
Lelaki muda bertubuh gempal itu terus memacu kudanya menuju ke arah barat daya. Begitu melewati perbatasan Pakuwon Semanding dan Pakuwon Lembayung, dia melihat banyak sekali prajurit Panjalu tengah menggali lobang di tepi jalan dekat Kali Serang.
Dia segera melompat turun dari kudanya dan menuntun hewan tunggangan itu ke arah para prajurit Panjalu yang banyak berlalu lalang disitu.
"Maaf Ndoro Prajurit,
Ini ada apa ya? Saya warga Pakuwon Lembayung. Kemarin lewat tidak ada apa-apa disini", tanya lelaki muda bertubuh gempal itu pada seorang prajurit Panjalu yang berada di tepi jalan.
Sebelum menjawab pertanyaan itu, si prajurit nampak memperhatikan dandanan orang itu dengan seksama. Memakai baju petani yang lusuh, membawa dua sisir pisang matang yang diikat pada pelana kuda, caping bambu yang sudah geripis tepiannya, serta buntalan kain yang nampaknya berisi beras, orang ini pasti rakyat biasa begitu pikir si prajurit Panjalu itu.
"Kami baru saja menghabisi para prajurit bantuan untuk pemberontak.
Sudah jangan banyak tanya, pergi sana", usir si prajurit Panjalu segera.
"Iya maaf Ndoro Prajurit, saya permisi dulu", ujar si lelaki bertubuh gempal itu sambil berjalan menjauhi mereka. Di dekat tepi Kali Serang, si lelaki muda bertubuh gempal itu melompat ke atas kuda nya.
Ratusan mayat prajurit Kadipaten Kembang Kuning masih bergelimpangan di dalam Kali Serang. Pemandangan yang miris benar benar menegakkan bulu roma. Sambil menepuk punggung kudanya agar berjalan pelan-pelan, si lelaki muda bertubuh gempal itu terus mengedarkan pandangannya ke sekeliling nya.
Begitu sampai di seberang sungai, si lelaki muda bertubuh gempal itu segera menggebrak kuda tunggangan nya melesat ke arah kota Kadipaten Kembang Kuning.
Menjelang senja lelaki muda bertubuh gempal itu sudah memasuki kota Kadipaten Kembang Kuning. Dia terus memacu kudanya menuju ke arah pintu gerbang istana Kadipaten.
Sesampainya di depan pintu gerbang istana, dia segera menunjukkan lencana perak bergambar bunga kenanga yang merupakan lambang resmi Kadipaten Kembang Kuning. Para prajurit penjaga gerbang istana langsung memberi hormat kepada lelaki muda bertubuh gempal yang tak lain adalah Senopati Purbaya.
Saat benteng pertahanan prajurit Kembang Kuning mulai di jebol para prajurit Panjalu, diam-diam perwira tinggi itu memilih kabur lewat jalan rahasia lalu bersembunyi di kejauhan. Hingga dia bisa sampai di istana Kadipaten Kembang Kuning dengan pakaian penyamaran.
Di dalam ruang pribadi adipati, sedang ada pertemuan antara Adipati Mpu Pamadi, Tumenggung Kertawahana, Tumenggung Gentiri, Demung Pragola, dan Rakryan Mantri Soka.
Mereka tengah membahas mengenai rencana persiapan mereka untuk menahan gempuran para prajurit Panjalu jika mereka berhasil menembus pertahanan di Pakuwon Semanding.
"Mohon ampun Gusti Adipati, Purbaya menghadap", ujar Senopati Purbaya dengan cepat.
Kedatangan Senopati Purbaya yang dalam pakaian penyamaran, membuat semua orang di ruang pribadi adipati terkejut bukan main.
"Purbaya,
Kau datang kemari dengan pakaian seperti ini, apa yang telah terjadi?", tanya Adipati Mpu Pamadi segera.
"Mohon ampun Gusti Adipati,
Benteng pertahanan di Pakuwon Semanding telah di hancurkan oleh pasukan Jayengrana. Kalau saja tidak ada yang membantu, mungkin hamba pun sudah tidak akan bernafas lagi", jawab Senopati Purbaya sembari menyembah pada Adipati Mpu Pamadi.
Mendengar jawaban itu, Adipati Mpu Pamadi terkejut bukan main. Sebagian besar prajurit Kembang Kuning telah di kerahkan ke benteng pertahanan. Yang tersisa hanya sekitar 4 ribu prajurit yang tersebar pada beberapa pos pertahanan di beberapa titik penjagaan di luar tembok istana. Sedangkan di kesatrian pun hanya ada sekitar 2000 prajurit di tambah 1000 prajurit penjaga berbagai tempat di dalam istana.
"Bangsat!
Ini tidak boleh dibiarkan begitu saja. Kertawahana, panggil semua prajurit di seluruh pos penjagaan kota Kadipaten Kembang Kuning. Aku mau mereka berkumpul di dalam tembok istana Kadipaten. Tembok istana ini tebal dan tak mudah di tembus. Jayengrana pasti tidak bisa menembus tembok istana ini.
Cepat laksanakan!", perintah Adipati Mpu Pamadi sembari berteriak lantang.
"Sendiko dawuh Gusti Adipati", jawab Tumenggung Kertawahana segera. Usai menghormat pada sang Adipati, Kertawahana segera mundur dari tempat itu di temani Demung Pragola.
Malam itu juga, mereka bergerak ke seluruh pos penjagaan di kota Kadipaten Kembang Kuning.
Saat berada di pos penjagaan selatan, Tumenggungan Kertawahana di kejutkan dengan kedatangan para prajurit Kadipaten Kembang Kuning yang berhasil meloloskan diri dari sergapan di Kali Serang.
"Kalian? Kenapa bisa sampai kemari?", tanya Tumenggung Kertawahana sembari melihat salah seorang pemimpin mereka, Bekel Sudana.
"Mohon ampun Gusti Tumenggung,
Rombongan pasukan kami di sergap para prajurit Panjalu di Kali Serang. Demung Bulukumba juga tewas di tangan mereka. Kami terpaksa harus melarikan diri dari mereka", ujar Bekel Sudana sembari menghormat pada Tumenggung Kertawahana.
"Jadi mereka telah mengetahui rencana penambahan jumlah pasukan di benteng pertahanan. Pantas saja para prajurit kita kalah disana.
Sudahlah, kalian tidak perlu menyesali semua yang terjadi. Sekarang sebaiknya kalian bersiap untuk menghadapi mereka karena sebentar lagi Pasukan Panjalu akan menuju ke tempat ini", ucap Tumenggung Kertawahana sambil menatap ke arah mereka.
"Untuk kali ini, kami tidak akan lari dari medan perang lagi Gusti Tumenggung.
Akan kami balas kematian saudara saudara kami yang terbunuh di Kali Serang", ujar Bekel Sudana yang di sambut sorak semangat dari para pengikut-pengikutnya.
Segera mereka bergerak menuju ke istana Kadipaten Kembang Kuning. Dan malam itu juga mereka mempersiapkan diri sebaik baiknya untuk menghadapi pasukan Panjalu yang sebentar lagi akan datang ke kota Kadipaten Kembang Kuning.
Istana Kadipaten Kembang Kuning yang semula tenang, malam itu menjadi ramai oleh para prajurit yang bersiap untuk berperang besok.
Tumenggung Kertawahana menyiapkan para prajurit pemanah untuk bersiaga di atas tembok istana. Dengan tinggi 3 tombak, tembok tebal istana Kadipaten Kembang Kuning akan susah di jebol. Satu satunya kelemahan istana itu hanya gerbang istana yang terbuat dari kayu.
Ribuan prajurit berjaga di atas tembok istana Kadipaten Kembang Kuning. Sebagian lagi berjaga di sekitar ketiga gapura istana.
Permaisuri Adipati Mpu Pamadi beserta ke empat anaknya di ungsikan lewat jalan rahasia yang ada di bawah tanah.
Mereka semua bersiaga penuh untuk menghadapi setiap serangan para prajurit Panjalu.
**
__ADS_1
Demung Gumbreg mengorek bara api unggun untuk mencari ketela bakar nya saat Tumenggung Ludaka dan Tumenggung Landung mendekati perwira prajurit bertubuh tambun itu.
Usai menghancurkan bala bantuan dari istana Kembang Kuning, Tumenggung Ludaka, Tumenggung Landung dan Tumenggung Jarasanda memang bergegas ke arah benteng pertahanan prajurit Kembang Kuning untuk memberi bantuan namun sesampainya di sana, para prajurit Kembang Kuning sudah bergelimpangan dimana-mana.
"Kau sedang mencari apa Mbreg? Kog persis ayam sedang mengorek cacing tanah begitu", ujar Tumenggung Ludaka sembari duduk di atas batu besar di dekat perapian.
Segera Gumbreg menoleh ke arah sumber suara. Begitu melihat sahabat karibnya itu, Demung Gumbreg kembali melanjutkan kegiatannya.
"Sialan,
Mulut mu itu memang beracun Lu..
Melihat kawan sengsara kau malah bahagia. Dasar teman tak bermoral", gerutu Gumbreg sembari terus mengorek bara api unggun.
"Lah ditanya ini jawabannya itu.
Kau ini bagaimana sih Mbreg?", Tumenggung Ludaka tidak mengerti maksud Gumbreg.
"Aku ini sedang lapar Lu..
Prajurit juru masak sedari tadi belum juga kemari. Kau tau sendiri kalau habis berperang aku kelaparan. Makanya ini bakar ketela untuk ganjal perut", jawab Gumbreg sembari tersenyum setelah menemukan yang dia inginkan.
Tumenggung Ludaka segera melihat ke sekeliling Gumbreg. Potongan kulit ketela rambat berserakan dimana-mana.
"Memang kau sudah habis ketela rambat berapa Mbreg?", tanya Ludaka sambil menatap ke arah Demung Gumbreg.
"Baru habis tujuh Lu, ini yang ke delapan", ujar Gumbreg sambil mulai mengunyah ketela rambat bakar yang baru selesai dia bersihkan.
Mendengar jawaban itu, Tumenggung Landung yang tengah minum air putih dari kendi langsung tersedak.
"Mbok pelan pelan Ndung minum air nya. Kalau tersedak begitu kan sakit", celoteh Gumbreg yang membuat Tumenggung Ludaka melotot ke arah nya.
"Baru 7 kau bilang? Manusia apa genderuwo sih kamu Mbreg?", tanya Ludaka sambil geleng-geleng kepala melihat ulah Gumbreg.
"Ya manusia to Lu, buktinya Dhek Jum mau sama aku. Seenaknya saja kalau ngomong", omel Gumbreg yang tak terima dengan ucapan Ludaka.
"Juminten kalau tau kamu makan nya kayak buto ijo seperti ini dari dulu, pasti dia gak mau sama kamu.
Nasib Juminten memang apes", ucap Tumenggung Ludaka dengan nada kasihan.
"Dasar teman tak bermoral, mulut beracun, setan alas, genderuwo kuburan..
Kalau ngomong pakai perasaan sedikit kenapa? Suka nya melukai hati teman", omel Gumbreg panjang kali lebar.
"Ah sudahlah, capek ngomong dengan Buto ijo..
"Sudah kenyang? Kau makan apa Lu?", tanya Gumbreg penasaran.
"Ya nasi lah. Masakan juru masak memang enak. Puas makan dengan daging kambing", jawab Ludaka dengan santainya.
"HAAAAAHHH...
Berarti masakan sudah matang dari tadi? Kog aku tidak di panggil?", Gumbreg protes keras.
"Kamu tidak dipanggil karena sudah habis Mbreg.
Kalau kamu mau, tuh di dapur masih ada nasi sama sisa kuah nya hehehe", Tumenggung Ludaka terkekeh geli sembari berjalan meninggalkan Gumbreg yang langsung lemas kakinya mendengar lauk kambing sudah habis.
Malam itu, Gumbreg mengomel sambil menyantap nasi dengan kuah kambing guling.
Malam segera berganti pagi. Sinar matahari pagi mulai menyapa seisi bumi dengan kehangatan cahayanya.
Di benteng pertahanan, kesibukan mulai terlihat jelas. Para prajurit mulai berkemas karena berdasarkan perintah dari Panji Watugunung tadi malam, pagi itu mereka berangkat menuju ke arah Kota Kadipaten Kembang Kuning.
Para bekel prajurit sibuk menata anak buah nya untuk persiapan keberangkatan. Mereka terus mengawasi persiapan para prajurit bawahannya sebelum melapor pada para perwira atasan mereka.
Dari hitungan jumlah, para prajurit Panjalu tersisa sebanyak 14 ribu prajurit. Jumlah pasukan yang cukup besar untuk menggempur pertahanan prajurit Kembang Kuning di istana Kadipaten.
Panji Watugunung yang baru selesai berdandan di bantu oleh kedua selirnya segera keluar dari tempat peristirahatan nya diikuti oleh Dewi Srimpi dan Cempluk Rara Sunti.
Aura keagungan dan kemuliaan terpancar jelas dari wajahnya. Apalagi setelah berdandan ala prajurit perang dengan memakai zirah perang dan tusuk konde emas nya, lelaki beristri 7 itu semakin berwibawa.
Begitu di hadapan para prajurit Panjalu yang telah berbaris rapi, Panji Watugunung segera melompat ke atas kuda nya. Kedua selirnya pun tak mau kalah. Mereka mengikuti langkah sang suami.
"Para prajurit Panjalu,
Setelah kemarin kita menyelesaikan tantangan pertama dalam memulihkan keamanan dan ketertiban Panjalu, hari ini kita akan mengepung kota Kadipaten Kembang Kuning.
Jika jalan damai tak bisa di tempuh, maka dengan kekerasan kita bertindak.
Ayo maju,
Kita serbu Kembang Kuning!", teriak Panji Watugunung dengan lantang.
__ADS_1
Suara semangat bergemuruh di setiap mulut para prajurit Panjalu menyambut ucapan Panji Watugunung.
Pasukan besar itu segera bergerak menuju ke arah kota Kembang Kuning.
Sepanjang perjalanan, rakyat yang mereka temui langsung menepi dan menghormat pada pasukan Panjalu sebagai pertanda bahwa mereka tunduk pada Panji Watugunung dan para prajurit Panjalu.
Usai melewati Kali Serang, pasukan Panjalu terus bergerak ke barat. Melewati Pakuwon Lembayung, pasukan besar itu terus bergerak. Hampir tengah hari mereka memasuki tapal batas kota Kembang Kuning.
Rakyat kota Kadipaten Kembang Kuning memilih untuk segera masuk ke dalam rumah masing-masing dan mengunci pintu rumah dengan harapan tidak menjadi korban dari keserakahan Adipati Mpu Pamadi.
Para prajurit Panjalu tidak mendapatkan perlawanan sama sekali. Meski pun begitu mereka tidak mengendurkan kewaspadaan terhadap segala kemungkinan yang akan terjadi.
Begitu mendekati istana Kembang Kuning, para prajurit Panjalu segera mencari jarak aman dari tembakan anak panah.
"Kakang Warigalit,
Perintahkan kepada para prajurit untuk mengepung istana ini. Jangan biarkan semut pun bisa keluar dari dalam istana.
Cepat!", perintah Panji Watugunung segera.
"Sendiko dawuh Dhimas Prabu", jawab Senopati Warigalit sambil menghormat pada Panji Watugunung.
Ribuan prajurit Panjalu langsung membentuk pagar betis untuk mengepung istana Kadipaten Kembang Kuning dari berbagai sisi.
Keempat sisi di jaga ketat, siapapun tidak diijinkan untuk masuk atau keluar dari istana Kembang Kuning. Kalau ada yang memaksa masuk atau keluar, perintah hukum mati di tempat berlaku. Panji Watugunung benar benar menutup semua jalan ke istana Kembang Kuning.
"Apa kita paksa masuk ke dalam istana saja, Dhimas Prabu? Hamba yakin, kekuatan Kembang Kuning tinggal sedikit", ucap Senopati Warigalit pada Panji Watugunung.
"Jangan gegabah, Kakang.
Mereka pasti mempersiapkan segala sesuatunya untuk menghadapi kita. Berapa lama kekuatan pasukan Kembang Kuning bertahan di dalam istana?
Mereka membutuhkan makanan dan persediaan air minum yang cukup.
Jika mereka tidak mempunyai celah untuk memperoleh makanan, mereka pasti akan keluar dari dalam istana kadipaten itu. Kakang sabar saja", ujar Panji Watugunung sembari tersenyum simpul.
Dan benar saja ucapan Panji Watugunung, dalam waktu 3 hari saja sudah terjadi keributan di antara para prajurit Kembang Kuning. Mereka mulai berebut untuk kebutuhan pribadi masing-masing. Apalagi di tuntut untuk tetap bersiaga sehari semalam menghadapi serangan Panji Watugunung dan para prajurit Panjalu yang sewaktu-waktu bisa saja terjadi.
Di dalam ruang pribadi adipati, tampak para pembesar istana tengah berkumpul.
Adipati Mpu Pamadi nampak jelas terlihat gusar. Berulang kali dia mondar mandir di depan para punggawa istana Kembang Kuning.
"Kertawahana,
Menurut mu apa penyebab pasukan Panjalu tidak langsung menyerbu masuk ke dalam istana ini?
Apa mereka takut pada ku?", tanya Adipati Mpu Pamadi seraya menatap ke arah Tumenggung Kertawahana.
"Hamba rasa bukan mereka takut pada Gusti Adipati ataupun para prajurit Kembang Kuning.
Begitu menurut pengamatan hamba, Gusti Adipati", ujar Tumenggung Kertawahana sembari mengelus dagunya.
"Apa maksud mu Kertawahana? Katakan terus terang, jangan membuat aku semakin pusing", Adipati Mpu Pamadi menatap wajah Tumenggung Kertawahana yang terlihat kusut.
Setelah menghela nafas berat, Tumenggung Kertawahana berkata,
"Mereka ingin membunuh kita pelan pelan"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ikuti terus kisah selanjutnya kak 😁
__ADS_1
Yang suka silahkan tinggalkan jejak kalian dengan like 👍, vote ☝️, favorit 💙 dan komentar 🗣️ nya yah 😁
Selamat membaca 🙏😁😁🙏