
Sementara Panji Watugunung dan rombongan nya terkepung di gerbang barat, pasukan Akuwu Watugaluh sudah merangsek maju ke gerbang selatan Perguruan Kalajengking Biru.
Dengan kemampuan pil penawar racun dari Tabib Putih, pasukan Watugaluh benar benar hebat. Anggota Kalajengking Biru yang semula mengunggulkan racun nya, mampu di tahan seimbang oleh pasukan Akuwu Watugaluh.
Korban berjatuhan di kedua belah pihak.
Kalajengking Hitam bahkan terluka dalam cukup parah saat melawan Bekel Setyaka. Sementara Racun Tua menghadapi Tabib Putih,
Nenek Racun yang licik, memilih kembali ke bangunan utama melaporkan kejadian.
"Maaf pemimpin, pasukan Watugaluh yang menyerang kesini ternyata di bantu Tabib Putih. Mereka mendapat obat penawar racun, sehingga bisa berimbang melawan anggota kita", lapor Nenek Racun.
"Kurang ajar! Tabib keparat itu selalu merusak rencana kita. Aku akan membunuhnya dengan tangan ku sendiri", teriak Tangan Kalajengking geram.
Tiba tiba seorang anggota Kalajengking Biru berlari ke arah Tangan Kalajengking.
"Lapor pemimpin, Racun Biru dan Racun Api sudah tewas di bunuh penyusup. Mereka juga sudah membebaskan Dewi Tunjung Biru".
"Bedebah!! Siapa yang berani melakukan nya??", Tangan Kalajengking semakin murka.
"Seorang pemuda berpedang merah seperti api pemimpin",jawab si pelapor.
'Jangan jangan dia pemuda yang menghebohkan dunia persilatan dengan membantai Mahesa Rangkah di Gelang-gelang kemarin? Apa hubungannya dengan Watugaluh'
Ah tapi tidak mungkin', batin Nenek Racun.
"Pemimpin, kalau boleh saran, sebaiknya kita atasi para penyusup tengik itu lebih dahulu.
Sebab disana ada cucu Akuwu Watugaluh. Mereka tidak berani kalau kita sandera cucu pemimpin mereka", ucap Nenek Racun.
Hemmmm
"Sepertinya itu ide yang bagus. Ayo kita kejar penyusup keparat itu".
Tangan Kalajengking dan nenek Racun melesat menuju gerbang barat.
Di gerbang barat, puluhan mayat anggota Kalajengking Biru tergeletak begitu saja.
Rombongan Panji Watugunung hampir mendekati gerbang barat saat Tangan Kalajengking dan Nenek Racun tiba.
Tangan Kalajengking murka melihat mayat-mayat anggota nya bergelimpangan.
'Keparat!!
Akan ku bunuh kalian", teriak Tangan Kalajengking sambil melesat cepat kearah pria berpedang merah seperti api.
Panji Watugunung merasa nyawanya terancam saat angin dingin pukulan Tangan Kalajengking mengarah ke lehernya, segera melompat dua langkah ke kiri. Dengan cepat dia menghantam tangan kanan dari Tangan Kalajengking yang berwarna biru gelap seperti capit tonggeng.
Desshh..
Kulit tangan itu sangat keras.
Panji Watugunung dan Tangan Kalajengking bertarung jarak pendek, dengan jurus silat untuk mengukur kemampuan beladiri.
Panji Watugunung melompat ke udara, kemudian menukik turun dan memukulkan tangan nya bertubi-tubi. Tangan Kalajengking menangkis dengan lengannya, Watugunung memutar tubuh, mengarahkan tendangan pada dada namun lagi-lagi Tangan Kalajengking menangkis dengan kedua lengan nya.
Kedua orang pendekar tangguh lalu mundur dua langkah mempersiapkan senjata. Watugunung mencabut Pedang Naga Api, sedangkan Tangan Kalajengking mengeluarkan sepasang pedang berbentuk capit tonggeng berwarna biru gelap tanda mengandung racun keji.
Sementara itu, begitu Tangan Kalajengking bertarung dengan Panji Watugunung, Nenek Racun melesat ke arah Tapak Malaikat yang menggendong Dewi Tunjung Biru.
Belum sempat menyentuh, dua pisau terbang mengancam leher wanita tua itu. Nenek Racun berbalik menghindar namun pisau terbang itu seolah punya nyawa, melayang layang di udara menyambar ke Nenek Racun.
Wanita tua itu bahkan harus berguling ke tanah untuk menghindari tikaman pisau terbang.
Tampak Anggarawati tersenyum tipis sambil memutar mutar tangannya, mengendalikan pisau terbang nya.
Ratna Pitaloka melompat maju, Pedang Bulan Kembar tergenggam erat di kedua tangannya.
"Anggarawati, mundur! Nenek peot itu bagian ku. Lindungi tuan Tapak Malaikat dan sandera".
Anggarawati mengangguk, dan segera mundur sambil terus menghabisi anggota Kalajengking Biru.
Nenek Racun mengeluarkan cambuk berwarna hitam yang ujungnya terdapat pisau beracun.
__ADS_1
Pertarungan sengit segera terjadi. Nenek Racun mengarahkan cambuk nya ke arah dada Ratna Pitaloka. Bukan nya menghindari, tapi Pedang Bulan Kembar di tangan Ratna Pitaloka bergerak memotong cambuk. Cambuk tidak putus malah ujung cambuk bergerak cepat mengancam leher Ratna Pitaloka.
Ratna Pitaloka menunduk sesaat sebelum ujung cambuk mengenai nya, lalu memutar tubuh nya dan pedang di tangan kiri menyabet kaki Nenek Racun.
Nenek Racun segera melompat ke udara dan cambuk nya ditarik. Ratna Pitaloka tidak membiarkan Nenek Racun turun, langsung melesat membabat perut. Nenek Racun merasakan angin dingin mengincar perut, menangkis dengan cambuk.
Blarrr...
Ledakan keras terjadi saat benturan pedang dan cambuk membuat Ratna Pitaloka dan Nenek Racun sama sama mundur 2 langkah.
" Gadis tengik, sebutkan nama mu supaya aku tau siapa yang ku kirim ke neraka malam ini?, Nenek Racun berteriak gusar.
"Memang kau mampu nenek peot? Coba saja kalau bisa. Pedang Bulan Kembar ku siap mencabut nyawa mu", sahut Ratna Pitaloka sengit.
"Pedang Bulan Kembar? Apa hubungan mu dengan Tangan Api dari Padas Putih?", Nenek Racun terkejut.
"Kau kenal guru ku? Aku bisa lebih cepat membunuh mu kalau kau kenal", Ratna Pitaloka tersenyum mengejek.
Hehehehe
Nenek Racun tertawa.
"Jangan jumawa gadis tengik. Pemilik pedang itu sebelumnya , Saraswati adik Tangan Api tewas terkena racun ku hihihi".
"Kebetulan sekali, sekalian aku membantu guru membalas dendam".
Usai berkata demikian, Ratna Pitaloka segera menyiapkan kuda kuda dan memusatkan tenaga dalam pada sepasang pedang kembar.
Cahaya kekuningan redup bersinar di pedang berbentuk bulan sabit milik Ratna Pitaloka.
Nenek Racun terkesima dengan perubahan itu dan segera sadar bahwa lawannya menyiapkan jurus andalan. Dia segera memutar mutar cambuk nya. Angin dingin bercampur racun hitam segera menderu-deru.
Ratna Pitaloka secepat kilat menyabetkan pedang kembar nya menyilang ke arah Nenek Racun.
"Jurus ke 10 Pedang Dewi Bulan----- Sabit Dewi Bulan..
Hiyattttt....."
Angin sejuk bercampur sinar kekuningan menyilang menyerbu ke Nenek Racun yang juga melecut cambuk nya.
Ciattt...."
Angin dingin bercampur racun hitam segera menyongsong sinar kekuningan dari pedang kembar Ratna Pitaloka.
Duarr...
Sinar kekuningan tetap melesat maju kearah Nenek Racun. Wanita tua itu segera menahan sinar kekuningan dengan kedua tangan memegang cambuk.
Kuatnya sinar dari pedang kembar Ratna Pitaloka mendorong tubuh wanita tua itu. Darah segar mulai mengalir tanda luka dalam karna tenaga dalam nya mendekati batas.
Akhirnya tubuh tua itu terpental ke belakang dan menghantam tanah. Darah segar muncrat dari mulut Nenek Racun. Tak lama kemudian Nenek Racun itu diam dan tak bergerak lagi.
Sekar Mayang dan Dewi Kipas Besi yang masih bertarung dengan anggota Kalajengking Biru yang jumlahnya semakin sedikit.
Panji Watugunung melesat cepat, menggunakan Ajian Sepi Angin tingkat tinggi.
Gerakan nya bagai menghilang lalu muncul tiba-tiba membuat Tangan Kalajengking mulai kerepotan.
Tebasan Pedang Naga Api mengincar perut, Pedang Capit Kembar di tangan kanannyanya segera menangkis, dan pedang di tangan kiri menusuk ke arah dada. Belum sempat pedang capit menyentuh dada, Watugunung melompat ke atas Tangan Kalajengking dan menendang keras punggung lelaki itu.
Bukkkk..
Punggung pemimpin sementara perguruan Kalajengking Biru itu seperti patah.
Darah mulai mengalir dari sudut bibir Tangan Kalajengking. Dengan geram dia menghapus nya.
Selama ini, tidak ada lawan yang mampu bertarung dengan nya lebih dari 20 jurus.
Tapi melawan Watugunung dia sudah mengeluarkan hampir seratus jurus tapi pemuda di hadapannya sama sekali tidak terlihat letih. Nafas pemuda itu masih teratur, dan dia mulai ngos-ngosan.
"Pemuda laknat, sebelum ku cabut nyawamu, katakan siapa kau dan darimana asalmu?"
"Baiklah agar kau tak mati penasaran. Aku Watugunung dari Padepokan Padas Putih. Orang orang memanggil ku Pendekar Pedang Naga Api", jawab Watugunung seraya menata kuda kuda nya.
__ADS_1
'Keparat ini dari Padas Putih rupanya', batin Tangan Kalajengking.
"Aku sudah mengatakan nama ku, sekarang bersiaplah untuk berangkat menyusul nenek peot yang disana", ujar Panji Watugunung sambil menunjuk Nenek Racun yang tewas di kejauhan.
Tangan Kalajengking semakin geram melihat itu. Pedang Capit Kembar nya segera diayunkan ke arah Panji Watugunung.
Serangkum angin berhembus kencang di sertai pekat racun keji.
Panji Watugunung segera melompat dan bersalto di udara menghindari serangan Tangan Kalajengking sambil mengayunkan Pedang Naga Api nya.
"Jurus ke 9 Pedang Tanpa Bentuk____ Pedang Pembasmi Iblis.."
Cahaya kemerahan berhawa panas meluncur cepat kearah Tangan Kalajengking.
Dhuarrrr..
Sinar kemerahan menghantam tanah. Tangan Kalajengking yang bisa menghindar masih terseret gelombang angin berhawa panas hingga satu tombak. Kulitnya panas bagai terbakar.
Belum sempat berdiri sempurna, Panji Watugunung mengayunkan kembali Pedang Naga Api nya dengan jurus Pedang Pembasmi Iblis. Tangan Kalajengking tak sempat menghindar hanya mampu menangkis dengan pedang capit kembar nya.
Benturan keras itu melempar Tangan Kalajengking ke belakang. Belum sempat berhenti, tiba tiba bayangan hitam melesat memukul dada Tangan Kalajengking dengan Tapak Dewa Api tingkat tinggi.
Blammm..
Tangan Kalajengking tewas seketika dengan dada gosong seperti terbakar api. Tubuhnya melayang menghantam tanah.
Panji Watugunung melihat sebentar ke arah mayat Tangan Kalajengking, lalu melesat ke arah gerbang barat. Setelah dekat, Panji Watugunung segera menghantam pintu gerbang barat perguruan Kalajengking Biru dengan Tapak Dewa Api.
Dhuarrrr..
Gerbang barat hancur berkeping keping.
Dewi Kipas Besi melihat jalan keluar terbuka, segera meniup peluit bambu..
Pritttttt.....
Rombongan Panji Watugunung segera melesat mundur melewati hutan kecil. Anggota Kalajengking Biru yang tersisa tak berani mengejar. Melihat pemimpin mereka tewas, nyali bertarung mereka sudah lenyap.
Sementara itu, di gerbang selatan begitu mendengar peluit bambu, Akuwu Watugaluh menarik mundur pasukannya. Racun Tua yang sudah terlalu letih bertarung, memilih membiarkan mereka pergi. Ular Racun dan Kalajengking Biru terluka meski tidak terlalu parah.
Dalam pertarungan itu, separuh anggota Kalajengking Biru yang di markas pusat perguruan tewas.
Sedangkan dari pihak Akuwu, dua wakil Bekel tewas. Bekel Setyaka juga terluka dalam. Dari 300 pasukan, hanya 120 yang berhasil mundur.
"Kakang, berhenti..."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Dear reader tersayang,
Untuk buat author terus semangat menulis mohon sedekah like, vote dan komentar nya ya..
__ADS_1
Biar author semangat 😁😁😁😁
Thanks..