
Pasukan Garuda Panjalu bergerak cepat menuju Pakuwon Bedander. Dengan kuda kuda pilihan dan orang orang yang terlatih, mereka seperti anak panah yang di lepaskan dari busurnya.
Pakuwon Bedander adalah Pakuwon paling timur dari wilayah Seloageng di batasi Kali Aksa yang merupakan batas alam Panjalu dan Jenggala. Daerah di selatan Gunung Kelud ini subur dengan pertanian dan buah buahan segar.
Akuwu Bedander masih tergolong muda, seumuran dengan Ki Saketi. Namanya Akuwu Madangkungan. Pria ini masih gagah, dan punya 1 istri dan 3 orang selir.
Setelah melewati Pakuwon Palah, rombongan Pasukan Garuda Panjalu terus bergerak ke timur. Landung, anggota pasukan khusus dari Bedander menjadi penunjuk jalan di dampingi Ludaka. Ki Saketi di tunjuk sebagai wakil kepala pasukan khusus, di temani Jarasanda berkuda di depan Panji Watugunung yang di apit dua selir dan 1 pelayan nya. Gumbreg memimpin prajurit perbekalan sedangkan Marakeh dan Rakai Sanga tetap mengawal di sisi belakang dengan bantuan dari prajurit dari kadipaten Seloageng.
Sesampai di batas wilayah pakuwon Bedander, pasukan Garuda Panjalu terus bergerak cepat menuju istana Pakuwon Bedander. Debu jalanan beterbangan mengikuti langkah kaki kuda kuda mereka.
Dua pasang mata menatap pasukan itu, kemudian saling berpandangan dan segera berlari menuju selatan.
Pasukan Garuda Panjalu terus bergerak cepat. Tak berapa lama mereka sudah sampai di pakuwon Bedander. Penjaga gapura istana Pakuwon yang melihat Landung turun dari kudanya, segera menghampiri.
"Mereka siapa Kang? Sepertinya orang penting", tanya prajurit Pakuwon Bedander yang memang sudah mengenal Landung.
"Cepat buka pintu gerbang, mereka ini pasukan khusus Garuda Panjalu. Itu yang memakai ikat kepala hitam adalah panglima pasukan, Gusti Pangeran Panji Watugunung calon menantu Gusti Adipati Seloageng. Kau mau dipancung leher mu karena tidak segera membuka pintu gerbang?", ancam Landung.
Prajurit penjaga gerbang istana Pakuwon segera berlari ke pintu gerbang dan memerintahkan kepada teman nya untuk segera membuka pintu gerbang.
Para prajurit penjaga gerbang istana Pakuwon pucat dan membungkuk hormat tanpa berani mendongak, sedang Landung merasa bangga menjadi bagian dari pasukan Garuda Panjalu.
Panji Watugunung menepuk pundak kuda nya dan menjejerkan di samping Ludaka dan Landung.
"Ludaka dan kau Landung..
Segera intai markas perampok barat kali Aksa, aku mau mendengar berita nya sebelum malam", Panji Watugunung tegas.
Landung dan Ludaka segera memberikan hormat dan memacu kuda mereka keluar istana pakuwon menuju ke timur.
Sesampainya di depan balai kota pakuwon Bedander, Panji Watugunung dan kedua selir nya dan seorang pelayan nya segera melompat turun dari kudanya di ikuti seluruh anggota pasukan Garuda Panjalu.
Akuwu Madangkungan tergopoh-gopoh menghampiri mereka.
"Madangkungan memberikan hormat kepada panglima pasukan Garuda Panjalu", ucap Madangkungan memberikan hormat kepada Panji Watugunung.
"Berdirilah Ki Kuwu. Aku hanya beberapa hari saja disini. Dapatkah kau mengijinkan kami menjadikan istana Pakuwon Bedander sebagai markas sementara pasukan Garuda Panjalu?", tanya Panji Watugunung sambil melirik sekeliling istana pakuwon.
"Tentu, tentu saja Gusti Panglima bisa menjadikan tempat ini sebagai markas sementara. Hamba akan memberitahukan kepada semua orang di istana untuk melayani segenap kebutuhan para prajurit Garuda Panjalu", Akuwu Madangkungan tergagap berbicara dan segera menghormat.
Akuwu Madangkungan segera mengantar Panji Watugunung dan selir selirnya ke bangsal tamu sementara Ki Saketi mengatur para prajurit untuk jaga malam dan mendirikan tenda di samping alun-alun kota. Suasana di istana pakuwon menjadi ramai.
Sementara itu Landung segera melompat turun dari kudanya di ikuti Ludaka begitu mereka sampai di sebuah sendang. Mereka berdua segera menambatkan kuda mereka dan bergerak cepat diantara pohon perdu dan pohon besar di tepi sendang.
"Markas mereka balik hutan bambu itu", ujar Landung setengah berbisik pada Ludaka.
Ludaka dan Landung bergerak hati hati melewati hutan bambu.
Dan benar saja, di balik rimbun hutan bambu betung, di tempat yang rendah sebuah rumah besar di kelilingi pondok pondok kecil mengelilingi.
Usai memastikan markas mereka, Landung dan Ludaka segera bergegas meninggalkan tempat itu.
Dua orang berpakaian biasa berlari menuju gerbang markas perampok. Di depan pintu rumah besar mereka berteriak.
"Celaka Lurah e celaka..."
Pemimpin mereka, Maktal, adik Mahesa Rangkah yang sebenarnya adalah salah satu anggota Gunung Kematian yang di tugaskan pemimpin mereka, Dewa Maut, untuk merampok dan mengacau perbatasan Panjalu.
"Ada apa teriak teriak seperti orang gila ha? Mau ku tebas leher mu?", Maktal berteriak geram.
"Ampun Lurah e,
Ada berita penting Lurah e..
Itu di istana pakuwon..", ujar seorang lelaki muda yang mengawasi gerakan Panji Watugunung dan pasukannya.
"Iya kenapa dengan istana pakuwon?", Maktal tak sabar.
"Itu pasukan..."
Belum sempat pengintai melapor, seekor merpati surat mendarat di samping Maktal.
Maktal bergegas mendekati merpati surat dan mengambil surat di kaki merpati itu. Wajah Maktal langsung berubah buruk setelah membaca pesan.
Hati hati. Pasukan Garuda Panjalu mulai bergerak.
'Hemmmmmm pasukan Garuda Panjalu. Seperti apa mereka?' batin Maktal.
"Lurah e, pasukan ada di istana pakuwon Bedander", ujar seorang pengintai.
"Aku sudah tau, jangan berisik", ujar Maktal sambil mengibaskan tangannya.
Dua pengintai saling pandang mendengar perkataan pemimpin nya.
Malam mulai menjelang di Pakuwon Bedander.
Gerimis rintik rintik mulai turun di istana Pakuwon Bedander.
__ADS_1
Landung dan Ludaka menghadap Panji Watugunung di bangsal tamu. Ki Saketi juga mendampingi, selain Ratna Pitaloka dan Sekar Mayang tentu nya.
"Ampun Gusti Panji, kami sudah tau letak markas pengacau keamanan. Markas mereka di timur Sendang Weru, di sebelah hutan bambu betung", ujar Landung sambil menerangkan.
"Berapa jumlah mereka?".
"Sekitar 40 orang Gusti Panji, itu yang terlihat. Kalau ada tambahan mata mata mereka diluar sana, kami kurang tau", jawab Ludaka.
"Besok pagi, kerahkan semua anggota pasukan Garuda Panjalu menyerbu markas mereka. Jangan minta bantuan pasukan apapun dari Akuwu Madangkungan. Berita ini tidak boleh keluar dari mulut kalian sampai kita membasmi gerombolan itu", Panji Watugunung tegas.
"Kenapa Gusti Panji seperti itu? Apa ada sesuatu?", tanya Ki Saketi setelah Landung dan Ludaka mengundurkan diri.
"Aku curiga ada mata mata mereka di istana Pakuwon ini paman, perasaan ku biasanya tidak meleset",ujar Panji Watugunung sambil tersenyum simpul.
"Maaf Gusti Panji, hamba sempat bingung, darimana Gusti Panji tau ada gerombolan pengacau keamanan di wilayah pakuwon Bedander ini? Sedangkan hamba tidak mendengar berita apapun mengenai masalah ini", Ki Saketi menanyakan hal yang mengganjal pikiran nya.
Panji Watugunung tersenyum.
"Dari seluruh Pakuwon di perbatasan semua melaporkan adanya pengacau paman, kecuali Pakuwon Bedander. Bisa dipastikan ada sesuatu yang aneh disini. Gusti Adipati sudah mengirim mata mata untuk menyelidiki, dan ternyata ada markas mereka di wilayah pakuwon ini. Yang aneh, Akuwu Madangkungan sepertinya menutup-nutupinya. Bisa dipastikan Akuwu ini terlibat dalam masalah ini"
Ki Saketi mengangguk tanda mengerti.
Malam semakin larut, udara dingin menusuk tulang. Malam ini giliran Ratna Pitaloka menemani tidur Panji Watugunung.
Cuaca yang dingin membuat tubuh ramping Ratna Pitaloka semakin memepet tubuh Panji Watugunung.
"Kenapa Dinda?", Panji Watugunung tersenyum.
"Dingin kakang", Ratna Pitaloka sepertinya kedinginan.
"Terus kakang harus bagaimana?", Panji Watugunung menggoda Ratna Pitaloka.
Ratna Pitaloka tak menjawab, hanya melingkarkan kedua tangan Panji Watugunung ke punggung nya.
Panji Watugunung mengeratkan pelukannya, Ratna Pitaloka tersenyum manis dan tertidur hingga pagi menjelang tiba.
Pasukan Garuda Panjalu bergerak cepat meninggalkan istana Pakuwon Bedander ke arah Sendang Weru. Sebelum masuk hutan bambu betung, Panji Watugunung memerintahkan kepada Ludaka, Arimbi, Rajegwesi dan Laras menyelinap ke atas tebing untuk melindungi anggota pasukan dengan panah mereka. Sedangkan Landung dan sisa pasukan Garuda Panjalu.
15 orang pasukan Garuda Panjalu sudah sampai di gerbang markas.
Dua penjaga berwajah bengis mendekati mereka.
"Siapa kalian? Ada urusan apa kesini?", teriak salah satu penjaga berwajah codet.
"Kami pasukan Garuda Panjalu, kalian menyerah atau kami hancurkan", teriak Ki Saketi.
Seorang penjaga yang masih di gerbang segera memukul kentongan.
"Hanya beberapa orang dengan wanita mencoba menggertak kami?
Phuihhh
Kami tidak takut. Kawan kawan, ayo kita bunuh mereka", teriak seorang penjaga gapura yang segera mencabut pedang dan melompat menyerang di ikuti puluhan orang berbaju hitam.
Landung segera mencabut pedang nya dan melompat dari atas kudanya menyongsong mereka. Dan seluruh prajurit pasukan Garuda Panjalu bergerak maju kecuali Panji Watugunung.
Pertempuran sengit segera terjadi. Meski jumlah mereka lebih sedikit tapi pasukan Garuda Panjalu lebih unggul dalam kemampuan beladiri.
Panah Arimbi, Rajegwesi, dan Laras segera melesat mengincar para pengacau keamanan itu. Ludaka melesat turun dari tebing tinggi dan menyabet leher salah seorang berbaju hitam.
Crashhhh!
Kepala orang itu menggelinding ke tanah.
Di ikuti jeritan memilukan dari seorang di samping nya yang di hajar panah dari Arimbi.
Jarasanda dengan keris nya berhasil menusuk dada seorang penjaga. Penjaga itu tewas seketika.
Sekar Mayang, Dewi Srimpi dan Ki Saketi melompat ke arah gerombolan yang menyerang.
Ratna Pitaloka bergerak cepat melompati pagar markas, menghajar wakil pimpinan pengacau. Pria bertubuh besar itu terjengkang dan segera bangkit. Namun dalam beberapa jurus, pria itu tewas dengan tubuh hangus terkena pukulan Tapak Dewa Api tingkat 3 dari Ratna Pitaloka.
Maktal, pimpinan pengacau keamanan, yang juga berjuluk Setan Merah melesat mengincar Ratna Pitaloka namun belum sempat menyentuh, sebuah bayangan berkelebat cepat layaknya kilat menghajar dada nya. Setan Merah terpelanting ke belakang.
"Kurang ajar! Berani membokong ku", Maktal mengusap darah yang keluar dari sudut bibirnya.
Panji Watugunung melihat Maktal hendak menyerang Ratna Pitaloka yang sedang sibuk di keroyok 3 petinggi markas, berkelebat cepat menghadang Setan Merah dengan tendangan keras.
Melihat Maktal terpelanting, Panji Watugunung tersenyum tipis.
"Kau yang mencoba membokong, kenapa menyalahkan orang lain?.
"Keparat! Jadi kau pimpinan pasukan tengik ini?", Setan Merah mendelik tajam kearah Panji Watugunung.
"Menyerahlah. Mungkin kau masih bisa ku ampuni", ucap Panji Watugunung segera.
"Jangan jumawa anak muda, aku Setan Merah dari Gunung Kematian tidak takut menghadapi mu", Maktal mencabut pedang nya.
__ADS_1
'Hemmmm, agaknya semua masalah keamanan perbatasan ini semua berkaitan dengan Gunung Kematian, kalau mereka tidak segera di tumpas, gangguan keamanan ini akan terus berlanjut' batin Panji Watugunung.
"Majulah setan tua, akan ku kirim kau menemui Mahesa Rangkah dan 4 Setan Hitam di neraka", Panji Watugunung segera menyiapkan kuda kuda.
"Keparaaaaatttt!! Ku bunuh kau", Setan Merah melesat cepat menyabetkan pedang kearah leher Watugunung.
Panji Watugunung yang tidak ingin berlama-lama bertarung,segera menggunakan Ajian Tameng Waja.
Tranggg...
Pedang Setan Merah seperti menghantam baja keras, saat membentur leher Panji Watugunung. Tangan Setan Merah bergetar, rasanya sakit sekali.
Setan Merah memutar tubuhnya dan menghantam dada Panji Watugunung dengan pukulan tapak kirinya yang di aliri tenaga dalam tinggi..
'Tapak Setan Hiattttt.....
Dhuarrrr!!
Ledakan keras terjadi, asap mengepul dari pertemuan dua tenaga dalam.
Setan Merah yang tersenyum penuh kemenangan terkejut bukan main saat asap menghilang dan Panji Watugunung hanya tersenyum tipis disana
"Sekarang giliran ku"
Usai berkata, Panji Watugunung seolah menghilang dari pandangan. Setan Merah yang kebingungan, hanya bisa terkejut saat Panji Watugunung muncul di hadapannya dan memukul dada Setan Merah dengan tapak berwarna merah.
'Tapak Dewa Api tingkat 5....
Hiattttt....
Dhuarrrr blammm..!!!
Setan Merah terpelanting ke belakang dengan dada gosong akibat kerasnya pukulan Watugunung yang mengandung hawa panas.
Tubuh lelaki itu tewas tanpa bersuara.
Anak buah Setan Merah semuanya terbunuh.
Arimbi , Rajegwesi dan Laras melompat turun ke bawah.
Anggota pasukan Garuda Panjalu tewas satu orang dan beberapa ada yang terluka.
Dua pasang mata pengintai yang melihat pertarungan dari jarak jauh bergidik ngeri melihat keganasan pasukan Garuda Panjalu.
Mereka segera berlari meninggalkan tempat itu.
"Mereka benar-benar ganas kang, kita harus cepat", ujar seorang pengintai.
Pengintai satu nya mengangguk sambil mempercepat larinya.
"Benar, mereka seperti pemburu dari neraka yang tiada ampun membantai lawan"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Penasaran kelanjutannya??😁😁
Happy reading guys
__ADS_1
Author gak bosen mengingatkan agar readers budiman untuk terus dukung author menulis dengan like vote dan komentar nya.🙏🙏
Thanks..