Babat Negeri Leluhur

Babat Negeri Leluhur
Petaka Bukit Penampihan


__ADS_3

Ratna Pitaloka menatap sebal pada dua putri Adipati Anjuk Ladang itu. Terlihat sekali mereka tertarik dengan suaminya. Untung saja sang suami tidak tertarik sama sekali. Malam itu, jatah nya menemani tidur Panji Watugunung.


Pagi menjelang tiba, mentari hangat mengusir dingin malam beserta bintang bintang nya.


Di paseban Kadipaten Anjuk Ladang, Gunawarman sang Adipati dan Patih Reksapraja sedang berhadapan dengan Panji Watugunung dan kelima orang pengikutnya.


"Kami sudah memberikan jawaban untuk Sang Maharaja Samarawijaya. Terimalah wahai utusan Daha", ujar Gunawarman sambil berdiri.


Panji Watugunung segera menyembah dan mendekati Gunawarman. Seorang dayang mendekat ke arah Adipati Anjuk Ladang itu dengan membawa nampan yang diatasnya terdapat kantong kain berwarna biru.


Setelah mendapat balasan surat dari Adipati Anjuk Ladang, Ratna Pitaloka buru buru menarik tangan Watugunung diam diam untuk segera mundur.


"Terimakasih atas balasan nya Gusti Adipati. Kalau begitu, ijinkan kami undur diri untuk meneruskan perjalanan kami", ucap Panji Watugunung.


Gunawarman mengangkat tangan kanannya.


Panji Watugunung dan kelima pengikut nya segera menyembah dan mundur dari paseban Kadipaten Anjuk Ladang.


Dari paseban, mereka segera bergegas ke sebelah alun alun Anjuk Ladang tempat kuda mereka tertambat. Lalu rombongan Panji Watugunung segera meninggalkan istana kadipaten Anjuk Ladang menuju ke Kadipaten Kurawan. Ketiga selir Panji Watugunung menarik nafas lega.


Mereka tidak akan membiarkan suami mereka kawin lagi.


**


Sementara itu di wilayah Pakuwon Sengkapura Gelang-gelang.


Ratusan orang yang terdiri prajurit Gelang-gelang, pasukan Garuda Panjalu, dan tukang tukang bangunan pilihan dari Daha sedang sibuk bekerja mendirikan bangunan besar di tengah sebuah tanah lapang luas dekat hutan perbatasan dengan Pakuwon Kunjang dan Pakuwon Randu .


Tanah itu adalah tanah pemberian Bupati Gelang-gelang untuk markas Pasukan Garuda Panjalu wilayah selatan yang di pimpin oleh Panji Watugunung. Markas itu dekat dengan Wanua Sanggur.


Biaya pembangunan nya berasal dari sumbangan Istana Daha dan Gelang-gelang.


Sedangkan bantuan dari Seloageng, Kunjang dan Watugaluh datang menyusul kemudian.


Dalam waktu sepekan saja, mereka sudah bisa mendirikan bangunan inti markas.Tinggal atap yang belum selesai.


Ki Saketi mengawasi proses pembangunan itu, di bantu ahli bangunan dari istana Daha dan Gelang-gelang. Mereka tidak ingin mengecewakan Pangeran dan Putri Daha yang akan tinggal disitu. Dengan luas 25 tombak persegi, bangunan utama mirip Puri Istana Daha dalam bentuk kecil.


Pagi itu semua orang terlihat sibuk.


Ludaka tampak sibuk membantu para prajurit Gelang-gelang mengangkut balok kayu besar.


Landung dan Jarasanda kompak menata sirap dan ijuk untuk atap bangunan. Arimbi juga Laras dibantu Juminten dan para wanita dari Wanua Sanggur sibuk menyiapkan makanan untuk ratusan orang prajurit yang bekerja membangun markas mereka.


"Woy Ndung, Jar..


Turun dulu. Waktunya sarapan ini", teriak Gumbreg memanggil Landung dan Jarasanda yang sedang memasang atap.


"Tanggung nih Mbreg, sebentar lagi", jawab Landung sambil terus mengikat tali ijuk pada lapisan atas sirap. Jarasanda juga hanya tersenyum walau keringat bercucuran.


"Buruan saja. Daripada menyesal. Menunda makan, sama dengan bersiap kelaparan kalian", Gumbreg berapi-api.


Mendengar ucapan Gumbreg, Landung menghentikan pekerjaan nya dan melompat turun dari atap di ikuti Jarasanda.


"Maksudnya apa Mbreg? Kog aku masih belum paham", tanya Landung yang masih penasaran.


"Disini ada buto ijo nya. Tuh lagi mengangkut kayu", cibir Gumbreg ke arah Ludaka.


Hahahaha


Landung dan Jarasanda tertawa bersama. Tak di sangka si Gumbreg masih begitu kesal dengan Ludaka karena sate kambing muda nya.


Si Juminten melihat Gumbreg segera berlari kecil mendekat sambil membawa sepiring nasi dan lauk pauk penuh yang cukup untuk 2 orang.


"Ini kang pesenan mu", ujar Si Juminten.


"Ssst dhek Jum ini aduhhh..", Gumbreg gelagapan.


Ludaka yang diam saja dari tadi langsung berucap.


"Wooo ini to ternyata buto ijo nya"

__ADS_1


Jarasanda dan Ludaka tertawa terbahak-bahak, sedangkan Gumbreg hanya cengar-cengir tidak bisa ngomong. Si Juminten yang tidak tahu apa apa, hanya kebingungan melihat mereka semua.


**


Panji Watugunung dan rombongannya terus bergerak cepat menuju ke arah barat. Tengah hari mereka sudah sampai di pinggir hutan kecil pakuwon Tanjung Anom di perbatasan Anjuk Ladang dan Kurawan.


Mereka menambatkan kuda mereka di semak belukar. Sekedar melepas lelah dan membiarkan kuda kuda mereka beristirahat.


Warigalit dan Panji Watugunung melesat cepat menuju ke dalam hutan, sedangkan ketiga selir nya dan Ratri menyiapkan makanan serta air minum perbekalan mereka.


Panji Watugunung yang sedang mencari ayam hutan merasakan adanya pertarungan di balik pepohonan. Segera dia melompat dan hinggap di cabang pohon besar yang tinggi.


Terlihat seorang lelaki tua berpakaian pertapa yang di kelilingi sepuluh pemuda pemudi muridnya sedang di keroyok puluhan orang berwajah sangar.


"Guru bagaimana ini? Kita tidak bisa terus menerus menahan mereka", teriak seorang wanita muridnya. Pakaian mereka sudah tidak berwarna putih lagi melainkan merah karena terciprat darah.


Puluhan mayat laki laki dan perempuan murid Padepokan Bukit Penampihan bergelimpangan di sekitar tempat itu. Dari pihak penyerbu pun juga banyak yang tewas. Kelihatannya pertarungan mereka mendekati akhir.


Lelaki sepuh yang di panggil guru itu sejenak memejamkan mata. Ada gurat kesedihan terlihat jelas di wajahnya. Dua adik seperguruannya sudah tewas di tangan penyerbu dari Goa Siluman.


'Apakah hanya sampai di sini riwayat Padepokan Bukit Penampihan?'.


"Kalian tunggu apa lagi? Cepat bunuh mereka.


Jangan sampai ada yang tersisa", teriak seorang berbadan tinggi besar.


"Tunggu dulu, Kakang Iblis Bumi. Kita pasti menumpas Bukit Penampihan hari ini. Sepertinya Padepokan Goa Siluman akan terkenal di dunia persilatan hahahaha", tawa seorang lelaki tua bertubuh kurus memenuhi tempat itu.


"Benar juga Iblis Kurus. Ternyata nama besar Bukit Penampihan hanya isapan jempol belaka hahahaha", lelaki tua berbadan tinggi besar itu menyeringai lebar.


"Dasar licik. Kalian beraninya main keroyok. Kalau kalian tidak mengeroyok kami, apa bisa kalian membuat kami seperti ini?", teriak seorang murid laki laki dari Bukit Penampihan.


"Tidak peduli dengan omongan mu. Menang ya menang, kalau mau menang ya harus dengan segala cara. Karna jika menang pasti hidup dan yang kalah pasti mampus", jawab seorang lelaki tua berbadan bungkuk sambil menunjuk orang yang berbicara dengan tongkat nya.


"Wanayasa,


Menyerahlah. Serahkan Kitab itu pada kami kalau kau ingin Padepokan Bukit Penampihan mu masih ada.


Hari ini akan ku kirim kau dan murid murid Padepokan Bukit Penampihan ke neraka", teriak Iblis Bumi sambil menunjuk ke lelaki tua berpakaian pertapa.


Begawan Wanayasa, pemimpin generasi ke 5 Padepokan Bukit Penampihan memejamkan matanya. Lebih baik dia mati daripada menyerahkan Kitab 5 Tapak Dewa.


Kakek tua itu segera tersenyum.


"Kau sudah tau jawaban ku Iblis Bumi. Sampai mati pun kitab ini tak kan ku serahkan pada mu".


"Dasar tak tahu di untung!


Akan ku kabulkan keinginan mu Wanayasa", teriak Iblis Bumi yang segera mencabut pedang besar nya dan melesat cepat menuju Begawan Wanayasa.


Panji Watugunung yang sedang mengawasi jalannya pertarungan sengit di kejutkan oleh Warigalit yang melompat ke samping nya.


Tangan Warigalit masih menenteng 3 ekor ayam hutan yang sudah mati.


"Ada apa ini Dhimas Watugunung?", tanya Warigalit yang sekilas melihat.


"Sepasang 3 kakek tua itu menginginkan sebuah kitab dari pertapa itu. Jangan gegabah Kakang, aku lihat kemampuan kanuragan mereka cukup tinggi", jawab Watugunung sambil menunjukkan 3 Kakek tua berwajah seram.


Warigalit hanya mengangguk pelan saja.


Sementara itu, pertarungan antara Begawan Wanayasa dan Iblis sangat sengit. Masing-masing sangat handal dalam bertahan dan menyerang.


Iblis Bumi dengan cepat mengayunkan pedang besar nya ke arah leher Begawan Wanayasa. Kakek tua itu mundur sambil memukulkan tongkatnya ke arah kepala Iblis Bumi.


Iblis tua itu segera menghindar dan mencoba mencari celah dengan menyabetkan pedang nya kearah pinggang Begawan Wanayasa.


Kakek tua segera melompat ke udara dan sambil menghantamkan tangan kiri nya yang sudah di lambari ilmu tenaga dalam.


Whutttt


Blammmm

__ADS_1


Iblis Bumi dengan cepat menghantam tanah dan melesat cepat ke udara menghindari pukulan tangan kiri Begawan Wanayasa yang menciptakan ledakan keras di tanah. Iblis tua itu segera mengayunkan pedang besar nya.


Angin dingin bercampur debu tercipta dari sabetan pedang Iblis Bumi. Itulah kekuatan Pedang Bumi milik Iblis Bumi yang tersohor.


Angin menderu kencang kearah Begawan Wanayasa. Begawan Wanayasa melompat ke samping .Debu beterbangan merepotkan penglihatan mata Begawan Wanayasa.


Tiba tiba Iblis Bumi sudah di depan nya dan menyabetkan Pedang Bumi nya mengincar leher Begawan Wanayasa yang tidak siap.


Begawan Wanayasa hanya pasrah saat itu.


Namun saat genting itu, sebuah bayangan kuning keemasan segera menghadang sabetan Pedang Bumi dari Iblis Bumi.


Tranggg..


Pedang Bumi seperti membabatkan logam baja yang keras. Tangan Iblis Bumi tergetar hebat, nyaris saja pedang nya jatuh.


Iblis tua itu segera mundur satu tombak ke belakang.


Panji Watugunung dan Warigalit yang dari tadi melihat pertarungan, segera melesat cepat. Panji Watugunung menghadang sabetan pedang dan Warigalit menarik tubuh Begawan Wanayasa yang ternyata terluka dalam.


Semua orang di tempat itu terkejut melihat kemampuan dua orang itu.


"Bangsat!


Siapa kau? Berani ikut casting urusan ku", Iblis Bumi berteriak keras.


"Aku hanya seorang pengelana yang kebetulan lewat. Melihat kalian mengeroyok orang, tentu saja kami tidak bisa tinggal diam", jawab Watugunung sambil tersenyum simpul.


"Bedebah!


Minggir kau atau aku tidak sungkan lagi", Iblis Bumi berang. Melihat kemampuan nya menahan sabetan Pedang Bumi milik nya, membuat Iblis Bumi tak ingin menghadapi nya.


"Sudah Kakang, jangan lama lama. Kita habisi saja dia bersama sama", teriak Iblis Kurus sambil memutar senjata nya yang berbentuk cakar besi.


"Ayo serang dia", Iblis Bumi melesat cepat sambil mengayunkan pedang besar nya, Iblis Kurus dan Iblis Bungkuk pun mengayunkan senjata mereka masing-masing.


Panji Watugunung tersenyum tipis melihat serangan dari tiga arah berbeda. Seketika cahaya kuning keemasan segera melingkupi seluruh tubuh Panji Watugunung.


"Majulah kalian kakek kakek tua,


Aku adalah lawan mu!"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.......


Yang kangen Gumbreg siapa hayo??😁😁


Ikuti kisah selanjutnya guys


Jangan lupa untuk dukung author terus semangat menulis dengan like vote dan komentar nya 👍👍👍👍

__ADS_1


Selamat membaca guys 😁😁


__ADS_2