Babat Negeri Leluhur

Babat Negeri Leluhur
Tugas Negara Memanggil


__ADS_3

Pasukan Panjalu terus bergerak menuju ke perbatasan Anjuk Ladang dan Lasem. Begitu sampai di wilayah Anjuk Ladang, Senopati muda Narapraja yang menjadi pemimpin tertinggi sementara, memerintahkan kepada para prajurit untuk berhenti.


Kondisi tubuh Senopati Ganggadara yang terus memburuk, mau tak mau memaksa mereka untuk beristirahat. Lukanya terus mengeluarkan darah meski sudah di balut.


"Tumenggung Koncar, ini wilayah Anjuk Ladang.


Cepat kau pergi ke istana Kadipaten Anjuk Ladang, cari bantuan tabib terbaik di istana.


Sekarang!", teriak Senopati muda Narapraja.


Tumenggung Koncar segera menyembah kepada Senopati muda itu dan diiringi 20 prajurit Anjuk Ladang, dia menggebrak kuda nya menuju ke barat daya. Debu beterbangan mengikuti langkah mereka.


Sesampainya di istana Kadipaten Anjuk Ladang, Tumenggung Koncar segera bergegas menuju istana kadipaten Anjuk Ladang.


Gunawarman dan para pembesar istana kadipaten Anjuk Ladang yang sedang melakukan paseban agung, terkejut melihat kedatangan Tumenggung Koncar.


"Mohon ampun Gusti Adipati jika kedatangan hamba mengganggu paseban agung ini.


Hamba diutus Gusti Senopati Narapraja untuk meminta bantuan tabib istana kadipaten Anjuk Ladang", ujar Tumenggung Koncar sambil menyembah kepada Adipati Gunawarman.


"Apa yang terjadi Koncar?", tanya sang Adipati Anjuk Ladang.


"Lasem sudah jatuh Gusti Adipati. Panglima pasukan Daha terluka parah.


Kalau kita tidak membantu Daha sepenuhnya, hamba takut Anjuk Ladang akan menjadi sasaran selanjutnya", Tumenggung Koncar segera menerangkan tentang situasi yang sedang terjadi.


"APAAAAA?!!"


Adipati Gunawarman terkejut bukan main mendengar perkataan Tumenggung Koncar. Segera dia menjadi panik.


"Koncar, bawa segera 2 tabib istana Anjuk Ladang. Kau boleh cepat pergi kembali ke pasukan Panjalu.


Aku akan membicarakan langkah selanjutnya dari Anjuk Ladang", titah sang Adipati Gunawarman.


"Sendiko dawuh Gusti Adipati", Tumenggung Koncar segera menghormat dan mundur dari bangsal paseban agung.


"Reksapraja,


Berapa prajurit yang kita miliki?", Gunawarman nampak cemas.


"Kita memiliki 2000 prajurit Gusti Adipati, di luar 1000 prajurit yang kita perbantukan untuk peperangan ini", Patih Reksapraja menghormat.


Hemmmm


"Tumenggung Walaing,


Pimpin 1000 prajurit untuk membantu pasukan Panjalu di perbatasan kita.


Reksapraja,


Kau atur penjagaan ketat dengan 1000 prajurit di kota Kadipaten Anjuk Ladang. Minta semua waspada. Jika ada orang yang mencurigakan, segera tangkap.


Mulai hari ini, Anjuk Ladang dalam siaga perang", titah sang Adipati Gunawarman.


Semua pembesar istana kadipaten Anjuk Ladang segera menghormat pada Adipati Gunawarman dan bersiap untuk melaksanakan tugas masing-masing.


Tumenggung Koncar terus menggebrak kuda nya di iringi 20 prajurit Anjuk Ladang dan 2 tabib istana.


Walaupun hari semakin sore, tapi tidak meruntuhkan semangat nya untuk mengantarkan dua tabib istana kadipaten Anjuk Ladang ke perkemahan pasukan Panjalu.


Saat sinar merah senja mulai menghilang di ufuk barat dan berganti gelap malam hari, Tumenggung Koncar sampai di perkemahan pasukan Daha. Mereka langsung menuju ke tenda besar di tengah perkemahan.


Senopati Ganggadara semakin pucat wajah nya. Panglima pasukan Panjalu itu mulai tidak sadarkan diri saat Tumenggung Koncar memasuki tenda.


Dua tabib istana kadipaten Anjuk Ladang segera memeriksa keadaan tubuh sang Panglima Pasukan. Sekuat tenaga mereka melakukan yang terbaik untuk sang panglima.


Peluh mengalir dari dahi dua tabib istana kadipaten Anjuk Ladang itu.


**


Di Tanjung Anom, 5 prajurit berkuda dari Jenggala yang di pimpin Tumenggung Dresta dan Demung Jumena bergerak cepat menuju ke arah Pakuwon Lwaram.


"Kakang Tumenggung,


Apa kita tidak beristirahat sejenak dulu Kakang? Kasihan kuda dan para prajurit yang berkuda seharian penuh", Demung Jumena setengah berteriak keras pada Tumenggung Dresta, kakak kandungnya.


"Kita akan beristirahat begitu sampai di Lwaram, Jumena.


Waktu kita sempit. Semakin cepat kita sampai ke Lwaram, akan semakin baik..


Hiyaaaaa...", usai menjawab pertanyaan adiknya, Tumenggung Dresta langsung memacu kudanya dengan kecepatan tinggi.


Demung Jumena hanya bisa mengikuti perintah sang kakak, menggebrak kuda nya melesat menyusul di belakang tumenggung Dresta. 5 ribu prajurit Jenggala mengikuti langkah sang pemimpin, memacu kuda mereka menuju Lwaram.


Sinar bulan purnama mengiringi langkah mereka menembus malam.


**

__ADS_1


Di istana Gelang-gelang.


Rombongan Mapatih Jayakerti memasuki istana Gelang-gelang saat senja baru saja menghilang.


Meski dengan kuda pilihan, perjalanan mereka menjadi sedikit lambat. Tapi karena Mapatih Jayakerti adalah wrangka istana negara, maka ini bisa di maklumi.


Penjaga pintu gerbang istana Kabupaten Gelang-gelang segera berlari masuk ke ruang pribadi Bupati Gelang-gelang, untuk memberitahukan kedatangan rombongan itu.


Panji Gunungsari segera bergegas menyambut kedatangan Mapatih Jayakerti dan Tumenggung Adiguna. Para prajurit penggiring menunggu di luar balai peristirahatan.


"Selamat datang di Gelang-gelang Gusti Mapatih, mohon maaf jika penyambutan kami kurang berkenan di hati Gusti Mapatih Jayakerti", ujar Panji Gunungsari sambil menghormat.


"Gusti Bupati Gelang-gelang jangan sungkan. Saya kemari di utus Gusti Prabu Samarawijaya untuk menemui mantu nya.


Mohon bantuannya untuk memanggil Gusti Pangeran Panji Watugunung, Gusti Bupati", ujar Mapatih Jayakerti sopan.


Meskipun secara resmi kedudukan nya jauh lebih tinggi dari Panji Gunungsari, namun Panji Gunungsari adalah besan Raja Daha. Dia juga masih terhitung kerabat istana Daha. Tidak sopan terhadap Bupati Gelang-gelang, sama juga mencari masalah.


Panji Gunungsari segera mempersilakan Mapatih Jayakerti dan Tumenggung Adiguna untuk duduk sementara itu dia mundur ke belakang. Dewi Anggraeni, adik tiri Panji Watugunung diutus menemui kakaknya, sementara Panji Gunungsari segera kembali menemui Mapatih Jayakerti.


Panji Watugunung sedang bercengkrama dengan kelima istri nya saat Dewi Anggraeni masuk ke Keputran Gelang-gelang.


"Kangmas Panji,


Sama Romo di suruh menghadap ke bangsal paseban agung. Ada tamu agung dari Daha yang ingin bertemu", ujar Dewi Anggraeni sambil tersenyum simpul memandang kelima kakak iparnya itu.


"Siapa tamu nya Nimas??", tanya Panji Watugunung segera.


"Mana ku tahu Kangmas, sudah jangan banyak tanya.


Cepat Kangmas Panji kesana", jawab Dewi Anggraeni sambil menarik tangan Watugunung.


Hanya Ayu Galuh yang mengikuti langkah Panji Watugunung, sementara keempat istrinya memilih untuk menunggu berita di serambi keputran Gelang-gelang.


Di bangsal paseban, Mapatih Jayakerti, Tumenggung Adiguna, dan Panji Gunungsari sudah menanti kedatangan Panji Watugunung dan Ayu Galuh.


"Salam hormat hamba Gusti Pangeran, Gusti Putri", ujar Mapatih Jayakerti segera menghormat pada Panji Watugunung dan Ayu Galuh. Tumenggung Adiguna mengikuti langkah Mapatih Jayakerti.


"Jangan seperti itu Gusti Mapatih, sudah jangan banyak peradatan.


Kalau boleh tau, apa yang membuat Gusti Mapatih Jayakerti malam malam begini Sudi datang ke Gelang-gelang?", tanya Panji Watugunung yang keheranan melihat Mapatih Jayakerti ada disitu.


"Maaf jika kedatangan saya mengganggu istirahat Gusti Pangeran dan Gusti Putri.


Saya diutus langsung oleh Gusti Prabu Samarawijaya, untuk meminta bantuan kepada Gusti Pangeran Panji", jawab Mapatih Jayakerti segera.


"Apa maksudmu meminta bantuan ku Gusti Mapatih? Tolong coba kau jelaskan", Panji Watugunung semakin tak mengerti.


"Begini Gusti Pangeran,


Pasukan Jenggala di bawah pimpinan Senopati Mpu Tandi telah menyerbu Kadipaten Lasem. Adipati Waisudana dan keluarga nya tewas di tangan Mpu Tandi dan anak buah nya.


Saat ini, Senopati Ganggadara dan para prajurit Panjalu sudah bergerak kesana.


Gusti Prabu Samarawijaya secara pribadi meminta bantuan kepada Gusti Pangeran Panji agar mau membantu merebut kembali tanah Lasem dari tangan pasukan Jenggala", Mapatih Jayakerti segera menjelaskan panjang lebar tentang situasi yang sedang terjadi.


Panji Watugunung dan Ayu Galuh terkejut mendengar ucapan Mapatih Jayakerti. Begitu juga dengan Panji Gunungsari. Ini sungguh berita penting.


"Saya bersedia Gusti Mapatih,


Malam ini juga saya akan berangkat ke Sanggur. Agar besok pagi kami bisa berangkat menuju Lasem", ujar Panji Watugunung segera.


Jika begitu, saya langsung mohon pamit pulang ke Daha Gusti Pangeran, Gusti Putri", ujar Mapatih Jayakerti sambil tersenyum tipis dan memberi hormat kepada Panji Watugunung dan Ayu Galuh.


Mapatih Jayakerti dan Tumenggung Adiguna segera mundur dari bangsal paseban agung Gelang-gelang. Malam itu juga, mereka memacu kuda mereka meninggalkan istana Kabupaten Gelang-gelang menuju ke arah Daha.


Panji Watugunung dan Ayu Galuh segera bergegas menuju ke arah keputran Gelang-gelang.


Keempat istrinya masih menunggu kedatangan sang suami.


"Srimpi,


Siapkan pakaian ku. Malam ini kita berangkat ke Sanggur", Panji Watugunung memandang kearah Dewi Srimpi. Tanpa bertanya, Dewi Srimpi segera mengangguk dan bergegas menuju ke arah kamar tidur Panji Watugunung.


"Kenapa mendadak sekali Kangmas? Ada apa sebenarnya?", tanya Dewi Anggarawati seakan tak percaya.


Panji Watugunung tersenyum tipis melihat istri pertamanya itu. Kemudian dia mengelus kepala Dewi Anggarawati dengan lembut.


"Lasem jatuh ke tangan pasukan Jenggala Dinda, ada kemungkinan mereka akan bergerak ke Anjuk Ladang.


Gusti Prabu Samarawijaya mengutus Mapatih Jayakerti sendiri untuk meminta bantuan ku mengatasi masalah ini.


Sebagai prajurit, aku harus siap di berangkatkan kapan pun negara membutuhkan tenaga ku.


Untuk sementara Dinda Anggarawati tetap disini dulu ya? Setelah perang ini usai, aku janji kita akan berkumpul bersama lagi".


Derai air mata langsung jatuh dari mata Dewi Anggarawati. Sebagai wanita yang tengah hamil, dia tidak ingin jauh dari suaminya. Tapi sebagai istri ksatria, dia harus merelakan suaminya berangkat ke medan tempur.

__ADS_1


Panji Watugunung segera memeluk Dewi Anggarawati, dan mengecup mesra kening perempuan cantik itu.


Usai berpamitan, Panji Watugunung dan keempat istrinya menggebrak kuda mereka menuju ke markas pasukan Garuda Panjalu di Sanggur.


Bulan purnama begitu megah di langit malam, seolah mengiringi langkah kaki kuda kuda yang berpacu melawan waktu.


Menjelang tengah malam, mereka sampai di Sanggur.


Rakai Sanga yang sedang asyik membakar jagung bersama Marakeh sahabat nya di depan pintu gerbang, seketika waspada mendengar derap kaki kuda mendekat ke arah mereka.


"Rakeh,


Ada serombongan orang berkuda mendekat", ujar Rakai Sanga yang langsung berdiri diikuti Marakeh dan 4 orang prajurit yang berjaga.


Setelah dekat, baru terlihat kalau Panji Watugunung dan keempat istrinya yang datang, Marakeh dan Rakai Sanga langsung menghormat.


Keempat prajurit segera membuka pintu gerbang, dan Panji Watugunung beserta keempat istrinya segera menuju serambi utama markas pasukan Garuda Panjalu.


Rakai Sanga dan Marakeh mengekor di belakangnya.


"Mohon ampun Gusti Pangeran,


Ada hal penting apa yang membuat Gusti Pangeran datang ke markas malam buta begini?", Marakeh langsung bertanya setelah Panji Watugunung duduk di kursi.


"Kalian berdua,


Cepat bangunkan semua bekel prajurit dan dua tumenggung. Suruh berkumpul disini sekarang", perintah Panji Watugunung.


Rakai Sanga dan Marakeh segera menghormat dan mundur dari serambi utama markas.


Dengan cepat mereka menuju ke tempat kediaman masing-masing perwira prajurit.


Gumbreg yang sedang asyik bercinta dengan Juminten, terkejut mendengar gedoran pintu rumah nya.


Tok tok tok


"Mbreg bangun Mbreg,


Acara mu di tunda dulu", teriak seseorang dari luar pintu rumah.


Gumbreg yang sedang menuju puncak, menggerutu.


"Ada apa sih? Sebentar saja, lagi nanggung nih".


"Gusti Pangeran Panji Watugunung datang, meminta semua bekel prajurit berkumpul di serambi utama.


Yang telat akan dihukum", teriak Rakai Sanga sambil tersenyum geli.


Gumbreg langsung mengkerut seketika mendengar ucapan Rakai Sanga. Dengan tergesa dia menyelesaikan hasratnya.


Cepat-cepat dia memakai pakaian nya. Sebagai pengantin baru, dia lagi senang senangnya. Juminten langsung cemberut wajahnya.


"Sabar dhek Jum, nanti kita ulangi lagi,


Tugas negara memanggil"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Kasian banget si Gumbreg ya😂😂😂😂


Terimakasih banyak author ucapkan kepada kakak reader tersayang semuanya atas dukungannya terhadap cerita perjalanan Kang Panji Watugunung 👍👍👍👍


Lophe lophe pokoknya ❤️❤️❤️❤️


Selamat membaca guys 😁😁😁😁

__ADS_1


__ADS_2