
Teriakan keras dari Warigalit sontak membuat seluruh prajurit Daha menerjang maju ke arah Pasukan Jenggala yang tengah kacau balau.
Perang segera pecah di jalan yang membelah hutan lebat itu.
Dengan memanfaatkan medan perang yang sempit, jumlah pasukan Daha yang hanya 8 ribu prajurit mampu membuat para pemimpin prajurit Jenggala gelagapan.
Serangan dadakan di tempat yang sempit benar benar bencana untuk para prajurit Jenggala. Ketidaktahuan medan perang serta banyak nya jebakan yang dipasang oleh para prajurit Panjalu membuat mereka kocar-kacir.
Melihat para prajurit Jenggala kacau balau, Tumenggung Wimana dari Tumapel melompat tinggi ke udara setelah menjejak punggung kudanya. Dengan gerakan tubuhnya yang ringan, perwira prajurit Jenggala itu melesat ke atas pohon tinggi untuk mengamati musuh.
Plasshhhh!
Baru saja mendarat di dahan pohon besar, sebuah bayangan berkelebat cepat kearah Tumenggung Wimana sambil mengayunkan pedangnya.
Whuuuggghhh..
Sadar dirinya dalam bahaya, pria bertubuh tegap itu segera melompat turun dari dahan pohon ke sebuah tempat yang sedikit luas tak jauh dari medan pertempuran antara pasukan Panjalu melawan prajurit Jenggala.
Si bayangan berkelebat menyusul Tumenggung Wimana dan mendarat tak jauh dari sang perwira prajurit Jenggala.
Si bayangan yang tidak lain adalah Tumenggung Landung menatap tajam ke arah Tumenggung Wimana.
"Mau mengamati pergerakan prajurit Panjalu ya?
Tidak semudah itu, hai orang Jenggala", ujar Tumenggung Landung sambil tersenyum sinis.
"Kau cukup pintar juga membaca situasi, hai wong Panjalu..
Aku Wimana, Tumenggung Tumapel mengagumi kemampuan cara pandang mu", ucap Tumenggung Wimana yang tampak bersiaga.
"Baiklah, karena kau sudah menyebut nama maka tidak elok jika aku hanya membisu.
Aku Landung, Tumenggung Kadiri.
Majulah kau Tumenggung Tumapel", Tumenggung Landung menatap tajam ke arah perwira tinggi prajurit Jenggala itu.
Mendengar perkataan Landung, Wimana segera mencabut pedang yang tersimpan di pinggangnya. Segera dia melesat cepat kearah Landung yang telah mempersiapkan kuda kuda ilmu beladiri nya.
Sabetan pedang Tumenggung Wimana mengarah ke leher Landung. Tumenggung Kadiri itu segera menjejak tanah dan melenting ke belakang sambil menangkis sabetan pedang Tumenggung Wimana.
Thhraaaangggggggg!!
Bunyi nyaring di sertai bunga api kecil terlihat dari benturan dua senjata mereka. Melihat lawan bisa menangkis sabetan pedang nya, Tumenggung Wimana memutar tubuhnya dan segera mengayunkan pedangnya kearah kaki sang lawan.
Whuuuuttt!
Sambil menangkis sabetan pedang yang mengincar kakinya, Landung dengan cepat membalik tubuh nya dan melayangkan tendangan keras kearah pinggang sang perwira tinggi Jenggala itu dengan keras.
Bukkkkk!
Ougghhh...!
Tumenggung Wimana terhuyung ke depan. Melihat musuhnya hendak jatuh, Landung segera membabatkan pedang ke arah kepala Tumenggung Wimana.
Namun pria bertubuh tegap itu menyadari nyawanya dalam bahaya, segera menggunakan pedangnya sebagai tumpuan untuk melenting tinggi ke udara dan mendarat sejauh 3 tombak ke belakang.
Pinggang Tumenggung Wimana sakit sekali. Tendangan keras Landung yang dilambari tenaga dalam membuat lelaki bertubuh tegap itu meringis menahan sakit.
'Tumenggung Kadiri ini rupanya boleh juga. Aku tidak boleh gegabah', batin Tumenggung Wimana seraya menata nafas nya yang tersengal sengal.
Tumenggung Wimana segera berlari cepat kearah Landung dengan menusukkan pedangnya. Dengan memakai ilmu pedang Perguruan Gunung Kawi, dia berusaha membongkar pertahanan Tumenggung Landung yang telah mempersiapkan diri sebaik mungkin.
Sabetan demi sabetan pedang mengincar nyawa Tumenggung Landung yang mampu bergerak lincah menghindari serangan Tumenggung Wimana dengan ilmu meringankan tubuh nya yang tinggi. Sebagai murid Resi Gotri dari Gunung Gedang, Landung di bekali ilmu beladiri yang mumpuni sebelum dia mengabdi kepada Kerajaan Panjalu dengan menjadi bagian dari Pasukan Garuda Panjalu dari Bedander.
Puluhan jurus telah berlalu, namun sepertinya Tumenggung Wimana belum juga bisa membongkar pertahanan Landung yang rapi dan kuat.
Dengan cepat, Tumenggung Wimana membabatkan pedang nya ke arah kepala Landung. Namun dengan cekatan, Landung menekuk lutut nya, sedikit merendahkan tubuhnya dan kemudian menghantam dada Tumenggung Wimana dengan keras.
Deshhhh..!!
Ougghhh!!
Tumenggung Tumapel itu terpelanting ke belakang. Tubuhnya melayang dan menghantam pohon yang ada di belakang nya.
Huoghh..!!
Tumenggung Wimana muntah darah segar. Rupanya hantaman keras Landung menciderai organ dalam tubuh nya. Pria bertubuh tegap itu segera menata nafas yang sesak bukan main. Usai meludah yang bercampur darah, Tumenggung Wimana segera bangkit sambil mengusap sudut bibirnya yang masih mengeluarkan darah.
Dengan pandangan penuh kemarahan, Tumenggung Wimana merapal mantra ajian andalan nya. Tumenggung Tumapel itu segera merentangkan kedua tangannya ke samping tubuh. Kemudian menarik kedua tangan ke depan dada dengan menyilang dan kedua tangan terkepal erat. Tumenggung Wimana merapal Ajian Pukulan Api.
Perlahan, sinar merah muncul dari kepalan tangan Tumenggung Wimana.
Melihat lawan sudah menggunakan Ajian andalannya, Tumenggung Landung segera mempersiapkan diri. Meski tidak sehebat Senopati Warigalit, tapi Landung mempunyai sebuah ajian yang selalu dia gunakan di saat genting.
Namanya Ajian Panglebur Gangsa. Sekali terkena pukul Ajian ini, maka organ dalam tubuh lawan akan hancur seketika dan bisa dipastikan bahwa lawan akan tewas.
Kepalan tangan Landung mengeluarkan asap putih yang tebal.
Tumenggung Wimana segera menghantamkan tangan kanannya ke arah Landung. Dengan cepat, sinar merah menerabas cepat kearah Tumenggung Kadiri itu.
Shiiiuuuuuuutttt...
Landung segera menghindar sinar merah itu dengan cepat. Pria itu berkelebat cepat kearah Tumenggung Wimana yang baru saja melepaskan ajian andalan nya.
Blammmmm!!
Sinar merah Ajian Pukulan Api menghantam sebuah pohon yang langsung meledak dan terbakar begitu sinar merah menghantam batang pohon besar itu.
Tumenggung Wimana yang tidak siap untuk menghadapi Tumenggung Landung, sangat terkejut saat melihat perwira tinggi prajurit Kadiri itu sudah berada di depan nya sambil menghantamkan tangan kanannya. Tumenggung Wimana berusaha keras untuk menangkis serangan Landung dengan kedua tangannya.
__ADS_1
Blammmmm!!!
Saat dua tenaga dalam mereka beradu, ledakan keras terdengar. Dua Perwira tinggi prajurit itu sama sama terdorong mundur beberapa langkah. Namun Landung yang ingin cepat mengakhiri pertarungan nya segera melesat cepat kearah Tumenggung Wimana yang berusaha bangkit.
Melihat lawan membabat lehernya, Tumenggung Wimana berusaha untuk menghindar sabetan pedang itu dengan menunduk.
Tapi Landung dengan cepat mencabut keris di pinggangnya kemudian menusukkan keris pusaka itu ke pinggang Tumenggung Wimana.
Jleepppp....!
Aaarrghhh!!
Tumenggung Wimana menjerit keras saat keris pusaka Landung telak menusuk ke perutnya. Pria tegap itu terhuyung mundur sambil memegangi perutnya yang berdarah.
Tak ingin berlama-lama, Landung segera menebas leher Tumenggung Wimana yang tengah kesakitan.
Crasshhh!!
Kepala Tumenggung Wimana menggelinding ke tanah diikuti oleh tubuhnya. Tumenggung Tumapel itu tewas bersimbah darah.
Perang masih berlangsung sengit antara prajurit Jenggala melawan pasukan Panjalu.
Pasukan Jenggala terus berusaha mendesak maju. Dari arah tepi Kali Aksa, pasukan Lodaya ikut serta dalam peperangan itu. Senopati Rangga Suta yang memimpin, langsung memerintahkan kepada para prajurit Lodaya untuk menghabisi para prajurit Jenggala yang ada di depan mereka.
Tumenggung Arundaya yang melihat kedatangan Senopati Rangga Suta dan bendera Tanah Perdikan Lodaya yang berwarna hitam dengan bergambar macan terkejut bukan main.
Tumenggung Jenggala itu berada di belakang dari awal karena merasa ada yang tidak beres dengan tenangnya suasana di barat Kali Aksa. Dia curiga dengan adanya penyergapan dari belakang, maka dia mengawasi pergerakan prajurit yang ada di akhir barisan. Dugaannya benar benar terjadi.
Melihat kedatangan sang Senopati Lodaya, Tumenggung Arundaya segera melompat tinggi ke udara dan turun di depan Senopati Rangga Suta.
"Senopati Lodaya,
Kenapa kau ikut mengepung kami? Bukankah Tanah Perdikan Lodaya selama ini tidak berpihak pada siapapun?", tanya Tumenggung Arundaya sambil menatap ke arah Senopati Rangga Suta.
"Lodaya sudah berbesan dengan Bupati Gelang-gelang, Tumenggung Arundaya.
Jika ada yang mengganggu kedamaian di Panjalu, maka Lodaya akan turun tangan", jawab Senopati Rangga Suta sambil tersenyum tipis. Lelaki bertubuh tegap itu sudah memegang gagang pedang nya.
"Dengan begini, sama dengan kau ikut menyatakan perang kepada Jenggala, Senopati Lodaya.
Apa kau tidak takut Jenggala menyerbu wilayah mu yang kecil itu ha?", bentak Tumenggung Arundaya mencoba mengancam Senopati Rangga Suta.
Phuihhhh
"Jangan menggunakan nama Jenggala untuk mengancam ku, Hai wong Kahuripan.
Meskipun Lodaya hanya wilayah kecil, tapi kami juga bukan orang lemah. Ayo kita tunjukkan siapa yang lebih pantas disebut perwira", ujar Senopati Rangga Suta sambil mencabut pedangnya.
"Bangsat!
Kau menghina ku, Senopati Lodaya. Kalau hari ini aku tidak bisa memenggal kepala mu, aku akan berhenti menjadi perwira Jenggala", usai berkata demikian Tumenggung Arundaya segera mencabut pedangnya dan melesat cepat kearah Senopati Rangga Suta.
Pria paruh baya berbadan tegap itu segera menangkis sabetan pedang Tumenggung Arundaya sambil menghantamkan tangan kiri nya.
Tringgggg!
Tumenggung Arundaya segera memapak serangan tapak tangan kiri Senopati Rangga Suta dengan tangan kiri nya.
Blammmmm!!
Ledakan keras terdengar saat dua tapak tangan kiri bertemu akibat tenaga dalam yang mereka alirkan pada tangan kiri masing-masing.
Baik Senopati Rangga Suta maupun Tumenggung Arundaya sama sama terdorong mundur dua tombak ke belakang.
Sepertinya tenaga dalam mereka berdua berimbang meski milik Senopati Rangga Suta seurat lebih tinggi.
'Aku tidak boleh membuang waktu terlalu lama menghadapi Senopati keparat ini. Pasukan Jenggala dalam bahaya', batin Tumenggung Arundaya sambil menatap tajam ke Senopati Rangga Suta.
Tumenggung Jenggala itu segera menerjang maju ke arah Senopati Rangga Suta sambil membabatkan pedang nya ke arah leher sang pemimpin tertinggi pasukan Lodaya.
Dengan trengginas, Senopati Rangga Suta menghindari sabetan pedang sang perwira tinggi prajurit Jenggala itu.
Jurus demi jurus pedang mereka keluarkan untuk mengalahkan lawan. Namun karena kemampuan mereka sama sama tinggi, maka pertarungan sengit itu berjalan berimbang.
Para prajurit Jenggala satu persatu mulai tumbang di tangan para prajurit Panjalu. Jalan yang membelah hutan lebat itu penuh dengan mayat mayat prajurit Jenggala yang bergelimpangan.
Tumenggung Arundaya yang mulai gusar, menyabetkan pedang nya ke arah kaki Senopati Rangga Suta dengan cepat. Namun karena terlalu bernafsu untuk mengalahkan lawan, pertahanan Tumenggung Arundaya sedikit melonggar.
Dengan cepat Senopati Rangga Suta segera melompat ke udara melompati tubuh Tumenggung Arundaya sambil menjejak bahu kiri sang perwira.
Deshhhh
Ougghhh
Tumenggung Arundaya nyaris terjungkal akibat hantaman di bahu kiri nya. Dengan cepat ia menjatuhkan tubuhnya dan berguling ke tanah menjauhi Rangga Suta.
Dengan segera dia berdiri, dan memegang bahu kiri nya yang terasa sakit.
Senopati Rangga Suta segera membabatkan pedang nya kearah Tumenggung Arundaya, dengan tangan kiri nya yang berubah warna menjadi biru terang akibat Ajian Pembelah Langit andalannya.
Perwira prajurit Jenggala itu segera menangkis sabetan pedang sang Senopati Lodaya. Namun rupanya itu hanya serangan pancingan.
Tranggg!!
Saat pedang beradu, tangan kiri Senopati Rangga Suta yang berwarna biru terang menghantam dada Tumenggung Arundaya.
Blammmmm!!
Arrgghhhh!
__ADS_1
Tumenggung Jenggala yang tidak siap diserang hanya bisa pasrah saat Ajian Pembelah Langit menghantam dada kanan nya. Perwira tinggi prajurit Jenggala itu terpental beberapa tombak ke belakang.
Dada kanan nya gosong seperti terbakar api. Tumenggung Arundaya muntah darah segar. Dia berusaha bangkit dari tempat jatuhnya. Dengan bantuan pedangnya, pria berbadan tegap itu berhasil berdiri.
Melihat lawan nya masih mampu berdiri, dengan cepat Senopati Rangga Suta melesat sambil menebas dada Tumenggung Arundaya.
Crasshhh!
Tumenggung Arundaya roboh dengan luka menganga di dadanya. Sekejap saja dia meregang nyawa kemudian diam untuk selamanya.
Sementara itu di sisi lain pertempuran, Senopati Pungging yang berhadapan dengan Senopati Warigalit nampak sudah memiliki beberapa luka sayat di tubuhnya. Dengan terengah-engah dia menatap tajam ke arah Senopati Warigalit yang masih tampak tenang.
"Bangsat!
Kau sengaja mempermainkan ku,wong Panjalu.
Akan ku hancurkan kepala mu", ujar Senopati Pungging sambil memutar senjata rantai dengan bola bergerigi tajam yang menjadi senjata nya.
Segera dia melesat cepat kearah Warigalit yang memutar Tombak Angin di tangan kanannya.
Angin dingin menusuk tulang berseliweran kearah Senopati Pungging yang melaju kencang kearah nya.
Whuuussshh
Senopati Pungging segera memutar tubuhnya menghindari angin yang menderu kearah nya.
Pria bertubuh gempal itu segera mengarahkan bola bergerigi tajam ke arah kepala Warigalit.
Whuuuggghhh!
Warigalit melompat tinggi ke udara menghindari hantaman bola bergerigi tajam dan dengan cepat mengayunkan Tombak Angin ke arah punggung perwira prajurit Jenggala itu.
Whuuuuttt...
Sreeeetttt!
Aughhhh!!!
Senopati Pungging meraung keras saat bilah tajam mata Tombak Angin merobek punggung nya. Darah segar segera mengalir dari luka nya.
Mata Senopati Pungging memerah menahan marah. Dengan cepat dia merapal mantra Ajian Tapak Surya. Dia berniat mengadu nyawa dengan Warigalit.
Sinar kemerahan segera menjalar ke seluruh tapak tangan kiri Senopati Pungging.
Lalu pria bertubuh gempal itu segera melesat cepat kearah Warigalit sambil menghantamkan tangan kirinya.
Warigalit yang sudah bersiap dengan Ajian Sepi Angin, segera merapal Ajian Tapak Dewa Api nya. Ilmu kanuragan berunsur panas itu menciptakan sinar merah menyala seperti api di tangan kiri nya.
Dengan cepat Warigalit menghantam sinar kemerahan dari tangan kiri Senopati Pungging dengan tangan kiri nya.
Dhuuuaaaaarrrrrr!!
Ledakan dahsyat terdengar dari benturan dua ajian andalan mereka. Senopati Pungging terpelanting ke belakang dan menghantam tanah dengan keras.
Perwira tinggi prajurit Kadipaten Pasuruhan itu muntah darah segar.
Warigalit yang terus menatap ke arah lawan yang terjatuh, di kejutkan oleh sebuah bayangan yang berkelebat cepat sambil menghantamkan tangan kanannya ke arah Warigalit.
Whuuuuttt!!
Dengan cepat, Senopati Kadiri itu melompat mundur beberapa tombak ke belakang.
Blammmmm!
Sinar merah dari serangan bokongan itu menghantam tanah yang ada di belakang Warigalit. Tanah meledak dengan keras dan menciptakan lobang menganga.
Si bayangan itu yang tak lain adalah Senopati Mpu Mardewa, menatap tajam ke arah Senopati Pungging yang masih tergeletak di tanah. Segera dia berbalik arah dan menatap tajam ke arah Warigalit.
"Akan ku balas perbuatan mu, bangsat!"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ikuti terus kisah selanjutnya 😁
Yang suka silahkan tinggalkan jejak kalian dengan like 👍, vote ☝️, favorit 💙 dan komentar 🗣️ nya
__ADS_1
Selamat membaca 🙏🙏🙏