Babat Negeri Leluhur

Babat Negeri Leluhur
Keputusan Dewan Mahkota


__ADS_3

Pangeran Banjarsari terdiam seribu bahasa. Dia sudah tidak bisa berkelit menghindari tuduhan yang dialamatkan kepada nya. Namun otak liciknya tetap berusaha keras untuk memikirkan cara agar lepas dari hukuman mati yang pasti di terimanya.


Sudah menjadi hukum dalam keturunan wangsa Isyana, bahwa siapapun yang berkhianat terhadap kerajaan akan mendapat hukuman mati sebagai ganjaran perbuatannya.


"Kangmas Pangeran Jayengrana,


Mohon ampuni aku Kangmas. Aku berjanji akan setia kepada mu jika kau mengampuni dosa ku pada kerajaan Panjalu.


Aku mohon ampun Kangmas Pangeran Jayengrana", hiba Pangeran Banjarsari sembari berlutut dihadapan Panji Watugunung.


"Kau sebagai pangeran Daha, seharusnya sudah tahu hukuman apa yang akan di berikan kepada seorang Sentana keraton yang berkhianat, Pangeran Banjarsari.


Dharmadyaksa Mpu Karna,


Bacakan kitab Hukum Rajaniti agar di dengar jelas oleh semua orang yang hadir di sini", perintah Panji Watugunung seraya berjalan menuju ke tempat duduknya.


Seorang lelaki sepuh berambut putih dengan kumis yang memutih berdiri dari tempat duduknya. Di bawah lampu minyak yang menjadi pelita di balai paseban agung Keraton Daha, pria sepuh itu mengeluarkan gulungan daun lontar dari kantong kain berwarna merah yang di ulurkan oleh seorang lelaki muda yang merupakan cantrik sang Dharmadyaksa.


"Lontar Rajaniti..


Bagian sangsi dan hukuman pada tindak pengkhianatan terhadap kerajaan.


Bahwa siapapun yang berkhianat terhadap kerajaan Panjalu, apapun kasta dan pangkatnya, jika terbukti bersalah maka akan mendapat hukuman mati berupa hukuman gantung atau hukuman pancung.


Untuk keluarga yang di tinggalkan, akan di lakukan penyelidikan. Bilamana terbukti terlibat dalam perkara pengkhianatan terhadap kerajaan, maka akan mendapat hukuman sesuai perintah pemegang kekuasaan tertinggi. Bila tidak terlibat, maka akan di lepaskan semua pangkat dan derajat keluarga dan di buang sesuai dengan keputusan pemegang kekuasaan tertinggi", ujar Mpu Karna dengan lantang.


Usai membacakan Kitab Hukum Rajaniti, Dharmadyaksa Mpu Karna kembali menggulung lontar dan memasukkan ke dalam kantong kain berwarna merah lalu menyerahkan pada cantriknya.


Suasana di Balai Paseban Agung Keraton Daha hening. Para punggawa istana diam seribu bahasa tak berani bersuara.


"Kalian semua sudah mendengar sendiri bunyi Hukum Rajaniti.


Pangeran Banjarsari,


Kau dengan sah dan meyakinkan terbukti melakukan upaya pembunuhan terhadap Yuwaraja Panjalu dan Mapatih Panjalu, hingga menyebabkan kematian Nyi Sukesi istri Mapatih Jayakerti maka dengan ini aku putuskan besok pagi kau akan di hukum gantung di alun alun Kotaraja Daha.


Agar menjadi contoh bagi masyarakat dan punggawa Istana Daha agar tidak berkhianat terhadap Kerajaan Panjalu.


Paman Mapatih Jayakerti,


Dengarkan titah ku selaku Yuwaraja Panjalu. Besok pagi kau yang bertugas memimpin hukuman mati untuk Pangeran Banjarsari", ujar Panji Watugunung dengan tegas.


"Sendiko dawuh Gusti Pangeran Jayengrana. Segala titah Gusti Pangeran Jayengrana akan hamba jalankan", ucap Mapatih Jayakerti sembari menyembah pada Panji Watugunung.


Demikianlah, sidang di Balai Paseban Agung Keraton Daha berakhir dengan keputusan hukuman mati untuk Pangeran Banjarsari. Meski suami Rara Wulandari itu merengek, menangis dan menghiba meminta ampun, tapi Panji Watugunung tetap menjalankan hukum sesuai dengan Kitab Hukum Rajaniti. Tumenggung Ludaka, Tumenggung Adiguna dan Tumenggung Landung menggelandang para pelaku kejahatan itu ke penjara Kotaraja Daha.


Pagi itu, langit di atas Kotaraja Daha tertutup mendung tebal. Sinar matahari pagi hanya mampu menerobos di sela sela mendung tebal yang menggelayut.


Di alun-alun Kotaraja Daha, sebuah panggung di siapkan untuk hukuman mati Pangeran Banjarsari dan para pengikutnya. Tali hukuman gantung tertata rapi berjajar pada kayu jati kokoh.


Ribuan orang memadati alun alun Kotaraja Daha, ingin menyaksikan pelaksanaan hukuman mati bagi para pengkhianat negara yang menghebohkan seluruh Kotaraja Daha tadi malam.


Dheeeenngggggghhh!


Suara bende berbunyi nyaring terdengar dan para pengkhianat negara itu di giring satu persatu dari penjara Kotaraja Daha. Suara riuh rendah bersahutan bercampur olok olok dan makian dari orang orang yang berkumpul di sana semakin membuat suasana menjadi gaduh.


Satu persatu mereka mulai naik ke atas kursi diatas panggung. Para algojo langsung memakaikan tali yang akan mengambil nyawa Pangeran Banjarsari, Randupati dan ketiga orang yang terlibat dalam upaya pembunuhan terhadap Yuwaraja dan Mapatih Panjalu pada leher masing masing orang.


Usai tali terpasang pada leher mereka, sebuah suara bende terdengar kembali.


Dheeeennggggggh!


Seketika suara para penonton yang ramai menghilang. Suasana begitu senyap.


Mapatih Jayakerti dengan lantang bicara di depan semua orang yang memadati alun alun Kotaraja Daha.


"Dengar baik baik..


Atas nama Maharaja Panjalu yang menurunkan kuasa pada Yuwaraja Panjalu, Pangeran Jayengrana.


Dengan perintah Gusti Pangeran Jayengrana, maka aku Mapatih Jayakerti menjatuhkan hukuman mati berupa hukuman gantung kepada Pangeran Banjarsari, Randupati, Rewanda, Gambu dan Ginowo atas tindak pengkhianatan mereka yang berupaya untuk membunuh Gusti Pangeran Jayengrana dan aku Mapatih Jayakerti", usai berkata demikian Mapatih Jayakerti mundur beberapa langkah ke belakang lalu menoleh ke arah algojo yang sudah bersiap.


Shrraaaakkkkhhhh..

__ADS_1


Dalam satu sentakan keras, tali yang mengikat kursi yang menjadi pijakan kaki Pangeran Banjarsari dan para pengikutnya ambruk membuat tali yang di leher langsung mencekik.


Tubuh Pangeran Banjarsari sempat kelojotan sebentar sebelum akhirnya diam untuk selamanya.


Hingga setengah hari, mayat Pangeran Banjarsari dan para pengikutnya dibiarkan begitu saja agar menjadi contoh dan peringatan kepada rakyat Panjalu agar tidak berkhianat terhadap negara.


Menjelang matahari tergelincir ke langit barat, para prajurit Panjalu menurunkan mayat-mayat itu lalu membawanya ke arah selatan kota. Mereka membakarnya bersama-sama agar tidak menjadi sarang penyakit.


Berita tentang adanya tindak pengkhianatan terhadap kerajaan Panjalu dengan cepat menyebar luas di seluruh wilayah Panjalu.


Ini segera menimbulkan pergolakan di antara masyarakat. Ada yang mendukung tindakan Panji Watugunung namun ada pula yang mengatakan bahwa hukuman itu terlalu kejam untuk seorang pangeran.


Di istana Daha tengah di persiapkan upacara peringatan 40 hari kematian Gusti Prabu Samarawijaya.


Seluruh abdi dalem, dayang istana dan pelayan sibuk menyiapkan segala sesuatunya. Ratusan penjor dan hiasan janur kuning menghiasi seluruh sudut istana Daha.


Maharesi Mpu Soma beserta Dharmadyaksa ring Kasaiwan dan Dharmadyaksa ring Kasogatan tengah duduk bersila di depan sanggar pamujan tempat abu Gusti Prabu Samarawijaya di semayamkan.


Di kelilingi puluhan brahmana dan biksu serta biksuni, mereka berdoa kepada Tuhan Semesta Alam dengan mantra mantra Yadnya.


Bau setanggi yang harum memenuhi udara di sekitar tempat itu. Asap putih kemenyan dan dupa yang di bakar turut membuat suasana di sanggar pamujan menjadi sakral dan suci.


Panji Watugunung yang baru saja hadir mengenakan kain putih tanda duka cita bersama para kerabat dekat istana Daha. Diantara mereka, Rara Wulandari dan Ayu Retnosari tidak di perbolehkan hadir karena suami mereka terlibat dalam upaya makar terhadap Kerajaan Panjalu.


Nampak Maharesi Mpu Soma yang sudah selesai mengucapkan mantra Yadnya menaruh sebatang dupa di depan sanggar pamujan dengan hati hati. Lelaki sepuh berjenggot putih itu segera menoleh ke arah Panji Watugunung. Melihat anggukan kepala halus dari Maharesi Mpu Soma, Panji Watugunung berjalan jongkok mendekati sanggar pamujan. Di depan abu Sang Maharaja Samarawijaya, Panji Watugunung membakar dupa kemudian menancapkan nya pada tempat yang telah di sediakan.


Setelah itu dilanjutkan oleh para kerabat dekat istana Daha yang berurutan mulai dari Gusti Permaisuri Dyah Kirana, lalu Larasati, kemudian para selir raja yang lain. Ayu Galuh dan para putri Prabu Samarawijaya yang lain juga berurutan membakar dupa dan menaburkan bebungaan ke atas bokor emas yang menjadi tempat abu jenazah Prabu Samarawijaya.


Selanjutnya diadakan acara pembagian makanan kepada masyarakat yang hadir di alun-alun Kotaraja Daha. Mereka bergembira memperoleh makanan enak cuma cuma dari dapur Istana Daha.


Usai acara peringatan 40 hari meninggalnya Prabu Samarawijaya, anggota keluarga di istana Daha berkumpul di ruang pribadi Raja. Mereka adalah Permaisuri Dyah Kirana, Ayu Galuh berpasangan dengan Panji Watugunung, Dewi Gitarukmi berpasangan dengan Pangeran Wiramukti, Pangeran Sambu berpasangan dengan Rara Pujawati, Pangeran Mangkubumi berpasangan dengan Dewi Sitoresmi, ditambah Rakryan Mapatih Jayakerti, Rakryan Mahamantri Mpu Gangga dan Rakryan Mahamantri Mpu Rikmajenar. Permaisuri Dyah Kirana tidak punya hak suara, tapi dia yang menerapkan keputusan.


Setelah beberapa saat menghela nafas panjang, Dyah Kirana mulai berbicara.


"Seluruh kerabat dekat Istana Daha,


Hari ini tepat 40 hari sudah Kangmas Prabu Samarawijaya meninggalkan kita semua. Kita semua berduka atas meninggalnya raja yang arif dan bijaksana seperti Kangmas Samarawijaya.


Namun duka cita yang kita rasakan tidak boleh berlarut larut. Sebuah negara tidak boleh tanpa pemimpin terlalu lama. Negara lain akan memandang rendah serta meremehkan kita bila tidak ada Raja yang menjadi panutan bagi para kawula di Panjalu ini.


Aku selaku sesepuh di istana Daha memberikan masing setiap orang untuk memilih seorang yang pantas menjadi pemimpin kita di masa depan", ujar Dyah Kirana dengan lembut dan penuh wibawa.


Usai Dyah Kirana berbicara, Mapatih Jayakerti segera angkat bicara.


"Mohon ampun Gusti Permaisuri,


Sebelumnya saya minta maaf kepada seluruh anggota keluarga kerajaan Panjalu yang hadir pada hari ini. Saya mengikuti langkah Gusti Prabu Samarawijaya sejak masih di Medang. Karena saya prajurit yang patuh pada setiap ucapan pimpinan saya.


Saat terakhir Gusti Prabu Samarawijaya masih sempat memerintahkan kepada Gusti Pangeran Jayengrana untuk meneruskan tahta kerajaan Panjalu. Hamba yakin, ucapan terakhir Gusti Prabu Samarawijaya bukan hanya sekedar wasiat semata karena walau bagaimanapun Gusti Pangeran Jayengrana masih keturunan wangsa Isyana", ucap Mapatih Jayakerti dengan penuh hormat.


Sontak semua orang yang di dalam ruang pribadi Raja tersentak, kecuali Panji Watugunung yang masih nampak tenang. Bahkan Ayu Galuh pun ikut kaget mendengar kebenaran tentang suaminya.


"Jelaskan pada kami, Mapatih Jayakerti.


Darimana asal usul Pangeran Jayengrana yang sebenarnya?", tanya Dyah Kirana, sang permaisuri Daha.


Mapatih Jayakerti tersenyum simpul sebelum berbicara.


"Baiklah, akan ku jelaskan silsilah yang sebenarnya. Gusti Pangeran Jayengrana atau Gusti Pangeran Panji Watugunung adalah putra Bupati Gelang-gelang, Panji Gunungsari dan Dewi Sekar Pembayun. Panji Gunungsari adalah putra Pangeran Mapanji Lintang Ketawang dan Dewi Rengganis yang merupakan putri bungsu Maharaja Dharmawangsa yang masih kecil saat terjadi pralaya di istana Medang.


Panji Gunungsari merupakan paman dari Gusti Prabu Samarawijaya, hingga Yang Mulia selalu memanggil Gusti Pangeran Jayengrana dengan sebutan Dhimas", senyum terkembang di bibir tua Mapatih Jayakerti.


Semua orang nampak kaget mendengar penuturan Mapatih Jayakerti. Ayu Galuh pun menatap wajah tampan suaminya sendiri sampai tidak berkedip. Saat Panji Watugunung mencolek nya, barulah ia sadar dan kembali bersikap seperti semula.


"Karena itu menurut hamba, hanya Gusti Pangeran Jayengrana lah yang paling pantas menjadi Raja Panjalu selanjutnya. Hamba melihat diantara para pangeran yang lain, hanya Gusti Pangeran Jayengrana yang merupakan keturunan langsung dari wangsa Isyana. Ditambah Gusti Putri Ayu Galuh adalah putri sulung dari Gusti Prabu Samarawijaya, maka penerus tahta kerajaan Panjalu berikutnya adalah Gusti Pangeran Jayengrana", imbuh Mapatih Jayakerti segera.


Setelah mempertimbangkan berbagai hal, Panji Watugunung di sepakati akan di mahkotai sebagai Raja Panjalu selanjutnya. Dari seluruh orang yang hadir, hanya Mahamantri Rikmajenar dan keluarga Pangeran Mangkubumi yang tidak memberikan persetujuan maupun penolakan.


Selanjutnya Dyah Kirana menetapkan sepekan lagi, akan di lakukan upacara penobatan Panji Watugunung atau Pangeran Jayengrana sebagai Maharaja Panjalu. Mapatih Jayakerti dan Nayakapraja Mpu Gangga di minta menyiapkan segala keperluan untuk upacara penobatan raja Panjalu yang baru.


Mulai hari itu seluruh istana dan Kotaraja Daha berbenah untuk menyambut Raja baru. Para utusan dikirim ke berbagai daerah kekuasaan untuk meminta para penguasa daerah hadir dalam upacara penobatan Pangeran Jayengrana.


Berita itu dengan cepat menyebar luas di kalangan masyarakat Panjalu. Lewat para pedagang yang keluar masuk Kotaraja Daha, berita penobatan raja baru Panjalu menjadi perbincangan hangat bagi semua orang.

__ADS_1


Di sebuah warung makan di wilayah tapal batas kota Kadipaten Kembang Kuning, seorang lelaki bertubuh kekar dengan pakaian hitam lusuh nampak tengah menikmati makanan yang disajikan. Wajah nya yang tampan namun terlihat bengis tersamar dengan caping bambu yang menutupi hampir semua wajahnya.


Di hadapannya seorang lelaki bertubuh gempal nampak menikmati makanan dengan lahap. Mereka berdua telah berkuda nyaris 4 hari tanpa berhenti.


Di warung kecil yang hanya berisi 3 meja itu, dua orang pedagang tengah asyik mengobrol sambil mengunyah pisang rebus mereka.


"Kang Joyo,


Apa kau dengar berita tentang acara penobatan Raja Panjalu yang baru? Kata pedagang yang baru dari Kotaraja Daha, yang menjadi raja selanjutnya adalah Pangeran Jayengrana yang sebelumnya menjabat sebagai Yuwaraja", ujar si pedagang bertubuh kerempeng dengan gigi rompal satu.


"Aku dengar juga begitu, adik..


Menurut para pedagang yang ku temui di pasar tadi pagi, ternyata Yuwaraja Panjalu itu masih keturunan dekat wangsa Isyana. Makanya Dewan Mahkota Kerajaan Panjalu memutuskan untuk mengangkat nya menjadi raja selanjutnya", Ki Joyo terlihat paham dengan apa yang sedang terjadi.


Si lelaki bertubuh kekar dengan pakaian hitam lusuh itu tersentak saat mendengar ucapan terakhir si pedagang. Sedari tadi ia memang menguping pembicaraan mereka.


'Kurang ajar Jayengrana, tunggu saja pembalasan ku', batin si lelaki bertubuh kekar berpakaian hitam lusuh yang tak lain adalah Suryanata.


Begitu Suryanata dan Galungwangi selesai makan, mereka segera membayar biaya makan mereka. Dengan sedikit terburu-buru, mereka berdua segera kearah geladakan kuda yang ada di samping halaman warung makan itu.


"Selanjutnya kita akan kemana, Gusti Suryanata?", tanya Galungwangi saat mereka sudah naik ke atas punggung kuda mereka masing-masing.


Sebelum menggebrak kuda tunggangan nya, Suryanata menghela nafas panjang lalu berkata,


"Kita temui Paman Adipati Kembang Kuning"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Ikuti terus kisah selanjutnya kak 😁

__ADS_1


Yang suka silahkan tinggalkan jejak kalian dengan like 👍, vote ☝️, favorit 💙 dan komentar 🗣️ nya yah 😁


Selamat membaca 😁🙏😁😁🙏😁


__ADS_2