Babat Negeri Leluhur

Babat Negeri Leluhur
Bara Cinta Rara Sunti


__ADS_3

Sorak sorai para prajurit Daha yang memenangkan pertempuran langsung terdengar.


Para perwira prajurit menarik nafas lega. Beban berat di pundak mereka seperti terangkat sudah.


Dari pasukan Panjalu, 4 ribu prajurit gugur sebagai pahlawan. Sedangkan dari Jenggala, 8 ribu prajurit tewas, 4 ribu prajurit menyerah dan 2 ribu prajurit kabur dari medan tempur.


Prajurit Jenggala yang menyerah, di wajibkan menggali lubang untuk makam para teman nya yang tewas.


Sementara pasukan Daha juga memakamkan jenazah rekan seperjuangan mereka yang gugur.


Usai pemakaman umum itu, pasukan Jenggala di giring ke penjara Kadipaten Lasem. Sementara para prajurit Daha menyebar di seputar kota Kadipaten Lasem untuk memberikan rasa aman bagi para penduduk yang tinggal di kota itu.


Sepekan setelah peristiwa berdarah itu, keadaan perekonomian Lasem perlahan pulih seperti sedia kala.


Panji Watugunung dan keempat istrinya menempati istana Lasem sambil menunggu perintah dari istana Daha.


**


Seorang gadis cantik berambut panjang dengan dandanan layaknya seorang pendekar dengan pedang tergantung di pinggang memacu kudanya meninggalkan rumah makan di utara kota Kadipaten Karang Anom. Sorot matanya yang teduh dan kulit nya yang sawo matang semakin terlihat cantik saat angin menerpa wajahnya.


Sudah hampir setengah purnama dia meninggalkan rumah nya di Kadipaten Wengker.


Dia adalah Cempluk Rara Sunti, putri bungsu sang Lurah Wanua Karangrejo, Warok Suropati.


Semenjak kepergian Panji Watugunung dari rumah nya, gadis cantik itu seperti kehilangan semangat hidup.


Warok Suropati yang mengerti isi hati sang putri bungsu nya, terus berupaya keras untuk mengalihkan perhatian nya dari Panji Watugunung namun usaha nya sia-sia saja.


Berbekal ilmu kanuragan tinggi yang di pelajari dari ayah nya, akhirnya Cempluk Rara Sunti memutuskan untuk pergi mencari pujaan hatinya di Daha. Rela tidak rela, Warok Suropati melepaskan putri nya itu. Tak lupa sepucuk surat dia titipkan pada Cempluk Rara Sunti agar di kemudian hari saat bertemu dengan Panji Watugunung, akan di berikan kepada sang pangeran Daha itu.


Setelah menyeberang sungai Brantas, gadis cantik itu berhenti di lapak warung makan dekat dermaga penyeberangan.


"Permisi Kisanak,


Apa benar ini arah menuju ke Daha?", tanya Cempluk Rara Sunti pada pria paruh baya pemilik warung makan.


"Gadis cantik, kau mau ke Daha ya?", tanya si pemilik warung makan itu sambil menatap ke arah wanita itu.


"Benar Kisanak,


Saya hendak pergi ke Daha", jawab Cempluk Rara Sunti dengan sopan.


"Sebaiknya kau lewat kota Gelang-gelang saja, gadis muda.


Akan lebih cepat kau kesana, dan jalan nya juga lebih aman. Kau lurus saja ke utara, setelah hutan kecil itu, ada pertigaan belok kiri melewati kota Pakuwon Janti. Nanti lurus sudah sampai di kota Gelang-gelang", si pemilik warung makan itu menunjukan jalan pada Cempluk Rara Sunti.


Setelah berterima kasih kepada si pemilik warung, Cempluk Rara Sunti melompat ke atas kuda nya dan menggebrak kuda yang melesat cepat meninggalkan tempat itu.


Setelah melewati hutan kecil, di tepian hutan suara pertarungan sengit terdengar oleh Cempluk Rara Sunti.


Buru buru gadis itu menarik kekang kudanya dan berhenti. Gadis cantik itu langsung melompat turun dari kudanya dan mengendap endap di balik pepohonan rimbun di tepi hutan kecil itu.


Perlahan Cempluk Rara Sunti mengintip dari balik pohon Wadang. Di padang rumput dekat sungai kecil seorang gadis di kepung tiga orang lelaki berwajah sangar.


"Hahahaha, menyerahlah saja Nawangsari.


Nanti akan ku jadikan kau gundik ku", tawa keras dari sang pria paruh baya berpedang dengan kumis tebal.


Phuihhh


"Tak sudi aku jadi gundik mu Sembrani. Sekalipun kau pejabat istana Gelang-gelang pun aku tetap tak mau", teriak gadis berbaju biru itu sambil mengangkat pedang nya.


"Bedebah!


Di kasih hati malah minta jantung. Lekong, Kombang.. Tangkap dia cepaaatt!!", teriak Sembrani yang mulai gusar.


Dua orang pria berbadan besar itu segera melompat maju mengeroyok Nawangsari. Tiba tiba saja..


Brukkk


Oughhh


Lekong langsung terkapar di tanah. Dia pingsan setelah menerima tendangan keras pada kepalanya dari Cempluk Rara Sunti yang melesat cepat dari balik rimbun pepohonan.


Kombang dan Sembrani terkejut melihat itu semua. Juga Nawangsari yang tengah bersiap untuk mengadu nyawa.


"Bedebah!

__ADS_1


Mengganggu urusan orang saja. Apa kau juga minta aku jadikan gundik, gadis cantik?", ujar Sembrani sambil menyeringai lebar.


Phuihhh


"Kau tidak pantas menjadi suami ku buaya buntung, muka mu saja seperti pantat kuda masih ingin nambah istri.


Jijik aku melihat mu", ucapan pedas dari Cempluk Rara Sunti membuat Sembrani marah besar.


"Kurang ajar!


Cari mati kau rupanya".


Sembrani langsung menyerang Cempluk Rara Sunti dengan pedangnya. Namun putri Warok Suropati itu dengan mudah menghindari sabetan pedang Sembrani.


Gerakan lincah dan gesit dari Cempluk membuat serangan Sembrani seperti tidak ada artinya. Sepuluh jurus berlalu, dan Sembrani sudah ngos-ngosan mengatur nafas nya.


Sembrani langsung mengincar leher Cempluk, gadis itu menunduk sedikit sambil berkelit ke samping lantas melepaskan pukulan keras ke dada Sembrani.


Deshhh


Aughhhhh


Sembrani langsung menjerit dan muntah darah segar akibat kerasnya pukulan Cempluk. Tubuhnya terpental satu tombak ke belakang.


Di sisi lain, Pujawati yang tengah menghadapi si Kombang juga telak menebas dada laki laki itu. Kombang tewas bersimbah darah.


"Terimakasih atas bantuannya pendekar muda", ucap Nawangsari sambil menghormat pada Cempluk Rara Sunti yang masih menatap Sembrani yang pingsan di tanah.


"Ah hanya bantuan kecil. Jangan terlalu sungkan", jawab Cempluk Rara Sunti dengan menarik tali kekang kudanya dan berniat untuk pergi.


"Tunggu dulu Pendekar muda,


Maaf jika aku lancang. Hari sudah sore. Sebaiknya kita bermalam di rumah guruku. Guruku pasti senang bertemu dengan mu", ujar Nawangsari menghentikan langkah Cempluk Rara Sunti.


Putri Warok Suropati itu menatap ke arah langit yang mulai memerah. Gadis itu mengangguk tanda setuju. Mereka berdua kemudian berjalan beriringan menuju ke sebuah rumah di pinggir kota Pakuwon Janti.


Tak berapa lama kemudian, mereka sudah sampai di tempat yang di tuju. Seorang lelaki tua berambut putih dan seorang lelaki muda berbaju putih sedang duduk berbincang di serambi rumah.


"Ayo masuk pendekar muda", ajak Nawangsari setelah Rara Sunti mengikat tali kekang kudanya pada pohon mangga di halaman rumah.


"Perkenalkan nama ku Nawangsari, ini kakak seperguruan ku Taradipa. Yang sepuh itu guruku, Ki Ajar Panitih", Nawangsari memperkenalkan semua orang di rumah itu.


"Nawangsari dia.."


"Rara Sunti ini sudah menolong ku guru, saat aku di keroyok Sembrani dan 2 teman nya", potong Nawangsari saat gurunya meminta penjelasan.


Ki Ajar Panitih segera tersenyum tipis. Hanya Taradipa yang terlihat masih kesal.


"Kau kenapa Taradipa?", tanya Ki Ajar Panitih yang melihat raut muka jelek Taradipa.


"Mereka itu, Sembrani dan kawan nya selalu mencari waktu saat Nawangsari sendirian", geram Taradipa.


"Sudah lah, mereka tidak akan berani lagi Kakang, Rara Sunti sudah membuat mereka babak belur", ujar Nawangsari yang melihat ke arah Rara Sunti.


"Terimakasih atas bantuannya nisanak.


Kalau boleh tau, nisanak ini darimana dan hendak pergi kemana?", tanya Ki Ajar Panitih sopan.


"Saya dari Wanua Karangrejo, wilayah Pakuwon Tapa di Kadipaten Wengker.


Tujuan saya adalah ke Daha, mencari murid ayah ku yang bernama Panji Watugunung Ki", jawab Rara Sunti sambil tersenyum.


"Dari Wengker? Jauh sekali nisanak", ujar Ki Ajar Panitih terkejut.


Nawangsari tampak mengerutkan keningnya. Dia mencoba mengingat sesuatu. Seketika wajah nya berbinar.


"Siapa tadi yang kau cari Rara Sunti? Panji Watugunung?", tanya Nawangsari kemudian.


"Iya Nawangsari, dia adalah murid ayah ku..


Kau kenal?", Cempluk Rara Sunti penasaran dengan omongan Nawangsari baru saja.


"Tunggu dulu Rara Sunti..


Guru,


Bukankah Watugunung itu orang yang pernah menolong kita dulu saat berhadapan dengan Setan Mata Satu?", Nawangsari menatap wajah Ki Ajar Panitih segera.

__ADS_1


Kakek tua itu terkejut, kemudian dia tersenyum tipis.


"Benar Nawangsari. Dia orangnya.


Di wilayah Panjalu ini ada berita tentang pasukan khusus yang dipimpin oleh putra Bupati Gelang-gelang yang bernama Panji Watugunung, nisanak.


Menurut berita yang beredar, mereka baru saja mengalahkan pasukan Jenggala yang hendak menyerang Daha lewat Seloageng.


Kalau kau ingin mencari tau tentang dirinya, sebaiknya kau ke istana Gelang-gelang", ujar Ki Ajar Panitih sambil mengelus jenggotnya.


"Terimakasih atas bantuannya Ki,


Budi baik ini tidak akan pernah aku melupakan nya", ujar Cempluk Rara Sunti sambil tersenyum simpul.


"Kau sudah menolong murid ku nisanak, bantuan ini bukan apa apa", ujar Ki Ajar Panitih segera.


Malam itu, Cempluk Rara Sunti bermalam di rumah Ki Ajar Panitih di pinggir kota Pakuwon Janti.


Pagi menjelang tiba.


Suara kokok ayam jantan bersahutan membangunkan semua orang. Burung kepodang dan kutilang ramai berkicau riang di atas pohon mangga di halaman rumah Ki Ajar Panitih.


Cempluk Rara Sunti langsung memacu kudanya meninggalkan rumah itu usai berpamitan kepada Ki Ajar Panitih dan kedua muridnya.


Dia menuju ke arah kota Gelang-gelang.


**


Di istana Kadipaten Lasem.


Di balai peristirahatan Kadipaten, Panji Watugunung sedang duduk di temani oleh ketiga istrinya. Dewi Srimpi masih di dapur istana kadipaten sedang menyiapkan makanan kecil dan wedang jahe kesukaan Panji Watugunung.


"Apa rencana kakang Watugunung selanjutnya?", tanya Ratna Pitaloka sambil menatap wajah suaminya itu.


"Aku ingin kita pulang ke Gelang-gelang Dinda,


aku ingin menemani Dinda Anggarawati di masa masa kehamilan nya.


Toh untuk sementara, Jenggala tidak akan berani melakukan tindakan ceroboh dengan mengirimkan pasukan mereka lagi bukan?", Panji Watugunung tersenyum tipis.


"Iya Kakang, aku juga capek berperang. Ingin aku menikmati hari tenang tanpa bau darah", sahut Sekar Mayang.


Ayu Galuh hanya diam tak bicara. Sejak tadi pagi kepalanya pusing sekali. Perutnya mual mual tidak karuan.


Dewi Srimpi datang membawa pisang rebus dan gethuk serta wedang jahe untuk Panji Watugunung. Saat menaruh nampan di meja, tiba tiba...


Hoeeeegggggg...


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Hayo apa itu Ayu Galuh?😁😁


Beribu terima kasih author ucapkan kepada kakak reader tersayang semuanya atas dukungannya terhadap cerita ini 👍👍👍👍


Tinggalkan jejak dukungan kakak reader tersayang semuanya dengan like 👍, vote ☝️ dan komentar 🗣️ nya

__ADS_1


Yang mau kasih bunga 🌹 atau kopi ☕, author terima dengan senang hati 😁😁😁😁


Selamat membaca guys 🙏😁🙏🙏😁


__ADS_2