Babat Negeri Leluhur

Babat Negeri Leluhur
Dua Putri Adipati Anjuk Ladang


__ADS_3

Warigalit hanya bergeser sedikit ke belakang menghindari tebasan pedang besar Sumoranu.


Menyadari bahwa serangannya tidak berhasil, Sumoranu segera berbalik badan dan kembali mengayunkan pedang besarnya.


Kembali Warigalit hanya menghindar saja.


"Bajingan!


Kalau berani, jangan main lompat saja", Sumoranu gusar.


"Baik kalau itu mau mu", jawab Warigalit sinis.


Sumoranu bergerak cepat sambil mengayunkan pedang besar nya mengincar leher Warigalit. Namun Warigalit hanya sedikit menunduk menghindari sabetan pedang sambil tangannya memukul dada Sumoranu dengan keras.


Bukkkkk


Sumoranu meraung keras saat pukulan tangan kanan Warigalit telak menghajar dada kanan nya. Tubuh nya melayang menghantam tanah. Darah segar muncrat dari mulut Sumoranu.


Pria paruh baya itu berusaha berdiri tapi kakinya goyah. Dia terduduk sambil terus muntah darah.


Sementara itu Panji Watugunung dan ketiga selir nya dan Ratri sudah membuat anak buah nya babak belur mereka hajar.


"Kau sudah menghadang orang yang salah Lurah Rampok", ujar Warigalit seraya menendang dada Sumoranu. Tubuh pria paruh baya itu kembali terpelanting dan pingsan setelah menyusruk tanah.


Panji Watugunung segera melompat ke atas kuda nya, diikuti oleh Warigalit, Ratri dan ketiga selir nya. Mereka berkuda cepat menuju Pakuwon Berbek.


Sampai di kota pakuwon, hari sudah menjelang sore. Mereka mencari penginapan untuk bermalam.


"Kakang Watugunung, kenapa tidak ke Istana Pakuwon Berbek saja. Bukankah lebih enak disana?", tanya Ratna Pitaloka.


"Kita dalam misi penyamaran Dinda, kalau sampai kehadiran kita mengundang perhatian, hadangan semakin banyak di depan", Panji Watugunung menjelaskan sambil menepuk pelan bahu kuda nya.


"Itu ada penginapan besar Kakang, sepertinya ada tempat makan nya juga", tunjuk Sekar Mayang pada sebuah rumah besar yang bertuliskan Penginapan Kembang Sore.


Mereka berenam segera berhenti di depan gerbang Penginapan Kembang Sore itu. Tiga orang pekatik segera menuntun kekang kuda mereka, dan membawa ke kandang.


Seorang lelaki muda berpakaian pelayan segera menghampiri mereka.


"Permisi Kisanak, apa kalian berminat menginap disini?".


"Sediakan 6 kamar untuk kami. Tapi sebelum itu, kami ingin makanan", Panji Watugunung memandang kearah sekeliling tempat itu.


"Baik kisanak. Mari saya antar ke meja", ujar pelayan itu ramah.


Saat mereka diantar, semua orang di dalam tempat makan itu melirik ke arah mereka. Tapi hanya sekilas dan keadaan pulih seperti sedia kala. Semua orang kembali sibuk ke urusan nya masing-masing.


Dua pasang mata gadis muda terus menatap ke arah Panji Watugunung dan rombongannya.


Usai makan, Sekar Mayang segera membayar biaya menginap dan makan lalu mereka bergegas ke kamar yang telah disiapkan. Malam itu, Sekar Mayang menemani tidur Panji Watugunung.


Begitu pagi tiba, Rombongan Panji Watugunung segera bergegas meninggalkan penginapan Kembang Sore menuju ke arah kota Kadipaten Anjuk Ladang. Setelah melewati sebuah pakuwon kecil, mereka sampai di kota Kadipaten Anjuk Ladang.


Panji Watugunung segera melompat turun dari kudanya, mendekati seorang lelaki tua yang sedang duduk di tepi jalan raya.


"Maaf kakek, apa boleh aku bertanya?".


Laki laki tua itu tidak segera menjawab. ?


"Ada apa tanya tanya?", kakek tua itu ketus.


"Maaf kek, saya pengelana. Ingin melihat istana Kadipaten Anjuk Ladang. Bisa kakek tunjukkan arahnya", Panji Watugunung sopan.


"Lurus saja, nanti ada gapura besar ya itu istana Kadipaten Anjuk Ladang.


Panji Watugunung berterima kasih kepada kakek tua itu dan segera melompat ke atas kuda nya. Mereka berenam segera menggebrak kuda mereka menuju arah yang di tunjukkan kakek tua itu.


Sesudah Panji Watugunung berlalu, 2 orang gadis muda mendekati kakek tua. Mereka berbicara sebentar kemudian 2 gadis muda itu segera menuju ke arah istana kadipaten Anjuk Ladang.


Sesampainya di gerbang istana, seorang prajurit penjaga gerbang istana mengantar mereka masuk setelah melihat lencana Chandrakapala yang di tunjukkan Panji Watugunung.


Saat itu istana Kadipaten Anjuk Ladang sedang pisowanan ageng. Prajurit penjaga gerbang istana segera masuk ke paseban Kadipaten.


Adipati Anjuk Ladang, Gunawarman menghentikan ucapannya begitu melihat prajurit penjaga gerbang istana itu masuk dan menyembah.


"Ampuni hamba Gusti Adipati. Dua orang pria dan 4 wanita berpakaian biasa ingin menghadap Gusti Adipati. Mereka membawa lencana Chandrakapala".

__ADS_1


Gunawarman terkejut. Lencana Chandrakapala hanya di bawa oleh kerabat istana Daha.


"Suruh mereka masuk", ucap Reksapraja.


Penjaga gapura itu segera menyembah kepada Adipati dan segera mundur dari paseban Kadipaten Anjuk Ladang.


Panji Watugunung di ikuti Warigalit, Ratri dan ketiga selir nya masuk di ikuti prajurit penjaga gerbang istana tadi.


Setelah menyembah, mereka duduk bersila di hadapan Gunawarman.


"Mohon maaf Gusti Adipati, kami mengganggu pisowanan ini. Kami utusan dari istana Daha, ingin menyampaikan surat kepada Gusti Adipati".


Ratna Pitaloka kemudian mengambil surat yang di bungkus kantong kain merah dan memberikan pada Panji Watugunung. Lelaki itu menghaturkan surat pada Gunawarman.


Gunawarman kembali terkejut setelah membaca surat itu. Di tatapnya wajah Panji Watugunung dengan seksama.


"Apa benar kau yang mewakili Daha untuk jawaban ku?", Gunawarman menyelidik.


"Saya Watugunung, utusan khusus Gusti Prabu Samarawijaya, Gusti Adipati. Segala jawaban Gusti Adipati akan saya sampai langsung pada beliau", jawab Watugunung sopan.


"Baiklah, kalian semua beristirahat dulu di bangsal tamu kadipaten Anjuk Ladang. Aku harus merundingkan ini dengan para punggawa kadipaten Anjuk Ladang.


Penjaga,


Antar mereka ke bangsal tamu", titah sang Adipati Anjuk Ladang.


Setelah Panji Watugunung pergi, Adipati Gunawarman nampak berpikir keras.


"Mohon ampun Gusti Adipati, apa isi surat itu sehingga Gusti Adipati tampak susah?", Patih Anjuk Ladang, Reksapraja, bertanya.


"Daha meminta kita menyiapkan 1000 prajurit dan perbekalan makan selama 1 purnama, Reksapraja. Kalau masalah prajurit aku sanggup, tapi untuk perbekalan 1 purnama itu banyak.


Sedangkan kita baru saja mengalami kegagalan panen.


Kalau aku tidak mau memberikan, bisa bisa aku di cap memberontak terhadap Daha", Gunawarman pusing kepala nya.


"Ampun Gusti Adipati, sebaiknya kita tetap menyanggupi permintaan itu, meskipun berat. Karna bagaimana pun, kita adalah bagian dari Daha. Apalagi hamba melihat, utusan itu bukan utusan biasa. Lencana Chandrakapala sudah menjadi bukti, dia pasti kerabat keraton Daha", saran Reksapraja.


Gunawarman manggut-manggut saja.


"Hai siapa kau? Kenapa bisa sampai kesini?".


Teriak seorang wanita menghentikan langkah Panji Watugunung. Lelaki itu segera berbalik dan 2 orang gadis cantik berpakaian bangsawan sedang menatapnya. Mereka adalah Dewi Wulandari dan Dewi Wulansari, putri Adipati Gunawarman.


Melihat ketampanan pemuda itu, dua gadis cantik itu bengong.


"Mohon maaf Gusti Putri, sepertinya hamba tersesat. Mohon ampun Gusti Putri".


Panji Watugunung segera bergegas kembali, namun belum 10 langkah, suara gadis itu menghentikan langkahnya.


"Berhenti!


Siapa mengijinkan mu datang dan pergi seenaknya?".


"Mohon ampun Gusti Putri, hamba benar benar tersesat", jawab Watugunung merendah.


"Katakan siapa kau? Mengapa kau bisa sampai kesini?", Dewi Wulandari memandang kearah Panji Watugunung.


"Hamba utusan dari istana Daha Gusti Putri, nama hamba Watugunung. Hamba tidak sengaja sampai kesini karna bosan di bangsal tamu kadipaten Anjuk Ladang", Watugunung segera menghormat.


"Baiklah kau boleh kembali ke bangsal tamu".


Panji Watugunung segera menghormat dan bergegas kembali ke bangsal tamu kadipaten Anjuk Ladang.


"Yunda, kenapa begitu mudah melepaskan nya?", tanya Dewi Wulansari. Hati gadis itu tergetar saat melihat Panji Watugunung. Dia tidak rela jika Panji Watugunung pergi.


"Dinda, aku pun tak rela dia pergi. Tapi kita tidak tau pemuda itu. Sebaiknya selepas ini, kita tanya Kanjeng Romo Adipati", jawab Dewi Wulandari yang segera di balas anggukan kepala dari adiknya.


Dua gadis itu segera bergegas menuju ruang pribadi Adipati Anjuk Ladang.


Seorang juru tulis kadipaten Anjuk Ladang sedang menulis kata kata Gunarwan, disaat dua putrinya itu menemuinya.


"Kanjeng Romo Adipati, Wulandari mohon ijin menghadap", ujar Dewi Wulandari sambil menyembah di ikuti Dewi Wulansari.


"Masuklah Ngger Cah Ayu, ada apa he? Tidak biasanya kalian kompak seperti ini", tanya Gunawarman melihat dua putri nya hadir bersama.

__ADS_1


"Maaf Kanjeng Romo, saya ingin menanyakan sesuatu", jawab Dewi Wulandari.


"Tanyakan saja Ngger, ayo mau tanya apa", Gunawarman nampak penasaran.


"Tapi...."


Mata Dewi Wulandari melirik ke arah juru tulis kadipaten Anjuk Ladang. Gunawarman yang paham segera menyuruh juru tulis itu keluar dari ruang pribadi nya.


"Tadi kami bertemu dengan seorang pria Kanjeng Romo. Kelihatannya dia sedang tersesat hingga ke taman sari. Waktu kami tanya dia mengaku bernama Watugunung, utusan dari Daha. Apa ada orang itu di bangsal tamu Kanjeng Romo?", tanya Dewi Wulandari hati hati.


"Hahahaha aku tau..


Kalian menanyakan ini karena terpesona dengan ketampanan nya bukan?", tawa Gunawarman pecah saat mendengar pertanyaan putri nya.


Dua putri bangsawan itu tertunduk malu.


"Memang benar ada pria tampan yang bernama Watugunung utusan dari istana Daha. Aku berencana memberikan surat balasan agar dia dan rombongannya segera kembali ke Daha", timpal Gunawarman.


Wajah cantik Dewi Wulandari dan Dewi Wulandari segera cemberut.


"Tapi setelah melihat wajah kalian, aku memutuskan untuk memberikan waktu semalam bagi mereka untuk beristirahat", lanjut Gunawarman. Dia puas bisa menggoda dua anak gadisnya itu.


Wajah cantik dua putri Adipati Anjuk Ladang itu sumringah kembali.


Hari menjelang malam saat dua orang putri Adipati Anjuk Ladang itu di iringi 10 dayang istana kadipaten Anjuk Ladang masuk ke serambi bangsal tamu.


Panji Watugunung dan Warigalit segera berdiri dan menghormat. Sementara Ratri, Ratna Pitaloka, Sekar Mayang dan Dewi Srimpi hanya bersimpuh.


"Lho ini kan Gusti Putri yang tadi. Kenapa harus repot-repot mengantar makanan untuk kami?", tanya Panji Watugunung sopan.


Dua gadis cantik itu langsung tersenyum manis saat Panji Watugunung menyapa mereka.


"Kami ingin menunjukkan keramahan kadipaten Anjuk Ladang pada utusan dari Daha. Jadi tidak ada salahnya kan kalau kami sendiri yang mengantar makanan untuk Kakang Watugunung?", jawab Dewi Wulandari sedikit genit.


Dewi Wulansari bahkan berani menyentuh tangan Panji Watugunung.


Tiga pasang mata selir Panji Watugunung mendelik tajam kearah dua wanita cantik itu.


Dari mulut mereka terdengar suara desis lirih.


"Dasar rubah betina"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Duh Mak!!!


Bagaimana kisah selanjutnya??


Ikuti terus kisah selanjutnya guys 😁😁


jangan lupa untuk dukung author terus semangat menulis dengan like vote dan komentar nya ya 👍👍👍

__ADS_1


Selamat membaca guys 😁😁


__ADS_2