
Dewi Retnosari dan Dewi Retnoningsih nampak terkejut mendengar Panji Watugunung sama sekali tidak terkejut melihat kehadiran mereka.
"Kenapa kelihatan kaget, Dewi Retnoningsih?
Apa kau pikir kami tidak tau saat kalian hendak membokong kami tadi malam?", Panji Watugunung tersenyum tipis.
"Keparat!
Kalau kalian tau kami pelakunya, kenapa tadi pagi kalian diam saja? Huh, jangan banyak omong kosong Watugunung", cibir Dewi Retnosari.
Dia benar-benar tidak bisa menahan kebencian nya terhadap Watugunung. Baginya laki laki beristri banyak adalah sampah. Pengalaman pribadi nya, Adipati Kalang yang punya 5 istri dan 9 selir, sangat tidak adil pada dia dan Retnoningsih yang lahir dari istri ke 3 Adipati Tanggulangin itu.
"Terserah omongan mu Dewi Retnosari. Kami sengaja menutup mulut agar Adipati Kalang tidak menjatuhkan hukuman pada putrinya sendiri. Percaya atau tidak, itu bukan urusan kami", Panji Watugunung hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah dua putri Adipati itu.
"Jangan di ladeni Kangmbok, buaya buntung seperti dia layak mampus.
Guru,
Mohon segera bertindak", Dewi Retnoningsih segera menghormat pada guru nya.
Tapak Setan menyeringai lebar. Sebagai tokoh golongan hitam yang di segani, nama nya setingkat dengan Mahesa Rangkah dari Gunung Kematian maupun Dewa Angin dari Alas Larangan. Ilmu silat Tapak Seribu Bayangan dan Ajian Segoro Geni andalannya begitu tersohor di jagat persilatan.
Secepat kilat, Tapak Setan menerjang maju ke arah Panji Watugunung.
Dengan memakai setengah tenaga dalam nya, Tapak Setan langsung menggunakan jurus andalan nya. Tangan kakek tua itu berubah menjadi ratusan.
Panji Watugunung segera menyambut serangan kakek tua itu dengan jurus silat Padas Putih yang juga mengandalkan kecepatan tinggi.
Serangan tapak bertubi-tubi mengincar wilayah pertahanan tubuh terlemah dari Panji Watugunung, namun Ajian Sepi Angin pria tampan itu membantu Panji Watugunung menghindari serangan dengan mudah.
Kakek tua itu mulai gusar.
Selama ini, tidak ada yang mampu menangkis maupun menghindari serangan tapaknya lebih dari 10 jurus. Namun saat ini pertarungan mereka sudah lebih dari 20 jurus dan tak satupun serangan tapaknya berhasil melukai tubuh Panji Watugunung.
Tapak Setan mulai meningkatkan tenaga dalam nya menjadi tiga perempat bagian. Serangan nya bertambah cepat.
Panji Watugunung segera melindungi seluruh tubuhnya dengan Ajian Tameng Waja.
Tapak Setan yang melihat celah, segera menghantam bahu kiri Panji Watugunung saat pemuda baru saja menyapu kaki Tapak Setan yang meloncat ke udara.
Bukkkkk..
Tangan kanan Tapak Setan kesemutan saat tangan nya menghantam bahu kiri Panji Watugunung yang seperti menghantam logam keras.
Kakek tua itu melompat mundur dua tombak.
'Bajingan tengik ini rupanya berisi juga'
"Ada apa Kakang? Kenapa kau mundur?", tanya Dewi Rambi yang segera menjajari suaminya itu.
"Bedebah busuk itu memiliki kesaktian Rambi.
Kalau kita ceroboh, bisa bisa kita babak belur di hajar nya", Tapak Setan setengah berbisik pada Dewi Rambi.
"Ah aku tidak percaya. Tadi aku lihat Kakang masih bisa memukulnya", ujar Dewi Rambi seraya melirik ke arah Panji Watugunung.
"Sepertinya dia sengaja membuka celah Rambi. Bedebah busuk itu mempermainkan kita", Tapak Setan mendelik tajam.
"Kalau begitu, biar aku coba seberapa besar ilmu yang dia miliki kakang".
Usai berkata, Dewi Rambi mencabut pedang nya dan melompat ke arah Panji Watugunung.
Dewi Srimpi memandang kearah Ratna Pitaloka, seolah bertanya. Begitu selir pertama itu mengangguk, Srimpi segera melompat menyongsong serangan Dewi Rambi dengan Pedang Kelabang Sewu nya.
Tranggg..
Benturan keras dua pedang memercikkan bunga api kecil.
Mereka berdua sama sama melompat mundur satu tombak.
"Gadis tengik, aku tidak ada urusan dengan mu. Mundur atau kau akan mampus", ancam Dewi Rambi.
"Menghadang perjalanan kami, sama dengan berurusan dengan kami. Apalagi berniat menganiaya suami ku, kau sama saja mencari mati nenek tua", Srimpi mendelik tajam.
"Oh jadi rupanya kau istri pemuda itu. Istri keberapa kau? Hahahaha atau jangan-jangan kau hanya gundiknya?", ejek Dewi Rambi.
"Nenek tua bangka. Sudah bau tanah tapi mulutmu masih beracun juga.
Sudah bosan hidup kau rupanya", Dewi Srimpi marah besar.
Usai berkata demikian, Dewi Srimpi segera melesat cepat bagai kilat dan membabatkan pedang Kelabang Sewu nya ke arah Dewi Rambi.
__ADS_1
Perempuan tua itu terkejut melihat tiba tiba saja Srimpi sudah ada di depannya. Ajian Langkah Kelabang Sewu benar benar cepat. Dewi Rambi segera menangkis Pedang Kelabang Sewu yang mengincar dadanya.
Tringg
Saat pedang pendek nya di tangkis oleh pedang Dewi Rambi, Srimpi segera menghantamkan tangan kiri nya ke arah perut Dewi Rambi.
Perempuan tua segera menghindar namun angin serangan masih menyambar tubuh nenek tua itu. Dewi Rambi terhuyung huyung ke belakang dan Tapak Setan langsung bergerak menahan tubuh istrinya agar tidak jatuh.
"Lepaskan aku Kakang. Aku masih belum kalah".
Dewi Rambi segera melompat ke udara dan dan menyerang Srimpi dengan jurus Dewi Lengan Seribu.
Ratusan lengan berpedang nampak menyerbu ke arah Dewi Srimpi. Perempuan itu hanya tersenyum tipis saja sambil mundur selangkah. Usai menjejak tanah, Dewi Srimpi segera mengeluarkan jurus Tangan Kelabang Sewu nya.
Benturan pedang pendek dan pedang panjang dua orang itu terjadi sangat cepat.
Dewi Rambi geram. Jurus andalan nya ternyata bisa di imbangi dengan tenang oleh Srimpi. Sudah lebih 20 jurus tapi wanita muda itu seolah tidak terjadi apa-apa. Nafas nya masih sangat teratur.
Dengan gerak tipu, Dewi Rambi menyabet punggung Dewi Srimpi.
Merasa ada angin dingin tenaga dalam mengincar punggungnya, Dewi Srimpi memutar tubuhnya menghilangkan serangan sambil melempar jarum kecil berwarna biru.
Sring sringggg
Dua jarum melesat cepat menuju ke arah Dewi Rambi.
"Keparat!"
Teriak Dewi Rambi sambil berguling ke tanah menghentikan jarum beracun Dewi Srimpi. Baju nenek tua itu penuh tanah dan rumput.
Tapak Setan melihat istrinya berguling ke tanah, segera melompat menghantamkan tangan kanan nya ke arah Dewi Srimpi.
Serangkai angin panas bergulung-gulung menerabas cepat kearah Dewi Srimpi.
Panji Watugunung yang waspada segera mengibaskan tangannya dan sinar merah menyala seperti api menyongsong serangan Tapak Setan.
Blammmm!!
Ledakan dahsyat terjadi. Dewi Srimpi segera melesat cepat menjauh saat ledakan itu terlihat.
Dewi Retnosari dan Dewi Retnoningsih terkejut melihat serangan guru nya bisa mudah di patahkan oleh Panji Watugunung.
Saat mereka hendak maju, teriakan Dewi Rambi menghentikan langkah kaki mereka.
"Tapi guru..."
"Jangan membantah. Aku tak mau murid ku mati sia-sia", ucap Dewi Rambi yang membuat Dewi Retnosari dan Dewi Retnoningsih segera diam.
Tapak Setan segera mengambil kuda kuda untuk Ajian andalan nya.
'Sun matek aji ku Aji Segoro Geni..
Urip niro urip geni
Langit niro langit geni
Segoro niro segoro geni'
Tangan kanan Kakek tua itu berubah menjadi merah kemudian muncul bola cahaya berwarna merah menyala seperti api.
Panji Watugunung pun merapal mantra Ajian Tameng Waja. Tubuh pemuda tampan itu seketika diliputi oleh sinar kuning keemasan.
Tapak Setan segera melompat ke udara dan melesat cepat menuju ke arah Panji Watugunung.
'Hiyaaattttttt....'
Dhuarrrr!!
Ledakan keras kembali terdengar dari benturan Ajian Tameng Waja dan Segoro Geni.
Saat benturan terjadi, tangan kanan Panji Watugunung yang sudah diliputi sinar putih kebiruan segera menghantam tubuh Tapak Setan.
Tapak Setan yang terkejut tak sempat menghindar saat Ajian Guntur Saketi telak menghajar dada kanan nya.
Blarrrrr!!
Tubuh kakek tua itu terpelanting ke belakang sejauh 2 tombak dan menyusruk tanah dengan keras.
Melihat itu, Dewi Rambi segera melompat ke arah tubuh Tapak Setan. Saat Dewi Rambi mendekat, dia melihat betapa suaminya itu tewas dengan mata melotot seperti menahan sakit dan dada kanan nya bolong tembus punggung.
"Akan ku balas kematian mu kakang"
__ADS_1
Dewi Rambi murka.
Perempuan tua itu segera bangkit dan melepaskan pelukannya pada tubuh Tapak Setan. Matanya berkilat menyimpan dendam.
Segera dia memutar mutar pedangnya. Angin dingin bersiutan dari putaran pedang. Usai mengambil nafas dalam, kaki perempuan tua itu menjejak tanah dengan keras dan melesat cepat menuju Panji Watugunung.
Dewi Srimpi segera menyongsong serangan Dewi Rambi. Pedang pendek beracun nya, Pedang Kelabang Sewu segera berputar cepat menangkis sabetan pedang Dewi Rambi.
Tringgg
Karna menyimpan amarah, gerakan Dewi Rambi sedikit kacau dan bernafsu. Srimpi sama sekali tidak kesulitan dalam bertahan dari serangan perempuan tua itu.
Dewi Rambi mengayunkan pedangnya mengincar pinggang Srimpi. Selir termuda Panji Watugunung itu segera melompat ke udara dan menyabetkan menghantam bahu kanan Dewi Rambi.
Deshhhhh
Perempuan tua itu terhuyung huyung ke depan, dan segera memutar tubuhnya sambil menyabetkan pedang nya kearah Dewi Srimpi yang baru menjejak tanah.
Srimpi segera merendahkan tubuhnya dan melesat cepat sambil membabat perut Dewi Rambi.
Perempuan tua itu terlambat menghindar.
Crashhhh
Arrgghhhh
Dewi Rambi mundur sambil memegangi perutnya yang terluka. Rasa panas menyengat dirasakan oleh Dewi Rambi. Pedang pendek nya Srimpi memang berlumuran racun Kelabang Neraka.
Tubuh perempuan itu roboh seketika. Matanya melotot menahan sakit akibat Racun Kelabang Neraka nya Dewi Srimpi. Dia tewas dengan mulut berbusa dan mata mengeluarkan darah segar.
Melihat guru mereka tewas, Dewi Retnosari dan Dewi Retnoningsih segera melompat melarikan diri, menghilang di balik bebatuan gunung.
Panji Watugunung hanya geleng-geleng kepala melihat 2 putri Adipati Tanggulangin itu.
Usai pertarungan sengit, mereka segera bergegas melanjutkan perjalanan menuju Karanganom.
Menjelang sore, Dewi Retnosari dan Dewi Retnoningsih kembali ke tempat pertarungan. Setelah memastikan bahwa Panji Watugunung sudah tidak ada, mereka kemudian mengubur mayat mayat gurunya.
Sementara itu, Panji Watugunung dan rombongannya sudah memasuki wilayah Kadipaten Karanganom.
Mereka bermalam di rumah salah satu penduduk di Pakuwon Tawing yang biasa disewakan untuk menginap.
Pakuwon ini terletak di antara rawa rawa dengan jalan satu satunya menuju kota Kadipaten Karanganom.
"Berhati-hatilah dengan lingkungan disini, jangan berjalan di malam hari", ujar si pemilik rumah.
"Memang ada apa Ki?", tanya Warigalit sopan.
Lelaki paruh baya itu menoleh kanan kiri seperti ketakutan akan sesuatu. Kemudian setengah berbisik dia berkata,
"Banyak siluman buaya berkeliaran"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Waduhhh 😱😱
Ikuti terus kisah perjalanan Panji Watugunung untuk mengabdi pada negeri nya
Jangan lupa untuk dukung author terus semangat menulis dengan like vote dan komentar nya 👍👍👍
__ADS_1
Selamat membaca 😁😁😁