berhasil menghancurkan Gunung Kematian yang menjadi otak perampokan di wilayah Panjalu", jawab Warigalit sambil tersenyum penuh arti memandang kearah Mpu Sakri.
Hemmmm
"Perguruan Gunung Kematian? Berarti lawan nya Dewa Maut?
Dewa Maut bukan lawan sembarangan. Kalau dia bisa mengalahkan mereka, ilmu nya pasti tinggi", ujar Mpu Sakri sambil mengelus jenggotnya.
"Ya tentu lah tinggi, wong dia murid Mpu Sakri", jawab Warigalit yang di balas mata melotot Mpu Sakri.
"Apa kau tidak salah dengar? Jangan jangan dia Watugunung".
"Benar sekali dugaan guru, coba guru telaah petunjuk pemimpin pasukan yang menyerbu markas Gunung Kematian.
Lelaki muda,sakti, bangsawan, di ikuti selir cantik, dari Padas Putih.
Kalau bukan adik seperguruan ku, tidak mungkin orang lain guru", cerocos Warigalit.
Mpu Sakri tersenyum sambil manggut-manggut senang. Sesuai dugaan nya, Panji Watugunung akan menjadi pendekar hebat.
"Guru kalau di ijinkan, aku ingin sekali bertemu dengan Watugunung, serta Pitaloka dan Mayang", ujar Warigalit kemudian.
Ratri seketika menoleh ke arah Warigalit. Mpu Sakri tersenyum tipis. Mpu Narasima yang baru saja hadir, terheran heran melihat wajah muram Ratri.
"Ada apa cucu ku? Kenapa wajahmu muram begitu?", tanya Mpu Narasima.
__ADS_1
"Kakek, Kakang Warigalit mau turun gunung. Mau ketemu Kakang Watugunung. Aku pengen ikut kek", jawab Ratri sedikit merajuk.
"Benar begitu Warigalit?", Mpu Narasima malah bertanya kepada Warigalit.
"Iya Paman Guru, tapi itu kalau guru mengijinkan", jawab Warigalit pasrah.
Hemmmm
Mpu Narasima segera menoleh ke arah Mpu Sakri. Wajah kakek tua itu seakan meminta jawaban.
"Aku ijinkan, asal mampu menjaga diri dan nama baik Padepokan Padas Putih", jawab Mpu Sakri tersenyum.
"Terimakasih Guru", Warigalit memberikan hormat kepada Resi Mpu Sakri.
Malam segera berganti pagi. Mentari pagi bersinar cerah di ufuk timur. Suara burung pagi bernyanyi di dahan pohon di sekitar Padepokan Padas Putih.
Warigalit dan Ratri memacu kuda mereka meninggalkan Padepokan Padas Putih setelah berpamitan dengan Mpu Sakri dan Mpu Narasima. Dua sesepuh Padepokan Padas Putih itu berdiri di gapura, di iringi Rara Wilis dan Anggapati , murid baru Mpu Sakri, memandang kearah Warigalit dan Ratri yang kemudian menghilang di tikungan bukit.
Warigalit dan Ratri terus memacu kuda mereka kearah utara menuju Pakuwon Bandar. Usai bersantap sebentar, mereka melanjutkan perjalanan menuju barat.
Menjelang senja, mereka tiba di wilayah pakuwon Lantir. Karena hari sudah mulai gelap mereka memutuskan untuk bermalam di hutan kecil di timur Pakuwon Lantir.
Ratri sibuk menata ruang untuk beristirahat, sedangkan Warigalit membakar ayam hutan yang dia tangkap saat tadi siang.
"Kakang, cuacanya kenapa dingin sekali? Apa mau hujan?", tanya Ratri yang menggigil kedinginan.
Warigalit memandang kearah langit malam. Bintang berkelap-kelip diantara awan tebal.
"Sepertinya tidak Ratri, lihat lah langit nya masih berbintang".
"Tapi aku kedinginan Kakang", ujar Ratri dari balik kain selimut nya.
Warigalit tersenyum tipis dan memeluk tubuh Ratri dari belakang. Badan Ratri menjadi lebih hangat. Mereka berdua memakan ayam hutan bakar itu dan tidur masih dalam posisi yang sama.
Pagi menjelang tiba.
Warigalit terbangun karena perutnya lapar. Ratri masih meringkuk di dalam pelukan nya. Dalam diam, Warigalit memandangi wajah cantik Ratri. Memang sejak awal kedatangan nya di Padepokan Padas Putih, Ratri selalu dekat dengan nya. Benih benih cinta tumbuh seiring dengan berjalannya waktu.
"Ratri, bangun. Sudah pagi", ujar Warigalit sambil menggoyangkan tubuh Ratri.
Gadis itu perlahan membuka matanya kemudian menguap lebar.
Warigalit mengangguk pelan.
Setelah bangun, mereka segera mencuci muka di sungai kecil dekat tempat itu. Lalu melompat ke atas kuda mereka dan memacu kudanya kearah Pakuwon Lantir.
**
Sementara itu,
Setelah melakukan pembersihan di Pakuwon Kunjang, pasukan gabungan memisahkan diri.
Bekel Prangbakat dari Pakuwon Randu kembali dengan 30 orang prajurit. Tumenggung Adiguna dari Daha bersama 70 prajuritnya.
Panji Watugunung mengucapkan terima kasih atas bantuan mereka. Kemudian pasukan itu memecah diri. Pasukan Daha ke barat dan Randu ke selatan.
Sedangkan pasukan dari Watugaluh yang tersisa 90 orang, masih di Pakuwon Kunjang untuk bersama sama menuju ke Pakuwon Watugaluh.
Pasukan Garuda Panjalu sudah mempersiapkan segala sesuatunya untuk menuju Watugaluh.
"Ki Kuwu, kami sangat berterimakasih atas kebaikan hati Ki Kuwu selama kami di sini. Mohon maaf jika ada kesalahan yang kami lakukan", ujar Panji Watugunung.
"Gusti Pangeran, tidak seharusnya berkata demikian. Kami di Kunjang sangat bersyukur atas bantuan dari Gusti Pangeran dan Gusti Putri sekalian", jawab Rakeh Kepung menghormat.
"Kami mohon pamit Ki Kuwu", ucap Panji Watugunung yang segera di susul penghormatan dari Akuwu Kunjang dan seluruh prajurit istana Pakuwon Kunjang.
Rombongan Panji Watugunung bergerak perlahan dari istana Pakuwon Kunjang. Rakyat kota Pakuwon mengiringi perjalanan mereka.
Begitu keluar kota, Panji Watugunung dan rombongannya yang di kawal Bekel Setyaka bergerak cepat menuju ke utara. Setelah melewati wanua di wilayah Kunjang, mereka memasuki perbatasan wilayah Pakuwon Watugaluh.
Sore pun tiba.
Rombongan Panji Watugunung dan prajurit pakuwon Watugaluh berhenti di sebuah wanua bernama Demuk. Bekel Setyaka yang mengenal Lurah Wanua Demuk segera menuju ke kediaman nya diantar penjaga gapura wanua.
Seorang pria paruh baya bertubuh tambun dan perut buncit langsung menyambut kedatangan mereka.
"Selamat datang di gubug hamba Ki Bekel, mohon maaf jika penyambutan kami kurang berkenan. Mari masuk ke dalam", ujar si pria tambun.
__ADS_1
"Langsung saja, kami mengawal rombongan Pangeran Daha dan Putri. Ingin bermalam di rumah mu. Apa kau keberatan Pranata?", tanya Ki Bekel Setyaka.
Mata Lurah Pranata segera melebar mendengar pangeran Daha.
"Suatu kehormatan bagi hamba jika di perkenankan menyambut pangeran Daha. Silahkan beristirahat di dalam Ki bekel".
Rombongan Panji Watugunung segera masuk di ikuti oleh pasukan Garuda Panjalu dan prajurit pakuwon Watugaluh.
Untuk jaga malam, bekel Setyaka sudah mengatur anak buah nya. Sedangkan para anggota pasukan Garuda Panjalu diperkenankan beristirahat.
Dewi Srimpi termangu menatap langit malam yang gelap. Gadis itu masih sulit di ajak bicara. Kematian ayahnya begitu mengguncang batinnya. Hanya Panji Watugunung dan Sekar Mayang saja yang bisa mendekati nya.
"Srimpi, kau sudah makan?"
Suara Panji Watugunung membuat Dewi Srimpi menoleh. Gadis itu menggelengkan kepalanya.
Hemmmm
"Sampai kapan kau akan seperti ini Srimpi?
Apa kau tahu, jika paman Kelabang Koro bisa bicara, tentu dia akan bersedih melihat kau yang seperti ini terus", ujar Panji Watugunung.
Tangis Dewi Srimpi segera pecah. Gadis itu menangis sesenggukan.
Panji Watugunung segera mendekati dan memeluk nya. Perlahan Panji Watugunung mencium lembut kening Dewi Srimpi.
Pelukan hangat dari Panji Watugunung perlahan meredakan tangis Dewi Srimpi. Gadis itu memejamkan matanya saat bibir Panji Watugunung menempel di keningnya.
"Maafkan aku Denmas Panji. Seharusnya aku sudah bisa menerima kenyataan. Maafkan aku jika merepotkan Denmas Panji", ucap Dewi Srimpi.
"Sudahlah, jangan banyak pikiran. Sekarang kau makan, aku tidak mau kau sakit", potong Panji Watugunung sambil tersenyum.
"Denmas aku masih malas makan", Dewi Srimpi menundukkan wajahnya.
"Lantas kau mau apa?", Panji Watugunung menyelidik.
Dengan wajah memerah, Dewi Srimpi berkata,
"Aku mau Denmas memenuhi janji pada ayah ku,
Sekarang"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Alamak... Apa pula ini??😁😁😁😁
Jangan lupa untuk dukung author menulis dengan like vote dan komentar nya ya guys
__ADS_1
Selamat membaca 🙏🙏