Babat Negeri Leluhur

Babat Negeri Leluhur
Utusan Istana Daha


__ADS_3

Sementara Panji Watugunung dan pasukan Garuda Panjalu mempersiapkan diri, di istana Dahanapura, di ruang pribadi raja.


Sang Maharaja Samarawijaya berbincang dengan sang Patih Jayakerti dan Rakryan Ranggawangsa.


"Ampun Gusti Prabu, telik sandi yang hamba kirim sudah mengabarkan bahwa pasukan Garuda Panjalu yang menjadi penjaga keamanan di perbatasan selatan Sungai Brantas, sudah berhasil menekan aksi gerombolan pengacau keamanan di beberapa wilayah. Saat ini mereka berada di Pakuwon Kunjang Gusti Prabu", ujar Patih Jayakerti sambil memberi hormat.


"Hamba juga mendengar berita, pemimpin mereka Panji Watugunung begitu di sukai oleh rakyat di wilayah yang dia bantu Gusti. Para Akuwu di wilayah pinggiran, menyukai Panji Watugunung karena kerendahan hatinya", timpal Rakryan Ranggawangsa.


"Bukankah itu bagus Paman Ranggawangsa?", potong Sang Prabu Samarawijaya kemudian.


"Hamba hanya khawatir Gusti Prabu", Rakryan Ranggawangsa menghentikan ucapannya membuat Sang Raja semakin penasaran.


"Khawatir dengan apa paman? Cepat katakan saja".


"Hamba khawatir dengan posisi Gusti Prabu", jawab Rakryan Ranggawangsa.


"Apa maksud dari kata kata mu Paman Ranggawangsa? Aku semakin tidak mengerti", jawab Sang Prabu Samarawijaya semakin kebingungan.


"Sebagai sesama keturunan Lokapala, kalau di lihat urutan, keluarga Panji Watugunung juga berhak atas takhta Kahuripan Gusti. Mungkin jika tidak terjadi Mahapralaya di Medang dulu, yang menjadi raja Kahuripan adalah Panji Gunungsari , bukan ayahanda Gusti Prabu Samarawijaya yaitu Gusti Prabu Airlangga", Rakryan Ranggawangsa menjelaskan.


Hemmmm


Sang Prabu Samarawijaya menghela nafas panjang.


"Jadi paman takut kalau keluarga Panji Gunungsari akan menuntut hak atas takhta Kahuripan?", tanya Sang Prabu Samarawijaya.


"Benar Gusti Prabu, itulah yang menjadi dasar kekhawatiran hamba dengan kepopuleran Panji Watugunung di kalangan masyarakat pesisir perbatasan", jawab Rakryan Ranggawangsa.


"Aku mengerti kekhawatiran mu Paman, tapi jika kita menghentikan langkah Panji Watugunung sama saja kita menggali lubang untuk diri kita sendiri? Bukankah saat ini kita sedang menghadapi ancaman dari Jenggala?


Sementara ini, tidak ada Panglima pasukan yang ku anggap cakap untuk berperang selain Panji Watugunung dan Rakai Manoreh dari wilayah utara.


Rakai Manoreh terlalu grusa grusu, itu nilai kurang nya. Panji Watugunung mengancam karena dia keturunan Kanjeng Eyang Lokapala, tapi kalau boleh memilih aku akan memilih Panji Watugunung.


Jika kita memiliki anak muda dengan potensi untuk mampu menahan serangan Jenggala, kita tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan itu Paman", Sang Prabu Samarawijaya memandang kearah langit..


"Kita harus mengikat kesetiaan Panji Watugunung tanpa harus menyingkirkan nya dari tingkat keprajuritan di Panjalu ini Paman Ranggawangsa".


Sebuah ide melintas di kepala Mapatih Jayakerti. Pria berusia 40 tahunan itu tersenyum.


"Gusti Prabu, hamba punya sebuah ide yang hamba jamin jika Panji Watugunung pun tidak akan pernah berani berpikir untuk berbuat macam-macam terhadap tahta Gusti Prabu", ujar Mapatih Jayakerti.


"Apa ide mu Paman Mapatih?", tanya Sang Prabu Samarawijaya segera.


Mapatih Jayakerti segera menjelaskan ide nya. Juga tentang pelaksanaan tata cara nya.


Sang Prabu Samarawijaya dan Rakryan Ranggawangsa mengangguk tanda setuju.


"Bukankah ini seperti melipat dua tangan dalam satu kantong Gusti Prabu? Kita bisa menyelesaikan 2 masalah dengan satu tindakan?", tanya Mapatih Jayakerti.


Samarawijaya tersenyum tipis.


"Ide mu bagus Paman Mapatih, besok kirim utusan ke Pakuwon Kunjang. Minta Panji Watugunung sendiri menghadap ku secepatnya", titah sang Prabu Samarawijaya.


"Sendiko dawuh Gusti Prabu", Mapatih Jayakerti menghaturkan sembah dan segera mundur dari kediaman pribadi Raja.


Sang Prabu Samarawijaya menghela nafas lega kemudian...


**


Di balai peristirahatan Pakuwon Kunjang, yang menjadi markas sementara pasukan Garuda Panjalu, Panji Watugunung sedang menunggu berita dari telik sandi Pakuwon Kunjang, dan pasukan Garuda Panjalu.


Seperti biasa Dewi Anggarawati yang sejak kemarin memasak untuk suaminya, mulai menata makanan di bantu oleh Sekar Mayang dan Ratna Pitaloka. Sedangkan Dewi Srimpi tidak pernah jauh dari majikannya, menjadi pengawal sekaligus pelayan setia nya.


"Kangmbok Sekar, semalam kan giliran mu sudah. Nanti malam kau tidak boleh menganggu ku", ujar Dewi Anggarawati sambil mengguyurkan kuah pada lele bakar kesukaan Panji Watugunung..

__ADS_1


"Aku sudah tau Putri Manja, tak perlu kau beri tau aku sudah mengerti", jawab Sekar Mayang menata pinggan di nampan.


"Eleh, aku tidak bisa percaya dengan omongan mu Mayang.


Kemarin di Pakuwon Randu, kau terus menempel kakang Watugunung sedangkan hari itu adalah jatah ku menemaninya", cibir Ratna Pitaloka yang di sambut tawa oleh Dewi Anggarawati dan Sekar Mayang.


Mereka begitu rukun..


Ludaka baru saja melaporkan sedikitnya ada tiga markas pasukan pengacau keamanan.


"Dimana markas terbesar mereka?", tanya Panji Watugunung.


"Mereka ada timur laut pakuwon. Ada seratus orang lebih Gusti yang berdiam di situ.


Saya melihat mereka berpakaian serba hitam dengan tanda segitiga putih di ikat kepala mereka", jawab Ludaka.


Hemmmm


"Dari Gunung Kematian rupanya. Laporan telik sandi Pakuwon juga menambahkan, di markas timur laut, jumlah orang nya tidak menentu", sahut Panji Watugunung segera.


"Ini berbahaya kalau kita salah perhitungan"


"Denmas, sudah waktunya untuk makan", bisik Dewi Srimpi lirih.


Panji Watugunung mengangguk pelan tanda mengerti. Dia harus segera pergi menuju meja makan kalau tidak Dewi Anggarawati akan mengomelinya.


"Di sambung setelah tengah hari. Tetap pantau terus, dan laporkan setiap perkembangan yang terjadi".


"Sendiko dawuh Gusti Panji", Ludaka menghormat dan mundur dari depan Panji Watugunung.


Begitu Ludaka menjauh, Panji Watugunung dan Dewi Srimpi segera bergegas ke meja makan. Berbagai jenis masakan ada di sana. Dewi Anggarawati, Ratna Pitaloka dan Sekar Mayang sudah menunggu kedatangan suami mereka dengan senyum manis nya.


Mereka berlima makan dengan lahap. Masakan Anggarawati memang paling enak.


Lewat tengah hari, 3 orang lelaki berpakaian prajurit menggebrak kuda kuda mereka menuju Pakuwon Kunjang. Mereka sudah melewati tapal batas Pakuwon Kunjang dan terus memacu kuda mereka secepat mungkin menuju kota pakuwon Kunjang.


"Sebentar lagi. Setelah wanua ini, kita sudah sampai di Pakuwon Kunjang", usai berkata, pria paruh baya itu segera menggebrak kuda nya.


Menjelang senja, mereka sudah sampai di gerbang istana pakuwon. Para prajurit penjaga segera memberikan hormat kepada mereka saat mereka memasuki istana Pakuwon Kunjang.


Panji Watugunung yang sedang bersantai dengan istri istri nya di dalam bangsal peristirahatan di kejutkan oleh seorang prajurit pakuwon.


"Mohon maafkan hamba Gusti,


Gusti Panji Watugunung di panggil oleh Gusti Akuwu Kunjang. Ada utusan istana Daha yang mencari Gusti Panji Watugunung", prajurit Pakuwon memberikan hormat.


Panji Watugunung saling berpandangan sejenak dengan Dewi Anggarawati, kemudian berkata, "Kami akan segera kesana".


Prajurit Pakuwon itu menghormat pada Panji Watugunung kemudian bergegas kembali ke paseban Pakuwon Kunjang.


Dewi Anggarawati tersenyum dan segera mendandani suaminya dengan busana ala bangsawan di bantu oleh Sekar Mayang dan Ratna Pitaloka.


"Suami ku gagah sekali", puji Dewi Anggarawati setelah selesai mendandani suaminya.


"Eh bukan suami mu saja, tapi juga suami kami", potong Ratna Pitaloka di sambut senyum manis Sekar Mayang.


Panji Watugunung hanya tersenyum tipis mendengar pujian para istri nya. Segera Panji Watugunung bergegas menuju ke paseban Pakuwon di iringi Dewi Srimpi.


Di paseban Pakuwon, sudah menunggu seorang lelaki paruh baya dan dua orang pengikut nya serta Akuwu Rakeh Kepung.


"Mohon maaf mengganggu istirahat Gusti Panji, hamba hanya menjalankan tugas. Gusti Panji ini adalah Tumenggung Adiguna, salah satu tumenggung sepuh di keraton Daha", ujar Rakeh Kepung memperkenalkan tamu agung nya.


"Salam hormat saya kepada Tumenggung Adiguna. Saya Panji Watugunung kepala pasukan Garuda Panjalu", Panji Watugunung segera memberi hormat.


"Ja-jangan begitu Gusti Panji, jangan sungkan kepada saya. Kita sama-sama abdi dalem Keraton Dahanapura", potong Tumenggung Adiguna gugup.

__ADS_1


'Ada apa dengan Kanjeng Tumenggung? Tidak biasanya beliau gugup menghadapi orang', pikir dua prajurit pengiring Tumenggung Adiguna saling berpandangan.


Ya, Tumenggung Adiguna memang ketakutan. Mapatih Jayakerti memerintahkan kepada nya untuk membawa Panji Watugunung ke istana.


Karena orang itu adalah calon senopati Daha.


Demikian perintah yang di terima oleh nya.


"Maaf Paman Tumenggung Adiguna, ada hal penting yang membuat paman jauh jauh datang ke sini?", tanya Panji Watugunung.


"Saya diutus Gusti Maharaja Samarawijaya untuk mengawal Gusti Panji Watugunung ke istana Dahanapura. Ini nawala nya Gusti", ujar Tumenggung Adiguna sambil menyerahkan sepucuk surat dari daun lontar.


"**Panji Watugunung,


Aku Penguasa Panjalu Maharaja Samarawijaya


Memerintahkan kepada mu


Untuk segera menghadap ke istana Daha**"


Panji Watugunung menutup lembaran daun lontar yang ada di tangan nya.


"Saya mengerti Paman Tumenggung Adiguna, ada hal rahasia yang tidak di jelaskan dalam surat ini"


Tumenggung sepuh itu tertegun sejenak. Dia tidak menduga bahwa pemuda tampan itu memahami isi surat itu dengan cepat.


Panji Watugunung menghela nafas panjang sebelum berkata,


"Besok pagi saya akan ke istana Daha"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Apa sebenarnya ide dari Mapatih Jayakerti?


Bagaimana kisah perjalanan Panji Watugunung selanjutnya??

__ADS_1


Temukan jawabannya di episode selanjutnya ya guys 😁😁😁😁


Selamat membaca..


__ADS_2