Babat Negeri Leluhur

Babat Negeri Leluhur
Rajah Kala Cakra Buana


__ADS_3

"Ke Pertapaan Ranja Dinda Pitaloka, ada tugas dari Adipati Seloageng", ujar Panji Watugunung seraya terus menepak kuda nya.


Landung yang menjadi petunjuk jalan, berada di depan. Di ikuti Panji Watugunung dan kedua selir dan 1 pelayan nya. Sementara Jarasanda, Marakeh dan Rakai Sanga mengikuti di belakang.


Debu jalanan beterbangan mengiringi langkah kaki kuda kuda mereka..


**


Balasambu menghormat pada pimpinan Perguruan Gunung Kematian setelah hampir satu hari perjanjian berkuda. Kakek tua berjenggot hitam panjang dengan bekas luka memanjang di pipi kiri nya itulah Dewa Maut. Sosok yang di takuti dunia persilatan karna ketinggian ilmunya.


Dewa Maut sendiri sangat jarang turun gunung. Dia lebih suka bersemedi di goa Ganda Mayit di lereng gunung Kelud sebelah barat.


Mpu Sakri pernah mengingatkan Panji Watugunung agar sangat berhati-hati bila bertemu dengan orang ini. Karena orang ini di samping kejam, juga sangat berbahaya.


Saat ini, Dewa Maut sedang duduk di kursi kebesarannya. Memakai jubah hitam dengan hiasan api membuat penampilan kakek tua itu seperti malaikat pencabut nyawa. Di kanan nya ada Julungwangi yang di kenal dengan sebutan Iblis Biru. Julungwangi adalah adik kandung dari Julungpujud si Iblis Abu-abu.


Di sebelah kiri Dewa Maut, ada seorang lelaki paruh baya bertubuh gempal dengan kepala plontos. Dia pengganti Mahesa Rangkah yang tewas tempo hari. Dia di sebut Setan Gundul.


Beberapa orang sesepuh Gunung Kematian juga hadir. Membuat suasana begitu menyeramkan.


Balasambu segera duduk di lantai serambi setelah menghormat.


"Ampun Pemimpin yang Mulia, hamba mendapatkan tugas dari Ki Sampar Angin untuk menyampaikan berita. Setan Merah di Bedander sudah tewas Yang Mulia".


Dewa Maut seketika mengetukkan tongkat besi ke lantai serambi. Karna besar nya tenaga dalam, serambi utama seperti terkena gempa bumi.


"Katakan, siapa yang berani membunuh murid kesayangan ku?".


Balasambu menggigil ketakutan melihat amarah Dewa Maut. Dengan terbata-bata dia menjawab,


"Pasukan Garuda Panjalu Pemimpin yang Mulia, Pimpinan mereka yang menghabisi Setan Merah".


Setan Gundul dan Iblis Biru saling berpandangan.


"Pasukan Garuda Panjalu? Apa itu? Kenapa aku baru dengar, Julungwangi?", Dewa Maut mendelik tajam kearah Julungwangi alias Iblis Biru.


"Ampun Guru, murid juga baru mendengar tentang mereka. Sepertinya pasukan ini di siapkan untuk mengatasi pengacau keamanan yang kita tata dengan aliansi aliran hitam Guru", Julungwangi alias Iblis Biru mencoba menjelaskan.


Hemmmm


"Keparat Samarawijaya!


Siapa pimpinan pasukan itu?", Dewa Maut kali ini mendelik tajam kearah Balasambu.


"Hamba dengar, seorang lelaki muda berpakaian bangsawan dan selalu di ikuti oleh beberapa wanita", Balasambu menundukkan kepalanya.


"Bangsawan muda? Siapa bangsawan muda yang begitu kuat sampai bisa membantai murid kesayangan ku?


Kau !


Selidiki bangsawan muda itu, kalau ada hal penting cepat lapor", Dewa Maut menghardik Balasambu.


Balasambu segera menghormat dan mundur dari serambi utama perguruan.


"Julungwangi, peringatkan orang kita agar lebih berhati-hati", teriak Dewa Maut sambil mengibaskan tangannya tanda para sesepuh perguruan di minta membubarkan diri.


Julungwangi, Setan Gundul dan beberapa sesepuh menghormat pada Dewa Maut setelah itu mundur dari serambi utama perguruan.

__ADS_1


**


Rombongan Panji Watugunung yang di pandu Landung sudah memasuki Pertapaan Ranja.


Puluhan brahmana tampak hilir mudik di sekitar tempat itu. Sebagai tempat pembelajaran agama aliran Siwa, tempat itu benar-benar terasa sakral.


Arca banteng besar perlambang Lembu Andini di tengah tengah halaman pertapaan penuh dengan taburan bunga mawar dan kenanga. Sementara di dalam sanggar pamujan, arca Siwa dan Durga di kelilingi aneka dupa dan bunga.


Panji Watugunung segera melompat turun dari kudanya di ikuti oleh semua pengikut nya.


Seorang brahmana muda, mendekati mereka.


"Maaf Kisanak,


Siapa kalian semua dan ada perlu apa ke tempat kami?".


"Kami utusan Adipati Tejo Sumirat dari Seloageng. Mohon di perkenankan untuk bertemu dengan Resi Mpu Soma. Ada hal yang harus kami sampaikan langsung kepadanya", jawab Panji Watugunung dengan sopan.


"Mari silahkan, saya antar menemui beliau. Kebetulan Guru Resi baru selesai bersemedi", Brahmana muda itu segera bergegas menuju kediaman samping sanggar pamujan tempat tinggal Mpu Soma.


Panji Watugunung dan rombongannya segera duduk di lantai serambi. Semilir angin dari bukit selatan Sungai Brantas membuat sejuk hati semua orang.


Tak berapa lama, seorang kakek berpakaian brahmana dengan rambut putih di gelung dan jenggot panjang yang juga berwarna putih tiba di serambi. Sorot mata kakek tua itu begitu teduh dan bersahabat.


"Selamat datang di Pertapaan Ranja, wahai tamu agung sekalian. Maafkan brahmana tua ini yang tidak mempersiapkan penyambutan untuk keturunan Lokapala yang mulia", ujar Brahmana tua yang bernama Resi Mpu Soma.


"Maaf Guru Resi, saya kurang memahami makna dari ucapan Guru Resi. Mohon pencerahannya", ucap Panji Watugunung sopan.


"Bukankah aku sedang berhadapan dengan putra Panji Gunungsari yang merupakan buyut Lokapala dan cucu Mahendradatta?", Resi Mpu Soma tersenyum simpul.


"Mohon maaf jika kurang sopan Resi. Maksud Resi, Gusti Panji Watugunung ini masih berkerabat dekat dengan Maharaja Airlangga?", potong Jarasanda yang penasaran.


Jarasanda, Marakeh, Rakai Sanga dan Landung terkejut bukan main mendengar penuturan Resi Mpu Soma. Bayangan mereka Panji Watugunung hanyalah seorang putra mahkota Kabupaten Gelang-gelang saja sudah membuat mereka sungkan, apalagi kini di tambah keterangan dari Resi Mpu Soma semakin membuat rasa hormat mereka bertambah.


"Mohon maaf Resi, mohon tidak membesar-besarkan hal ini.. Saya hanya seorang utusan biasa", Panji Watugunung merendah.


Resi Mpu Soma tersenyum penuh arti, dia senang dengan sikap rendah hati dari Panji Watugunung.


"Mohon maaf Resi, saya di utus Adipati Tejo Sumirat untuk menyampaikan pesan", Panji Watugunung merogoh ke dalam bajunya dan mengeluarkan sepucuk surat yang di bungkus kain biru lalu menghaturkan ke Resi Mpu Soma.


Brahmana sepuh itu membaca setiap kata dalam hati dan tersenyum tipis.


"Keturunan Lokapala, ulurkan tangan mu".


Panji Watugunung segera mengulurkan tangan kanannya dan membuka telapak tangan.


Resi Mpu Soma memejamkan mata sebentar, kemudian telunjuk tangan brahmana tua itu menekan telapak tangan Panji Watugunung.


Watugunung merasakan sensasi panas luar biasa menjalar di tangan kanan nya dan berhenti di pundak kanannya. Setelah beberapa saat, Mpu Soma tersenyum dan melepaskan telunjuk tangan nya dari telapak tangan Panji Watugunung. Keringat masih menetes di kening pemuda itu, tapi dia merasa lega.


"Sekarang coba buka baju mu, dan lihat punggung mu sebelah kanan, Keturunan Lokapala", ujar Resi Mpu Soma tersenyum.


Panji Watugunung membuka kancing baju nya, Ratna Pitaloka membantu menurunkan baju.


Semua orang terkejut. Sebuah rajah berbentuk bulat seperti roda bergerigi seperti hidup terukir di punggung kanan Watugunung.


"Itu Rajah Kala Cakra Buana. Hanya orang dari keturunan Lokapala dan mendapat kuasa menentramkan dunia saja yang mampu menerima rajah itu. Saat ada yang mencoba membokong mu dengan teluh dan ilmu gaib lainnya, mereka tidak akan mampu menembus Rajah Kala Cakra Buana di tubuh mu", Resi Mpu Soma tersenyum tipis.

__ADS_1


Perlahan, gambar Rajah Kala Cakra Buana seperti tenggelam di kulit punggung Panji Watugunung dan warna kulit Panji Watugunung kembali seolah olah tidak terjadi apa-apa.


"Terimakasih Guru Resi, untuk perlindungan nya", jawab Watugunung seraya menghaturkan sembah.


"Kau sudah sepantasnya mendapatkan nya, Keturunan Lokapala. Lagi pula suatu saat nanti kau akan melindungi Daha dari bencana, jadi sudah sepantasnya kau mendapat dukungan dari semua orang", Mpu Soma menerawang jauh.


Panji Watugunung hanya bisa tersenyum tipis mendengar jawaban Resi Mpu Soma.


"Tejo Sumirat itu benar-benar pintar. Dia tahu bahwa mendapatkan menantu seperti mu adalah berkah luar biasa untuk keturunan nya", timpal Resi Mpu Soma kemudian.


Semua orang kembali terkejut mendengar ucapan Mpu Soma.


Setelah puas bercakap cakap, Panji Watugunung segera mohon ijin untuk kembali ke Pakuwon Bedander. Tak lupa Panji Watugunung memberikan sekantong kepeng emas untuk biaya hidup para brahmana di Pertapaan Ranja. Meski Resi Mpu Soma menolak, tapi Panji Watugunung dengan sedikit memaksa akhirnya membuat brahmana sepuh itu menerima nya.


Setelah menghormat pada Resi Mpu Soma, Panji Watugunung segera melompat ke atas kuda nya dan memacu kudanya kembali Pakuwon Bedander di ikuti para pengikut nya.


Senja berangsur menjadi gelap malam. Panji Watugunung yang baru saja berganti baju, bergegas menuju serambi istana Pakuwon Bedander setelah seorang dayang istana pakuwon memberi tahu nya.


Akuwu baru sudah datang.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Masih semangat kan bacanya??


Nantikan terus kelanjutan ceritanya


Jangan lupa untuk dukung author ya dengan like vote dan komentar nya 👍👍👍👍

__ADS_1


Happy reading guys 😁😁😁😁


__ADS_2