
**
Mpu Sakri sedang duduk berhadapan dengan Mpu Narasima dan Mpu Rungkat. Tiga kakek tua itu sedang membicarakan perihal berita penting yang di bawa Wirotama tempo hari.
Ada semacam kegelisahan tak terucapkan mendengar berita itu di kalangan para murid Padepokan Padas Putih. Dan ini harus segera diatasi agar tidak menjadi masalah di kemudian hari.
"Apa usul mu Kakang Rungkat? Kita tidak bisa membiarkan keadaan ini berlarut-larut karena bisa menyebabkan kepanikan di kalangan para murid", Mpu Narasima bertanya pada Mpu Rungkat selaku yang tertua dari mereka.
"Kita tidak bisa mengabaikan begitu saja berita ini begitu saja Adhi Narasima.
Ini berita besar. Kalau sampai mereka benar benar menyerang kemari, maka kita bakal kerepotan.
Beberapa penerus perguruan ini masih jauh dari harapan walaupun mereka tidak bisa dianggap pendekar kacangan, Adhi Narasima", jawab Mpu Rungkat seraya mengelus jenggotnya yang memutih.
"Benar kakang Rungkat,
Jika mereka benar benar kemari, maka bahaya terbesar adalah murid murid yang baru belajar. Tidak mungkin mereka datang tanpa persiapan.
Apa usul mu Adhi Sakri?", tanya Mpu Narasima pada Mpu Sakri yang nampak sedang berfikir keras.
"Sebaiknya kita perkuat pertahanan Kakang Narasima,
Bukan untuk diri sendiri tapi untuk seluruh para murid Padepokan Padas Putih. Sebab kita tidak bisa memandang berita ini dengan sebelah mata", ujar Mpu Sakri sambil memandang kearah langit pagi itu.
Mpu Narasima dan Mpu Rungkat segera mengangguk tanda mengiyakan.
Mulai pagi itu, penjagaan ketat mulai diberlakukan. Bila mulanya hanya 4 penjaga, maka mulai hari itu 8 penjaga bergiliran setiap pagi, siang, sore dan malam.
Para murid Padepokan Padas Putih semua bersiaga menghadapi kemungkinan terjadinya serangan.
**
Panji Watugunung dan rombongannya terus memacu kuda mereka menuju ke arah Padepokan Padas Putih.
Setelah melewati Pakuwon Lantir, mereka terus bergerak menuju ke arah timur laut.
Setelah semalam beristirahat di tepi hutan dekat wanua kecil di perbatasan Pakuwon Lantir dan Pakuwon Bendo, pagi itu mereka bersiap melanjutkan perjalanan.
Ratna Pitaloka membereskan pakaian dan mengikat nya di buntalan kain.
Dewi Naganingrum menata perbekalan diatas punggung kudanya.
Dewi Srimpi nampak mengikat pedang nya di pinggang.
Sementara Sekar Mayang yang baru mencuci muka di sungai kecil, segera menata barang bawaan nya.
Panji Watugunung yang memakai caping untuk menutupi wajahnya, dengan cekatan mengikat tali caping dengan rapi di bawah dagu.
Setelah semua beres, Rombongan Panji Watugunung dan murid Padepokan Anggrek Bulan bergerak menuju ke arah tepi Pakuwon Bendo.
Pergerakan mereka berusaha menjauh dari jalan ramai karena untuk menghindari para prajurit Jenggala sekaligus mengurangi kecurigaan warga masyarakat di wilayah yang mereka lewati.
Sedapat mungkin mereka menyusuri jalan setapak di tepi hutan dan sungai di wilayah Pakuwon Bendo.
Menjelang sore, mereka sudah sampai di batas Pakuwon Bandar yang merupakan wilayah terakhir sebelum menuju ke Padepokan Padas Putih.
"Kita bermalam disini saja, Nek..
Besok lepas tengah hari kita sudah sampai di Padepokan Padas Putih", ujar Panji Watugunung sambil memandang kearah Dewi Anggrek Bulan yang berkuda bersama nya.
"Baik Bocah Bagus..
Anggrek Perak, Anggrek Emas..
Malam ini kita beristirahat disini. Perintahkan semuanya berkumpul, jangan terlalu jauh", Dewi Anggrek Bulan menoleh ke arah Anggrek Emas dan Anggrek Perak.
Dua murid utama Padepokan Anggrek Bulan itu segera mengangguk tanda mengerti dan segera memimpin saudara seperguruan nya untuk berhenti dan mempersiapkan peristirahatan malam mereka.
Keempat istri Panji Watugunung segera melompat turun dari kudanya dan mengikat tali kekang kudanya di pohon perdu tepi hutan itu.
Semuanya diatur berdekatan agar lebih mudah untuk menjaga keselamatan.
Warigalit, Ratri dan Garungwangi juga menambatkan kuda mereka di dekat kuda kuda para istri Panji Watugunung.
Sementara para istri sibuk menyiapkan segala keperluan untuk bermalam, Panji Watugunung melesat cepat masuk ke dalam hutan.
Sudah lama dia tidak merasakan kelezatan daging ayam hutan bakar.
Panji Watugunung terus melompat diantara cabang pohon besar untuk melihat sekeliling, barangkali menemukan apa yang dia cari.
3 ekor ayam hutan sedang mematuk buah hutan yang jatuh berserakan di tanah. Gerakan ringan Panji Watugunung membuat tiga ekor ayam hutan itu tidak menyadari bahwa mereka dalam bahaya.
Panji Watugunung perlahan meraih ranting pohon kecil kemudian membaginya menjadi 3 bagian, dan dengan cepat melemparkannya pada tiga ekor ayam hutan itu.
Singggg sringggg sringgg..
Crepp crepp crepp!!
__ADS_1
Keooghhhh!!!
Tiga ekor ayam hutan itu langsung tewas setelah kepala mereka tertusuk tiga ranting pohon yang dilemparkan Panji Watugunung dengan tenaga dalam tingkat tinggi.
Panji Watugunung segera melompat turun dari cabang pohon besar itu dan mengambil tiga ekor ayam hutan yang didapatkannya.
Pria itu terus melompat ke atas pepohonan setelah mengikat kaki ayam hutan nya.
Menjelang senja, Panji Watugunung keluar dari hutan dengan membawa 5 ekor ayam hutan dan dua ekor burung puyuh. Di sisi lain, Warigalit dan Garungwangi juga mendapat seekor babi hutan besar dan beberapa ekor burung liar.
Sekar Mayang di bantu Ratna Pitaloka dan Dewi Srimpi nampak sibuk membersihkan ayam hutan yang diperoleh Panji Watugunung di tepi sungai kecil yang ada di dekat hutan.
Ratri, Garungwangi dan Warigalit menguliti babi hutan besar itu, dan membersihkan nya di dekat para istri Panji Watugunung.
Naganingrum yang bertugas membuat api, menata ranting kayu kering sedemikian rupa sehingga saat api mulai menyala dari batu api, dengan cepat membakar ranting kayu kering.
Malam itu, mereka semua berkumpul di dekat api unggun itu dengan membakar hewan buruan mereka. Panji Watugunung segera memberikan ayam hutan bakar yang sudah matang pada istri istri nya yang menunggu sang suami yang sibuk membakar ayam hutan untuk mereka.
Aroma wangi ayam hutan bakar dan babi hutan panggang menggugah selera beberapa orang yang ada di sana.
Anggrek Emas yang memang centil, segera mendekati Garungwangi dengan gaya kemayu nya.
"Kang,
Bisa aku minta sedikit daging burung nya?", ujar Anggrek Emas dengan manja pada Garungwangi.
"Bo-boleh kog. Ini ambil saja", Garungwangi yang tidak terbiasa dekat dengan perempuan dengan grogi mengulurkan 2 ekor burung liar yang sudah matang pada Anggrek Emas.
"Terimakasih ya Kang,
Kakang baik deh", ujar Anggrek Emas sambil tersenyum genit. Perempuan itu segera bergabung bersama kawan-kawannya yang lain.
"Kangmbok Emas,
Aku juga mau daging burung nya", ujar seorang gadis muda yang bertubuh segar.
"Iya, aku juga mau Kangmbok. Bagi aku sedikit ya", sahut seorang gadis muda lain disamping Anggrek Emas.
"Enak saja mau minta. Sana minta sendiri sama yang nangkap. Mau makan itu usaha, jangan hanya mengharap pemberian orang", ujar Anggrek Emas sengit.
Dua gadis muda itu memelas saat Anggrek Emas dengan lahap menyantap daging burung liar untuk mengganjal perut nya yang kelaparan dari tadi.
Warigalit yang melihat daging babi panggang nya sudah matang, segera memotong daging dan membagikan pada semua orang.
Aroma bakaran itu menarik perhatian beberapa orang yang melintas.
"Ssstttt..
Pelankan suara kalian", perintah Anggrek Perak pada adik seperguruannya. Suasana seketika berubah tegang.
Panji Watugunung dan keempat istrinya dengan tenang terus menikmati makanan yang mereka dapatkan dari perburuan tadi.
Garungwangi yang ikut tegang, melirik sekilas kearah mereka.
Derap langkah kaki kuda semakin mendekat.
Dari kegelapan malam muncul 5 pria dan dua orang wanita yang memakai baju berwarna hijau dan merah.
Garungwangi mengenali si wanita berbaju hijau itu sebagai Dewi Ular Hijau dari Lembah Angin yang tempo hari sempat dia curi dengar pembicaraan nya.
"Kisanak dan nisanak sekalian,
Kami minta maaf sudah mengganggu istirahat kalian. Kami dari Perguruan Lembah Angin ingin ikut bergabung bersama kalian", ujar Dewi Ular Hijau dengan nada sopan tapi bagi Rombongan Panji Watugunung itu terdengar seperti mengancam.
"Maaf,
Sebaiknya kalian cari tempat lain saja. Tempat ini sudah penuh", jawab Panji Watugunung acuh tak acuh sambil menggigit sayap ayam hutan yang sedikit gosong.
"Apa kau belum mendengar nama Perguruan Lembah Angin?", ujar seorang pria bermata satu dengan kepala gundul.
"Sudah, kalian dari golongan hitam. Makanya di tempat ini tidak ada tempat untuk kalian", jawab Watugunung seraya meneruskan makan nya.
"Kurang ajar!
Kau berani sekali menantang perguruan kami kisanak. Sudah bosan hidup kau rupanya", ujar si mata satu dengan lantang.
"Jangan menggunakan nama perguruan kalian untuk mengancam kami. Kau pikir kami takut dengan kalian?", Panji Watugunung segera melempar tulang ayam yang sudah bersih dia gerogoti pada dedaunan lebar yang ada disamping tempat mereka bermalam.
Whuttttt
Takk thakkk!!
Aughhhhh..
Terdengar bunyi mengaduh kesakitan dan disusul dua bunyi gedebuk seperti sesuatu yang jatuh.
"Mereka anak buah kalian bukan?", ujar Panji Watugunung segera.
__ADS_1
"Jangan asal bicara, hai pemuda bercaping.
Mana buktinya kalau mereka adalah anak buah kami? Sembarangan menuduh", teriak seorang lelaki tua dengan jenggot di kepang.
"Terserah kalian,
Yang penting kalian tidak diterima disini. Silahkan pergi dari sini", usir Panji Watugunung segera.
"Kalau kami tidak mau?", tantang Dewi Ular Hijau.
"Kami akan memaksa kalian", ucap Ratna Pitaloka sambil mencabut Pedang Bulan Kembar nya.
Melihat Ratna Pitaloka sudah mencabut pedang nya, suasana di tempat itu semakin tegang. Para anggota Padepokan Anggrek Bulan masing-masing segera mencabut pedang mereka masing masing.
"Brengsek, mau main keroyokan rupanya.
Baik, akan kucoba sampai sejauh mana kemampuan beladiri kalian", teriak si mata satu yang dikenal sebagai Si Mata Picak dari Lembah Angin segera menyabetkan pedang nya kearah Panji Watugunung.
Saat pedang hampir menyentuh kulit Sang Yuwaraja Panjalu, tiba-tiba saja dia menghilang dari pandangan.
Deshhhhh
Oughhh
Sebuah tendangan keras dengkul kanan di terima perut si mata satu dari Panji Watugunung yang entah darimana datangnya, tiba tiba muncul dan memberikan serangan. Saking kerasnya tendangan itu, si mata satu terlempar dua tombak dan nyaris menabrak si jenggot kepang kalau tidak dihentikan oleh Dewi Ular Hijau.
Dengan batuk kecil beberapa kali, si mata satu itu menyeka darah yang keluar dari sudut bibirnya.
"Dia menggunakan ilmu sihir Kangmbok,
Tiba tiba saja menghilang dari pandangan dan langsung menyerang", ujar si mata satu dengan menatap tajam ke arah Panji Watugunung.
Hemmmm
"Kita tidak punya waktu untuk meladeni mereka, Mata Picak. Pemimpin dan Kangmbok Ular Putih sudah menunggu kedatangan kita di Pakuwon Bandar", ujar Dewi Ular Hijau segera.
"Tapi Kangmbok, kalau sampai berita ini tersebar, orang orang dunia persilatan akan mencemooh perguruan kita", Si Mata Picak keberatan dengan cara Dewi Ular Hijau.
"Lain waktu kita habisi mereka, jangan sampai kita mati konyol hanya karena berebut tempat tidur dan makanan dengan mereka", Dewi Ular Hijau mengingatkan Si Mata Picak tentang puluhan orang yang bersiap untuk menyerang mereka.
Si Mata Picak manggut-manggut mengerti. Jika mereka bertujuh memaksakan diri untuk melanjutkan pertarungan, sudah barang tentu mereka akan tewas karena jumlah lawan jauh lebih banyak.
7 murid Perguruan Lembah Angin itu akhirnya memilih pergi. Mereka segera bergegas melompat ke atas kuda mereka dan meninggalkan tempat itu menuju ke Pakuwon Bandar.
Semua orang di rombongan Panji Watugunung menarik nafas lega. Malam itu mereka beristirahat dengan tenang.
Sementara itu di tepi Pakuwon Bandar, ratusan orang berpakaian pendekar sudah menunggu kedatangan Dewi Ular Hijau dan 6 orang pengikutnya.
Mereka berasal dari 3 perguruan aliran hitam berbeda yaitu Lembah Hantu, Lembah Angin, dan Bukit Jerangkong. Macan Pasuruhan dan Teratai Jingga sudah berangkat lebih awal untuk mengamati situasi di Padepokan Padas Putih.
Pemimpin Lembah Angin, Dewi Angin-angin tersenyum tipis saat melihat adik seperguruannya Dewi Ular Hijau datang bersama pengikutnya.
"Kalian terlambat, Ular Hijau", ujar Dewi Ular Putih mendengus dingin.
"Maaf Kangmbok,
Tadi ada halangan sedikit di jalan. Tapi sudah selesai. Kapan kita berangkat Kangmbok?", tanya Dewi Ular Hijau pada kakak seperguruannya itu.
"Lepas tengah malam kita berangkat, jadi saat pagi tiba kita sudah sampai di Padas Putih", sahut seorang lelaki paruh baya dengan tubuh gempal. Dialah adik Pangeran Lembah Hantu yang kemarin tewas saat penyerbuan ke Watugaluh.
"Besok pagi, dendam kematian kakak ku akan terbalaskan", tangan pria mengepal erat sambil menatap ke langit selatan dimana itu adalah arah menuju..
Padepokan Padas Putih.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ikuti terus kisah selanjutnya kak 😁
Yang suka silahkan tinggalkan jejak kalian dengan like 👍, vote ☝️, favorit ❤️ dan komentar 🗣️ nya agar author terus semangat menulis yah 😁
__ADS_1
Selamat membaca 🙏🙏🙏