
Ratna Pitaloka menatap ke arah Dewi Anggarawati yang tengah memeluk Dewi Naganingrum. Dewi Anggarawati melepaskan pelukannya pada Dewi Naganingrum lalu tersenyum simpul kearah Ratna Pitaloka dan Sekar Mayang.
"Tidak ada apa-apa Kangmbok Pitaloka. Hanya sebuah berita gembira saja", ujar Dewi Anggarawati seraya mendekati Panji Watugunung yang sedari tadi hanya senyum senyum saja.
"Berita apa Anggarawati? Cepat katakan, jangan buat aku penasaran", tanya Ratna Pitaloka segera. Sekar Mayang yang biasanya cerewet sekali pun begitu antusias mendengarkan.
"Itu Nyimas Naganingrum tengah hamil muda", jawab putri Adipati Seloageng itu seraya mencubit perut Panji Watugunung. Maharaja Panjalu itu hanya meringis saja mendapat cubitan mesra dari permaisuri pertama nya.
HAAAAAHHH!!
Ratna Pitaloka dan Sekar Mayang terpana mendengar ucapan Dewi Anggarawati. Dua selir Raja Panjalu itu saling berpandangan sejenak kemudian menatap ke arah Dewi Naganingrum yang sedang mengelus perutnya yang masih rata.
"Kog bisa?
Padahal jatah Putri Sunda itu paling akhir sebelum Si Cempluk. Tapi kenapa bisa dia duluan yang hamil?", tanya Sekar Mayang seakan tak percaya dengan apa yang baru dia dengar.
"Kakang Watugunung,
Kenapa bisa dia duluan yang hamil? Kau pasti melakukan sesuatu yang berbeda? Iya kan?", berondongan pertanyaan Ratna Pitaloka membuat Panji Watugunung garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Maharaja Panjalu itu bingung mau menjawab pertanyaan Selir pertama nya itu.
"Jodoh, rejeki, derajat, pangkat, hidup dan mati itu rahasia Sang Hyang Widhi Wasa. Kau tidak boleh menyalahkan Gusti Prabu Jayengrana untuk masalah ini", sebuah suara berat membuat semua orang menoleh kearah sumber suara. Begawan Sulapaksi tersenyum simpul melihat semua orang menatapnya.
"Begawan Sulapaksi dari Wanua Klakah?
Sejak kapan Begawan datang kemari?", tanya Ratna Pitaloka yang mengenali pandita tua itu segera.
"Hamba baru saja datang, Gusti Selir. Hamba kemari untuk memenuhi janji hamba tempo hari saat Gusti Prabu Jayengrana dan Gusti Selir sekalian berada di wanua Klakah", jawab Begawan Sulapaksi sambil mengeluarkan dua buah kain putih kecil yang di jahit rapi dari balik baju nya, persis seperti yang pernah Begawan Sulapaksi berikan kepada Ayu Galuh tempo hari.
Melihat benda itu, Ratna Pitaloka bergegas mendekati pandita tua segera. Begitu pula Sekar Mayang yang langsung mengingat benda itu.
Lalu Begawan Sulapaksi segera menyerahkan dua benda itu masing masing sebuah pada Ratna Pitaloka dan Sekar Mayang. Raut wajah dua perempuan cantik itu langsung berbinar binar.
"Ini... ini...", ujar Sekar Mayang yang seakan tak bisa mengungkapkan perasaan senang nya. Dia masih tak percaya bahwa Begawan Sulapaksi akan memenuhi janjinya.
"Benar Gusti Selir..
Itu adalah sarana agar Gusti Selir cepat punya momongan dari Gusti Prabu Jayengrana", ucap Begawan Sulapaksi sembari tersenyum simpul.
Mendengar jawaban itu, tak terasa air mata Sekar Mayang dan Ratna Pitaloka menetes. Mereka benar-benar ingin melahirkan seorang anak sebagai buah cinta mereka kepada Panji Watugunung.
Saking senangnya, Ratna Pitaloka segera melepaskan kalung emas yang melingkar di leher nya dan segera memberikan nya pada Begawan Sulapaksi. Sekar Mayang pun melepaskan gelang emas nya dan segera memberikan gelang itu pada Begawan Sulapaksi sebagai tanda terima kasih.
Begawan Sulapaksi menerima hadiah dari Ratna Pitaloka dan Sekar Mayang.
"Saya terima hadiah dari Gusti Selir berdua. Hadiah ini akan saya gunakan untuk membangun sanggar pamujan di wanua Klakah agar suatu saat jika Gusti Prabu Jayengrana berkunjung, suasana di sana menjadi lebih baik", ucap Begawan Sulapaksi segera.
Prabu Jayengrana menghela nafas lega karena benda pemberian Begawan Sulapaksi untuk Ratna Pitaloka dan Sekar Mayang. Setidaknya mereka berdua merasa masih di perlakukan adil seperti para permaisuri yang mendapat keturunan dari nya.
Dewi Anggarawati menggiring mereka semua ke sasana boga Istana Daha untuk menikmati makanan yang sudah di siapkan.
Dewi Srimpi yang datang belakangan sedikit kaget melihat kedatangan Begawan Sulapaksi diantara mereka. Apalagi melihat raut wajah Ratna Pitaloka dan Sekar Mayang yang berseri-seri.
Segera selir ketiga Panji Watugunung itu mendekati Begawan Sulapaksi.
"Begawan Sulapaksi,
Kau pasti sudah memberikan sarana untuk Kangmbok Ratna Pitaloka dan Kangmbok Sekar Mayang bukan?
Untuk ku mana?", Dewi Srimpi menengadahkan tangannya pada pandita tua dari Wanua Klakah itu segera.
Begawan Sulapaksi tersenyum simpul menatap wajah cantik Dewi Srimpi.
"Gusti Selir belum saatnya. Ada beberapa tugas besar yang harus di selesaikan oleh Gusti Prabu Jayengrana.
Dalam hal ini, Gusti Selir Srimpi dan Gusti Selir Sunti yang harus membantu Gusti Prabu. Jika tugas itu telah selesai, maka saya akan datang ke istana Daha lagi", ujar Begawan Sulapaksi sambil tersenyum tipis. Meski sedikit kecewa namun Dewi Srimpi hanya bisa pasrah saja menerima omongan Begawan Sulapaksi.
Suasana di sasana boga Istana Daha begitu meriah dengan kehadiran calon putra ketiga Prabu Jayengrana juga kegembiraan Ratna Pitaloka dan Sekar Mayang.
**
Satu setengah purnama kemudian...
Seorang lelaki bertubuh pendek dengan kumis tebal nampak terus mengawasi pergerakan ribuan orang yang tengah berlatih di sebuah padang rumput tersembunyi di lereng Gunung Damalung. Dari balik tebing berbatu, dia mulai menghitung jumlah kira kira dari orang yang tengah berlatih perang.
Tak berapa lama kemudian seorang lelaki bertubuh ceking dengan rambut panjang perlahan mendekati si lelaki bertubuh pendek.
Pria itu menoleh sebentar ke lelaki ceking di sampingnya tanpa bicara lalu kembali mengawasi pergerakan orang orang itu. Sudah sepekan mereka mencari tempat itu dan baru tadi pagi mereka menemukan nya.
Di tengah pelatihan, datang seorang lelaki berkuda memakai pakaian mewah layaknya seorang bangsawan. Semua orang yang berlatih menghentikan gerakan dan segera memberikan hormat kepada si lelaki berpakaian mewah.
"Sembah bakti kami Gusti Patih", demikian suara yang terdengar dari mulut masing masing orang di tempat itu.
Orang berpakaian mewah yang tak lain adalah Patih Harjamukti, segera mengangkat tangan kanannya ke atas.
__ADS_1
"Persiapkan diri kalian sebaik mungkin. Sebentar lagi kita akan menyerbu Daha untuk mendapatkan keadilan atas kematian Pangeran Banjarsari", ucap Patih Harjamukti dengan keras.
Semua orang segera menghormat pada Patih Harjamukti sebelum dia meninggalkan tempat itu.
Dua orang pengintai di balik tebing berbatu itu segera saling berpandangan sejenak. Lalu dengan gerakan pelan mereka menjauh dari tempat itu tanpa menimbulkan suara.
Setelah jauh dari tempat pelatihan prajurit Kadipaten Kembang Kuning, dua orang berpakaian rakyat jelata itu segera memanggul kayu bakar untuk mempertegas kesan bahwa mereka adalah rakyat biasa.
Benar saja, sekitar 200 tombak dari tempat pengintaian mereka, dua orang itu bertemu dengan sekawanan prajurit Kadipaten Kembang Kuning yang bertugas menjaga tempat itu dari setiap orang untuk mencegah bocor nya berita pelatihan pasukan besar-besaran yang di lakukan oleh Adipati Mpu Pamadi.
"Hai kalian, berhenti!", teriak seorang prajurit Kembang Kuning yang melihat mereka berdua. Segera dua telik sandi itu berhenti berjalan dan berbalik arah.
6 orang prajurit Kembang Kuning yang bertugas meronda tempat itu mendekati mereka.
"Ada apa Gusti Prajurit? Apa ada yang salah dengan kami?", tanya lelaki bertubuh pendek dengan mimik wajah bingung.
"Kenapa kalian mencari kayu bakar di tempat ini? Bukankah sudah ada peringatan untuk tidak mendekati kawasan hutan larangan?", tanya si prajurit Kembang Kuning yang berbadan tegap.
"Ini semua adalah kesalahan adik hamba ini Gusti Prajurit. Karena di sebelah sana kami tidak menemukan kayu bakar kering, dia mengajak hamba untuk menyusuri sungai kecil itu hingga kami sampai kemari", jawab si lelaki bertubuh pendek itu segera.
"Benar begitu, hai orang kurus?", tanya seorang prajurit lain yang ikut bertugas di tempat itu dengan nada selidik.
"Benar Gusti Prajurit. Kami tidak bohong", ujar si lelaki bertubuh ceking dengan cepat seperti tidak berani berdusta.
Melihat pakaian mereka yang miskin dan kayu kering yang mereka panggul, para prajurit Kembang Kuning percaya.
"Baiklah. Kali ini aku ampuni kalian. Lain kali jangan masuk ke hutan larangan lagi. Kalian mengerti?", perintah si prajurit Kembang Kuning berbadan tegap dengan nada mengancam.
"Kami mengerti Gusti Prajurit. Lain kali kami tidak akan berani kemari lagi", ucap si lelaki bertubuh pendek dengan menunduk.
Para prajurit Kembang Kuning segera pergi dari tempat itu. Dua orang telik sandi itu saling melempar senyum lalu bergegas meninggalkan tempat itu seraya memanggul kayu kering mereka.
Begitu sampai di tepi hutan, mereka berdua segera meletakkan kayu kering di samping semak belukar. Lalu mengeluarkan sepasang kuda yang mereka sembunyikan di rimbun semak belukar di tepi hutan tempat para prajurit Kembang Kuning berlatih.
Mereka berdua adalah Ki Dampi dan Bogang, dua telik sandi andalan Daha dari wilayah Lasem yang berbatasan langsung dengan Kembang Kuning. Mereka secara khusus di tugaskan oleh pemimpin mereka, Maenaka untuk membantu penyelidikan terhadap pergerakan prajurit Kembang Kuning yang mempersiapkan diri untuk memberontak terhadap pemerintah pusat Daha.
Ki Dampi dan Bogang segera menggebrak kuda tunggangan mereka menuju ke arah timur. Tujuan mereka adalah perbatasan antara Kadipaten Kembang Kuning dan Lasem yang dipisahkan oleh sungai kecil.
Menjelang tengah hari, mereka telah sampai di perbatasan antara Kembang Kuning dan Lasem. Begitu melewati sungai kecil, mereka berdua terus memacu kuda mereka ke sebuah rumah tua yang ada di kaki sebuah bukit kecil.
Begitu sampai, mereka berdua segera melompat turun dari kuda dan segera mengikat tali kekang hewan pelari itu pada geladakan di halaman rumah.
"Ki Dampi, Bogang...
Berita apa yang kalian bawa?", tanya seorang lelaki bertubuh gempal dengan jambang lebat saat dua orang telik sandi itu masuk ke dalam.
"Cepat buat laporan Kakang..
Kembang Kuning bersiap memberontak. Mereka melatih sekitar 20 ribu prajurit di hutan larangan Gunung Damalung", lapor Ki Dampi yang membuat Maenaka segera memanggil dua orang bawahan nya yang bertugas menjaga dan merawat merpati pembawa surat.
Usai menuliskan tentang berita Kembang Kuning, Maenaka segera melepaskan sang merpati pembawa berita itu menuju Anjuk Ladang. Dari sana berita itu di teruskan ke Daha.
Seorang prajurit Panjalu yang bertugas sebagai penerima pesan telik sandi di Kepatihan Daha, melihat kedatangan seekor burung merpati berbulu putih. Buru buru dia mendekati si burung merpati dan menangkapnya. Dengan cepat ia melepaskan gulungan kain putih yang terikat di kaki hewan peliharaan itu, lalu membaca tulisan yang ada di situ. Sedangkan merpati yang membawa berita itu terbang kembali menuju Anjuk Ladang.
Si prajurit bergegas menuju ke arah serambi Kepatihan. Kebetulan di serambi Kepatihan Daha sedang berkumpul Mapatih Jayakerti, Senopati Warigalit dan Tumenggung Ludaka. Mereka bertiga tengah membicarakan tentang langkah mereka kedepannya.
Segera si prajurit itu menyembah pada Mapatih Jayakerti, lalu mendekat kepada sang warangka praja Panjalu. Dia menyerahkan kain putih yang merupakan pesan dari Maenaka.
Wajah sepuh Mapatih Jayakerti langsung berubah usai membaca tulisan pada secarik kain putih di tangan nya.
"Sudah ku duga mereka akan berbuat seperti ini. Peristiwa tempo hari adalah akar permasalahan yang sedang terjadi", ujar Mapatih Jayakerti sembari menggenggam erat kain putih dari telik sandi Daha itu.
"Ada apa Gusti Mapatih?
Apa yang telah terjadi?", tanya Senopati Warigalit yang keheranan melihat sikap Mapatih Jayakerti yang tiba-tiba berubah. Padahal baru saja mereka masih tertawa saat membicarakan tentang kelucuan Demung Gumbreg.
"Adipati Kembang Kuning melakukan persiapan untuk memberontak, Senopati..
Kita harus cepat melapor kepada Gusti Prabu Jayengrana agar persoalan ini tidak meluas kemana-mana", jawab Mapatih Jayakerti sambil berdiri dari tempat duduknya.
Mendengar itu, Senopati Warigalit dan Tumenggung Ludaka segera berdiri dan mengikuti langkah sang Mapatih Jayakerti menuju ke istana pribadi Raja.
Panji Watugunung yang tengah menerima laporan Demung Gumbreg sedikit kaget melihat kedatangan Mapatih Jayakerti ditemani Senopati Warigalit dan Tumenggung Ludaka.
"Sembah bakti kami Gusti Prabu", ujar ketiga pembesar istana Daha itu sambil menghormat pada Panji Watugunung.
"Sembah bakti aku terima.
Ada apa ini? Kenapa kalian semua bersama menghadap ku?", tanya Panji Watugunung segera.
"Mohon ampun Gusti Prabu Jayengrana, hamba baru saja menerima ini dari barisan telik sandi yang kita kirim ke Kembang Kuning", jawab Mapatih Jayakerti seraya menyerahkan kain putih yang berisi laporan dari telik sandi pada Panji Watugunung.
Raja Panjalu itu segera membuka gulungan kain putih lalu membaca setiap kata yang di tulis dengan seksama. Usai membaca, Panji Watugunung menggelar nafas panjang.
__ADS_1
Hemmmmmm..
"Ini tidak boleh dibiarkan begitu saja. Memberontak terhadap pemerintah pusat sama dengan niat ingin meruntuhkan kerajaan.
Paman Mapatih Jayakerti,
Segera kirim utusan ke Kadipaten Kadipaten di sekitar Kembang Kuning. Tanyakan apakah mereka mendukung Kembang Kuning atau tidak? Jika tidak minta mereka untuk mengirimkan sebanyak 2 ribu prajurit ke Kembang Kuning.
Kakang Senopati Warigalit,
Persiapkan 15 ribu prajurit Panjalu segera. Dalam sepekan mereka harus sudah bersiap untuk menghadapi pasukan pemberontak.
Gumbreg, dan kau Tumenggung Ludaka..
Kalian ku tugaskan menyiapkan perbekalan untuk para prajurit dalam kurun waktu satu purnama.
Apa kalian mengerti??", titah Panji Watugunung segera.
"Sendiko dawuh Gusti Prabu Jayengrana", ucap semua orang yang ada di ruang pribadi Raja. Setelah itu mereka semua mundur dari tempat itu untuk melaksanakan tugas yang diberikan.
Panji Watugunung yang sedang memikirkan sesuatu nampak termenung di depan taman sari Keraton Daha. Satu tangan lembut menyentuh pinggang nya membuat lelaki tampan itu sedikit terkejut.
"Eh Dinda Srimpi..
Ada apa Dinda? Kenapa wajah mu murung seperti itu?", tanya Panji Watugunung sambil menyentuh dagu selir ketiga nya itu dengan lembut.
"Denmas,
Permaisuri ketiga sudah hamil. Kangmbok Pitaloka dan Kangmbok juga sudah. Lantas aku kapan Denmas?", ada bulir air mata mengambang di mata Dewi Srimpi.
"Sabar Dinda, semua ada waktunya.
Aaahhhh, bagaimana kalau kita jalan jalan berdua?", terlintas sebuah gagasan dalam pikiran Panji Watugunung.
"Kemana Denmas? Kita tidak bisa keluar dari istana Daha sembarangan untuk saat ini", tanya Dewi Srimpi dengan penuh penasaran.
"Kau tenang saja Dinda. Akan aku gunakan ajian Halimun ku agar tidak seorang pun yang tahu", jawab Panji Watugunung sembari tersenyum simpul.
"Tapi kita mau kemana Denmas?", tanya Dewi Srimpi segera. Sambil tersenyum, Panji Watugunung merapal Ajian Halimun ajaran Ki Buyut Permana lalu memeluk pinggang ramping Dewi Srimpi.
"Kita ke Kembang Kuning"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ikuti terus kisah selanjutnya kak 😁
__ADS_1
Yang suka silahkan tinggalkan jejak kalian dengan like 👍, vote ☝️, favorit 💙 dan komentar 🗣️ nya yah 😁
Selamat membaca 🙏🙏🙏