Babat Negeri Leluhur

Babat Negeri Leluhur
Menuju ke Kahuripan


__ADS_3

Rakryan Samarotsaha nampak mengernyitkan dahinya. Terasa ada sesuatu yang mengganjal pemikiran pria berkumis tipis itu. Namun untuk bertanya lebih lanjut, dia lebih suka menahan diri.


'Lebih baik aku tahan rasa keingintahuan ku', batin Rakryan Samarotsaha sambil menatap wajah Mapatih Dyah Bayunata.


"Ada urusan apa kau kemari, Gusti Pangeran?


Apa ada hal penting yang perlu dibicarakan dengan ku?", tanya Dyah Bayunata segera. Patih sepuh itu tidak ingin berlama-lama berurusan dengan Rakryan Samarotsaha.


"Maafkan saya Gusti Mapatih,


Kedatangan saya kemari adalah untuk melaporkan persiapan yang akan kita lakukan untuk acara pernikahan keponakan saya Gusti Pangeran Mapanji Alanjung.


Semua sudah di atur sedemikian rupa tinggal menunggu waktu.


Apakah kita harus menyiapkan pengamanan berlapis untuk acara itu?", Rakryan Samarotsaha nampak memaksakan kehendaknya agar Mapanji Alanjung segera menikahi putri sepupunya. Dengan menikahkan Mapanji Alanjung dengan kerabatnya, maka kedudukan nya akan menjadi kuat di pemerintahan Jenggala.


"Kita sedang sibuk melakukan persiapan untuk menghadapi pasukan Panjalu, Gusti Pangeran.


Apakah pernikahan ini di tunda atau tidak, itu tergantung pada keputusan Gusti Maharaja Garasakan", ucap Mapatih Bayunata sambil melirik kearah Rakryan Samarotsaha yang tampak berubah raut wajahnya. Terlihat ada ketidaksenangan pada wajah putra angkat Prabu Airlangga itu.


"Saya mengerti Gusti Mapatih,


Seandainya bisa maka kita harus secepatnya karena Gusti Pangeran Mapanji Alanjung sudah cukup umur.


Keturunan wangsa Isyana harus tetap dijaga agar para penguasa Jenggala tetaplah keturunan Gusti Maharaja Garasakan", ujar Samarotsaha dengan cepat.


"Baiklah Gusti Pangeran,


Akan ku bahas ucapan mu ini dengan Gusti Prabu. Secepatnya akan ku beri kabar gembira bagi mu", mendengar ucapan Mapatih Bayunata, Rakryan Samarotsaha nampak lega. Putra angkat Prabu Airlangga itu segera menghormat pada Mapatih Dyah Bayunata dan segera bergegas mundur dari serambi Kepatihan Jenggala.


'Dasar licik,


Aku tau maksud mu Samarotsaha. Setelah melewati peperangan ini, ku pastikan bahwa kau tidak akan pernah bisa mengatur pemerintahan di Jenggala', batin Mapatih Bayunata sambil menatap kepergian Rakryan Samarotsaha.


Dyah Bayunata segera memerintahkan kepada para prajurit penjaga Kepatihan untuk memanggil para punggawa istana Kahuripan ke kediamannya.


Malam itu, mereka membicarakan tentang rencana pembuatan pertahanan para prajurit Jenggala dalam persiapan menghadapi para prajurit Panjalu.


Keesokan harinya dimulailah persiapan para prajurit Jenggala membangun pertahanan di hutan Marsma yang menjadi tempat mereka menghadang para prajurit Panjalu.


Senopati Wirondaya menata para prajurit Jenggala di beberapa sisi hutan itu. Tumenggung Mandalika, Tumenggung Kalanjana dan Tumenggung Gerpa memimpin pasukan mereka masing-masing di bantu para Demung dan Bekel Prajurit.


Semuanya nampak mempersiapkan diri sebaik mungkin karena mereka akan di pimpin langsung oleh Prabu Mapanji Garasakan.


**


Jauh di barat, tepat nya di kota Matahun.


Demung Marakeh yang baru menyelesaikan laporan nya duduk dengan tenang. Panji Watugunung nampak senang mendengar laporan Demung Marakeh.


"Bagus sekali,


Kapan kira-kira mereka sampai kemari Marakeh?", tanya Panji Watugunung sambil tersenyum tipis.


"3 atau 4 hari lagi mereka sampai kemari, Gusti Pangeran. Menurut Gusti Senopati Narapraja, mereka berupaya untuk mempercepat perjalanan mereka kemari karena menghadapi pasukan Jenggala, pasti akan membutuhkan banyak prajurit", jawab Demung Marakeh seraya menghormat pada Panji Watugunung.


Kemenangan Senopati Narapraja dan Maitreya menahklukan Bojonegoro memang nyaris tanpa perlawanan. Para prajurit Bojonegoro tidak berdaya menahan gempuran para prajurit Panjalu yang memiliki pengalaman dan kemampuan tempur yang handal.


Hanya dalam waktu sepekan, Senopati Narapraja berhasil membuat Adipati Bojonegoro menyerah tak bersyarat pada prajurit Panjalu.


Berita jatuhnya Matahun turut membuat mental para prajurit Jenggala yang ada di Kadipaten Bojonegoro runtuh. Mereka tahu, Adipati Danaraja itu orang yang sakti mandraguna. Kalau sampai ada yang mampu mengalahkan nya, maka bisa di pastikan bahwa dia melebihi batas kemampuan beladiri sang jagoan Matahun.


Adipati Tunggaraja, yang masih bersaudara dengan Ratna Pitaloka lebih memilih untuk menyerah pada Panjalu di karenakan kalah jumlah maupun kepungan para prajurit Panjalu yang membuat para punggawa Kadipaten Bojonegoro menyarankan agar Adipati Tunggaraja menyerah daripada mati sia-sia.


Panji Watugunung tersenyum lebar.


Apalagi setelah mendengar ucapan Demung Marakeh yang mengatakan kalau Adipati Tunggaraja menyerah. Suami Ratna Pitaloka itu segera menoleh ke arah sang istri yang nampak tersenyum tipis.


"Ternyata saudara sepupu mu lebih pintar membaca situasi Dinda Pitaloka", ujar Panji Watugunung pada Ratna Pitaloka yang duduk di sebelah Dewi Srimpi.


"Benar Kakang,


Untung saja dia segera mengakui keunggulan dari para prajurit Panjalu. Dengan demikian pertumpahan darah bisa di hindari", balas Ratna Pitaloka yang segera mengangguk.


Hari itu Panji Watugunung segera mempersiapkan para prajurit Panjalu yang ada di kota Matahun untuk mulai bersiap bergerak menuju kota Kahuripan.


Mereka mempersiapkan segala sesuatunya untuk menghadapi perang besar yang akan mereka hadapi di ibukota kerajaan Jenggala itu.


3 hari kemudian, datang lah Senopati Narapraja beserta para prajurit Panjalu yang dipimpin nya.


Para perwira tinggi prajurit Daha yang dipimpin nya, ikut menghadap ke istana Matahun untuk melaporkan diri mereka dalam rangka penggabungan kekuatan mereka.


Senopati Narapraja, di apit oleh Senopati Maitreya dan Senopati Koncar dari Anjuk Ladang berjalan di depan. Di belakangnya nampak Senopati Ringkasamba dari Kurawan turut mendampingi juga Tumenggung Ranuseta dari Lasem turut menghadap pada Panji Watugunung.


"Salam hormat kami kepada Gusti Pangeran Jayengrana, Yuwaraja Panjalu", ujar Senopati Narapraja sambil berjongkok dan menyembah pada Panji Watugunung. Tindakan nya segera diikuti oleh para perwira prajurit Panjalu yang mengikutinya.


Panji Watugunung segera berdiri dari tempat duduknya dan mengangkat tangan kanannya.


"Berdirilah wahai para ksatria Panjalu.


Duduklah dengan tertib", ujar Panji Watugunung sambil tersenyum tipis.


Senopati Narapraja dan para pengikutnya segera duduk bersila di hadapan Panji Watugunung.


"Selamat datang di istana Matahun, Narapraja dan para perwira prajurit Panjalu.


Senang sekali rasanya melihat kalian datang kemari. Demung Marakeh sudah memberi tahu bahwa kalian telah berhasil menahklukan Bojonegoro. Itu suatu kebanggaan tersendiri bagi ku selaku Yuwaraja Panjalu", ujar Panji Watugunung yang segera disambut dengan senyum oleh para perwira tinggi prajurit Daha itu.

__ADS_1


"Semua itu tidak lepas dari campur tangan para perwira yang mengikuti hamba, Gusti Pangeran.


Tanpa bantuan mereka, mana mungkin hamba bisa menundukkan Adipati Tunggaraja itu", Senopati Narapraja segera menyembah usai berkata kepada Panji Watugunung.


"Aku mengerti, Senopati Narapraja.


Seorang perwira hebat seperti mu akan selalu bisa rendah hati meski sudah membuat hasil karya yang mengagumkan.


Kalian semua, beristirahat lah barang sehari di Matahun.


Selepas itu kita berangkat menuju ke arah Kahuripan. Kita taklukkan Mapanji Garasakan", titah Panji Watugunung segera.


"Sendiko dawuh Gusti Pangeran Jayengrana", ujar seluruh perwira prajurit Panjalu yang hadir di balai paseban agung Kadipaten Matahun itu bersamaan.


Usai pisowanan di balai paseban agung, Panji Watugunung yang di dampingi oleh Dewi Naganingrum segera mundur menuju ke balai peristirahatan tamu Kadipaten Matahun.


Hari menjelang sore.


Perlahan langit barat mulai memerah pertanda senja akan segera tiba di wilayah Matahun. Burung burung malam mulai terbang keluar dari sarangnya untuk mencari makan. Puluhan kelelawar terbang kian kemari semakin membuat suasana sore semakin sahdu.


Panji Watugunung sedang duduk di serambi balai tamu Kadipaten Matahun bersama Dewi Naganingrum. Entah kenapa semenjak terluka kemarin, putri bungsu Prabu Darmaraja itu lengket terus dengan suaminya.


"Akang Kasep,


Akang teh sudah siap untuk menghadapi perang ini?", tanya Naganingrum sambil bergelayut mesra di lengan kiri sang Yuwaraja.


"Siap tidak siap, Dinda Naganingrum.


Walaupun sebenarnya aku tidak suka dengan peperangan, namun ini adalah satu satunya jalan agar kedamaian tercipta di tanah Jawa", jawab Panji Watugunung yang segera menjawil hidung mancung putri Sunda itu.


"Iya Akang,


Eneng mah pengen atuh hidup tenang bersama dengan Akang Kasep di Kadiri. Eneng teh capek berperang terus Akang", ujar Dewi Naganingrum sambil mendongak ke arah wajah Panji Watugunung yang menatap ke arah langit timur.


"Aku juga Dinda Naganingrum,


Selepas ini selesai, aku ingin melihat tumbuh besarnya putra putra ku di Kadiri. Semoga perang ini adalah perang terakhir yang kita lakukan untuk menjaga kedamaian di Panjalu", ucap Panji Watugunung sambil tersenyum manis.


Dari arah samping, Dewi Srimpi, Sekar Mayang dan Ratna Pitaloka ikut bergabung bersama Panji Watugunung dan Dewi Naganingrum.


"Duh mesranya..


Serasa kita cuma jadi pengganggu ya Kangmbok Pitaloka", ujar Sekar Mayang dengan bahasa khasnya.


"Kita semua juga ingin bersama dengan Kakang Watugunung, Naganingrum..


Sekarang ini kita memang harus berjuang keras membantu Kakang Watugunung untuk menjadi juru damai di tanah Jawa.


Jadi kita harus bersungguh-sungguh dalam usahanya. Betul kan Srimpi?", Ratna Pitaloka menyenggol lengan Dewi Srimpi yang duduk di sebelah nya.


"Benar itu Kangmbok Pitaloka..


"Eh Srimpi,


Bukankah malam ini giliran mu menemani Kakang Watugunung?", tanya Sekar Mayang sambil tersenyum penuh arti.


"Iya Kangmbok Mayang,


Tapi Denayu Naganingrum masih butuh perhatian dari Denmas Panji Watugunung bukan?", Dewi Srimpi menunduk malu-malu.


"Abdi teh sudah baikan teh,


Malam ini biar Akang Kasep kamu yang temani ya", sahut Dewi Naganingrum sambil tersenyum simpul. Perempuan cantik itu sangat menghargai jasa Dewi Srimpi yang sudah menyelamatkan nyawa nya tempo hari.


Panji Watugunung hanya tersenyum saja mendengar obrolan para istri nya.


Senja berganti malam. Suara burung burung malam mulai terdengar dari gelapnya rimbun pepohonan. Bulan sabit tergantung indah di langit barat.


Dewi Srimpi sedang menata selimut ranjang tidur Panji Watugunung saat pria tampan itu masuk ke dalam kamar.


"Denmas sudah mau tidur?", tanya Dewi Srimpi yang segera turun dari ranjang tidur Panji Watugunung.


"Iya Dinda Srimpi,


Besok pagi kita harus menata pasukan Panjalu yang harus segera berangkat menuju ke Kahuripan.


Aku ingin tidur cepat malam ini", ujar Panji Watugunung sambil melepas mahkota Yuwaraja nya. Dewi Srimpi segera menerima mahkota itu dan meletakkannya di atas meja di dekat tempat tidur.


Namun sebelum melangkah menuju ke arah ranjang, Panji Watugunung lebih dulu menyambar secangkir wedang yang sudah di siapkan oleh Dewi Srimpi.


Gluk gluk glukkk..


Panji Watugunung mengernyitkan dahinya. Ada rasa tak biasa pada wedang ini.


Usai meminum wedang, Panji Watugunung segera menuju ke arah ranjang nya diikuti oleh Dewi Srimpi.


Setelah membaringkan tubuhnya, Panji Watugunung berusaha untuk segera memejamkan matanya namun ada sesuatu yang membuatnya merasa gerah.


Yuwaraja Panjalu itu melirik kearah Dewi Srimpi yang senyum senyum sendiri di sampingnya.


"Kau menaruh sesuatu di cangkir itu ya Dinda?", tanya Panji Watugunung segera.


"Lha bukan salahku Denmas,


Kan aku menyiapkan wedang seperti biasanya. Denmas kan tau kalau aku sudah lama tidak disentuh Denmas, makanya aku menaruh bubuk obat penambah tenaga di cangkir itu", jawab Dewi Srimpi sembari tersenyum simpul.


"Oh begitu rupanya.

__ADS_1


Kau mulai nakal sekarang. Kau harus bertanggung jawab Dinda", ujar Panji Watugunung yang segera merengkuh tubuh Dewi Srimpi. Perempuan cantik itu pasrah saja suaminya mulai melucuti pakaiannya.


Malam itu, mereka memadu kasih di atas ranjang tidur berulang kali. Akibat pengaruh obat penambah tenaga itu, Dewi Srimpi sampai lemas meladeni gempuran Panji Watugunung. Suasana panas terjadi di dalam kamar itu.


Di depan serambi peristirahatan Istana Matahun.


Demung Gumbreg sedang asyik membakar ketela pohon di temani oleh tiga orang bawahan nya.


Dari arah selatan, Tumenggung Ludaka dan Tumenggung Landung nampak membawa setumpuk kayu kering dan beberapa ekor ayam yang sudah di bersihkan bulu-bulunya.


"Dapat darimana Lu?", tanya Gumbreg pada Ludaka yang menenteng ayam.


"Di beri sama Patih Matahun tadi sore. Lumayan buat cemilan malam malam Mbreg", jawab Ludaka sambil mulai memanggang ayam di atas bara api unggun yang menjadi penghangat tubuh mereka malam hari itu.


"Kau terima itu sudah mati atau masih hidup Lu?", tanya Gumbreg lagi.


"Ya mati lah Mbreg, sudah di bersihkan bulu-bulunya pula.


Kenapa memangnya?", tanya Ludaka yang sedikit tidak memahami maksud pertanyaan Gumbreg.


"Begini ya Lu,


Patih Rakryan Saka itu kan orang Jenggala. Aku khawatir dia menggunakan ayam itu untuk meracuni kita", jawab Gumbreg dengan raut muka serius.


"Halah kau ini..


Curiga boleh Mbreg, tapi juga harus bisa melihat keadaan. Selama Gusti Pangeran Jayengrana memimpin disini, mereka kan tidak pernah macam-macam. Lagipula kita disini memang untuk membangun kembali kota Matahun yang hancur. Kalau mereka berterimakasih kepada kita, ya sudah sewajarnya", ujar Ludaka sambil terus membolak balik ayam yang di bakarnya.


"Tetap saja Lu kita harus berhati-hati", potong Gumbreg yang mulai membelah ketela pohon yang nampak sudah matang.


Tak berapa lama kemudian, Ludaka juga sudah mematangkan ayam bakar nya. Bau nya yang sedap membuat Gumbreg nyaris jatuh air liur nya.


"Lu,


Bagi sedikit dong ayam bakar nya", pinta Gumbreg dengan penuh harap.


"Gak bisa Mbreg,


Ayam bakar ini untuk ku saja. Jadi kalau nanti Patih Matahun meracuni nya, cukup aku saja yang mati", jawab Ludaka sambil tersenyum simpul.


"Ah kau ini. Jelas jelas ayam itu tidak beracun. Dasar pelit, bilang saja tidak boleh", gerutu Gumbreg sambil memasukkan potongan singkong bakar itu ke mulut nya.


"Salah mu sendiri, kenapa tadi berburuk sangka pada orang lain", ucap Ludaka sambil menggigit paha ayam bakar nya.


Gumbreg langsung terdiam. Bau kelezatan ayam bakar Ludaka membuatnya hanya bisa menelan ludah.


Pagi menjelang tiba di istana Kadipaten Matahun.


Saat matahari sepenggal naik, para perwira tinggi prajurit Panjalu berkumpul di balai paseban agung kadipaten Matahun. Panji Watugunung yang baru saja tiba, langsung memimpin pertemuan pagi itu.


"Dengarkan aku wahai para prajurit Panjalu,


Persiapkan pasukan kalian sebaik-baiknya. Jangan sampai ada kesalahan dalam tata laksana keprajuritan.


Besok pagi,


Kita serbu Kota Kahuripan".


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Ikuti terus kisah selanjutnya 😁


Yang suka silahkan tinggalkan jejak kalian dengan like 👍, vote ☝️, favorit 💙 dan komentar 🗣️ nya

__ADS_1


Selamat membaca 🙏🙏


__ADS_2