Babat Negeri Leluhur

Babat Negeri Leluhur
Pisau Dewa Terbang


__ADS_3

Seluruh perwira yang hadir segera menyembah pada Panji Watugunung dan segera berkata.


"Sendiko dawuh Gusti Pangeran".


Semua Perwira Pasukan Panjalu satu persatu mulai melaporkan keadaan para anggota pasukan mereka masing-masing.


Senopati Warigalit melaporkan pada Panji Watugunung bahwa para prajurit Panjalu yang dipimpin nya telah bersiap sedia jika sewaktu-waktu di berangkatkan. Dengan jumlah 6 ribu prajurit terlatih, dan di kepalai masing-masing perwira tinggi seperti Senopati Gati dari Seloageng, Senopati Sancaka dari Gelang-gelang, Demung Warok Nggotho dari Wengker membuat pasukan Panjalu di bawah pimpinan Warigalit terlihat yang paling siap untuk menggempur pertahanan pasukan Jenggala.


Sementara itu, Senopati Narapraja dari pasukan istana Daha pun tak mau kalah.


Dengan kekuatan 9 ribu prajurit yang merupakan gabungan dari Lasem, Muria, Anjuk Ladang dan Kurawan ditambah para prajurit istana Daha, membuat para prajurit Panjalu yang dipimpin oleh Senopati Narapraja itu merupakan prajurit berkuda terlatih yang mampu bergerak cepat dalam peperangan.


Para pemimpin prajurit seperti Senopati Ringkasamba dari Kurawan dan Senopati Koncar dari Anjuk Ladang adalah para perwira prajurit yang berpengalaman dalam banyak peperangan bersama Panji Watugunung. Tentu saja mereka adalah orang orang terdekat dengan sang Yuwaraja Panjalu itu. Di tambah lagi pasukan dari Kurawan yang terkenal dengan kemampuan berkuda mereka yang jempolan, membuat pasukan Panjalu di bawah pimpinan Senopati Narapraja menjadi pasukan gerak cepat.


Sementara itu, wakil pimpinan kelompok pasukan Panjalu yang dipimpin oleh Panji Watugunung yaitu Tumenggung Ludaka merupakan pasukan intai dan panah yang bisa memberikan ketepatan pergerakan juga serangan kejutan tak terduga.


Dengan kekuatan 7 ribu prajurit, dan dibagi dalam 3 kelompok besar yang masing-masing di kepalai oleh Senopati Taradipa dari Paguhan, Tumenggung Landung dan Demung Rajegwesi pada pasukan pemanah membuat pergerakan prajurit Panjalu pimpinan Panji Watugunung sangat penting untuk mengacaukan pergerakan prajurit Jenggala.


Dengan demikian jumlah keseluruhan prajurit Panjalu adalah 22 ribu prajurit yang terdiri dari 10 ribu prajurit berkuda, 5 ribu prajurit berjalan kaki, 3 ribu prajurit pemanah, 3 ribu prajurit perbekalan dan seribu prajurit intai yang tersebar di sepanjang perjalanan mereka menuju ke arah kota Kahuripan.


Panji Watugunung menatap ke arah para bawahannya.


"Bila kita mampu menaklukkan Mapanji Garasakan, maka kedamaian akan tercipta di Panjalu.


Besok pagi kita berangkat menuju ke Kahuripan", titah Panji Watugunung segera membuat para perwira tinggi prajurit Daha segera menghormat pada Panji Watugunung.


Usai pisowanan di balai paseban agung kadipaten Matahun, para perwira segera membubarkan diri untuk menata pasukan mereka masing-masing.


Menjelang tengah hari, seorang lelaki paruh baya bertubuh tegap dengan pakaian layaknya seorang pendekar datang ke istana Matahun di temani oleh seorang perempuan yang masih muda.


Pria berjenggot panjang dan berambut putih itu mendekati para prajurit penjaga gerbang istana.


Tingkah laku mereka yang mencurigakan membuat si prajurit penjaga gerbang waspada.


"Permisi Kisanak,


Apa benar ini istana Matahun?", tanya si lelaki paruh baya itu segera.


"Benar,


Ini adalah istana Matahun. Ada apa kau menanyakan perihal itu, kisanak?", tanya si prajurit penjaga dengan tatapan mata menyelidiki.


"Namaku Wikalpa dan ini Rara Janggi, putri Resi Wanamarta dari Gunung Welirang, yang juga adalah kakak seperguruan ku.


Aku adalah adik seperguruan Adipati Danaraja. Ingin bertemu dengan Adipati Matahun", ucap Wikalpa atau yang lebih di kenal sebagai Pendekar Pisau Dewa Terbang dari Gunung Welirang.


"Apa kau tidak mendengar berita yang baru saja menyebar, kisanak?", tanya si prajurit penjaga gerbang istana dengan sikap waspada.


"Berita?


Berita apa prajurit?", tanya Wikalpa alias Pendekar Pisau Dewa Terbang dari Gunung Welirang dengan nada kebingungan.


"Adipati Danaraja sudah meninggal. Dia di kalahkan oleh Pendekar Pedang Naga Api dari Panjalu atau Panji Watugunung yang sekarang menguasai wilayah Matahun ini", jawab si prajurit penjaga gerbang istana dengan cepat.


"APAAAAAA??!


Tidak mungkin Danaraja di kalahkan. Dia adalah seorang yang sakti mandraguna", teriak Wikalpa dengan penuh keterkejutan nya.


"Begitu lah kenyataan nya, kisanak.


Sekarang kembalilah. Orang yang kau cari sudah tidak ada", ucap si prajurit penjaga gerbang sambil melangkah menuju ke tempat penjagaannya.


"Tidak!


Aku tidak terima. Akan ku balas kematian Danaraja. Akan ku bunuh orang yang sudah membunuhnya", teriak Wikalpa dengan lantang.


Segera terjadi keributan di depan pintu gerbang istana Matahun.


Para prajurit penjaga gerbang berusaha mengusir Wikalpa alias Si Pendekar Pisau Dewa Terbang namun Wikalpa di bantu Rara Janggi justru mengamuk di sana.


Seorang prajurit bersenjatakan pedang segera melompat ke arah Wikalpa sambil mengayunkan pedangnya.


Whuuuuttt..


Wikalpa mundur selangkah dan dengan cepat menghantam perut si prajurit penjaga gerbang dengan keras.


Deshhhh...


Aaarrghhh!!


Si prajurit penjaga gerbang menjerit keras saat pukulan tangan kanan Wikalpa telak menghajar perutnya. Pria bertubuh gempal itu terpelanting ke belakang dan menyusruk tanah. Dia langsung pingsan.


Melihat rekan nya di jatuhkan, keempat prajurit penjaga gerbang yang lain segera mengepung Wikalpa dan Rara Janggi.


Sedangkan seorang prajurit segera berlari menuju ke dalam istana Matahun untuk melaporkan kejadian itu.


Si prajurit penjaga gerbang yang berkumis tebal segera mencabut pedang yang tergantung di pinggangnya.


Setelah mengangguk pada kawannya, mereka segera melesat cepat kearah Wikalpa dari dua arah yang berlainan.


Whhhuuuggghhhh


Sabetan pedang dari dua prajurit mengincar leher dan perut Wikalpa. Namun Wikalpa yang berjuluk Dewa Pisau Terbang dengan cepat menjejak tanah lalu memutar tubuhnya menghindari sabetan pedang dan menendang kepala salah seorang prajurit yang mengepungnya.


Bukkkkk..!


Si prajurit penjaga gerbang yang apes langsung terlempar ke belakang dan dia tewas dengan rahang hancur.

__ADS_1


Sementara si prajurit berkumis tebal yang melihat lawannya memiliki kemampuan beladiri tinggi, terus merangsek maju tanpa mempedulikan keselamatan dirinya sendiri.


Sementara itu Rara Janggi yang di kepung oleh dua prajurit penjaga segera mengeluarkan sebuah kipas besi yang berwarna putih yang merupakan senjata pusaka warisan dari ayahnya, Resi Wanamarta.


Saat para prajurit penjaga gerbang istana membabatkan pedang nya, Rara Janggi justru dengan tenang membuka kipasnya dan dengan cepat menangkis sabetan pedang dari salah satu prajurit penjaga gerbang istana Matahun.


Tringgggg!


Sedangkan ayunan pedang yang terarah pada leher Rara Janggi hanya di hindari dengan menggeser posisi tubuhnya lalu kaki kiri Rara Janggi menendang ulu hati si penyerang.


Brakkkk!!


Si prajurit penjaga gerbang itu terhuyung-huyung ke belakang. Perutnya sakit bukan main.


Melihat kawannya jatuh, si prajurit penjaga gerbang istana yang di tangkis serangan nya, segera memutar tubuhnya dan melayangkan tendangan keras kearah perut Rara Janggi.


Melihat itu, Rara Janggi dengan cepat berkelit ke samping kanan kemudian mengayunkan kipasnya ke arah kaki si prajurit penjaga.


Shrraaakkkkk...


Aauuggghhhh!!


Si prajurit penjaga gerbang menjerit keras saat kipas besi Rara Janggi merobek pahanya. Darah segera mengucur dari luka robek itu. Rara Janggi lalu menghantamkan tangan kiri nya ke arah dada si prajurit penjaga gerbang yang tengah kesakitan.


Daaassshh!


Si prajurit penjaga gerbang istana itu terpelanting ke belakang dan jatuh ke tanah dengan keras. Dia pingsan seketika dengan luka menganga lebar pada kaki kanan nya.


Keributan itu terus meluas. Ratusan prajurit Panjalu yang tengah bersiap untuk berangkat ke Kahuripan, langsung mengepung tempat itu.


Pandangan Wikalpa dan Rara Janggi nanar melihat banyaknya prajurit Panjalu yang mengepungnya. Lolos dari kepungan itu sepertinya hanya mimpi.


Di lain tempat, Panji Watugunung sedang bercengkrama dengan para istrinya di serambi balai peristirahatan istana Kadipaten Matahun.


"Kakang,


Setelah perang ini berakhir, aku ingin kita menemui Begawan Sulapaksi di Watugaluh.


Aku ingin menagih janji nya kepada ku", ujar Ratna Pitaloka sambil tersenyum simpul.


"Iya Kakang Watugunung,


Setelah perang ini, aku ingin melahirkan seorang putra untuk mu", sahut Sekar Mayang yang duduk di kiri Panji Watugunung. Senyum perempuan cantik itu mekar.


"Akan ku penuhi permintaan kalian Dinda Pitaloka, Dinda Mayang..


Aku ingin hidup tenang bersama kalian dan putra putra ku di Katang-katang", jawab Panji Watugunung yang disambut senyum manis dari Ratna Pitaloka, Sekar Mayang, Dewi Srimpi dan Dewi Naganingrum.


Saat mereka tengah asyik berbincang, seorang prajurit penjaga gerbang dengan tergopoh-gopoh mendekat ke arah nya. Kedatangan sang prajurit mengagetkan mereka berlima.


Apa ada hal penting yang perlu kau laporkan pada ku?", tanya Panji Watugunung segera.


"Mohon ampun bila hamba mengganggu peristirahatan Gusti Pangeran.


Ada orang mengamuk di depan pintu gerbang istana Gusti. Tadi dia mencari Adipati Danaraja, namun setelah mengetahui Adipati Danaraja sudah tewas, dia mengamuk bersama seorang perempuan", lapor sang prajurit penjaga gerbang istana setelah menyembah pada Panji Watugunung.


Hemmmm..


"Aku akan kesana..


Kau pergilah lebih dulu", perintah Panji Watugunung yang segera membuat si prajurit penjaga gerbang istana menghormat lalu bergegas kembali ke arah tempat nya.


"Kalian semua tunggu saja disini, aku akan melihat apa yang di laporkan prajurit penjaga gerbang itu", perintah Panji Watugunung pada keempat istri nya. Usai berkata demikian, Panji Watugunung segera melesat ke arah pintu gerbang istana Matahun.


"Srimpi,


Bantu Kakang Watugunung. Cepat!", ucap Ratna Pitaloka yang mendapat anggukan kepala dari Dewi Srimpi. Putri Kelabang Koro itu segera menyusul Panji Watugunung.


Saat Panji Watugunung sampai di pintu gerbang istana Matahun, terlihat Wikalpa alias Pendekar Pisau Dewa Terbang tengah berhadapan dengan Tumenggung Ludaka.


Thriiiinnngggggg!!


Bunyi nyaring terdengar saat dua senjata mereka beradu. Ludaka terdorong mundur beberapa tombak ke belakang. Rupanya tenaga dalam nya masih di bawah Wikalpa.


Saat Tumenggung Ludaka hendak melesat maju lagi, pundak kiri nya tiba-tiba saja ditahan oleh sebuah tangan.


"Sudah cukup, Ludaka.


Biar ku hadapi lelaki itu", ucap Panji Watugunung yang membuat Tumenggung Ludaka menoleh. Ludaka segera menata nafas nya. Dengan penuh hormat, dia mundur.


"Kenapa mundur, perwira prajurit?


Apa kau takut menghadapi ku?", cibir Wikalpa dengan lantang.


"Bukan takut, perusuh.


Dia harus melakukan pekerjaan penting. Tidak ada waktu menghadapi pengacau keamanan seperti mu", sahut Panji Watugunung dengan senyum tipis terukir di wajahnya.


Mendengar jawaban itu, Wikalpa meradang. Dengan mata merah menahan marah, dia mengacungkan Pisau Dewa Terbang yang ada di tangan kanannya.


Phuihhhh


"Melihat pakaian mu, apa kau yang membunuh Adipati Danaraja?", Wikalpa melotot ke arah Panji Watugunung.


"Benar sekali,


Aku Panji Watugunung adalah orang yang menghabisi nyawa Adipati Danaraja", jawab Panji Watugunung dengan tegas.

__ADS_1


"Bangsat!


Hari ini aku Wikalpa akan mengirim mu ke nirwana untuk menemani adik seperguruan ku", teriak Wikalpa yang segera melesat cepat kearah Panji Watugunung dengan melempar dua pisau berwarna keperakan kearah Sang Yuwaraja Panjalu.


Shrrrinnngggg sringg!!


Dua pisau melesat cepat kearah Panji Watugunung. Pisau bergagang perak dengan mata pisau yang sangat tajam itu adalah Pisau Dewa Terbang.


Panji Watugunung segera melompat ke samping menghindari pisau yang menyerang ke arah nya. Namun Pisau Dewa Terbang seolah memiliki nyawa dan mengejar langkah Panji Watugunung.


Whuuussshh!


Rupanya Pisau Dewa Terbang di kendalikan dengan jari tangan kiri Wikalpa, sedang tangan kanannya rupanya merapal mantra ajian kedigdayaan.


Panji Watugunung harus berjumpalitan kesana kemari menghindari pisau yang terus memburu nya. Diam diam Panji Watugunung merapal mantra Ajian Sepi Angin. Gerakan nya meningkat cepat hampir tiga kali lipat.


Wikalpa melotot melihat itu semua.


Setelah berhasil membuat jarak, Yuwaraja Panjalu itu segera merapal Ajian Tameng Waja ajaran Mpu Narasima. Tubuh ksatria Panjalu itu segera berubah menjadi kuning keemasan.


Melihat lawan nya menghentikan langkahnya, Wikalpa dengan cepat menggerakkan jemari tangan kiri nya. Pisau Dewa Terbang meluncur cepat kearah Panji Watugunung.


Whuuuuttt whutttt...!!


"Mampus kau!", teriak Wikalpa saat melihat pisau nya tepat kearah Panji Watugunung yang tidak punya pilihan untuk menghindar.


Thhraaaangggggggg!


Wikalpa terkejut bukan main. Senjata andalan nya yang tersohor sebagai salah satu dari tujuh pusaka dunia persilatan tertahan oleh tubuh Panji Watugunung yang berwarna kuning keemasan. Wikalpa memutar tangan kiri nya, Pisau Dewa Terbang melesat tinggi ke udara dan kembali menghujam turun ke arah Panji Watugunung dengan cepat.


Thriiiinnngggggg!


Lagi lagi Pisau Dewa Terbang seperti membentur logam keras saat beradu dengan kulit Panji Watugunung.


"Bajingan kau!", teriak Wikalpa yang segera menggerakkan tangan kiri nya dan melesat cepat kearah Panji Watugunung dengan tangan kanan yang diliputi oleh sinar hijau berhawa dingin.


Pisau Dewa Terbang bergerak menjauhi tubuh Panji Watugunung kemudian berputar layaknya gasing kemudian melesat kembali ke arah Panji Watugunung.


Dengan menahan nafas sejenak, Panji Watugunung mulai merapal Ajian Guntur Saketi yang membuat tangan kanannya di liputi oleh sinar putih kebiruan seperti petir kecil.


Bersamaan dengan Pisau Dewa Terbang menyerang, Wikalpa dengan cepat menghantamkan tangan kanannya ke arah dada Panji Watugunung.


Whuuuuttt..


Thrrriiinnnggggg..


Blammmmm!!


Terdengar suara ledakan keras dari benturan Ajian Tameng Waja dan Ajian Tapak Beku Iblis. Wikalpa yang semula tersenyum penuh kemenangan langsung pucat seketika saat melihat Panji Watugunung hanya tersenyum setelah menerima serangan ajian andalan nya. Dia hanya bisa pasrah saat Ajian Guntur Saketi telak menghantam dada nya.


Dhuuuaaaaarrrrrr!!!


Wikalpa terpental jauh ke belakang. Tubuh gempal lelaki itu seperti daun kering ditiup angin. Dia tewas seketika dengan dada berlobang tembus punggung nya. Rara Janggi segera melesat cepat kearah jatuhnya Wikalpa. Begitu melihat Wikalpa tewas, Rara Janggi dengan cepat melesat ke arah Panji Watugunung. Perempuan itu mengayunkan kipasnya yang tajam ke arah Panji Watugunung. Namun sebelum menyentuh kulit Panji Watugunung, sebuah bayangan berkelebat cepat menangkis serangan Rara Janggi.


Thrrriiinnnggggg!


Rara Janggi terdorong mundur beberapa langkah. Si bayangan itu tampak memegang sebuah pedang pendek yang berwarna kemerahan.


"Perempuan lawan perempuan!"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Ikuti terus kisah selanjutnya 😁


Yang suka silahkan tinggalkan jejak kalian dengan like 👍, vote ☝️, favorit 💙 dan komentar 🗣️ nya yah agar author terus semangat menulis 😁😁


Selamat membaca 🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2