Babat Negeri Leluhur

Babat Negeri Leluhur
Wanua Randuombo


__ADS_3

Candani, Harsa dan Gentala segera menoleh kearah pria berambut panjang dengan bekas luka di pipi nya itu.


"Ada urusan apa kau dengan Watugunung?", ujar Candani yang segera berdiri dari kursi tempat duduk nya.


"Bukan urusanmu, aku hanya mencari pria yang bernama Watugunung. Ciri-ciri orang itu persis dengan pemuda itu", ujar pria berambut panjang itu.


"Mungkin saja sama ciri ciri nya, tapi belum tentu dia orangnya bukan?", ada nada ketus di suara Candani.


"Kalau boleh tau, ada urusan apa kau mencari Watugunung kisanak?", Ratna Pitaloka kali ini buka suara.


"Kalau dia Watugunung, akan ku beri tau. Kalau dia bukan, itu bukan urusan kalian", ujar pria itu dengan mimik sengit.


"Kurang ajar,


Sudah mengganggu orang makan, masih sok jumawa. Minta di hajar kau rupanya", tangan Candani hendak mencabut pedang nya namun dengan sigap Panji Watugunung segera mencekal lengan kanannya.


"Tahan Candani,


Tenangkan dirimu", ujar Panji Watugunung sambil menggelengkan kepalanya.


"Aku tidak tau ada urusan apa kau mencari Watugunung, tapi mungkin ini termasuk ciri ciri Watugunung bukan?", Panji Watugunung merogoh lencana Chandrakapala dari balik bajunya.


Si pria berambut panjang itu langsung terkejut dan segera berlutut menyembah kepada Panji Watugunung.


"Mohon ampuni hamba Gusti Pangeran,


Hamba Lawana, utusan khusus Senopati Lokananta dari Kalingga untuk mengawal Gusti Pangeran sampai di Kalingga".


Semua orang di penginapan terkejut melihat laki laki berambut panjang itu menyembah kepada pemuda berpakaian biasa itu. Sejak awal keributan tadi, mereka langsung memperhatikan meja makan mereka.


"Kau pikir aku bodoh? Sejak kapan Lokananta menjadi senopati?", Panji Watugunung tersenyum tipis.


"Sejak pulang dari perang Lasem, Gusti Adipati Agnibrata mengangkat Gusti Lokananta menjadi Senopati Kalingga, Gusti Pangeran.


Mungkin Gusti Pangeran belum sempat mendengar berita ini", Lawana menghormat.


"Dari mana kau tahu aku akan melewati daerah ini? Bukankah ini masih jauh dari Kalingga?", Panji Watugunung mengernyitkan keningnya.


"Gusti Pangeran jangan meremehkan kemampuan telik sandi dalam mengumpulkan berita", ujar Lawana sambil tersenyum tipis.


Hemmmm


"Berdiri,


Jangan menarik perhatian orang-orang", Panji Watugunung kembali duduk di kursi nya.


"Tunggu dulu,


Kenapa dia menghormati dan takut padamu saudara Watugunung? Dia seperti melihat setan saja", ujar Candani segera.


"Jaga mulutmu perempuan,


Kau tidak pantas menye....", Lawana langsung menutup mulut nya saat Panji Watugunung mendelik tajam kearah nya.


"Candani, kita disini mau makan bukan mau ribut.


Lawana, tutup mulutmu.. Jangan kau buka seenaknya saja", Panji Watugunung menengahi pertengkaran antara Candani dan Lawana.


Lalu Panji Watugunung menawarkan pada Lawana untuk makan bersama, tapi dengan halus, dia menolaknya.


Malam itu mereka beristirahat di kamar tidur masing-masing kecuali Sekar Mayang yang tidur menemani Panji Watugunung.


Pagi menjelang tiba, cuaca dingin musim penghujan seperti ini, membuat semua orang malas keluar rumah. Namun rombongan Panji Watugunung sudah bersiap untuk melanjutkan perjalanan menuju ke Kalingga.


Mereka kini menjadi 8 orang dengan Lawana yang mengiringi perjalanan mereka. Setelah melewati Pakuwon Poh Telu, rombongan Panji Watugunung berkuda ke arah barat daya. Di Pakuwon Locaratna, mereka berhenti.


Pakuwon Locaratna terletak di tepi Bengawan Solo. Rombongan Panji Watugunung lalu menyebrang sungai besar itu menuju utara ke Kadipaten Lasem. Sepanjang perjalanan ke Utara, mereka mulai saling membantu.


Sebelum memasuki kota Kadipaten Lasem, rombongan Panji Watugunung terpaksa harus menginap di wilayah Wanua Randuombo di Pakuwon Pagesangan karena hari sudah mulai gelap.


Karena tidak ada penginapan, mereka menuju rumah Lurah Wanua Randuombo untuk ijin menginap.


Seorang lelaki paruh baya berambut hitam yang mulai ditumbuhi uban, menyambut kedatangan rombongan Panji Watugunung setelah penjaga gapura wanua datang ke rumah Lurah itu lebih dulu. Lurah Darsana namanya.


"Selamat malam Ki Lurah,


Maaf jika kami mengganggu waktu istirahat nya. Kami pengelana dari jauh, ingin ke Kalingga.


Kami ingin numpang menginap disini Ki Lurah", ujar Panji Watugunung dengan sopan.


Lurah Darsana tidak segera menjawab permintaan Panji Watugunung segera, namun sedikit memastikan bahwa mereka adalah orang baik-baik. Setelah yakin mereka orang baik-baik, Lurah Darsana segera tersenyum tipis.

__ADS_1


"Selamat datang di Wanua Randuombo. Monggo silahkan duduk dulu, biar tempat disiapkan".


"Terimakasih atas bantuannya Ki Lurah. Jangan khawatir kami akan membayar biaya menginap nya", ujar Panji Watugunung sambil tersenyum.


"Tidak perlu Kisanak. Menolong pengelana adalah salah satu tugas ku sebagai lurah disini.


Kalau boleh tau, kalian semua ada urusan apa ke Kalingga?", tanya Lurah Wanua Randuombo itu penasaran.


"Kami hendak mencari sanak saudara kami Ki", ujar Lawana memotong pembicaraan.


"Oh berhati-hati lah, keamanan Lasem saat ini masih memburuk semenjak peristiwa tempo hari.


Apalagi Adipati yang baru masih terlalu muda.


Kurang pengalaman dalam memimpin", ujar Lurah Darsana sambil menata pisang rebus dan jagung rebus di meja. Tak lupa kendi air minum dia letakkan di sana.


"Maksud Ki Lurah keamanan Kadipaten Lasem sekarang kacau?", tanya Sekar Mayang yang duduk di dekat Panji Watugunung.


"Ya nisanak, karena baru berperang banyak penjahat dan perguruan aliran hitam yang memanfaatkan situasi ini untuk mengeruk kekayaan.


Perang memang selalu menyengsarakan rakyat", ujar Lurah Darsana sambil menghela nafas.


Malam semakin larut. Karena hanya ada 2 ruang tersedia, maka yang tidur di kamar hanya para wanita sedang para lelaki tidur di serambi kediaman Lurah Darsana.


Menjelang pagi, tiba tiba terdengar titir kentongan di pos jaga. Panji Watugunung segera melompat dari tempat tidur nya diikuti Lawana.


"Ada apa kisanak??", tanya Panji Watugunung yang mendekat kepada orang yang memukul kentongan.


"Ada perampokan di sertai pembunuhan kisanak. Pelaku nya lari ke arah hutan itu", jawab si pemukul kentongan dengan gugup sambil menunjuk ke arah hutan di utara wanua.


Panji Watugunung segera melesat cepat menuju arah yang di tunjukkan. Lawana mengikuti di belakangnya.


Dengan Ajian Sepi Angin nya, Panji Watugunung melesat bagai anak panah yang lepas dari busurnya. Lawana yang mengikuti, tertinggal jauh di belakang.


4 orang berpakaian hitam memakai topeng sedang berhenti di bawah pohon rindang saat Panji Watugunung tiba-tiba berdiri di sebelah mereka.


"Kembalikan yang bukan hak kalian", ujar Panji Watugunung sambil memandang dengan tatapan mata dingin ke arah mereka.


Empat orang itu terkejut bukan main melihat seseorang yang tiba-tiba muncul di hadapan mereka.


"Bedebah!


"Kalau kalian mengembalikan harta itu maka aku akan menjadi manusia.


Tapi, jika kalian menolak aku tidak segan segan untuk menjadi dewa Yama yang akan mencabut nyawa kalian semua", ucap Panji Watugunung dengan tenang.


"Bedebah,


Ingin cari masalah dengan Padepokan Bukit Siluman rupanya.


Adik adik,


Bunuh orang ini sekarang!", teriak si topeng serigala lantang.


Tiga orang berbaju hitam bertopeng itu segera mengepung Panji Watugunung dengan pedang terhunus. Mereka memakai topeng kera, topeng kelinci dan topeng belalang.


Topeng kera segera menyabetkan pedang nya kearah leher Panji Watugunung, namun dengan cepat Panji Watugunung mundur selangkah, kemudian melayangkan tendangan keras ke perut topeng kera.


Bukkkkk


Topeng kera terjengkang ke belakang. Perutnya sakit sekali. Melihat topeng kera jatuh, topeng kelinci segera menebaskan pedangnya ke arah kaki Panji Watugunung yang baru menendang. Watugunung segera membuat gerakan berputar di udara lalu menyapu kaki topeng belalang yang hendak ikut menyerang.


Brakkk


Topeng belalang langsung terjerembab ke tanah. Topeng kelinci melihat dua kawannya jatuh, dengan bernafsu menyabetkan pedang nya mengincar punggung Watugunung. Desiran angin dingin dari belakang, Panji Watugunung segera melompat melompat ke udara dan dengan cepat bersalto lalu dengan tumit kaki kanan nya menyepak bahu kiri si topeng kelinci.


Deshhhhh


Topeng kelinci meraung keras. Bahu kiri nya sakit sekali seperti ketiban batu besar.


Lawana yang baru datang langsung melesat cepat, mengayunkan tendangan keras dengan dengkul saat topeng kera bermaksud membokong Panji Watugunung.


Bukkkkk


Topeng kera terpelanting ke belakang dan menyusruk tanah dengan keras.


Melihat adik seperguruannya tumbang, si topeng serigala langsung mencabut pedang nya. Dengan beringas, dia menerjang kearah Panji Watugunung.


Sreeetttttt


Tebasan pedang yang di lambari tenaga dalam mengincar dada Watugunung. Putra Bupati Gelang-gelang itu mundur selangkah kemudian memutar tubuhnya dan melayangkan tendangan keras kaki kiri nya.

__ADS_1


Topeng serigala segera memapas dengan pukulan tangan kiri nya.


Blarrrrr!


Benturan dua tenaga dalam menghasilkan ledakan keras. Panji Watugunung tersenyum tipis, kaki kiri nya tidak apa-apa sedangkan topeng serigala merasakan kebas pada tangan kirinya, tanda tenaga dalam nya jauh di bawah Panji Watugunung.


Diam diam topeng serigala melirik ke arah tiga orang adik seperguruannya. Topeng belalang pingsan dan topeng kera muntah darah tanda luka dalam. Tinggal topeng kelinci yang masih meladeni Lawana beradu ilmu kanuragan.


Langit pagi semakin terang.


'Aku akan mengadu nyawa dengan pemuda tengik ini', batin topeng serigala. Laki laki itu segera menyarungkan kembali pedangnya. Tak berapa lama kemudian, kuku tangan nya menjadi panjang dan tajam layaknya kuku serigala. Dari seluruh tubuhnya muncul bulu abu abu layaknya bulu serigala hutan. Dia menggunakan Ajian Serigala Abu-abu.


Melihat perubahan wujud lawannya, Panji Watugunung waspada.


Dengan cepat, Si Topeng Serigala melompat ke udara sambil mengayunkan kuku nya. Kecepatan nya bertambah dua kali lipat. Panji Watugunung yang sedikit terkejut mundur selangkah, namun cakar itu sempat merobek bajunya.


Usai mencakar, topeng serigala mendarat di dengan jungkir balik dan kembali berkelebat menerjang kearah Panji Watugunung. Namun kali ini Panji Watugunung yang sudah mengetahui inti serangan itu, hanya berkelit ke samping. Ujung jari telunjuk nya yang diliputi sinar putih kebiruan, langsung diarahkan pada dada kanan topeng serigala.


Siuttttt


Blammmm...


Tahap awal Ajian Guntur Saketi, Jari Guntur menghajar dada kanan topeng serigala. Topeng serigala meraung keras saat ledakan itu melempar tubuh nya ke belakang.


Topeng serigala muntah darah segar. Perlahan wujud nya kembali seperti semula. Dia melotot sesaat sebelum akhirnya tewas.


Topeng kelinci melihat saudara seperguruannya tewas, langsung melompat kabur dari arena pertarungan. Lawana yang hendak mengejar, langsung di tahan oleh Panji Watugunung.


"Biarkan saja dia pergi, Lawana..


Masih banyak urusan lain yang lebih penting", ujar Panji Watugunung segera.


Lawana mengangguk tanda mengerti. Segera dia mengangkat buntalan kain berisi harta penduduk Wanua Randuombo.


"Bagaimana dengan mereka Gusti Pangeran?", tanya Lawana sambil memandang kearah topeng kera dan topeng belalang.


"Alam yang akan menentukan nasib mereka", jawab Panji Watugunung yang segera melesat cepat menuju ke Wanua Randuombo. Lawana segera mengikuti langkah Panji Watugunung.


Sekar Mayang sedang gelisah saat Panji Watugunung dan Lawana datang.


"Darimana Kakang?", tanya Sekar Mayang yang melihat baju Panji Watugunung yang robek.


Panji Watugunung tersenyum sambil berkata,


"Menghajar anjing hutan"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Ikuti terus kisah selanjutnya 😁😁😁😁


Jangan lupa dukung author terus semangat menulis dengan like πŸ‘, vote ☝️dan komentar πŸ—£οΈ nya


Selamat membaca guys 😁😁😁😁

__ADS_1


__ADS_2